Kini Aceh di Bola Matamu, Oh Jamila [ rubrik: <http://lambaro.bangkapos.com/index.php?aksi=indeksrubrikberita&rubrik=1&top ik=5> Serambi | topik: <http://lambaro.bangkapos.com/index.php?aksi=indeksrubrikberita&rubrik=1&top ik=5> People ]
Jamila Bravo Maagdalia <http://lambaro.bangkapos.com/gambar/headshot/2502_nuh_feature_1.jpg> Jamila Bravo Maagdalia <http://lambaro.bangkapos.com/gambar/blank.gif> GADIS Spanyol berdarah Aceh. Bagaimana menuturkan betapa cantik jadinya dia? Perlahan-lahan imaji keindahan merayap di sana. Jamila Bravo Maagdalia duduk santai di Markas Kontingen Spanyol, Komplek Diklat Lampineung, Jumat(25/2) pagi. Mengagumi kecantikan sejati, sebetulnya di sini bukan tempatnya. Tapi apa boleh buat, Jamila sang gadis Spanyol ini memang membuat kamp relawan itu bagai semerbak bunga di taman. Begitulah, dengan ramahnya Jamila menerima kedatangan Serambi yang ingin mendengar dia bertutur. Bismillahirrahmanirrahim, mari kita mulai Pak, katanya dengan ringan. Dia melemparkan senyum. Bola matanya yang hitam, seakan liar merekam suasana keliling. Tak sama seperti menit-menit sebelumnya. Beberapa menit sebelumnya, si gadis terkesan agak kikuk dan malu-malu. Apalagi, ketika disebut, kemungkinan profilnya akan menghias halaman satu. Rona merah pun memancar dari wajahnya. Cantik sekali dia. Bahkan dua personel militer Spanyol yang mendampingi saat wawancara, terlihat tak mampu menyembunyikan rasa kagumnya. Siapakah si jelita ini ? Dialah relawan Spanyol berdarah Aceh. Dia tergabung dalam kontingen militer negeri Matador sebagai penerjemah. Namanya pun nyaris sama nama wanita Aceh: Jamila ! Lengkapnya, Jamila Bravo Maagdalia. Setiap hari, Jamila yang berseragam militer wira-wiri di kawasan Lampineung, Lampriek, dan Lambaro Skep di Kota Banda Aceh. Dia selalu tampak bersama personel militer negeri Spanyol. Tapi dia memang bukan militer. Hanya karena setiap anggota tim harus berseragam militer, maka ia pun mengenakannya. Bahkan mau tak mau mengikuti aturan militer. Di tiga lokasi itu, mereka bertugas membersihkan puing tsunami dan rumah penduduk. Peran Jamila menjadi penting. Komunikasi antara warga dan serdadu Spanyol --yang sebagian besar tak bisa berbahasa Inggris-- menjadi lancar karena Jamila. Gadis itu mengaku ingin berbuat lebih. Tak sekadar hanya menjadi penerjemah. Tapi karena dia datang memang sebagai jurubahasa, keinginan berbuat lebih terpaksa tak terwujud. Kalau diperbolehkan, saya ingin mengabdi lebih lama di Aceh. Jika pemerintah Indonesia dan Spanyol memperbolehkan saya tinggal lebih lama di sini, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan tugas kemanusiaan di sini. Saya sedang mencari bagaimana caranya supaya (bisa tinggal) paling tidak beberapa bulan lagi, kata penyuka gulai Aceh ini. Dan, wawancara kemarin berlangsung santai. Kekakuan pada awalnya segera mencair. Bahkan sesekali terdengar derai tawa dalam canda. Misalnya, saat disinggung soal jodoh, Jamila tersipu malu. Kalau soal jodoh di tangan Tuhan ya. Kalau nenek saya memang aktif mencarikan saya jodoh, ya dimana-mana, tuturnya tertawa. Ketika Jamila mengucap nama Allah, Serambi sempat terkesiap. Saya Muslim, tuturnya. Selama berlangsungnya wawancara sekitar 1,5 jam, dia beberapa kali mengucap, Alhamdulillah. Tetapi, Jamila mengaku ayahnya yang bernama Pablo Bravo menganut agama Katolik. Sedangkan, ibunya yang keturunan Aceh-Padang, beragama Islam bernama Hj Cut Maagdalia binti H Anwarsyah. *** RIWAYAT singkatnya pun mengalir dalam wawancara. Kakek Jamila (dia menyebutnya Abusyik) adalah Anwarsyah, asal Gang Dahlia, kelurahan Merduati Banda Aceh. Dalam perjalanan hidupnya sebagai angkatan laut Indonesia pada masa awal-awal kemerdekaan, Anwarsyah mempersunting Suriati yang berasal dari Padang, Sumatera Barat. Mereka lebih banyak hidup di Surabaya, Jawa Timur. Disitu pula, ibu Jamilah, Cut Maagdalia dilahirkan. Anwarsyah kerap diundang dalam berbagai acara dan bertemu sejumlah tokoh-tokoh penting. Sekitar tahun 1970-an, dia memperkenalkan anaknya, Cut Maggdalia kepada Pablo Bravo, diplomat Spanyol yang ditugaskan ke Indonesia untuk membuka Kedutaan Besar negeri itu di Jakarta. Walhasil, mereka pun menikah. Tiga tahun kemudian, Pablo Bravo dan Maagdalia meninggalkan Indonesia menuju ke tempat tugas baru di Jerman. Di sanalah, pasangan ini dikaruniakan seorang putri yang diberi nama Jamila Bravo Maagdalia. Nama Jamila diberikan oleh almarhum kakek saya, karena beliau mengagumi seorang pahlawan Aljazair yang bernama Jamila T Kasih. Bravo nama bapak saya, sedangkan Maagdalia nama ibu. Memang seperti itu kebiasaan di Spanyol, katanya. Jamila hanya dua tahun di Jerman. Setelah itu dia dan ibunya kembali ke Jakarta, karena ayahnya ditugaskan ke Arab Saudi dan Mesir. Pada umur 11 tahun, dia dikirim belajar ke Spanyol, selama empat tahun. Pada waktu umur 15 tahun, Jamila ikut ayahnya yang ditugaskan ke Maroko. Karena ibu sudah berpisah dengan ayah, katanya. Setahun kemudian, karena tak betah dengan situasi Marokko, Jamila pulang ke Jakarta. Setelah menamatkan SMA di Jakarta, ia melanjutkan studi ke San Pablo CEU Madrid, bidang ilmu hukum Spanyol (1995-1999). Kemudian dia melanjutkan studi S-2 di Jerman, bidang Hukum Uni Eropa. Selesai S-2, Jamila bekerja di Jerman selama 6 bulan, di protokol Expo Hannover. Dia kemudian kembali ke Madrid dan ditawarkan kerja di bagian atase perdagangan, Kedutaan Besar Spanyol untuk Afrika Selatan. Setahun di Johannesburg, dia kembali lagi ke Madrid dan bekerja dengan Uni Eropa di program bantuan untuk Amerika Latin. sesuai dengan spesikasi bidang kuliahnya waktu S-2. Tahun itu, dilaluinya dengan bepergian ke sejumlah negara di Amerika Latin, seperti Meksiko, Brazil, Chile, Costa Rica dan Argentina. Pekerjaan itu sangat membantu untuk mendewasakan diri juga pekerjaan saya itu sangat positif karena itu juga program-program bantuan, salah satu cara saya untuk memulai dunia koperasi dan dunia bantuan, katanya seraya menambahkan sejak umur 14 tahun, dia mulai bekerja pada berbagai rumah yatim piatu. *** CERITA Jamila ke Aceh, adalah kisah sedih dan gembira bercampur aduk menjadi satu. Sedih, karena di bola matanya Jamila merekam bayang-bayang Aceh kini. Dia melihat kenyataan, kampung asal kakeknya hancur lebur dihantam gelombang laut bernama tsunami. Bahkan, bencana alam itu merenggut nyawa 50 orang keluarga besarnya yang tinggal di beberapa kawasan di Banda Aceh. Dibalik kesedihan, kedatangannya ke Aceh juga memberi kebahagiaan. Dia bisa berjumpa dengan sisa-sisa keluarga besarnya yang hanya pernah dikunjungi pada saat masih kanak-kanak, puluhan tahun silam. Dia merasa bahagia. Karena kedatangannya bersama kontingen Spanyol yang membawa bantuan, disambut gembira oleh masyarakat Aceh, terutama sisa-sisa keluarga besarnya yang selamat dari musibah. Sebelum ke Aceh, Jamila yang bekerja di kamar dagang Madrid, perasaan Jamila sempat kacau balau saat mendengar kabar Aceh dihantam gelombang tsunami dengan kekuatan yang luar biasa. Rasa kemanusiaan Jamila langsung terusik. Dia sibuk menyodorkan lamaran ke sejumlah NGO di Spanyol, agar diterima sebagai relawan yang akan dikirim ke Aceh. Berbekal kemampuan bahasa Spanyol dan Indonesia yang fasih --selain bahasa Inggris dan bahasa Jerman-- Jamila berharap bisa membantu para relawan negeri Matador yang akan menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Aceh. Penantian Jamila terasa begitu lama, sampai akhir Januari 2005, tidak ada NGO yang menerima lamarannya. Kebetulan dari Departemen Pertahanan Spanyol menghubungi Kedutaan Besar Indonesia di Madrid dan meminta tolong mencarikan orang yang bisa bahasa Indonesia dan bahasa Spanyol fasih, katanya. Dan Jamila pun terpilih. Perjalanan dari Spanyol ke Aceh terasa sangat panjang dan lama. Selama itu pula Jamila sibuk mempersiapkan mentalnya. Sebab selama di Spanyol banyak berita di media yang menyiarkan kejadian tentang musibah tsunami. Saya sama sekali tidak mau melihat, karena sudah cukup berat, mendengar saja tidak sanggup, katanya. Tapi saya begitu takut waktu datang (ke Aceh), karena belum pernah melihat gambar-gambar kejadiannya. Jadi waktu saya datang, takut akan kenyataan, saya tidak akan kuat untuk menghadapi. Tapi Alhamdulillah baik. *** MENGHARUNG laut bersama kapal induk Galicia milik angkatan laut Spanyol selama 23 hari, Jamilah dan rombongan militer Spanyol akhirnya mendarat di pelabuhan Krueng Geukueh, Lhokseumawe, pada 10 Februari lalu. Bagaimana perasaan ketika pertama mendarat?, tanya Serambi. Ya gimana ya, kalau dibilang menghancurkan hati, ya menghancurkan. Karena begitu kami sampai, kami lihat di dekat pelabuhan itu banyak orang yang tinggal di tenda-tenda, katanya. Tapi yang mungkin membantu saya untuk terus maju ke depan, bagaimana masyarakat di sana menerima kami dengan senyum, dengan rasa terimakasih yang besar dan kami mulai bekerja dengan mereka. Jadi Alhamdulillah tidak ada waktu untuk terlalu banyak berfikir. Walaupun dalam kesusahan mereka sepertinya bahagia menerima bantuan dari Spanyol. Alhamdulillah lancar pekerjaan. Dari Lhokseumawe ke Banda Aceh, sebagian konvoi melalui darat untuk membawa peralatan berat. Sedangkan Jamila bersama sisa kontingen berangkat lewat laut. Hari pertama saya sudah mau turun ke darat tapi karena banyak sekali masalah yang harus diselesaikan untuk koordinasi saya tidak bisa turun ke darat. Tapi saya fikir lebih baiklah, jadi saya ada satu hari lagi untuk mempersiapkan diri, kenangnya. Dari kapal Galicia yang hanya berjarak dua mil dari bibir pantai, Jamila bisa menyaksikan dasyatnya dampak tsunami. Perasaannya semakin galau melihat pemukiman di bibir pantai yang telah rata dengan tanah. Mungkin Tuhan memberikan saya satu hari lagi untuk mempersiapkan diri, katanya dengan wajah menerawang. Esoknya, Jamila bersama Komandan Kapal Galicia, Captain de Navio Antonio Hernandez Palacios, yang merangkap sebagai pimpinan tim Spanyol, turun ke darat dengan menggunakan helikopter. Yang pertama, saya ingin bagaimana caranya saya bisa berbuat semaksimal mungkin. Kadang-kadang saya frustrasi juga, karena banyak yang saya ingin lakukan tetapi saya harus menahan diri, ujarnya sedih. Di Banda Aceh, Jamila sempat bertemu dengan ibunya yang datang dari Jakarta untuk membawa bantuan sekaligus bertemu keluarga yang selamat. Tinggal sedikit sekali, ada sekitar 50 orang dari keluarga kami yang menjadi korban. Sebenarnya saya mau menghabiskan banyak waktu dengan keluarga yang masih ada. Mudah-mudahan sebelum kami pulang, saya bisa bertemu kembali dengan keluarga di sini, katanya lirih. Dan, begitulah Jamila, menerawang dia sejenak dalam sejarah kediriannya. Dia sang gadis Spanyol, dan di bola matanya menghampar Aceh dalam riwayatnya kini.(nurdin hasan/zainal arifin) _____ <http://promos.hotbar.com/promos/promodll.dll?RunPromo&El=&SG=&RAND=40428&pa rtner=fastutility> Block Spam Emails - Click here! [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> What would our lives be like without music, dance, and theater? Donate or volunteer in the arts today at Network for Good! http://us.click.yahoo.com/WwRTUD/SOnJAA/i1hLAA/TXWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
