----- Original Message ----- 
  From: MANG UCUP 
  To: maya ; Zaman 
  Sent: Wednesday, March 10, 2010 04:28
  Subject: [Mayapada Prana] Tuhan itu hasil ciptaan Otak? - Bag. 2




  Filsuf dan Matematikawan Perancis, Rene Descartes berkesimpulan untuk mencari 
kebenaran sejati harus selalu dimulai dengan cara meragukan apa saja; meragukan 
yang dikatakan gurunya, meragukan kepercayaan, bahkan meragukan eksistensinya 
dirinya sendiri. Pokoknya, meragukan segala-galanya. Maka dari itulah muncul 
Proposisi: “Ketika aku berpikir, maka aku ada” –Cogito Ergo Sum.

  Mang Ucup pribadi tidak sepaham dengan pandangan Descartes, cobalah renungkan 
oleh Anda, bisakan Anda memulai suatu usaha dengan penuh keraguan. Siapapun 
juga tidak akan mau melakukan investasi entah dalam bentuk apapun juga apabila 
ia meragukan akan hasilnya.

  Manusia bisa menciptakan kapal terbang, bahkan sampai bisa meraih bulan, 
bukannya diawali dengan keraguan melainkan berdasarkan kepercayaan akan 
keberhasilannya. Begitu juga Martin Luther King Jr, ia memulai gerakannya 
dimana ia percaya dan yakin bisa mewujukan impiannya: “I Have A Dream!” Tanpa 
adanya kepercayaan ini; tidak mungkin ia akan bisa berhasil.

  Pandangan tersebut diatas sesuai dengan kredo dari Anselmus, Uskup Agung 
Canterbury (1033 – 1109) dimana ia menyatakan: “Saya percaya agar dapat 
mengerti - Credo ut intelligum” (Believe than understand). Melalui pernyataan 
ia ingin menganjurkan bagi mereka yang ingin mencari kebenaran (baca Allah) 
harus diawali dengan beriman dahulu, jadi bukanlah sebaliknya seperti Decrates. 
Percaya itu menjadi kunci utama, maka seluruh kepercayaan itu akan membangun 
seluruh pengertian yang sejati.

  Tapi rasanya sukar untuk bisa percaya akan keberadaanNya Allah yang tidak 
pernah menampakan diri-Nya. Bahkan di tahap awal Masa Aufklärung (Masa 
Pencerahan) Immanuel Kant sendiri pernah menyatakan, bahwa Allah tidak memiliki 
tempat dalam lingkungan rasio. Walaupun demikian ia mengakui adalah suatu hal 
yang tidak mungkin bagi Allah sehingga bisa masuk dalam kategori rasio kita. 
Sebab pada saat dimana Dia "membatasi" diri masuk kategori terbatas, atribut 
ke-TAK-TERBATAS-an-Nya otomatis terlucuti alias ke-illahi-an-Nya terlukai. Jadi 
jelas ini tidak mungkin, bagaimana rasio manusia yang terbatas bisa mengenal 
Allah yang tak terbatas.

  Seorang ahli bedah bisa mengetahui semua bagian otak manusia, tetapi hingga 
kapanpun juga ia tidak akan pernah bisa mengetahui impian pasiennya.

  Bisakah Anda percaya, bahwa walaupun otak sudah mati, kenyataannya pikiran 
orang itu masih tetap bisa berjalan terus? Bahkan hal ini telah dibuktikan 
secara sains oleh Dr Levi-Montalcini pemenang hadiah Nobel yang bekerja di EBRI 
(European Brain Research Institute) – Roma. Ia pernah melakukan sebuah studi 
prospektif dimana ia mewawancarai lebih dari seratus orang yang pernah 
mengalami mati suri (Pengalaman Dekat-Ajal – Near Death Experience). 

  Jelas seorang yang sudah benar-benar dinyatakan mati klinis, seharusnya tidak 
bisa melihat, mendengar ataupun berpikir apapun juga, karena otaknya sudah mati 
secara klinis. Orang baru dinyatakan mati klinis; apabila jantungnya berhenti, 
gelombang otak EEG-nya menjadi datar total. Batang otak dan belahan kiri-kanan 
korteks serebral menjadi tidak responsif, lalu suhu tubuh turun menjadi dingin 
16 C yang biasanya sekitar 36,6 C.
  
##############################################################################################
  HMNA:
  Menurut ajaran Islam:
  Orang mati kalau:
  1. Otaknya tidak berfungdi lagi
  2. Ruhnya sudah meninggalkan jasadnya.
  Jadi walaupun otaknya sudah tidak berfungsi lagi, namun ruhnya BELUM 
meninggalkan jasadnya, yang bersangkutan itu BELUM mati, ajalnya BELUM sampai.
  
################################################################################################

  Namum 18% dari sang pasien yang diwawancarai melaporkan, bahwa kenyatannya 
mereka masih bisa mengingat dengan baik mengenai hal-hal apa saja yang mereka 
lihat dan dengar selama mereka mati klinis. Dan pernyataan mereka itu benar 
semua. Dari sinilah terbuktikan, bahwa manusia itu memiliki jiwa yang tidak 
pernah bisa dijelaskan secara rasio maupun sains.

  Mang Ucup
  Email: [email protected]
  Homepage: www.mangucup.org 

Kirim email ke