Source :
http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=5&id=195890&kat_id=105&kat_id1=147&kat_id2=269

Jumat, 29 April 2005
KH Tengku Zulkarnaen
Umat Kehilangan 'Rasa' Dakwahnya

Bagi sebagian orang, ulama yang satu ini cukup populer. KH Tengku Zulkarnaen 
memang mudah dikenali karena kerap mengisi acara ceramah dan siraman rohani di 
layar kaca.

Gaya bicaranya lugas dan tegas terutama bila menyangkut permasalahan yang 
tengah dihadapi umat. Maka tidaklah mengherankan ketika Ketua Umum Mathla'ul 
Anwar ini diminta komentarnya seputar gerakan dakwah di sela Kongres Umat Islam 
Indonesia (KUII) beberapa waktu lalu, dengan terus terang, mengemukakan 
pendapat dan harapannya untuk kemajuan bidang dakwah Islamiyah.

Menurut dosen Fakultas Sastra USU Medan jurusan Lingustik Inggris ini, problem 
utama dakwah di tanah air, selain masalah rutin semisal lemahnya strategi dan 
konsep dakwah, adalah kurangnya sifat dakwah pada umat. Padahal kata dia, 
dakwah bukan cuma tanggungjawab dan urusan ormas Islam dan lembaga formal 
keagamaan, tetapi juga umat secara keseluruhan.

Inilah yang coba diutarakannya dalam KUII kemarin seraya harapan bahwa fokus 
dakwah hendaknya juga diarahkan pada upaya penyadaran akan pentingnya 
menumbuhkan sifat dakwah tersebut. Sebuah upaya yang bila dilaksanakan dengan 
sungguh-sungguh, akan membawa keberhasilan. Berikut petikan wawancaranya:

Apa saja masalah krusial yang dihadapi gerakan dakwah dewasa ini?
Jelas banyak sekali. Mulai dari strategi maupun konsep dakwah yang sekiranya 
perlu dibenahi, belum tercapainya sinergi antara ormas Islam dan lembaga Islam, 
dan masih banyak lagi. Namun menurut saya, satu permasalahan terbesar yang kita 
hadapi adalah hilangnya sifat dakwah dari sebagian umat.

Semua orang Islam wajib berdakwah. Begitu masuk agama Islam, kita wajib 
menyampikan kebenaran Islam kepada orang lain. Ibarat orang yang selama ini 
buta, kemudian matanya dioperasi hingga bisa melihat keindahan dunia, terus apa 
yang harus dia perbuat. dia harus berpikir supaya orang buta dapat dioperasi 
dan bisa pula menikmati indahnya dunia. Dia dapat berbuat apa saja yang dia 
bisa lakukan untuk membantu.

Jadi pada intinya dakwah ini beda dengan taklim. Kalau mengajar memang perlu 
ulama dan orang alim, tapi mengajak orang kepada kebaikan tidak perlu orang 
alim, asal dia tahu ilmu agama dia bisa memberikan pengetahuannya untuk orang 
lain pula. Contohnya saja adzan adalah seruan yang sempurna, bolehkah anak 
kecil mengumandangkan adzan? Jawabannya boleh saja, walaupun dia tidak alim. 
Dengan begitu Islam dapat membuktikan bahwa dakwah adalah kerja semua umat.

Selama ini telah terjadi salah persepsi di masyarakat mengenai esensi dakwah?
Betul dan itu terjadi karena kita selama ini tidak bisa membedakan dakwah dan 
taklim tadi. Padahal di masjid Nabi sejatinya ada empat amalan; dakwah, taklim, 
ibadah, dan hikmat. Intinya kita menggunakan diri dan harta kita untuk 
sebanyak-banyaknya mengenalkan agama Islam kepada seluruh dunia.

Kta lihat, orang di Eropa kalau sudah masuk Islam, dia akan berubah total. 
Pribadinya berubah, pakaiannya berubah juga cara bicaranya. Sehingga ketika 
setiap dia ditanya kenapa berubah, dia akan langsung berdakwah. Islam-lah yang 
telah mengubah saya. Oleh sebab itu tidaklah mengherankan dewasa ini kita 
saksikan percepatan pertumbuhan Islam di Eropa begitu tinggi yang salah satu 
sebabnya karena setiap orang mendakwahkan agamanya. Di Indonesia tidak. Kita 
kalau mengajak orang kepada kebaikan seolah malu, kita lebih senang mengajak 
orang untuk makan siang.

Bagaimana untuk mengubah persepsi itu?
Ya harus terus disadarkan, dan saya kira tidak terlalu sulit. Kita lihat 
misalnya Jamaah Tabligh di Jakarta, mereka yang mantan pelaku kriminal diberi 
siraman rohani selama tiga hari, Alhamdulillah selanjutnya orang tadi berubah 
total dan mengajak yang lainnya untuk masuk ke dalam Islam yang 
sebenar-benarnya. Sebenarnya tidak terlampau sulit, asal ada niat serta kemauan 
saja. Makanya kalau setiap umat Islam di Indonesia sudah menjadikan sifat 
dakwah menyatu dalam diri, maka Islam di tanah air tidak akan merosot jumlahnya 
bahkan kian berkembang di masa depan.

Lantas tantangan dakwah yang perlu dicermati ke depan?
Sebenarnya banyak sekali; arus globalisasi, kiprah kelompok non-Islam, dan 
orang-orang yang hanya ingin mengeruk keuntungan duniawi. Ini semua tentu musuh 
kita. Tapi sebetulnya itu tidak berpengaruh sama sekali bila di dalam diri kita 
kuat melaksanakan sunnah Islam. Kata nabi, perumpamaan orang yang selalu 
mengingat Allah itu orang yang hidup dan orang yang tidak ingat Allah itu 
adalah orang yang mati. Kenapa Nabi menyinggung hidup dan mati, karena benda 
hidup tidak dipengaruhi oleh lingkungan. Contohnya ikan di laut direndam air 
garam 5-10 tahun kita makan dagingnya kan tidak terasa asing, tapi bila ikan 
itu sudah mati kita rendam dengan air garam selama dua jam, baru terasa asin.

Kita sebenarnya tidak terlalu risau dengan masalah eksternal umat, asalkan kita 
mampu mengamalkan ajaran agama 100 persen. Maka dari itu, kita hendaknya 
mengamalkan cara nabi saja. Kalau kita hidupkan sunnah, makan, tidur, bertutur 
kata dan sebagainya dengan cara nabi niscaya akan memperoleh kebahagiaan dunia 
dan akhirat.

Dalam penyelenggaraan KUII, juga dicermati masalah pemurtadan serta 
pendangkalan akidah?
Ini sebenarnya problem lama. Dulu yang seperti itu dinamakan mu'tazilah, dan 
itu sejak zaman dahulu memang sudah muncul bahkan sepeninggal Rasulullah sudah 
ada. Mu'tazillah adalah memahamkan ajaran Islam menurut akalnya. Kalau 
bertentangan dengan akalnya, dia tidak menganggap teks Alquran maupun hadis 
sebagai sesuatu yang valid. Ini jelas kesalahan fatal.

Tidak ada tradisi memahamkan Alquran itu dengan akal. Itu hanya pengaruh dari 
para ilmuwan-ilmuwan Barat. Dalam salah satu hadis nabi disebutkan bahwa barang 
siapa yang menafsirkan Alquran menurut akalnya, nanti kedudukannya dalam 
neraka. Maka apa yang dilakukan para sahabat mereka memahamkan Alquran dari 
nabi, bertanya kepada nabi, melihat sikap nabi, dan melihat perilaku nabi.

Menurut hemat saya, orang-orang mu'tazilah ini justru patut dikasihani. Dia 
berpegang pada sains sehingga agama harus tunduk pada sains, padahal sains 
senantiasa berubah. Kebalikannya, Alquran dari dulu hingga sekarang tidak 
pernah berubah.

Lantas mengapa paham mu'tazilah ini bisa berkembang, hal tersebut tidak bisa 
dilepaskan dari kenyataan bahwa kita belum sepenuhnya mengamalkan sunnah nabi 
sehingga kita menganggap apa-apa yang terdapat dalam Alquran dan hadis bukan 
sebagai kebiasaan hidup kita.

Apa yang harus dilakukan dalam waktu dekat?
Betulkan akhlak umat. Kalau sudah betul maka hal-hal yang merusak akan dibuang. 
Termasuk juga mu'tazilah akan dibuang orang dan bakal kembali kepada Alquran 
dan sunnah. Dakwah harus difokuskan pada sasaran tersebut yakni memperbaiki 
akhlak dan mengembalikan pada kebenaran. Seperti saya sampaikan tadi, ini tugas 
kita bersama, bukan hanya ormas Islam, lembaga Islam melainkan kewajiban serta 
tanggungjawab seluruh umat untuk mendakwahkan Islam.
( yus ) 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/hjtSRD/3MnJAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke