"Apa kata HAMKA mengenai Ahmadiyah dan yang sejenis"
Sebuah kutipan dari buku HAMKA untuk teman-teman
[EMAIL PROTECTED] yang dikutip oleh
[EMAIL PROTECTED]
Buku Acuan: HAMKA (Hadji 'Abdulmalik bin
Abdulkarim Amrullah), 1956, "Peladjaran Agama
Islam," Penerbit "Bulan-Bintang," Djakarta, Tjetakan
Pertama.
Catatan ([EMAIL PROTECTED]): (1)
HAMKA
(almarhum) adalah salah seorang ulama besar dan
seorang
susatrawan besar Indonesia, (2) Saya gunakan buku di
atas
sebagai acuan karena pengarangnya orang cukup
kompeten di
bidang agama Islam, (3) Mengapa buku sekuno ini
(yang
diterbitkan saat saya baru lahir) saya gunakan:
untuk
memberi gambaran bahwa masalah Ahmadiyah adalah
masalah lama
yang menurut saya sudah usang, namun karena
[EMAIL PROTECTED]
baru membahas ya saya posting untuk informasi kita
semua.
Catatan khusus mengenai diskusi
Ahmadiyah
di
[EMAIL PROTECTED]:
Menurut pendapat saya teman-teman Ahmadiyah
di
[EMAIL PROTECTED] merupakan orang-orang yang
rajin dan
pandai, mereka mengemas "dagangannya" (meminjam
istilah
teman-teman Ahmadiyah) sedemikian rupa menyerupai
reklame
pil Tuntas di Indonesia yang bunyinya TAS ... TAS ...
TAS.
Kemasan dagangan dan refreshment yang disajikan
sudah
memenuhi standar ISO-9000, namun mungkin belum
mendapat
label "Halal" dari MUI, yang perlu diperhatikan lagi
kalau
membeli barang ini adalah masa kedaluarsanya
(istilah
keren-nya expiration date) ... mengapa?, karena
barang
usang yang mereka jual! ... perut bisa sakit
kalau
makan, ... dan sama sekali tidak membuat kita kuat
(...
maaf ya ini memang betul-betul yang saya rasakan
dalam
hati ...).
Wah ... wah memang di dunia ini macam-macam ... coba
kalau
di Indonesia, malahan ada yang lebih aneh ... tuh
inget
'ngga? ada orang jualan jin ... wah pasti lebih rame
lagi
kalau dianya jualan jin di [EMAIL PROTECTED], apalagi
kalau
kemasannya memenuhi ISO-JIN ... bakalan rame.
... namun demikian karena mereka tetap jual
dagangan, maka
meminjam istilah grup rock masa lalu yang terkenal ...
"The Show Must Go On"
... by Three Dog Night
... so what ... well, let's do it ...
Kutipan di bawah ini berasal dari buku diatas dari
halaman
191 sampai dengan halaman 201. Buku diatas ditulis
dalam
ejaan Indonesia lama; dalam kutipan
saya
([EMAIL PROTECTED]) di bawah ini saya
gunakan
ejaan Bahasa Indonesia yang berlaku sekarang,
dengan
menghilangkan setiap huruf Arab yang ada di
dalam buku
aslinya. Gaya bahasa yang saya gunakan hampir 99%
sesuai
dengan aslinya yaitu gaya bahasa tahun 50-an, harap
maklum.
ISI KUTIPAN:
- TAK ADA NABI SESUDAH MUHAMMAD
- PERCOBAAN MENGAKU NABI LAIN SESUDAH MUHAMMAD
- AL-BAB, BAHAULLAH DAN GHULAM AHMAD
- AHMADIYAH
- PENDAPAT KITA
- HADIST MAHDI DAN ISA
Karena besarnya, posting ke [EMAIL PROTECTED]
direncanakan
dalam empat bagian, harap maklum.
******** BAGIAN I/IV ********
Semoga menjadi bacaan yang berguna.
... Atas nama Allah yang Maha Pengasih lagi
Penyayang
============================================================
halaman 191
TAK ADA NABI SESUDAH MUHAMMAD
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Tak ada lagi nabi sesudah Muhammad, dan tidak ada
rasul.
Baik nabi yang akan dinamai "pengiring" Muhammad, atau
nabi
yang membawa syariat baru. Demikian kepercayaan Ummat
sejak
Quran diturunkan.
Nabi Muhammad pun bersabda:
"Tidak ada nabi lagi sesudahku."
Tak ada nabi atau rasul lagi, sebab tidak ada SOAL
lagi.
Soal apa lagi yang akan dibawa oleh nabi yang baru?
Sedang
masyarakat manusia sudah lebih maju, dan ada
jalan
kesanggupan buat mencari Kebenaran Tuhan Yang Maha
Esa dan
Kuasa dengan sendirinya. Bukan saja Quran, bahkan
kitab
Taurat dan Injil dan Zabur telah dicetak
bermilliun
banyaknya. Meskipun menurut kepercayaan Islam, dalam
Quran
telah terkumpul intisari dari kitab-kitab terdahulu
itu.
Memang! Manusia senantiasa maju dalam mencari
Ilmu
pengetahuan. Senantiasa maju didalam mencari
rahasia isi
bumi, bahkan bulan dilangitpun telah diselidiki
orang.
Tentang kemajuan disudut ini, tidaklah ada
diantara kita
yang membantahnya. Tetapi bagaimanapun kemajuan
Ilmu
pengetahuan, namun inti dari ilmu pengetahuan itu
sudah ada
dalam ajaran Tauhid, yang sudah genap diajarkan
oleh
Muhammad. Inti kepercayaan kepada Tuhan sudah cukup,
tidak
perlu tambahan lagi dari orang yang mengatakan dirinya
nabi
atau dikatakan oleh pengikutnya nabi.
halaman 191
PERCOBAAN MENGAKU NABI LAIN SESUDAH MUHAMMAD
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Berkali-kali telah dicoba orang juga mendakwakan
dirinya
Nabi pula, ada yang sengaja hendak menandingi
Muhammad, dan
ada pula yang mengatakan syariat Muhammad telah putus,
sebab
nabi baru telah datang membawa syariat baru. Dan ada
pula
yang mengatakan bahwa dia, atau guru ikutannya,
adalah nabi
pula sesudah Muhammad. Tetapi bukan membawa syariat
baru.
Kedatangannya hanyalah hendak menyempurnakan
syariat
Muhammad saja.
Berkali-kali orang seperti ini telah datang, tetapi
kemudian
ternyata seruannya hilang saja, tidak hidup.
Karena
kebesaran Tauhid ajaran Muhammad menelan habis
satu
percobaan yang lain. Nabi-nabi dusta tumbang
dengan
sendirinya, tidak dapat berurat di bumi ini. Mereka
gagal,
karena dustanya, dan karena soal yang dibawanya itu
tidak
cukup satu seperseratus dari soal Nubuwwat Muhammad.
halaman 191
AL-BAB, BAHAULLAH DAN GHULAM AHMAD
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Di Iran (Persia), sangatlah berpengaruh Mazhab
Syiah.
Mazhab ini pada mulanya adalah satu faham
politik yang
timbul karena membela hak Ali ibn Abi Thalib
menjadi
kalifah. Kaum Syiah terbagi menjadi tiga golongan
besar
yaitu Kisaniyah, Ismailiyah dan Itsna'
Asyriyah.
Ketiganya mempunyai kepercayaan bahwa Imam mereka yang
akhir
adalah ghaib dari dunia dan kelak akan datang
lagi ke
dunia. Kaum Kisaniyah percaya bahwa yang ghaib itu
adalah
Muhammad Ali Hanafiah. Sekarang dia masih
sembunyi di
salah satu gua di gunung Ridhwan.
Ismailiyah percaya bahwa yang ghaib itu adalah Imam
Ketujuh
yaitu Ismail sendiri. Diapun akan datang kembali.
Aga Khan
yang terkenal adalah pemimpin mereka.
Ketiga adalah Itsna' Asyriyah. Inilah mazhab
Syiah yang
paling besar pengikut dan pengaruhnya, terutama di
tanah
Iran. Apalagi setelah Syah Ismail dapat mendirikan
Kerajaan
Shafawi di Iran dan menetapkan mazhab Syiah sebagai
mazhab
resmi kerajaan, maka bertambah tertanamlah pengaruh
mazhab
ini.
Mazhab ini mempunyai dasar dan tiang kepercayaan bahwa
imam
ke-12 yaitu Muhammad bin Hasan Al-'Askary adalah ghaib
pula,
dan akan datang kembali di akhir jaman, dan dialah
Mahdi.
Apabila dunia ini sudah sangat kacau, apabila
kelaliman
sudah bersimaharajalela di dunia, waktu itulah dia
akan
datang kembali ke dunia. Adapun sekarang beliau
masih
ghaib. Segala raja yang memerintah adalah mewakili
beliau.
Ketika Imam ke-12 itu ghaib, beliau meninggalkan empat
orang
wakil. Dan setelah wakil-wakil itu wafat, beberapa
masa
kemudian Imam yang ghaib akan datang. Lalu
dihitung-hitung
tahunnya menurut ilmu huruf (abjad). Sudah
berkali-kali
bahaya menimpa Islam; Imam belum juga datang. Sudah
jatuh
Baghdad ketangan musuh. Sudah patut dia datang,
tapi tak
juga datang. Bermacam-macam cobaan, Imam tidak juga
datang.
Dihitung-hitung tahunnya, rupanya sudah berlebih, Imam
tidak
juga datang.
Waktu itu timbulah satu firkah yang melepaskan
diri dari
Syiah umum, bernama firkah "Syaichiyah." Mereka
akhirnya
membulatkan kepercayaan bahwa Mahdi atau Imam
Ghaib itu
telah membuat kontak dengan Alam, dengan perantaraan
diri
Said Ali Muhammad, yang bergelar Al-Bab atau
Bab-Allah.
Dia menyatakan bahwa mahdi yang ditunggu itu
adalah dia.
Dan dia membawa syariat baru. Dengan datangnya
syariatnya,
putuslah syariat Muhammad. Diapun mempunyai kitab
baru.
Namanya "Al-Bayan." Dia lahir pada tahun 1235H.
Tetapi Al-Bab telah membuat pengakuan berlebih dari
yang
diharapkan. Sebagian pengikutnya hanya mengakui
bahwa dia
Al-Bab. Seba itu terbitlah pertentangannya dengan
Haji
Muhammad Karim Chan Al-Karmani, yang mengakuinya
hanya
sebagai Al-Bab (pintu) menghubungkan Imam yang ghaib
dengan
mahluk. Sedang dia mengaku bahwa dia sendirilah
Mahdi itu
dan dialah Imam yang ghaib.
Pengikutnya bernama Babiyah. Oleh Sultan Nasiruddin
Syah,
kaum Babiyah ini disapu bersih. Bab itu sendiri
dihukum
bunuh.
Bahai-yah. Setelah Al-Bab mati dibunuh,
dipercayakanyalah
pimpinan sisa-sisa pengikutnya kepada Bahaullah,
muridnya
yang terpandai. Setelah pimpinan jatuh ketangannya,
tiba
pulalah bahwa dia adalah rasul dan nabi yang
berdiri
sendiri, membawa syariat sendiri dan berkitab suci
sendiri.
Adapun Al-Bab hanyalah nabi mendahului dia, serupa
Yahya
mendahului Isa. Maka kalau Al-Bab sebagai
Mahdi
"Al-Muntazar" (yang ditunggu), dia adalah
Al-Masih,
"Al-Mau'ud" (yang dijanjikan akan turun), Al-Bab
membawa
kitab bernama Al-Bayan. Diapun membawa kitab pula.
Katanya
bernama Al-Aqdas. Dengan kedatangannya maka habis
pulalah
--katanya-- tugas agama Bab Allah! Dia lahir tahun
1817 dan
meninggal 1892.
Bukan saja dia Bahaullah, tetapi diapun Jamamullah.
Al-Bab
bergelar Al-Qaim. Dia bergelar Al-Qayyum.
Wadjahnya
bersinar diantara langit dan bumi sebagai intanpermata
yang
gilang-gemilang. Syariat Muhammad, terutama tentang
jihad,
telah di-mansuch-kan, karena kedatangan syariatnya.
Oleh Sultan Nasiruddin Syah dia dibuang ke Baghdad,
kemudian
dipindahkan oleh pemerintah Turki, mulanya ke
Istambul,
kemudian ke Adrianopel, dan akhirnya ke Acre.
Sebagaimana
pecahnya dengan Al-Bab dan pecahnya Al-Bab dengan
Muhammad
Karim Chan, maka Bahaullah pun berpecah pula dengan
saudara
kandungnya Mirza Yahya yang bergelar Shubhi Azal.
Agama Bahai ini dapat hidup di Eropa dan Amerika.
Terutama
setelah puteranya Abdul Baha' datang ke Amerika di
tahun
1912. Dia menarik hati beberapa orang Amerika,
sebab dia
"menghapuskan syariat Muhammad," terutama jihad.
Artinya,
kalau menurut syariat Bahaullah, apapun yang
terjadi, kita
tidak boleh mempertahankan agama kita dengan
kekerasan,
kecuali kalau sudah sangat terdesak. (Bukankah Agama
Islam
pun memakai kekerasan kalau sudah sangat terdesak?).
******** BAGIAN II/IV ********
halaman 193
AHMADIYAH
^^^^^^^^^
Mirza Ghulam Ahmad di Qadiyan India-pun
mendakwakan pula
dirinya Mahdi dan Isa. Jadi sekaligus keduanya,
berbeda
dengan Al-Bab dan Bahaullah. Diapun menerima
wahyu-wahyu
Illahi, menurut dakwanya. Tetapi ada perbedaan
sedikit,
karena Mirza Ghulam Ahmad, katanya, bukanlah
menghapuskan
syariat Muhammad dengan syariat yang baru. Dia adalah
Nabi
Pengiring. Dialah Mahdi yang ditunggu dan Isa
yang
dijanjikan, dan dia pulalah Mujaddid yang mesti datang
tiap
seratus tahun sekali.
Pengikut Mirza Ghulam Ahmad pun pecah menjadi dua
pula.
Keduanya sama-sama bernama Ahmadiyah. Pertama,
Ahmadiyah
Qadiyan, mempunyai Kalifatul-Masih yaitu Kalifah dari
Mirza
Ghulam Ahmad sendiri. Golongan Lahore memisahkan
diri dan
mengakui Mirza Ghulam Ahmad hanyalah semata-mata
guru dan
mujaddid. Terjadi pertentangan diantara keduanya,
karena
golongan Qadiyan menuduh kafir golongan Lahore karena
hanya
mengakui mujaddid saja. Golongan Lahore yang
memisahkan
diri itu dikepalai oleh Maulana Mohammad Ali dan
Kawaya
Kamaluddin.
Kedua golongan Ahmadiyah ini sama-sama berusaha
menyiarkan
Islam, tetapi melalui dasar faham mereka lebih dahulu,
yaitu
Mirza Ghulam Ahmad (Al-Masih al-Mau'ud) bagi
Qadiyani, dan
Mirza Ghulam Ahmad (Mujaddid Abad ke-20) bagi kaum
Lahore.
halaman 194
PENDAPAT KITA
^^^^^^^^^^^^^
Haruslah kita selidiki bagaimana besarnya
pengaruh
kepercayaan kaum Syiah, terutama di Iran dan
juga di
Hidustan. Menunggu kedatangan Imam yang Ghaib, Imam
Mahdi
akan datang kembali dan Nabi Isa akan turun, dan
Isa dan
Mahdi itu ialah yang seorang itu juga, demikian
mendalam di
kalangan Syiah, sehingga menjadi salah satu
rukun
kepercayaan yang tidak dapat dipisahkan lagi dari
agama.
Kadang-kadang Ahli Sunnah-pun turut juga
menerima
kepercayaan ini, walupun tidak menjadi dasar
benar-benar.
Dan inipun kadang-kadang bertemu didalam sebagian
kepercayaan
kaum Sufi, seperti Ibnu 'Arabi. Maka tidaklah kita
heran,
kalu dari kedua negeri inilah timbul orang-orang
yang
mendakwakan dirinya nabi, atau rasul, atau Mahdi,
atau
Al-Bab (pintu), atau Imam yang Ghaib telah
datang, atau
didakwakan oleh muridnya.
Kita tetap memegang pendirian Ahli Sunnah, bahwa
sesudah
Muhammad tidak akan datang nabi lagi. Karena soalnya
sudah
habis. kalau akan kita terima kedatangan itu, manakah
yang
akan kita tetapkan? Apakah Mirza Ghulam Ahmad, atau
Mirza
Ali Muhammad (Al-Bab), atau Bahaullah? Atau kita
akui
semuanya, padahal diantara satu sama lain berlawanan
pula.
Atau kita akui semuanya, dan kita akui pula yang lain
yang
akan mendakwakan dirinya menjadi nabi pula nanti.
Kalau dikatakan karena dia menyerukan perdamaian
Dunia, maka
dia membawa syariat baru, tidak bolehkah Mahatma
Gandhi
dikatakan pula nabi? Atau Krisna Vedanta di
Colorado? yang
juga menyerukan perdamaian dunia.
Kaum Ahmadi dan Bahai mengemukakan alasan yang sama
untuk
menolak pendirian umum bahwa Nabi Muhammad "Penutup
Segala
Nabi," dengan ayat "Khataman Nabiyyin." Menurut
qiraat
(bacaan) yang umum ayat itu dibaca "Khatam," bukan
"Khatim."
Tetapi artinya adalah "Khatim." Khatam artinya
cincin, dan
Khatim artinya penutup.
Khataman Nabiyyin artinya cincin permata segala nabi.
Kalau
sekiranya kita perturutkan rasa bahasa, tentu Nabi
Muhammad
itu tidak nabi lagi, hanyalah cincin perhiasan
segala
nabi-nabi. Yang mempunyai cincinlah yang nabi, bukan
cincin
itu sendiri.
Didalam keterangan yang biasa mereka kemukakan, adalah
bahwa
tidaklah perkara yang mustahil bahwa Allah akan
berkata-kata
dengan hambanya. Tidaklah akan putus sampai hari
kiamat
orang yang dipilih Allah buat menumpahkan katanya.
Tidaklah
akan hilang begitu saja wahyu sampai kiamat.
Tentang itu Ahli Sunnah-pun mengakui juga. Di
kalangan
sahabat Nabi, ketika Nabi masih hidup terdapatlah
orang
istimewa yang demikian. Yaitu Umar bin Khattab.
Sehingga
Nabi Muhammad pernah mengatakan, bahwasanya jika ada
nabi
sesudahku, niscaya Umarlah orang itu. Tetapi tidak
ada lagi
nabi sesudahku.
Mengapa tidak? Nabi Muhammad sendiri menjelaskan
bahwa
"Ulama-ulama umatku adalah sama derajatnya dengan
nabi-nabi
Bani Israil." Kalau kata nabi yang demikian akan
diperluas,
maka seluruh ulama yang berjasa membangun Islam,
patutlah
disebut nabi. Imam Al-Ghazali, Imam ul Haramain,
Ibnu
Taimiyah, dan muridnya Ibnu Qayyim, dan Syeh
Muhammad ibnu
Abdil Wahhab, dan Said Jamaluddin Al-Afghani, dan
Syeh
Muhammad Abduh dan Said Rasyid Ridha, patutlah
disebut
sebagai nabi. Karena mereka dalam sifat
keulamaannya
samalah jasanya dengan nabi-nabi Bani Israil. Dan
orang
Indonesia dalam kalangan Nahdhatul Ulama patutlah
menyebut
kyai besarnya Hasyim Ashari sebagai nabi, sebab
jasanya
besar pula. Demikian pula Muhammadiyah dengan Kyai
H.A.
Dahlannya.
Banyak diantara ulama mendapat ilham dari Tuhan,
seakan-akan
wahyu Illahi. Karena mereka berfaham Ahli Sunnah,
tidaklah
mereka berani mengatakan dirinya nabi. Dan kalau
mereka
mendakwakan dirinya nabi, akan musnahlah mereka.
Kalimat wahyu suci yang diberikan Tuhan, oleh faham
Ahli
Sunnah telah ditentukan buat rasul dan
nabi.
Setinggi-tinggi martabat manusia ini hanyalah mendapat
hatif
atau ilham, atau mimpi yang benar, atau mahaddas.
Kalau
wahyu itu dikatakan akan putus selama-lamanya,
perkataan itu
benar juga dari segi lain. Lebah menurut Sabda
Tuhan
didalam Quran, mendapat wahyu untuk membuat
sarangnya di
bukit dan di bubungan rumah. Ibu Musa mendapat wahyu
Tuhan
supaya melemparkan puteranya dalam peti di sungai Nil.
Dan
lebah bukanlah nabi, padahal sampai sekarang tidaklah
putus
dia mendapat wahyu itu, selama dia masih bersarang di
bukit
dan di bubungan rumah. Dan ibu Nabi Musa bukanlah
nabi.
******** BAGIAN III/IV ********
halaman 195
HADIST MAHDI DAN ISA
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Al-Quran tidaklah memberikan tuntunan yang tegas
tentang
akan turunnya Mahdi dan Isa di akhir jaman.
Padahal tiga
orang yang mengaku dirinya Nabi atau Rasul di
jaman ini
(Mirza Ghulam Ahmad, Miza Ahli Muhammad dan
Bahaullah),
belum dapat menegakkan pendakwaan itu, kalau tidak
berdasar
kepada hadis-hadis tentang turunnya Mahdi dan Isa itu.
Seratus tahun sesudah Nabi Muhammad wafat, barulah
orang
mempunyai kesempatan untuk mengumpulkan hadis. Yang
lebih
dahulu dikumpulkan hanyalah Quran. Jadi dalam
masa 100
tahun adalah masa "kosong" yang merupakan kesempatan
untuk
membuat hadis bagi golongan-golongan yang
bertentangan.
Terutama kaum Syiah. Payahlah ulama hadis menjaring
hadis
mana yang masyhur, mana yang shahih, mana yang
dhaif dan
mana yang maudhu. Pertentangan-pertentangan yang maha
hebat
di waktu itu di antara beberapa firkah yang timbul
karena
politik, menimbulkan golongan-golongan yang sampai
hati
membuat hadis-hadis palsu, sehingga payah
menjaringnya
setelah ilmu hadis muncul sebagai ilmu yang berdiri
sendiri.
Ibnu Khuldun didalam "Muqaddamah" tarikhnya
mengkaji
satu-persatu hadis Mahdi itu dan menyelidiki sanad
serta
matannya sedalam-dalamnya, sehingga kemudian
diambil
kesimpulan bahwasanya sebagian besar dari hadis ini
tidak
dapat diterima. Oleh sebab itu maka kaum Ahli
Sunnah
tidaklah menjadikan hadis-hadis Mahdi atau nuzul
Isa itu
menjadi pokok kepercayaan prinsipiil.
Ulama tafsirpun berbincang hebat tentang turunnya
Nabi Isa.
Lebih-lebih telah tersebut pula dalam satu hadis,
bahwa
"Mahdi itu tidak lain adalah Isa." Mereka
perbincangkan
apakah Isa itu masih hidup, lalu diangkat Tuhan
kelangit,
ataukah dia telah meninggal dunia sebagaimana
kebanyakan
manusia. Tuhan bersabda tentang Nabi Isa:
"Sesungguhnya Aku mewafatkan engkau
dan mengangkatkan engkau kepadaKu."
Orang yang memegang kepercayaan bahwa Nabi Isa belum
mati,
dan hanya menguatkan bahwa Nabi Isa diangkat ke
langit
dengan tubuhnya, terpaksa mesti mencari arti yang lain
dari
kata "wafat" itu. Tetapi yang berpendapat bahwa
Nabi Isa
mati, langsung saja mengartikan ayat itu menurut
zahir
bunyinya. Mula-mula beliau wafat, setelah itu
beliau
diangkat ke hadirat Tuhan, sebagaimana setiap insan
yang
mulia. Sebab itu ke-angkat-an itu tidak mesti ke
langit,
melainkan ke hadirat Tuhan.
Baik orang Bahai dan orang Ahmadi memegang tafsir
yang
menyatakan bahwa Nabi Isa telah wafat, telah
mati. Dan
kemudian dari hal itu, merekapun menguatkan bahwa
Nabi Isa
akan datang kembali. Yang datang itu bukan Isa
Israili yang
dahulu, karena dia telah jelas meninggal. Yang
ditunggu
kedatangannya sebagaimana tersebut dalam hadis adalah
orang
lain yang membawa sifat-sifat Isa. Kata orang Bahai
orang
itu adalah Bahaullah. Kata orang Ahmadi, orang itu
adalah
Mirza Ghulam Ahmad.
Sebenarnya kepercayaan tentang akan datangnya Mahdi
diakhir
zaman, atau Nabi Isa akan datang kembali, atau
Messiah
menurut kepercayaan Yahudi, atau Buddha Gautama bagi
orang
beragama Buddha, mendalam juga dalam kalangan kaum
Syiah
yang selalu menunggu-nunggu kembalinya Imam mereka
yang
ghaib. Ismailliyah menunggu Ismail. Istna Asyriyah
menunggu
Muhammad bin Hasan Al-Askary, Imam Syiah ke-12.
Kisaniyah
menunggu datangnya kembali Muhammad bin Ali
Hanafiyah.
Semuanya itu sekarang tengah ghaib dan akan datang
kembali!
Kepercayaan seperti inipun mendalam pula pada
setengah
penganut tasawuf, yang mempercayai bahwa alam
diatur oleh
wali-wali Allah yang bernama "Watad," dan
"Badal," dan
"Quthub." "Quthub" itu adalah ghaib pula. Di
Indonesia
kepercayaan ini sangat mendalam dalam filsafat kejawen
yang
menunggu kedatangan Ratu Adil.
Mirza Ghulam Ahmad menyatakan bahwa dialah
yang
ditunggu-tunggu itu. Dialah Isa Al-Masih yang
dijanjikan,
dia pula Mahdi yang ditunggu-tunggu. Dan karena
ada pula
sebuah hadis menyatakan bahwa setiap 100 tahun akan
datang
seorang mujaddid (pembaharu keagamaan), maka dia
pulalah
mujaddid itu. Pendeknya segala yang ditunggu-tunggu
itu,
tidak ada orang lain, melainkan dirinya sendirilah.
Oleh karena dialah Al-Masih, tentu dialah
nabi.
Kadang-kadang Mirza Ghulam Ahmad menyatakan bahwa
dia
bukanlah membawa syariat baru. Dia dengan Nabi
Muhammad saw
adalah bagaikan Harun terhadap Musa belaka. Penguat
syariat
Muhammad, bukan pengubahnya. Tetapi satu hal dia
menyatakan
memang berubah yaitu jihad. Jihad tidaklah dengan
senjata,
cukup dengan mengemukakan alasan-alasan belaka.
Adapun
Bahaullah menyatakan dirinya terang-terang nabi lain
sesudah
Muhammad. Dengan kedatangannya habislah tugas agama
Al-Bab
dengan kitabnya Al-Bayan. Dan dengan kedatangan
Al-Bab
dahulu, habis pulalah tugas syariat Muhammad.
******** BAGIAN IV/IV ********
Adapun dasar kepercayaan kita dengan berpegang
kepada ayat
yang tertulis di atas tadi nyatalah bahwa Nabi Isa
telah
wafat. Nabi Isa telah wafat, dengan berdasarkan
kepada
"mutawaffika" tadi. Dan dia telah diangkat ke
hadirat
Allah, (wa rafi'uka ilayya), sebagaimana setiap
roh yang
suci senantiasa diangkat menghadap ke hadirat Allah.
Adapun tentang turunnya kembali beliau ke dunia,
sebelum
hari kiamat datang, adalah hadis yang bernama
"Al-Uhad."
Tidak termasuk kedalam hadis yang mutawatir. Maka
menurut
pertimbangan ahli-ahli hadis, kalau sekiranya
tidak kita
jadikan menjadi pokok kepercayaan, sebagaimana
pokok
kepercayaan yang enam perkara (rukun iman),
tidaklah kita
keluar dari Agama Islam.
Meskipun demikian tidaklah boleh kita menolak
kekuasaan
Tuhan. Turunnya Nabi Isa kembali ke dunia,
tidaklah hal
yang mustahil, walaupun tulangnya telah hancur.
Bukanlah
didalam Al-Quran ada tersebut cerita
burung-burung yang
telah dicincang lumat oleh Nabi Ibrahim atas perintah
Tuhan.
Burung itu empat ekor banyaknya. Lalu dihantarkan ke
puncak
empat buah bukit. Tuhan memerintahkan kepada Ibrahim
supaya
empat burung itu dipanggil kembali. Maka datanglah
keempat
burung itu, dengan izin Allah!
Dipandang dari segi kepercayaan ini, datangnya
Nabi Isa
kembali ke dunia setelah beribu tahun beliau wafat,
hanyalah
permulaan saja dari kebangkitan mahluk Tuhan yang
lain.
Seluruh insan dihari kemudian akan dibangkitkan.
Hanya Isa
Al-Masih didahulukan. Hal ini biasa saja bagi Tuhan.
Oleh sebab itu, maka pendakwaan orang-orang seperti
Mirza
Ghulam Ahmad dan Bahaullah, bahwa merekalah Isa
Al-Masih
yang dijanjikan itu, tidaklah kita percayai. Kita
memandang
mereka itu hanyalah sebagai pendakwa-pendakwa
kenabian yang
lain juga. Sebelum merekapun telah ada juga
pendakwa
kenabian itu. Menggelegak menggejala setahun dua
tahun,
taruhlah sepuluh-duapuluh tahun, kemudian padam lagi.
Dan
kelak akan begitu pula. Bukan saja yang seperti
ini ada
dalam Islam, juga ada dalam agama Kristen. Bahkan
kaum
theosofi pernah mengemukakan Khrisna Murti sebagai
Al-Masih
yang ditunggu-tunggu itu.
Kaum Bahai dan kaum Ahmadi mengambil alasan atas
kebenaran
seruan mereka, ialah karena kian lama faham
mereka kian
tersiar, terutama di benua Eropa dan Amerika. Ini
bukan
alasan! Sebab kehausan manusia di kedua benua
itu akan
tuntunan rohani, setelah terlalu tenggelam dalam
hidup
kebendaan, menyebabkan ada diantara mereka yang
lekas saja
menerima suatu propaganda baru. Bukan faham
Bahai dan
Ahmadi saja yang mereka terima, gerakan yang
lainpun
mendapat pasaran subur juga disana. Di Jerman
telah ada
pula penganut faham Buddha dan mempunyai biara
sendiri.
Pelajaran tasawuf dari Inayat Khan mendapat penganut
juga.
Bahkan seorang yang mendakwakan dirinya Al-Masih dan
memakai
gelar Khrisna Vedanta di negara bagian Colorado, USA,
telah
mendapat pengikut pula. Demikian pula seorang kulit
hitam
di Pennsylvania (Philadelphia) mengaku dirinya
Tuhan dan
memakai nama Father Divine, tidak pula kurang
penganut dan
pengikutnya.
Di Amerika muncul tidak kurang 200 sekte
Kristen.
Masing-masing mengatakan bahwa mazhab mereka kian
lama kian
besar dan melebihi yang lain.
Terutama kaum Bahai! Mereka timbul di negeri Iran
yaitu
pada jaman pemerintahan Sultan Nasiruddin Syah.
Seorang
syah yang terkenal kejam pemerintahannya dan berkuasa
tanpa
batas. Dibantu oleh mullah-mullah mazhab Syiah, yang
bukan
saja menentang satu pendapat baru, bahkan mazhab
Ahli
Sunnah-pun mereka tentang. Bahaullah pada
mulanya
mengajarkan pembelaan hak kaum wanita,
menganjurkan
penghentian poligami, mengatakan bahwa dalam ajarannya
tidak
ada kekuasaan kaum mullah. Tentu saja ajaran "baru"
dari
Bahaullah ini menggoncangkan politik dan susunan
masyarakat
kerajaan, persekutuan kaum mullah dengan Syah.
Kaum ini
dikafirkan dan diperangi. Al-Bab sampai
dibunuh dan
Bahaullah dibuang keluar negeri. Padahal setelah
kecerdasan
beragama maju kembali, orang telah merasa bahwa tidak
perlu
ada nabi baru membawa ajaran baru. Seruan-seruan
yang
diserukan Bhaullah itu memang telah ada dalam tubuh
Islam
ajaran Muhammad sendiri, dengan tidak usah keluar
dahulu
dari Islam, dan membuat agama baru.
Adapun kaum Ahmadi dan usahanya melebarkan Islam ke
benua
Eropa dan Amerika, dengan dasar ajaran mereka,
faedahnya
bagi Islam ada juga. Mereka menafsirkan Quran
kedalam
bahasa-bahasa yang ada di Eropa. Padahal di jaman 100
tahun
yang lalu masih merata kepercayaan tidak boleh
mentafsirkan
Quran. Pentafsiran Quran dari kedua golongan
Ahmadiyah itu
membangkitkan minat bagi golongan yang
menginginkan
kebangkitan Islam ajaran Muhammad kembali untuk
memperdalam
selidiknya tentang Islam. Orang sekarang telah
pandai
menimbang. Tafsir kaum Ahmadi itu mereka baca juga.
Yang
baik mereka terima dan kepercayaan tetang
kenabian,
kerasulan, kemahdian, ke-Al-Masih-an Mirza Ghulam
Ahmad
mereka singkirkan ketepi. Dan tafsir-tafsir karangan
ulama
Islam sendiripun telah muncul, yang isinya jauh
melebihi
tafsir Ahmadi. Kelebihan tafsir Ahmadi hanyalah
karena
ditulis dalam bahasa Barat, menarik hati kaum
terpelajar
cara Barat, tapi kosong ilmunya tentang bahasa Arab.
Di Indonesia sendiri, ketika gerakan-gerakan ini
mulai
masuk, agak ribut juga orang menerimanya. Apalagi
mereka
suka berdebat-debat sebagai alat propaganda untuk
menarik
perhatian. Dalam pada itu maka pengertian kaum
Islam
tentang agama bertambah mendalam, ahli-ahli Islampun
telah
timbul lebih banyak daripada dahulu. Kian lama kian
sepi
gerakan mereka. Yang dapat tertarik hanyalah
orang-orang
yang belum ada pengertiannya tentang Islam.
Setinggi-tinggi
usaha mereka adalah memelihara
pengikut-pengikutnya. Di
Tempat yang kuat Islamnya, seperti di Padang
Panjang,
terpaksa pengikut-pengikutnya itu meninggalkan
kampung
halaman, dan pindah ke kota Jakarta, sebab
"bebas"
mengerjakan kepercayaannya. Sikap merekapun telah
berubah!
Jika semula pada waktu pertama kali mereka suka
mengajak
berdebat, diakhir-akhir ini mereka mengambil sikap
hanya
mempertahankan diri jika datang serangan. Tandanya
bahwa
pasaran mereka telah mulai sepi.
Adapun kalau ada tambahan pengikut mereka,
tidaklah hal
demikian mengherankan kita di Indonesia ini. Buka
saja
Ahmadiyah, Bahai-pun telah ada pengikutnya disini.
Bukan
saja Bahai dan Ahmadi, bahkan Katolik dan
Protestan-pun ada
juga tambahan penganutnya disini. Bahkan orang yang
masuk
komunis-pun ada. Sebabnya adalah karena Islam di
Indonesia
pada jaman yang sudah-sudah terdesak oleh beberapa
desakan.
Baik politik, atau ekonomi atau kejahilan tentang
ajaran
agama Islam sebenarnya.
Semuanya ini adalah cemeti untuk membangkitkan
beransang
kaum Muslimin, dibawah pimpinan ulama dan pimpinanNya
supaya
bangkit dan berusaha menegakkan "Dakwah Islamiyah,"
lebih
giat daripada yang sudah-sudah.
Alhasil, Muhammad adalah penutup dari segala
rasul, dan
bukanlah dia mata-cincin dari segala rasul.
Sesudah dia
tidak ada nabi lagi, baik nabi yang menasikhkan
syariat
Muhammad, ataupun nabi yang dikatakan "pengiring"
Muhammad.
Dengan kedatangannya sempurnalah binaan kepercayaan
isi alam
yang telah dibawa berturut-turut oleh
nabi-nabi dan
rasul-rasul sebelum dia. Beliau bersabda:
"Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan nabi-nabi
yang
sebelum aku, adalah seumpama seseorang yang
membangun
bangunan-bangunan. Diperindahnya dan diperbagusnya
binaan
itu, kecuali (ketinggalan) suatu batu tembok pada
sudut
daripada sudut-sudutnya itu. Maka manusiapun
berkelilinglah
dan takjub melihat binaan itu, dan mereka berkata:
'Alangkah
baiknya ditutupi sebuah batu tembok yang kurang ini.'
Maka
akulah batu tembok itu, dan akulah penutup
segala
nabi-nabi."
Maka kalau ada orang mendakwakan dirinya nabi
sesudah
Muhammad, niscaya bohonglah pendakwaannya itu. Dan
barang
siapa yang mempercayai akan dakwaan orang
itu,
mendustakanlah dia akan pernyataan Muhammad. Sebab
itu maka
tidaklah dia golongan Ummat Islam (Ummat Muhammad).
Sesungguhnya demikian, sebagai Ummat Islam yang
mengaku
adanya keluasan dada (tasamuh), kita akan
bergaul juga
dengan mereka sebaik-baiknya, sebagaimana kita
bergaul
dengan Ummat Buddha, Kristen dan Yahudi.
Apalagi Nabi Muhammad saw. telah pula memeberi
peringatan
bagi kita bahwa sesuadh beliau wafat akan datang
orang
mendakwakan dirinya nabi atau rasul. Padahal mereka
adalah
pembohong. Nabi bersabda:
"Akan ada pada akhir kemudian ummatku orang-orang
dajjal
pembohong. Membicarakan kepada kamu
perkara-perkara yang
belum pernah kamu dengar, dan tidak pula pernah
didengar
oleh nenek-moyangmu. Maka berawas-awaslah
kamu dan
berawas-awaslah mereka. Janganlah sampai mereka
menyesatkan
kamu dan jangan memfitnahi kamu."
Dan sabda beliau pula:
"Sesungguhnya akan ada pada ummatku tigapuluh
orang
pembohong! Semuanya mengaku bahwa dirinya Nabi.
Akulah
penutup segala nabi. Tidak ada nabi sesudah aku.
Dan akan
senantiasalah segolongan dari ummatku tegak
diatas
kebenaran. Tidak akan memberi bencana atas mereka
siapapun
yang menentang mereka, sehingga datanglah ketentuan
Allah,
dan mereka tetap saja demikian."
Cukuplah wahyu dengan turunnya penutup segala kitab
suci,
yaitu Al-Quran. Bereslah risalat dan nubuwwat
dengan
datangnya penutup segala rasul dan nabi yaitu Muhammad
saw.
Dengan kepercayaan yang demikianlah hidup kita
dan mati
kita.
* * *
Bagaimanapun kepintaran kita dan betapapun ilmu
pengetahuan
yang didapat oleh manusia di dalam alam ini, namun
rahasia
yang masih tersembunyi masih lebih banyak. Rahasia
yang
menjadi rahasia dari segala rahasia adalah
lingkungan
"ghaib," yang hanya dapat dirasai adanya, tetapi tak
dapat
dicapai oleh pancaindera atau oleh akal sekalipun
dimana
letaknya.
Kita akui, memang kadang-kadang kecerdasan
berfikir dan
berakal mendapat kesimpulan tentang adanya, tetapi
hanya
sebagian kecil dari rahasianya. Sebagaimana
Aristoteles dan
beberapa filsuf yang lain yang menghitung "yang Ada"
dengan
filsafat, akhirnya bertemu dengan keyakinan akan
adanya
Tuhan. Tetapi itu hanya sebagian kecil saja. Lebih
banyak
yang tidak dapat kita ketahui. Maka datanglah
nabi-nabi dan
rasul-rasul, dan penutup dari segala nabi dan
rasul,
bercakap dengan wahyu, menerima "kalimat" dari
Allah
sendiri. Maka dengan tuntunan beliau hilanglah
keraguan
kita dan teranglah bagi kita jalan kesana, sesudah
payah
meraba-raba dan mencari-cari. Maka pikiran yang
beliau
berikan dan cita yang beliau tanamkan dihati kita
adalah
pikiran dan cita yang sempurna, yang diwaktu hidup
dapat
kita pakai dan diwaktu mati dapat kita tumpang.
Maka percayalah kita kepadanya dan kita turutlah
garis
langkah yang beliau tinggalkan, yang patut kita lalui,
untuk
keselamatan kita pada hidup ini dan hidup setelah ini
...
============================================================
Akhir dari kutipan. ...
http://media.isnet.org/islam/Ahmadiyyah/HAMKA.html
Bacalah artikel tentang Islam di:
http://www.nizami.org
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Would you Help a Child in need?
It is easier than you think.
Click Here to meet a Child you can help.
http://us.click.yahoo.com/sTR6_D/I_qJAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/