Menarik juga posting padhang-mbulan ini yang ditulis oleh peneliti LIPI.
Silahkan dibaca.
Logika Mi Instan di Bumi Rencong
Jaleswari Pramodhawardani; Peneliti LIPI, Jakarta
BAGAIMANA kita memahami Aceh? Sejujurnya saya tidak bisa. Saya
termasuk pengunjung yang telat datang setelah 40 hari bencana tsunami
meratakan Aceh. Aceh yang saya lihat mungkin Aceh yang telah dikatakan
banyak orang. Puluhan posko pengungsi, ribuan bangunan yang luluh lantak,
ratusan ribu orang kehilangan sanak saudara, kantong-kantong berisi mayat di
pinggir jalan dan ratusan donatur dalam dan luar negeri. Hiruk-pikuk itu
memang dimulai sejak dari bandar udara Aceh. Hingga hari ini.
Saya melihat ada dua logika yang diperlakukan di sana. Logika spanduk
dan logika mi instan. Logika spanduk mewakili asumsi tentang perlunya jati
diri, identitas, label bagi individu maupun lembaga/organisasi untuk hadir
dan berbuat di sana (hanya untuk sekadar menjual tampang). 'Spanduk'
karenanya penting untuk menjelaskan keterlibatan, kepedulian 'penolong'
terhadap Aceh sebagai 'korban'. Kita tidak perlu bertanya siapa saja mereka,
karena setiap orang, setiap barang, setiap benda punya label yang
menjelaskan asal. Berbagai tanda, bisa kita saksikan di seluruh sudut kota.
Semuanya tertempel di dinding, kaca mobil, posko pengungsi, maupun kaus dan
baju, selain tentu saja pada barang-barang bantuan. Saya untuk sesaat sempat
lupa, bahwa ini adalah Aceh yang sedang luka, Aceh yang sedang berkabung.
Aceh yang saya kunjungi memang lebih sibuk, macet dan berwarna. Setidaknya
itulah yang membedakan Aceh sebelum dan sesudah bencana.
Semua keriuhan itu seakan ingin menegaskan kehadiran dan kepeduliannya
terhadap Aceh. Selain terkesan semacam pentas untuk memasarkan label. Semua
itu mengguratkan satu hal, semua hadir dari luar Aceh dengan membawa
pemahamannya masing-masing tentang Aceh. Logika spanduk, selain mewakili
asumsi perlunya identitas sebagai penolong sekaligus semangat memasarkan
lembaga masing-masing.
Saya mengobrol dengan seorang ibu paruh baya, Ibu Nursimah di desa
Lampu-uk. Seluruh kerabatnya, orang tua, lima kakaknya dan dua anaknya tewas
pada pagi itu, tinggal suami dan dua anaknya. Ia bercerita tentang
keinginannya mengajar kembali, untuk melupakan musibah dan ketergantungan
sebagai korban. Kami berbincang dekat masjid, satu-satunya bangunan utuh di
desa itu dan baru saja didirikan posko pengungsi. Posko yang diusulkan
masyarakat desa setempat karena dekat dengan lokasi bekas rumah mereka.
Ibu Nursimah setiap sore harus berjalan hampir lima kilometer dari
lokasi pengungsiannya di desa Lok Lham untuk bisa melihat bekas rumahnya,
dan salat bersama dengan orang desanya baginya, kumpul dengan tetangga satu
desa, sama dengan pulang ke rumah. Ada ketenteraman, ada kesamaan nasib dan
saling menguatkan di antara mereka. Salah satu keinginannya selama di
pengungsian hanya satu, makan sayur. Ia menyadari menu mi instan dan telur
tiap hari, adalah pilihan yang tidak terelakkan dalam situasi darurat
seperti ini. Tapi makan sayur adalah keinginannya yang paling sederhana yang
belum bisa tercapai hingga hari ini. Dan baginya meminta lebih dari apa yang
didapatkan adalah sungguh tidak patut. Masih banyak orang yang membutuhkan
bantuan makanan, walaupun hanya mi instan.
***
Bagaimana kita memahami Aceh? Sungguh, saya tidak tahu. Riuhnya
kehadiran kaum penolong di Aceh, di satu sisi memang sangat dibutuhkan, tapi
jika tidak kita cermati, bisa menimbulkan persoalan pelik. Kasus mi instan
bisa dijadikan contoh sederhana bagaimana cara kita memperlakukan korban.
Dalam jangka waktu tertentu dan dalam situasi tertentu, mi instan bisa
merupakan solusi, tapi tidak dalam waktu yang lain dalam konteks yang sama.
Logika mi instan, asumsi yang meletakkan persoalan serbaseragam
sebagai akibat dari pemahaman yang berbeda tentang teks dan konteks ini,
kita dapatkan juga dalam kasus relokasi pengungsi. Seperti yang telah dimuat
berbagai media, warga Desa Kuala Cangkoi, Kecamatan Tanah Pasir misalnya,
menolak direlokasi ke barak pengungsian karena lokasinya yang jauh dari
tempat mereka mencari nafkah. Demikian juga 671 jiwa pengungsi Desa Tanoh
Anoe, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, melakukan hal yang sama. Mereka
menolak direlokasi ke barak pengungsian Desa Reulet Timu, kecamatan setempat
yang kini sedang dikerjakan pembangunannya.
Alasan penolakannya pun sama, yaitu karena Desa Reulet Timu berjauhan
dengan permukiman semula hingga mencapai 10 kilometer, sehingga warga merasa
akan mengalami kesulitan untuk mencari nafkah sebagai nelayan. Umumnya,
masyarakat Desa Tanoh Anoe bermata pencarian sebagai nelayan.
Logika mi instan inilah yang sering menghinggapi kita dalam upaya
menolong korban. Posisi sebagai penolong sering menempatkan kita sebagai
yang selalu tahu segala hal. Ideologi penolong sering memunculkan dikotomi
subjek-objek dalam praktiknya. Kita merasa terampil dan paham dengan
kebutuhan korban, sehingga tanpa disadari kita menggunakan pikiran,
pengalaman dan latar belakang kita sebagai acuan. Tidak melihat bahwa
sebagai korban, masyarakat Aceh mempunyai mekanismenya sendiri untuk
bertahan. Kita lupa melihat, Aceh dalam suatu "entitas organis" memiliki
potensi dan kemampuan untuk berkembang secara mandiri. Kita juga sering
mengabaikan bahwa masyarakat Aceh merupakan entitas yang heterogen yang
membutuhkan penanganan berbeda-beda.
Upaya pemberdayaan yang dilakukan oleh unsur-unsur di luar Aceh,
harusnya bukan merupakan rangkaian proyek yang berkesinambungan, tetapi
bersifat sebagai "impuls" saja yang berfungsi untuk memberikan "energi" awal
kepada Aceh untuk berkembang secara mandiri. Konsep pembangunan tentang Aceh
bukanlah merupakan upaya sistematis yang berbasis pada perencanaan yang
lengkap dan solid, yang disusun dan dilaksanakan oleh sekelompok orang
secara terpusat, tetapi lebih menyerupai proses alamiah yang melibatkan
semua pihak.
Kita memang sepakat bahwa membangun kembali Aceh harus melibatkan
masyarakat Aceh, kita juga setuju pendekatan yang kita pakai harus bottom up
tidak seperti yang kita lakukan selama ini, top down. Namun lebih penting
dari itu, sudahkah kita pahami juga bahwa selain menyuguhkan kisah-kisah
konflik yang penuh kekerasan, DOM (Daerah Operasi Militer), GAM (Gerakan
Aceh Merdeka), DM (Darurat Militer) I, DM II, DS (Darurat Sipil) I, DS II
maupun peristiwa sarat intrik pengkhianatan demi mencari keuntungan materi
yang mengorbankan masyarakat Aceh selama ini, Aceh bukan melulu konflik?
Aceh memiliki sisi "kehidupan pribadi" sendiri yang hangat dan kokoh
jati dirinya, yang sudah terpelihara berabad-abad di tengah kecamuk
penindasan dan ancaman aneka kekejaman yang menimpanya dalam kurun yang tak
singkat. Di media massa wajah Aceh seolah tak mengenal rasa damai dan tampak
selalu menakutkan. Perlu gambaran Aceh dari sisi yang lain sehingga Aceh
dapat dipandang sosoknya secara lebih lengkap dan manusiawi, sehingga kita
bisa mengurangi kesalahan masa lalu kita, sebagai orang pusat, sebagai orang
luar Aceh, yang ikut andil menciptakan penindasan dan kegetiran di sana
selama ini. Jangan-jangan keriuhan bantuan di Aceh dengan segenap
kepentingannya itu tetap menciptakan rasa sunyi dan sendiri bagi masyarakat
Aceh. Mungkin kita perlu kerendahan hati, bahkan sebagai penolong pun. ***
fwd by Redaksi from Media Indonesia, Kamis, 24 Februari 2005
[Non-text portions of this message have been removed]
Padhang mBulan Net - Padhang mBulan mailing list
* Untuk BERLANGGANAN, kirim e-mail kosong ke :
[EMAIL PROTECTED]
* Untuk BERHENTI, kirim e-mail kosong ke :
[EMAIL PROTECTED]
* rangkuman dari beberapa e-mail :
[EMAIL PROTECTED]
* tidak ingin menerima sebuah e-mail pun :
[EMAIL PROTECTED]
* Individual Email :
[EMAIL PROTECTED]
Informasi: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
<http://us.ard.yahoo.com/SIG=129nh806t/M=298184.6018725.7038619.3001176/D=gr
oups/S=1705171464:HM/EXP=1109382318/A=2593423/R=0/SIG=11el9gslf/*http://www.
netflix.com/Default?mqso=60190075> click here
<http://us.adserver.yahoo.com/l?M=298184.6018725.7038619.3001176/D=groups/S=
:HM/A=2593423/rand=358440855>
_____
Yahoo! Groups Links
* To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/padhang-mbulan/
* To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<mailto:[EMAIL PROTECTED]>
* Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service
<http://docs.yahoo.com/info/terms/> .
_____
<http://promos.hotbar.com/promos/promodll.dll?RunPromo&El=&SG=&RAND=82885&pa
rtner=fastutility> Block Spam Emails - Click here!
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/UwRTUD/UOnJAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/