"Apa kata HAMKA mengenai Ahmadiyah dan yang sejenis"
Sebuah kutipan dari buku HAMKA untuk teman-teman
[EMAIL PROTECTED] yang dikutip oleh
[EMAIL PROTECTED]

Buku  Acuan:  HAMKA  (Hadji   'Abdulmalik   bin  
Abdulkarim Amrullah),   1956,   "Peladjaran   Agama  
Islam,"  Penerbit "Bulan-Bintang," Djakarta, Tjetakan
Pertama.
 
Catatan   ([EMAIL PROTECTED]):    (1)   
HAMKA
(almarhum)  adalah  salah  seorang  ulama  besar dan
seorang
susatrawan besar Indonesia, (2) Saya gunakan  buku  di
 atas
sebagai  acuan  karena  pengarangnya orang cukup
kompeten di
bidang agama  Islam,  (3)  Mengapa  buku  sekuno  ini 
(yang
diterbitkan  saat  saya  baru  lahir)  saya  gunakan: 
untuk
memberi gambaran bahwa masalah Ahmadiyah adalah
masalah lama
yang menurut saya sudah usang, namun karena
[EMAIL PROTECTED]
baru membahas ya saya posting untuk informasi kita
semua.
 
                   Catatan khusus mengenai diskusi
Ahmadiyah
                                        di
[EMAIL PROTECTED]:
 
Menurut   pendapat   saya    teman-teman    Ahmadiyah 
   di
[EMAIL PROTECTED]   merupakan   orang-orang  yang 
rajin  dan
pandai,  mereka  mengemas  "dagangannya"  (meminjam 
istilah
teman-teman  Ahmadiyah)  sedemikian  rupa menyerupai
reklame
pil Tuntas di Indonesia yang bunyinya TAS ... TAS  ...
 TAS.
 
Kemasan   dagangan  dan  refreshment  yang  disajikan 
sudah
memenuhi standar ISO-9000,   namun  mungkin  belum 
mendapat
label  "Halal"  dari MUI, yang perlu diperhatikan lagi
kalau
membeli   barang  ini  adalah  masa  kedaluarsanya 
(istilah
keren-nya expiration  date)  ...  mengapa?,  karena  
barang
usang  yang mereka  jual!  ...  perut   bisa    sakit 
kalau
makan, ...  dan  sama  sekali  tidak membuat kita kuat
 (...
maaf ya  ini  memang betul-betul yang  saya  rasakan  
dalam
hati ...).
 
Wah ... wah memang di dunia ini macam-macam ...  coba 
kalau
di  Indonesia,  malahan  ada  yang  lebih aneh ... tuh
inget
'ngga? ada orang jualan jin ... wah  pasti lebih  rame
 lagi
kalau  dianya  jualan jin di [EMAIL PROTECTED], apalagi
kalau
kemasannya memenuhi ISO-JIN ... bakalan rame.
 
...  namun  demikian karena mereka tetap jual
dagangan, maka
meminjam istilah grup rock masa lalu yang terkenal ...
 
                   "The Show Must Go On"
                  ... by Three Dog Night
 
... so what ... well, let's do it ...
 
Kutipan di bawah ini berasal dari buku diatas  dari 
halaman
191 sampai  dengan  halaman  201.  Buku diatas ditulis
dalam
ejaan     Indonesia     lama;     dalam     kutipan   
 saya
([EMAIL PROTECTED])  di bawah ini saya
gunakan
ejaan  Bahasa  Indonesia  yang  berlaku   sekarang,  
dengan
menghilangkan  setiap  huruf  Arab  yang  ada  di
dalam buku
aslinya.  Gaya bahasa yang saya gunakan  hampir  99% 
sesuai
dengan aslinya yaitu gaya bahasa tahun 50-an, harap
maklum.
 
 
ISI KUTIPAN:
 
- TAK ADA NABI SESUDAH MUHAMMAD
- PERCOBAAN MENGAKU NABI LAIN SESUDAH MUHAMMAD
- AL-BAB, BAHAULLAH DAN GHULAM AHMAD
- AHMADIYAH
- PENDAPAT KITA
- HADIST MAHDI DAN ISA
 
 
Karena besarnya,  posting ke  [EMAIL PROTECTED] 
direncanakan
dalam empat bagian, harap maklum.
 
 
                ******** BAGIAN I/IV ********
 
Semoga menjadi bacaan yang berguna.
 
       ... Atas nama Allah yang Maha Pengasih lagi
Penyayang
============================================================
                                                
halaman 191
TAK ADA NABI SESUDAH MUHAMMAD
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
 
Tak  ada  lagi  nabi  sesudah Muhammad, dan tidak ada
rasul.
Baik nabi yang akan dinamai "pengiring" Muhammad, atau
 nabi
yang membawa syariat baru.  Demikian kepercayaan Ummat
sejak
Quran diturunkan.
 
Nabi Muhammad pun bersabda:
 
               "Tidak ada nabi lagi sesudahku."
 
Tak ada nabi atau rasul lagi, sebab tidak ada SOAL
lagi.
 
Soal apa lagi yang akan dibawa oleh nabi yang baru?  
Sedang
masyarakat   manusia   sudah   lebih  maju,  dan  ada 
jalan
kesanggupan buat mencari Kebenaran Tuhan Yang Maha 
Esa  dan
Kuasa dengan  sendirinya.    Bukan  saja Quran, bahkan
kitab
Taurat  dan  Injil  dan  Zabur  telah   dicetak  
bermilliun
banyaknya.   Meskipun menurut kepercayaan Islam, dalam
Quran
telah terkumpul intisari dari kitab-kitab terdahulu
itu.
 
Memang!  Manusia  senantiasa   maju   dalam   mencari 
 Ilmu
pengetahuan.  Senantiasa  maju  didalam  mencari
rahasia isi
bumi,  bahkan  bulan  dilangitpun  telah  diselidiki 
orang.
Tentang  kemajuan  disudut  ini,  tidaklah ada
diantara kita
yang membantahnya.    Tetapi  bagaimanapun   kemajuan 
 Ilmu
pengetahuan,  namun inti dari ilmu pengetahuan itu
sudah ada
dalam  ajaran  Tauhid,  yang  sudah  genap  diajarkan 
 oleh
Muhammad.   Inti kepercayaan kepada Tuhan sudah cukup,
tidak
perlu tambahan lagi dari orang yang mengatakan dirinya
 nabi
atau dikatakan oleh pengikutnya nabi.
 
                                                
halaman 191
PERCOBAAN MENGAKU NABI LAIN SESUDAH MUHAMMAD
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
 
Berkali-kali  telah  dicoba  orang  juga mendakwakan
dirinya
Nabi pula, ada yang sengaja hendak menandingi
Muhammad,  dan
ada pula yang mengatakan syariat Muhammad telah putus,
sebab
nabi baru telah datang membawa syariat baru.  Dan  ada
 pula
yang  mengatakan bahwa dia, atau guru ikutannya,
adalah nabi
pula sesudah Muhammad.  Tetapi bukan membawa  syariat 
baru.
Kedatangannya   hanyalah   hendak   menyempurnakan  
syariat
Muhammad saja.
 
Berkali-kali orang seperti ini telah datang, tetapi
kemudian
ternyata seruannya   hilang   saja,  tidak  hidup.   
Karena
kebesaran  Tauhid  ajaran  Muhammad   menelan   habis 
 satu
percobaan yang   lain.     Nabi-nabi  dusta  tumbang 
dengan
sendirinya, tidak dapat berurat di bumi ini.  Mereka 
gagal,
karena  dustanya,  dan  karena soal yang dibawanya itu
tidak
cukup satu seperseratus dari soal Nubuwwat Muhammad.
 
 
                                                
halaman 191
AL-BAB, BAHAULLAH DAN GHULAM AHMAD
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^   
Di  Iran  (Persia),  sangatlah  berpengaruh  Mazhab  
Syiah.
Mazhab  ini  pada  mulanya  adalah  satu  faham
politik yang
timbul karena membela  hak  Ali  ibn  Abi    Thalib 
menjadi
kalifah.   Kaum  Syiah  terbagi  menjadi tiga golongan
besar
yaitu Kisaniyah, Ismailiyah      dan      Itsna'  
Asyriyah.
Ketiganya mempunyai kepercayaan bahwa Imam mereka yang
akhir
adalah ghaib dari dunia  dan  kelak  akan   datang 
lagi  ke
dunia.   Kaum  Kisaniyah percaya bahwa yang ghaib itu
adalah
Muhammad Ali Hanafiah.  Sekarang dia   masih   
sembunyi  di
salah satu gua di gunung Ridhwan.
 
Ismailiyah  percaya bahwa yang ghaib itu adalah Imam
Ketujuh
yaitu Ismail sendiri.  Diapun akan datang kembali. 
Aga Khan
yang terkenal adalah pemimpin mereka.
 
Ketiga adalah  Itsna'  Asyriyah.    Inilah mazhab
Syiah yang
paling besar pengikut dan  pengaruhnya,  terutama  di 
tanah
Iran.  Apalagi setelah Syah Ismail dapat mendirikan
Kerajaan
Shafawi di Iran dan menetapkan mazhab Syiah  sebagai 
mazhab
resmi  kerajaan,  maka bertambah tertanamlah pengaruh
mazhab
ini.
 
Mazhab ini mempunyai dasar dan tiang kepercayaan bahwa
 imam
ke-12 yaitu Muhammad bin Hasan Al-'Askary adalah ghaib
pula,
dan akan datang kembali di akhir jaman,  dan  dialah 
Mahdi.
Apabila  dunia  ini  sudah  sangat  kacau, apabila
kelaliman
sudah bersimaharajalela di  dunia,  waktu  itulah  dia
 akan
datang kembali  ke  dunia.    Adapun  sekarang  beliau
masih
ghaib.  Segala raja yang memerintah adalah mewakili 
beliau.
Ketika Imam ke-12 itu ghaib, beliau meninggalkan empat
orang
wakil.  Dan setelah wakil-wakil  itu  wafat,  beberapa
 masa
kemudian Imam  yang ghaib akan datang.  Lalu
dihitung-hitung
tahunnya menurut ilmu huruf  (abjad).    Sudah 
berkali-kali
bahaya menimpa  Islam;  Imam belum juga datang.  Sudah
jatuh
Baghdad ketangan musuh.  Sudah patut dia  datang, 
tapi  tak
juga datang.  Bermacam-macam cobaan, Imam tidak juga
datang.
Dihitung-hitung tahunnya, rupanya sudah berlebih, Imam
tidak
juga datang.
 
Waktu  itu  timbulah  satu  firkah yang melepaskan
diri dari
Syiah umum, bernama firkah "Syaichiyah."    Mereka 
akhirnya
membulatkan  kepercayaan  bahwa  Mahdi  atau  Imam
Ghaib itu
telah membuat kontak dengan Alam,  dengan  perantaraan
 diri
Said Ali Muhammad, yang bergelar Al-Bab atau
Bab-Allah.
 
Dia  menyatakan  bahwa  mahdi  yang ditunggu itu
adalah dia.
Dan dia membawa syariat baru.   Dengan datangnya
syariatnya,
putuslah syariat  Muhammad.    Diapun  mempunyai kitab
baru.
Namanya "Al-Bayan."  Dia lahir pada tahun 1235H.
 
Tetapi Al-Bab telah membuat  pengakuan  berlebih  dari
 yang
diharapkan.   Sebagian  pengikutnya hanya mengakui
bahwa dia
Al-Bab.  Seba  itu  terbitlah  pertentangannya  dengan
 Haji
Muhammad  Karim  Chan  Al-Karmani,  yang  mengakuinya 
hanya
sebagai Al-Bab (pintu) menghubungkan Imam yang ghaib 
dengan
mahluk.   Sedang  dia mengaku bahwa dia sendirilah
Mahdi itu
dan dialah Imam yang ghaib.
 
Pengikutnya bernama Babiyah.  Oleh Sultan  Nasiruddin 
Syah,
kaum Babiyah  ini  disapu  bersih.   Bab itu sendiri
dihukum
bunuh.
 
Bahai-yah.  Setelah Al-Bab mati  dibunuh, 
dipercayakanyalah
pimpinan  sisa-sisa  pengikutnya  kepada Bahaullah,
muridnya
yang terpandai.  Setelah pimpinan  jatuh  ketangannya,
 tiba
pulalah  bahwa  dia  adalah  rasul  dan  nabi  yang 
berdiri
sendiri, membawa syariat sendiri dan berkitab suci 
sendiri.
Adapun  Al-Bab  hanyalah  nabi  mendahului dia, serupa
Yahya
mendahului Isa.      Maka   kalau   Al-Bab   sebagai  
Mahdi
"Al-Muntazar"   (yang   ditunggu),   dia   adalah 
Al-Masih,
"Al-Mau'ud" (yang dijanjikan  akan  turun),  Al-Bab 
membawa
kitab bernama Al-Bayan.  Diapun membawa kitab pula. 
Katanya
bernama Al-Aqdas.  Dengan kedatangannya maka  habis 
pulalah
--katanya-- tugas agama Bab Allah!  Dia lahir tahun
1817 dan
meninggal 1892.
 
Bukan saja dia Bahaullah, tetapi diapun Jamamullah.  
Al-Bab
bergelar Al-Qaim.    Dia   bergelar  Al-Qayyum.   
Wadjahnya
bersinar diantara langit dan bumi sebagai intanpermata
 yang
gilang-gemilang.   Syariat Muhammad, terutama tentang
jihad,
telah di-mansuch-kan, karena kedatangan syariatnya.
 
Oleh Sultan Nasiruddin Syah dia dibuang ke Baghdad,
kemudian
dipindahkan  oleh  pemerintah  Turki,  mulanya  ke
Istambul,
kemudian ke Adrianopel, dan akhirnya ke Acre.   
Sebagaimana
pecahnya  dengan  Al-Bab dan pecahnya Al-Bab dengan
Muhammad
Karim Chan, maka Bahaullah pun berpecah pula dengan 
saudara
kandungnya Mirza Yahya yang bergelar Shubhi Azal.
 
Agama Bahai  ini dapat hidup di Eropa dan Amerika. 
Terutama
setelah puteranya Abdul Baha' datang  ke  Amerika  di 
tahun
1912.   Dia  menarik  hati beberapa orang Amerika,
sebab dia
"menghapuskan syariat Muhammad," terutama jihad.   
Artinya,
kalau  menurut  syariat Bahaullah, apapun yang
terjadi, kita
tidak boleh  mempertahankan  agama  kita  dengan 
kekerasan,
kecuali kalau  sudah sangat terdesak.  (Bukankah Agama
Islam
pun memakai kekerasan kalau sudah sangat terdesak?).
 
 
                ******** BAGIAN II/IV ********
 
                                                
halaman 193
AHMADIYAH
^^^^^^^^^
 
Mirza  Ghulam  Ahmad  di  Qadiyan India-pun
mendakwakan pula
dirinya Mahdi dan Isa.   Jadi  sekaligus  keduanya, 
berbeda
dengan Al-Bab  dan  Bahaullah.   Diapun menerima
wahyu-wahyu
Illahi, menurut dakwanya.   Tetapi  ada  perbedaan 
sedikit,
karena  Mirza  Ghulam  Ahmad, katanya, bukanlah
menghapuskan
syariat Muhammad dengan syariat yang baru.  Dia adalah
 Nabi
Pengiring.    Dialah   Mahdi  yang  ditunggu  dan  Isa
 yang
dijanjikan, dan dia pulalah Mujaddid yang mesti datang
 tiap
seratus tahun sekali.
 
Pengikut  Mirza  Ghulam  Ahmad  pun  pecah menjadi dua
pula.
Keduanya sama-sama bernama Ahmadiyah.    Pertama, 
Ahmadiyah
Qadiyan,  mempunyai Kalifatul-Masih yaitu Kalifah dari
Mirza
Ghulam Ahmad sendiri.  Golongan Lahore memisahkan 
diri  dan
mengakui  Mirza  Ghulam  Ahmad hanyalah semata-mata
guru dan
mujaddid.  Terjadi pertentangan  diantara  keduanya, 
karena
golongan  Qadiyan menuduh kafir golongan Lahore karena
hanya
mengakui mujaddid saja.   Golongan  Lahore  yang 
memisahkan
diri  itu  dikepalai  oleh  Maulana  Mohammad Ali dan
Kawaya
Kamaluddin.
 
Kedua golongan Ahmadiyah ini sama-sama  berusaha 
menyiarkan
Islam, tetapi melalui dasar faham mereka lebih dahulu,
yaitu
Mirza Ghulam Ahmad (Al-Masih al-Mau'ud) bagi 
Qadiyani,  dan
Mirza Ghulam Ahmad (Mujaddid Abad ke-20) bagi kaum
Lahore.
 
                                                
halaman 194
PENDAPAT KITA
^^^^^^^^^^^^^
 
Haruslah   kita   selidiki   bagaimana   besarnya  
pengaruh
kepercayaan  kaum  Syiah,  terutama  di  Iran  dan 
juga  di
Hidustan.  Menunggu kedatangan Imam yang Ghaib,  Imam 
Mahdi
akan  datang  kembali  dan  Nabi Isa akan turun, dan
Isa dan
Mahdi itu ialah yang seorang itu juga, demikian
mendalam  di
kalangan   Syiah,   sehingga   menjadi   salah   satu 
rukun
kepercayaan yang tidak dapat  dipisahkan  lagi  dari 
agama.
Kadang-kadang    Ahli   Sunnah-pun   turut   juga  
menerima
kepercayaan ini, walupun tidak  menjadi  dasar 
benar-benar.
Dan inipun kadang-kadang bertemu didalam sebagian
kepercayaan
kaum Sufi, seperti Ibnu 'Arabi.  Maka tidaklah  kita 
heran,
kalu  dari  kedua  negeri  inilah  timbul  orang-orang
 yang
mendakwakan dirinya  nabi,  atau  rasul,  atau  Mahdi,
 atau
Al-Bab  (pintu),  atau  Imam  yang  Ghaib telah
datang, atau
didakwakan oleh muridnya.
 
Kita tetap memegang pendirian  Ahli  Sunnah,  bahwa 
sesudah
Muhammad  tidak  akan datang nabi lagi. Karena soalnya
sudah
habis.  kalau akan kita terima kedatangan itu, manakah
 yang
akan kita  tetapkan?   Apakah Mirza Ghulam Ahmad, atau
Mirza
Ali Muhammad (Al-Bab),  atau  Bahaullah?    Atau  kita
 akui
semuanya,  padahal  diantara satu sama lain berlawanan
pula.
Atau kita akui semuanya, dan kita akui pula yang  lain
 yang
akan mendakwakan dirinya menjadi nabi pula nanti.
 
Kalau dikatakan karena dia menyerukan perdamaian
Dunia, maka
dia membawa syariat  baru,  tidak  bolehkah  Mahatma 
Gandhi
dikatakan pula  nabi?  Atau Krisna Vedanta di
Colorado? yang
juga menyerukan perdamaian dunia.
 
Kaum Ahmadi dan Bahai mengemukakan alasan  yang  sama 
untuk
menolak  pendirian  umum bahwa Nabi Muhammad "Penutup
Segala
Nabi," dengan ayat  "Khataman  Nabiyyin."    Menurut 
qiraat
(bacaan) yang umum ayat itu dibaca "Khatam," bukan
"Khatim."
Tetapi artinya adalah "Khatim."  Khatam artinya
cincin,  dan
Khatim artinya penutup.
 
Khataman Nabiyyin artinya cincin permata segala nabi. 
Kalau
sekiranya kita perturutkan rasa bahasa, tentu Nabi 
Muhammad
itu  tidak  nabi  lagi,  hanyalah  cincin  perhiasan 
segala
nabi-nabi.  Yang mempunyai cincinlah yang nabi, bukan
cincin
itu sendiri.
 
Didalam keterangan yang biasa mereka kemukakan, adalah
bahwa
tidaklah perkara yang mustahil bahwa Allah akan
berkata-kata
dengan hambanya.    Tidaklah  akan  putus sampai hari
kiamat
orang yang dipilih Allah buat menumpahkan katanya. 
Tidaklah
akan hilang begitu saja wahyu sampai kiamat.
 
Tentang itu  Ahli  Sunnah-pun  mengakui  juga.   Di
kalangan
sahabat Nabi, ketika  Nabi  masih  hidup  terdapatlah 
orang
istimewa yang demikian.    Yaitu Umar bin Khattab. 
Sehingga
Nabi Muhammad pernah mengatakan, bahwasanya  jika  ada
 nabi
sesudahku, niscaya Umarlah orang itu.  Tetapi tidak
ada lagi
nabi sesudahku.
 
Mengapa tidak?   Nabi  Muhammad  sendiri  menjelaskan 
bahwa
"Ulama-ulama  umatku adalah sama derajatnya dengan
nabi-nabi
Bani Israil."  Kalau kata nabi yang demikian akan
diperluas,
maka  seluruh  ulama  yang berjasa membangun Islam,
patutlah
disebut nabi.   Imam  Al-Ghazali,  Imam  ul  Haramain,
 Ibnu
Taimiyah,  dan  muridnya Ibnu Qayyim, dan Syeh
Muhammad ibnu
Abdil Wahhab,  dan  Said  Jamaluddin  Al-Afghani,  dan
 Syeh
Muhammad  Abduh  dan  Said  Rasyid  Ridha,  patutlah
disebut
sebagai nabi.    Karena  mereka  dalam  sifat  
keulamaannya
samalah jasanya  dengan  nabi-nabi  Bani  Israil.  Dan
orang
Indonesia dalam kalangan Nahdhatul Ulama  patutlah 
menyebut
kyai  besarnya  Hasyim  Ashari  sebagai  nabi, sebab
jasanya
besar pula.  Demikian pula  Muhammadiyah  dengan  Kyai
 H.A.
Dahlannya.
 
Banyak diantara ulama mendapat ilham dari Tuhan,
seakan-akan
wahyu Illahi.  Karena mereka berfaham Ahli Sunnah, 
tidaklah
mereka berani  mengatakan  dirinya  nabi.   Dan kalau
mereka
mendakwakan dirinya nabi, akan musnahlah mereka.
 
Kalimat wahyu suci yang diberikan  Tuhan,  oleh  faham
 Ahli
Sunnah    telah    ditentukan    buat    rasul   dan  
nabi.
Setinggi-tinggi martabat manusia ini hanyalah mendapat
hatif
atau ilham,  atau  mimpi  yang  benar, atau mahaddas. 
Kalau
wahyu itu dikatakan akan putus selama-lamanya,
perkataan itu
benar juga  dari  segi  lain.    Lebah  menurut  Sabda
Tuhan
didalam Quran, mendapat wahyu  untuk  membuat 
sarangnya  di
bukit dan  di bubungan rumah.  Ibu Musa mendapat wahyu
Tuhan
supaya melemparkan puteranya dalam peti di sungai Nil.
  Dan
lebah  bukanlah nabi, padahal sampai sekarang tidaklah
putus
dia mendapat wahyu itu, selama dia masih bersarang di 
bukit
dan di bubungan rumah.  Dan ibu Nabi Musa bukanlah
nabi.
 
 
                ******** BAGIAN III/IV ********
 
                                                
halaman 195
HADIST MAHDI DAN ISA
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
 
Al-Quran tidaklah memberikan  tuntunan  yang  tegas 
tentang
akan turunnya  Mahdi  dan  Isa di akhir jaman. 
Padahal tiga
orang yang mengaku dirinya Nabi  atau  Rasul  di 
jaman  ini
(Mirza  Ghulam  Ahmad,  Miza  Ahli  Muhammad dan
Bahaullah),
belum dapat menegakkan pendakwaan itu, kalau tidak 
berdasar
kepada hadis-hadis tentang turunnya Mahdi dan Isa itu.
 
Seratus  tahun  sesudah  Nabi  Muhammad wafat, barulah
orang
mempunyai kesempatan untuk mengumpulkan hadis.   Yang 
lebih
dahulu dikumpulkan  hanyalah  Quran.    Jadi  dalam
masa 100
tahun adalah masa "kosong" yang merupakan  kesempatan 
untuk
membuat  hadis  bagi  golongan-golongan  yang 
bertentangan.
Terutama kaum Syiah.  Payahlah ulama hadis  menjaring 
hadis
mana  yang  masyhur,  mana  yang shahih, mana yang
dhaif dan
mana yang maudhu.  Pertentangan-pertentangan yang maha
hebat
di  waktu  itu  di antara beberapa firkah yang timbul
karena
politik,  menimbulkan  golongan-golongan  yang  sampai
 hati
membuat   hadis-hadis  palsu,  sehingga  payah 
menjaringnya
setelah ilmu hadis muncul sebagai ilmu yang berdiri
sendiri.
Ibnu   Khuldun   didalam   "Muqaddamah"  tarikhnya 
mengkaji
satu-persatu hadis Mahdi itu  dan  menyelidiki  sanad 
serta
matannya   sedalam-dalamnya,   sehingga   kemudian  
diambil
kesimpulan bahwasanya sebagian besar dari  hadis  ini 
tidak
dapat diterima.    Oleh  sebab  itu  maka  kaum  Ahli
Sunnah
tidaklah menjadikan hadis-hadis Mahdi  atau  nuzul 
Isa  itu
menjadi pokok kepercayaan prinsipiil.
 
Ulama  tafsirpun berbincang hebat tentang turunnya
Nabi Isa.
Lebih-lebih telah tersebut  pula  dalam  satu  hadis, 
bahwa
"Mahdi itu  tidak  lain  adalah  Isa."  Mereka
perbincangkan
apakah Isa itu masih hidup, lalu  diangkat  Tuhan 
kelangit,
ataukah  dia  telah  meninggal  dunia sebagaimana
kebanyakan
manusia.  Tuhan bersabda tentang Nabi Isa:
 
            "Sesungguhnya Aku mewafatkan engkau
             dan mengangkatkan engkau kepadaKu."
 
Orang yang memegang kepercayaan bahwa Nabi Isa  belum 
mati,
dan  hanya  menguatkan  bahwa  Nabi  Isa  diangkat ke
langit
dengan tubuhnya, terpaksa mesti mencari arti yang lain
 dari
kata "wafat"  itu.    Tetapi yang berpendapat bahwa
Nabi Isa
mati, langsung  saja  mengartikan  ayat  itu  menurut 
zahir
bunyinya.    Mula-mula  beliau  wafat,  setelah  itu 
beliau
diangkat ke hadirat Tuhan,  sebagaimana  setiap  insan
 yang
mulia.   Sebab  itu  ke-angkat-an itu tidak mesti ke
langit,
melainkan ke hadirat Tuhan.
 
Baik orang Bahai  dan  orang  Ahmadi  memegang  tafsir
 yang
menyatakan bahwa  Nabi  Isa  telah  wafat,  telah
mati.  Dan
kemudian dari hal itu, merekapun menguatkan bahwa 
Nabi  Isa
akan datang kembali.  Yang datang itu bukan Isa
Israili yang
dahulu, karena dia telah jelas  meninggal.    Yang 
ditunggu
kedatangannya  sebagaimana tersebut dalam hadis adalah
orang
lain yang membawa sifat-sifat Isa.  Kata orang  Bahai 
orang
itu adalah  Bahaullah.   Kata orang Ahmadi, orang itu
adalah
Mirza Ghulam Ahmad.
 
Sebenarnya kepercayaan tentang akan datangnya Mahdi 
diakhir
zaman,  atau  Nabi  Isa  akan  datang  kembali, atau
Messiah
menurut kepercayaan Yahudi, atau Buddha Gautama  bagi 
orang
beragama  Buddha,  mendalam  juga  dalam kalangan kaum
Syiah
yang selalu  menunggu-nunggu  kembalinya  Imam  mereka
 yang
ghaib.  Ismailliyah menunggu Ismail. Istna Asyriyah
menunggu
Muhammad bin Hasan Al-Askary, Imam Syiah ke-12.   
Kisaniyah
menunggu  datangnya  kembali  Muhammad  bin  Ali 
Hanafiyah.
Semuanya itu sekarang tengah ghaib dan akan datang
kembali!
 
Kepercayaan  seperti  inipun  mendalam  pula  pada 
setengah
penganut  tasawuf,  yang  mempercayai bahwa alam
diatur oleh
wali-wali Allah  yang  bernama  "Watad,"  dan 
"Badal,"  dan
"Quthub."  "Quthub"  itu  adalah  ghaib  pula.  Di
Indonesia
kepercayaan ini sangat mendalam dalam filsafat kejawen
 yang
menunggu kedatangan Ratu Adil.
 
Mirza    Ghulam   Ahmad   menyatakan   bahwa   dialah 
 yang
ditunggu-tunggu itu. Dialah Isa  Al-Masih  yang 
dijanjikan,
dia pula  Mahdi  yang  ditunggu-tunggu.  Dan karena
ada pula
sebuah hadis menyatakan bahwa setiap 100 tahun  akan 
datang
seorang  mujaddid  (pembaharu  keagamaan),  maka dia
pulalah
mujaddid itu.  Pendeknya segala  yang  ditunggu-tunggu
 itu,
tidak ada orang lain, melainkan dirinya sendirilah.
 
Oleh    karena   dialah   Al-Masih,   tentu   dialah  
nabi.
Kadang-kadang  Mirza  Ghulam  Ahmad  menyatakan  bahwa
  dia
bukanlah membawa syariat baru.  Dia dengan Nabi
Muhammad saw
adalah bagaikan Harun terhadap Musa belaka.  Penguat
syariat
Muhammad, bukan pengubahnya.  Tetapi satu hal dia
menyatakan
memang berubah yaitu jihad.  Jihad tidaklah dengan 
senjata,
cukup dengan  mengemukakan  alasan-alasan  belaka.   
Adapun
Bahaullah menyatakan dirinya terang-terang nabi lain
sesudah
Muhammad.  Dengan  kedatangannya habislah tugas agama
Al-Bab
dengan kitabnya Al-Bayan.    Dan  dengan  kedatangan 
Al-Bab
dahulu, habis pulalah tugas syariat Muhammad.
 
 
                ******** BAGIAN IV/IV ********
 
Adapun  dasar  kepercayaan kita dengan berpegang
kepada ayat
yang tertulis di atas tadi nyatalah  bahwa  Nabi  Isa 
telah
wafat.   Nabi  Isa  telah  wafat,  dengan berdasarkan
kepada
"mutawaffika" tadi.   Dan  dia  telah  diangkat  ke 
hadirat
Allah,  (wa  rafi'uka  ilayya),  sebagaimana setiap
roh yang
suci senantiasa diangkat menghadap ke hadirat Allah.
 
Adapun tentang turunnya kembali  beliau  ke  dunia, 
sebelum
hari  kiamat  datang,  adalah  hadis yang bernama
"Al-Uhad."
Tidak termasuk kedalam hadis yang mutawatir.   Maka 
menurut
pertimbangan  ahli-ahli  hadis,  kalau  sekiranya
tidak kita
jadikan  menjadi  pokok   kepercayaan,   sebagaimana  
pokok
kepercayaan  yang  enam  perkara (rukun iman),
tidaklah kita
keluar dari Agama Islam.
 
Meskipun demikian  tidaklah  boleh  kita  menolak 
kekuasaan
Tuhan.   Turunnya  Nabi  Isa  kembali ke dunia,
tidaklah hal
yang mustahil, walaupun tulangnya telah  hancur.   
Bukanlah
didalam  Al-Quran  ada  tersebut  cerita 
burung-burung yang
telah dicincang lumat oleh Nabi Ibrahim atas perintah
Tuhan.
Burung itu empat ekor banyaknya.  Lalu dihantarkan ke
puncak
empat buah bukit. Tuhan memerintahkan kepada Ibrahim 
supaya
empat burung  itu dipanggil kembali.  Maka datanglah
keempat
burung itu, dengan izin Allah!
 
Dipandang dari segi  kepercayaan  ini,  datangnya 
Nabi  Isa
kembali ke dunia setelah beribu tahun beliau wafat,
hanyalah
permulaan saja dari  kebangkitan  mahluk  Tuhan  yang 
lain.
Seluruh insan  dihari kemudian akan dibangkitkan. 
Hanya Isa
Al-Masih didahulukan.  Hal ini biasa saja bagi Tuhan.
 
Oleh sebab itu, maka pendakwaan  orang-orang  seperti 
Mirza
Ghulam  Ahmad  dan  Bahaullah,  bahwa merekalah Isa
Al-Masih
yang dijanjikan itu, tidaklah kita percayai.  Kita
memandang
mereka  itu hanyalah sebagai pendakwa-pendakwa
kenabian yang
lain juga.    Sebelum  merekapun  telah  ada  juga 
pendakwa
kenabian itu.    Menggelegak  menggejala  setahun dua
tahun,
taruhlah sepuluh-duapuluh tahun, kemudian padam lagi. 
  Dan
kelak akan  begitu  pula.    Bukan saja yang seperti
ini ada
dalam Islam, juga ada dalam  agama  Kristen.    Bahkan
 kaum
theosofi  pernah mengemukakan Khrisna Murti sebagai
Al-Masih
yang ditunggu-tunggu itu.
 
Kaum Bahai dan kaum Ahmadi mengambil alasan  atas 
kebenaran
seruan  mereka,  ialah  karena  kian  lama faham
mereka kian
tersiar, terutama di benua Eropa dan  Amerika.    Ini 
bukan
alasan!   Sebab  kehausan  manusia  di  kedua benua
itu akan
tuntunan  rohani,  setelah  terlalu  tenggelam  dalam 
hidup
kebendaan,  menyebabkan  ada diantara mereka yang
lekas saja
menerima suatu propaganda  baru.    Bukan  faham 
Bahai  dan
Ahmadi   saja  yang  mereka  terima,  gerakan  yang 
lainpun
mendapat pasaran subur juga disana.   Di  Jerman 
telah  ada
pula  penganut  faham  Buddha  dan  mempunyai biara
sendiri.
Pelajaran tasawuf dari Inayat Khan mendapat  penganut 
juga.
Bahkan seorang yang mendakwakan dirinya Al-Masih dan
memakai
gelar Khrisna Vedanta di negara bagian Colorado, USA, 
telah
mendapat pengikut  pula.   Demikian pula seorang kulit
hitam
di Pennsylvania (Philadelphia)  mengaku  dirinya 
Tuhan  dan
memakai  nama  Father Divine, tidak pula kurang
penganut dan
pengikutnya.
 
Di  Amerika  muncul  tidak   kurang   200   sekte  
Kristen.
Masing-masing  mengatakan bahwa mazhab mereka kian
lama kian
besar dan melebihi yang lain.
 
Terutama kaum Bahai!  Mereka timbul  di  negeri  Iran 
yaitu
pada jaman  pemerintahan  Sultan  Nasiruddin  Syah. 
Seorang
syah yang terkenal kejam pemerintahannya dan berkuasa 
tanpa
batas.   Dibantu oleh mullah-mullah mazhab Syiah, yang
bukan
saja  menentang  satu  pendapat  baru,  bahkan  mazhab
 Ahli
Sunnah-pun mereka   tentang.      Bahaullah   pada  
mulanya
mengajarkan  pembelaan   hak   kaum   wanita,  
menganjurkan
penghentian poligami, mengatakan bahwa dalam ajarannya
tidak
ada kekuasaan kaum mullah.  Tentu saja  ajaran  "baru"
 dari
Bahaullah  ini menggoncangkan politik dan susunan
masyarakat
kerajaan, persekutuan kaum mullah dengan  Syah.   
Kaum  ini
dikafirkan dan   diperangi.     Al-Bab  sampai 
dibunuh  dan
Bahaullah dibuang keluar negeri.  Padahal setelah
kecerdasan
beragama  maju kembali, orang telah merasa bahwa tidak
perlu
ada nabi baru  membawa  ajaran  baru.    Seruan-seruan
 yang
diserukan  Bhaullah  itu  memang telah ada dalam tubuh
Islam
ajaran Muhammad sendiri, dengan  tidak  usah  keluar 
dahulu
dari Islam, dan membuat agama baru.
 
Adapun  kaum  Ahmadi  dan usahanya melebarkan Islam ke
benua
Eropa dan Amerika, dengan  dasar  ajaran  mereka, 
faedahnya
bagi Islam  ada  juga.    Mereka  menafsirkan  Quran
kedalam
bahasa-bahasa yang ada di Eropa.  Padahal di jaman 100
tahun
yang  lalu masih merata kepercayaan tidak boleh
mentafsirkan
Quran.  Pentafsiran Quran dari kedua golongan
Ahmadiyah  itu
membangkitkan   minat   bagi   golongan   yang 
menginginkan
kebangkitan Islam ajaran Muhammad kembali untuk 
memperdalam
selidiknya tentang  Islam.    Orang  sekarang  telah 
pandai
menimbang.  Tafsir kaum Ahmadi itu mereka baca juga.  
 Yang
baik   mereka   terima   dan  kepercayaan  tetang 
kenabian,
kerasulan,  kemahdian,  ke-Al-Masih-an  Mirza  Ghulam 
Ahmad
mereka singkirkan  ketepi.  Dan tafsir-tafsir karangan
ulama
Islam sendiripun telah muncul,  yang  isinya  jauh 
melebihi
tafsir Ahmadi.    Kelebihan  tafsir  Ahmadi  hanyalah
karena
ditulis dalam bahasa Barat,  menarik  hati  kaum 
terpelajar
cara Barat, tapi kosong ilmunya tentang bahasa Arab.
 
Di  Indonesia  sendiri,  ketika  gerakan-gerakan  ini 
mulai
masuk, agak ribut juga orang menerimanya.    Apalagi 
mereka
suka  berdebat-debat  sebagai  alat propaganda untuk
menarik
perhatian.   Dalam  pada  itu  maka  pengertian  kaum 
Islam
tentang  agama  bertambah mendalam, ahli-ahli Islampun
telah
timbul lebih banyak daripada dahulu.  Kian  lama  kian
 sepi
gerakan mereka.    Yang  dapat tertarik hanyalah
orang-orang
yang belum ada pengertiannya tentang Islam. 
Setinggi-tinggi
usaha mereka  adalah  memelihara 
pengikut-pengikutnya.   Di
Tempat  yang  kuat  Islamnya,  seperti  di  Padang 
Panjang,
terpaksa   pengikut-pengikutnya   itu  meninggalkan 
kampung
halaman,  dan  pindah  ke  kota   Jakarta,   sebab  
"bebas"
mengerjakan kepercayaannya.   Sikap merekapun telah
berubah!
Jika semula pada waktu pertama  kali  mereka  suka 
mengajak
berdebat,  diakhir-akhir  ini  mereka  mengambil sikap
hanya
mempertahankan diri jika datang serangan.    Tandanya 
bahwa
pasaran mereka telah mulai sepi.
 
Adapun  kalau  ada  tambahan  pengikut  mereka,
tidaklah hal
demikian mengherankan kita di  Indonesia  ini.    Buka
 saja
Ahmadiyah, Bahai-pun  telah  ada  pengikutnya disini. 
Bukan
saja Bahai dan Ahmadi, bahkan Katolik dan
Protestan-pun  ada
juga tambahan  penganutnya  disini.  Bahkan orang yang
masuk
komunis-pun ada.  Sebabnya adalah karena Islam di 
Indonesia
pada  jaman yang sudah-sudah terdesak oleh beberapa
desakan.
Baik politik, atau ekonomi  atau  kejahilan  tentang 
ajaran
agama Islam sebenarnya.
 
Semuanya  ini  adalah  cemeti  untuk membangkitkan
beransang
kaum Muslimin, dibawah pimpinan ulama dan pimpinanNya
supaya
bangkit  dan  berusaha  menegakkan "Dakwah Islamiyah,"
lebih
giat daripada yang sudah-sudah.
 
Alhasil, Muhammad adalah  penutup  dari  segala 
rasul,  dan
bukanlah dia  mata-cincin  dari  segala  rasul. 
Sesudah dia
tidak ada nabi lagi,  baik  nabi  yang  menasikhkan 
syariat
Muhammad,  ataupun nabi yang dikatakan "pengiring"
Muhammad.
Dengan kedatangannya sempurnalah binaan kepercayaan
isi alam
yang   telah   dibawa   berturut-turut  oleh 
nabi-nabi  dan
rasul-rasul sebelum dia.  Beliau bersabda:
 
"Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan  nabi-nabi
 yang
sebelum   aku,  adalah  seumpama  seseorang  yang 
membangun
bangunan-bangunan.  Diperindahnya dan  diperbagusnya 
binaan
itu,  kecuali  (ketinggalan)  suatu  batu  tembok pada
sudut
daripada sudut-sudutnya itu.  Maka manusiapun
berkelilinglah
dan takjub melihat binaan itu, dan mereka berkata:
'Alangkah
baiknya ditutupi sebuah batu tembok yang kurang  ini.'
 Maka
akulah   batu   tembok   itu,   dan  akulah  penutup 
segala
nabi-nabi."
 
Maka  kalau  ada  orang  mendakwakan  dirinya  nabi 
sesudah
Muhammad, niscaya  bohonglah  pendakwaannya itu.  Dan
barang
siapa   yang   mempercayai   akan   dakwaan    orang  
 itu,
mendustakanlah dia akan pernyataan Muhammad.  Sebab
itu maka
tidaklah dia golongan Ummat Islam (Ummat Muhammad).
 
Sesungguhnya demikian,  sebagai  Ummat  Islam  yang 
mengaku
adanya  keluasan  dada  (tasamuh),  kita  akan 
bergaul juga
dengan  mereka  sebaik-baiknya,  sebagaimana  kita  
bergaul
dengan Ummat Buddha, Kristen dan Yahudi.
 
Apalagi  Nabi  Muhammad  saw. telah pula memeberi
peringatan
bagi kita bahwa  sesuadh  beliau  wafat  akan  datang 
orang
mendakwakan dirinya  nabi atau rasul.  Padahal mereka
adalah
pembohong.  Nabi bersabda:
 
"Akan ada pada akhir  kemudian  ummatku  orang-orang 
dajjal
pembohong.   Membicarakan  kepada  kamu
perkara-perkara yang
belum pernah kamu dengar, dan  tidak  pula  pernah 
didengar
oleh nenek-moyangmu.      Maka   berawas-awaslah  
kamu  dan
berawas-awaslah mereka.  Janganlah sampai mereka
menyesatkan
kamu dan jangan memfitnahi kamu."
 
Dan sabda beliau pula:
 
"Sesungguhnya   akan   ada   pada  ummatku  tigapuluh 
orang
pembohong!  Semuanya mengaku bahwa  dirinya  Nabi.   
Akulah
penutup segala nabi.   Tidak ada nabi sesudah aku. 
Dan akan
senantiasalah   segolongan   dari   ummatku   tegak  
diatas
kebenaran.   Tidak akan memberi bencana atas mereka
siapapun
yang menentang mereka, sehingga datanglah  ketentuan 
Allah,
dan mereka tetap saja demikian."
 
Cukuplah  wahyu  dengan  turunnya penutup segala kitab
suci,
yaitu Al-Quran.    Bereslah  risalat  dan  nubuwwat  
dengan
datangnya penutup segala rasul dan nabi yaitu Muhammad
saw.
 
Dengan  kepercayaan  yang  demikianlah  hidup  kita
dan mati
kita.
 
                        *    *    *
 
Bagaimanapun kepintaran kita dan betapapun ilmu 
pengetahuan
yang  didapat  oleh manusia di dalam alam ini, namun
rahasia
yang masih tersembunyi masih lebih  banyak.    Rahasia
 yang
menjadi   rahasia  dari  segala  rahasia  adalah 
lingkungan
"ghaib," yang hanya dapat dirasai adanya, tetapi  tak 
dapat
dicapai  oleh  pancaindera  atau  oleh akal sekalipun
dimana
letaknya.
 
Kita akui,  memang  kadang-kadang  kecerdasan 
berfikir  dan
berakal  mendapat  kesimpulan  tentang  adanya, tetapi
hanya
sebagian kecil dari rahasianya.  Sebagaimana
Aristoteles dan
beberapa  filsuf yang lain yang menghitung "yang Ada"
dengan
filsafat, akhirnya  bertemu  dengan  keyakinan  akan 
adanya
Tuhan.  Tetapi  itu hanya sebagian kecil saja.  Lebih
banyak
yang tidak dapat kita ketahui.  Maka datanglah
nabi-nabi dan
rasul-rasul,   dan  penutup  dari  segala  nabi  dan 
rasul,
bercakap  dengan  wahyu,  menerima  "kalimat"   dari  
Allah
sendiri.   Maka  dengan  tuntunan  beliau hilanglah
keraguan
kita dan teranglah bagi kita  jalan  kesana,  sesudah 
payah
meraba-raba dan  mencari-cari.    Maka  pikiran  yang
beliau
berikan dan cita yang beliau  tanamkan  dihati  kita 
adalah
pikiran  dan  cita  yang  sempurna, yang diwaktu hidup
dapat
kita pakai dan diwaktu mati dapat kita tumpang.
 
Maka percayalah  kita  kepadanya  dan  kita  turutlah 
garis
langkah yang beliau tinggalkan, yang patut kita lalui,
untuk
keselamatan kita pada hidup ini dan hidup setelah ini
...
 
============================================================
Akhir dari kutipan.                   ... 
http://media.isnet.org/islam/Ahmadiyyah/HAMKA.html

Bacalah artikel tentang Islam di:
http://www.nizami.org

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Would you Help a Child in need?
It is easier than you think.
Click Here to meet a Child you can help.
http://us.click.yahoo.com/sTR6_D/I_qJAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke