Lolos dari Tsunami, Tewas Diterjang Timah Panas
Reporter: Nanee - Aceh Besar, 2005-01-23 18:45:44
Pagi itu basah. Matahari bersinar malu-malu. Seusai shalat subuh, para
pengungsi asal Lampuuk, Aceh Besar yang mengungsi di tenda pemukiman Lamlhom
sudah beraktivitas. Para wanitanya sibuk menyiapkan sarapan. Menunya sama
dengan kemarin. Nasi plus mi instan rebus.
Ini adalah hari ketiga pasca-gempa dan gelombang tsunami. Hari itu ada tujuh
pengungsi yang berencana pulang ke desa untuk mencari barang yang tersisa.
Mereka adalah Andri, Abubakar, Basyir, Ridwan, Ardi dan dua warga lainnya.
Dari ketujuh orang itu, hanya Andri yang warga Lamlhom. Selebihnya adalah
penduduk asli Lampuuk. Kelimanya berjalan kaki menuju Lampuuk. Maklum,
pemukiman Lamlhom bertetangga dengan Pemukiman Lampuuk. Hanya berjalan dua
kilometer menyusuri persawahan, mereka bisa tiba di Desa Balee, salah satu
desa pemukiman Lampuuk.
Jalan menuju Lampuuk dipenuhi aneka sampah yang terbawa gelombang tsunami.
Tumpukan sampah itu berasal dari Desa Lampuuk yang sudah rata dengan tanah.
Aroma jenazah menyeruak. Dan itu tidak mengherankan.
"Ada ribuan mayat yang masih terkubur di tumpukan sampah itu. Semua warga
Lampuuk," kata seorang warga kepada acehkita.
Pemukiman Lampuuk yang memiliki lima desa itu memang tak tersisa. Dari 6.000
penduduk, kini Lampuuk hanya tersisa 750 penduduk. Dari jumlah itu, hanya 40
orang perempuan. Semuanya selamat setelah berjuang habis-habisan dalam
gelombang tsunami bercampur sampah itu. Hanya keajaibanlah yang
menyelamatkan mereka. Maklum, kampung Lampuuk berada di tepi pantai.
Rata-rata penduduk yang selamat itu dibawa air ke pemukiman Lamlhom. Di
sanalah akhirnya mereka berlabuh. Dan di sana pula tenda pengungsian
didirikan.
Hingga pekan ketiga bencana, jenasah masyarakat Lampuuk yang tewas itu belum
semuanya dievakuasi. Hanya beberapa puluh mayat saja yang dievakuasi warga
secara gotong royong. Ribuan mayat lainnya masih tergeletak.
Warga mengaku kesulitan mengevakuasi dengan peralatan terbatas. Tidak ada
kantong jenasah, tidak ada sarung tangan. Apalagi masker. Selain itu butuh
alat berat seperti traktor atau Beko untuk mengangkat sampah yang berupa
beton dan papan itu.
Kembali ke pengungsi tadi, matahari mulai terik meskipun waktu masih
menunjukkan pukul 09.00 pagi.
Kelima pengungsi yang "pulang kampung" itu tiba di desanya. Ini adalah kali
pertama mereka kembali. Yang mereka dapatkan hanyalah reruntuhan puing. Baru
saja mereka mengais puing, berharap mendapatkan sisa yang bisa mereka bawa
pulang ke pengungsian, tiba-tiba sebuah suara teriakan mengejutkan mereka.
Di kawasan dekat bukit, tak jauh dari Desa Balee mereka melihat aparat
berbaju loreng melambaikan tangan. Memanggil untuk mendekat. Hanya lima
orang pengungsi itu yang mendekat. Mereka adalah Andri, Abubakar, Basyir,
Ridwan, Ardi. Sedangkan dua pengungsi lainnya menolak untuk menghampiri
aparat keamanan berbaju loreng itu.
Dari jauh, kedua warga yang menolak datang itu mengamati kelima temannya.
Apa yang terjadi?
"Tentara itu meminta kelimanya untuk buka baju dan baris, sepertinya mereka
meminta KTP mereka. Dan kemudian terdengar letusan. Kelimanya langsung jatuh
ke tanah," kata seorang warga menirukan cerita saksi yang lolos dari maut
itu.
Masyarakat Lampuuk dan Lamlhom jelas tidak akan tahu tentang kejadian itu,
sampai beberapa aparat memanggil perangkat desa untuk menguburkan lima
jenasah itu.
"Sebenarnya yang dikubur itu tujuh orang. Dua jenazah lainnya adalah anggota
GAM yang datang duluan sebelum warga," kata seorang masyarakat yang menolak
disebut namanya.
Aparat keamanan itu menuduh kelima warga yang ditembak itu sebagai anggota
GAM. Namun, "Mereka bukan GAM. Mereka hanya pengungsi yang lolos dari
tsunami," kata warga.
Kalaupun GAM, kata warga seperti bersepakat, eksekusi seperti itu jelas
bukan perilaku perang yang ksatria.
Pemukiman Lamlhom dan Lampuuk selama ini memang dikenal aparat sebagai basis
dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Maklum, selain terletak di pinggir laut,
perkampungan mereka juga dekat dengan pebukitan yang menjadi tempat
wara-wiri gerilyawan bersenjata.
Namun masyarakat sendiri mengaku jarang bertemu langsung dengan anggota GAM.
"Kampung kami aman-aman saja, tidak ada GAM," kata Cut Muhammad (73) tokoh
masyarakat Lampuuk.
Namun beberapa masyarakat mengaku sempat memergoki pasukan GAM di kampung
Lamlhom. "Mereka langsung pergi ketika kami membuka pengungsian di sini,"
katanya.
Masyarakat memang was-was bila melihat anggota GAM wara wiri di sekitar
mereka. Masalahnya nanti mereka akan berurusan dengan pihak aparat
keamanan. Dan anggota GAM itu sepertinya maklum, hingga akhirnya menyingkir.
Pasukan pemerintah, menurut masyarakat, juga menguatkan pengamanan di
sekitar kampung-kampung yang dianggap rawan. Mereka seperti bersiap-siap,
siapa tahu anggota GAM akan "turun gunung" untuk menjenguk kampung mereka,
dan mencari kelurga yang hilang.
Pasca-penembakan lima pengungsi Lampuuk, warga desa mengaku trauma dan
enggan menjenguk desa mereka. [tamat
_____
<http://promos.hotbar.com/promos/promodll.dll?RunPromo&El=&SG=&RAND=36410&pa
rtner=fastutility> Block Spam Emails - Click here!
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/WwRTUD/SOnJAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/