Saya lihat terjemah Qur'an Suryawan (orang Ahmadiyyah)
benar2 beda.
Kalau kita lihat Al Qur'an terjemah Departemen Agama
mau pun terjemah dari ulama Arab Saudi yang disebar ke
seluruh dunia, maka terjemahnya betul2 beda.
Pertama, Al Ahzab:40. Pada terjemah Islam, arti
Khaataman Nabiyyin artinya Muhammad penutup Nabi2.
Artinya Nabi Muhammad Nabi terakhir dan tak ada lagi
Nabi sesudahnya. Di berbagai hadits shahih di Bukhori,
Muslim, dsb, menegaskan hal itu.
Kalau terjemah Ahmadiyyah, Nabi Muhammad cuma "Cincin
Nabi2." Hampir tidak ada maknanya. Bahkan orang bisa
memahami, Nabi cuma cincin/perhiasan Nabi2. Bukan
Nabi...:)
Terjemah Ahmadiyah:
> 44:6-7 - Allah Ta'ala bersifat Mursil (yang mengutus
Rasul-Rasul-
> Nya). Sifat Allah Ta'ala ini akan selalu dan terus
bekerja selama-
> lamanya. Sifat ini tidak terikat dengan tempat dan
waktu. Jadi,
> adanya kenabian setelah Nabi Muhammad s.a.w. adalah
tidak mustahil
> dengan mempertimbangkan salah satu sifat Allah
Ta'ala ini.
Ini juga beda. Kalau terjemah Islam:
"sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada
di antara keduanya, jika kamu adalah orang yang
meyakini."
Terjemah Ahmadiyah:
> 22:76 - "Allah senantiasa memilih rasul-rasul-Nya
dari antara
> malaikat-malaikat dan dari antara manusia".
Terjemah Islam:
"Allah mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa
yang di belakang mereka. Dan hanya kepada Allah
dikembalikan semua urusan."
Terjemah Ahmadiyah:
> 3:180 - Dalam ayat tersebut terdapat
> perkataan: "yadzara", "yamiidza", "yuthli'a",
"yajtabii". Bentuk
> perkataan tersebut adalah fi'il mudhari yang dipakai
untuk zaman kini
> dan zaman yang akan datang. Jadi maksud ayat ini
adalah Allah S.w.t.
> akan (terus) mengirimkan utusan-utusan-Nya untuk
memisahkan yang baik
> dari yang buruk dan untuk memberitahukan tentang
kabar-kabar ghaib.
Terjemah Islam:
Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan
harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya
menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka.
Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka.
Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak
di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah
segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan
Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Terjemah Ahmadiyah:
> 7:36 - Dalam ayat ini: "Wahai anak cucu Adam, jika
datang kepadamu
> rasul-rasul dari antaramu ...". Yang dimaksudkan
anak cucu Adam
> adalah umat manusia. Baik umat manusia terdahulu
sebelum Nabi
> Muhammad s.a.w. dan umat manusia setelah Nabi
Muhammad s.a.w. tetap
> akan didatangi oleh Rasul-Rasul Allah dari antara
anak cucu Adam
> (umat manusia). Dengan kata lain ayat ini tidak
terikat dengan tempat
> dan waktu.
Terjemah Islam:
"Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan
menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu
penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. "
Semua ayat2 Al Qur'an yang dikemukakan oleh Suryawan,
orang Ahmadiyah ini, ternyata berbeda dgn terjemahan
Al Qur'an yang umum dari Departemen agama mau pun dari
Kerajaan Saudi Arabia. Apa Al Qur'an Ahmadiyah memang
betul2 berbeda dengan Al Qur'an ummat Islam?
Jadi apa yang mau didiskusikan?
Alhamdulillah Al Qur'an dituliskan dalam bahasa Arab
yang satu, sehingga tidak mudah diselewengkan artinya.
Agar tidak tersesat, marilah kita bersama2 membaca Al
Qur'an serta hadits2 seperti "Shahih Bukhori", "Shahih
Muslim", dsb.
--- In [EMAIL PROTECTED], "ma_suryawan"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> --- In [EMAIL PROTECTED], A Nizami
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Soal 17 dalil yg diambil oleh Nizami dan Nurhuda
dari Abul Ala
> Maududi, mari lihat penjelasan dibawah ini.
>
> > 1. QS AL AHZAB 40: " Bukanlah Muhammad itu bapak
salah
> > seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah
> > Rasulullah dan penutup Nabi-nabi"
>
> Yang benar tulisannya adalah (kh-alif-t-m) yaitu
"khaatam" -
> bukan "khatam" (kh-t-m). Kata "khaataman-nabiyyiin"
sudah sering
> dijelaskan. "Khaataman-nabiyyiin berarti "cincin
para nabi"
> atau "meterai para nabi" atau "seal of the
prophets", dan "khaataman-
> nabiyyiin" bukanlah berarti: Tidak boleh ada nabi
lagi apapun juga
> setelah Nabi Muhammad saw.
>
> Sebab, dalam Al-Qur'an Karim banyak didapat
penjelasan dapat
> datangnya nabi/rasul setelah Nabi Muhammad saw,
beberapa diantaranya
> sbb:
>
> 44:6-7 - Allah Ta'ala bersifat Mursil (yang mengutus
Rasul-Rasul-
> Nya). Sifat Allah Ta'ala ini akan selalu dan terus
bekerja selama-
> lamanya. Sifat ini tidak terikat dengan tempat dan
waktu. Jadi,
> adanya kenabian setelah Nabi Muhammad s.a.w. adalah
tidak mustahil
> dengan mempertimbangkan salah satu sifat Allah
Ta'ala ini.
>
> 22:76 - "Allah senantiasa memilih rasul-rasul-Nya
dari antara
> malaikat-malaikat dan dari antara manusia".
Perkataan "yashthafii"
> (memilih) dalam ayat ini, menurut peraturan bahasa
Arab adalah fi'il
> mudhari, yaitu menunjukkan pekerjaan yang sedang
atau akan dilakukan.
> Jadi, Allah S.w.t. sedang atau akan memilih
Rasul-Rasul-Nya menurut
> keadaan zaman atau menurut keperluannya. Dengan kata
lain ayat ini
> tidak terikat dengan tempat dan waktu.
>
> 3:180 - Dalam ayat tersebut terdapat
> perkataan: "yadzara", "yamiidza", "yuthli'a",
"yajtabii". Bentuk
> perkataan tersebut adalah fi'il mudhari yang dipakai
untuk zaman kini
> dan zaman yang akan datang. Jadi maksud ayat ini
adalah Allah S.w.t.
> akan (terus) mengirimkan utusan-utusan-Nya untuk
memisahkan yang baik
> dari yang buruk dan untuk memberitahukan tentang
kabar-kabar ghaib.
>
> 7:36 - Dalam ayat ini: "Wahai anak cucu Adam, jika
datang kepadamu
> rasul-rasul dari antaramu ...". Yang dimaksudkan
anak cucu Adam
> adalah umat manusia. Baik umat manusia terdahulu
sebelum Nabi
> Muhammad s.a.w. dan umat manusia setelah Nabi
Muhammad s.a.w. tetap
> akan didatangi oleh Rasul-Rasul Allah dari antara
anak cucu Adam
> (umat manusia). Dengan kata lain ayat ini tidak
terikat dengan tempat
> dan waktu.
>
> Jadi, jelasnya kalau anda mengartikan ayat
"khaataman nabiyyiin"
> sebagai nabi penutup/terakhir yaitu tidak adanya
nabi apapun juga
> setelah Nabi Muhammad saw - maka akan
bertentangan/bertabrakan dengan
> ayat-ayat tersebut diatas yg menjelaskan dapat
datangnya kenabian
> setelah Nabi Muhammad saw. Padahal Allah Ta'ala
telah menetapkan:
> Tidak ada pertentangan antara satu ayat dengan ayat
lainnya (4:82).
>
> Jadi, arti harfiah/letterlijk "khaataman-nabiyyiin"
adalah: meterai
> para nabi atau cincin para nabi. Arti maknawi/hakiki
"khaataman-
> nabiyyiin" adalah: menunjukkan suatu
> rank/derajat/martabat/status/maqam. Dengan kata lain
adalah: nabi yang
> tersempurna/terunggul/termulia dari para nabi.
Sebab: kata
> "khaataman-nabiyyiin" adalah ism tunggal (i.e.
"khaatam") yang
> direndeng dengan ism jamak (i.e. "nabiyyiin") - maka
mengandung arti
> martabat/maqam/derajat/rank. Jadi, arti dan hakikat
sesungguhnya
> "khaataman-nabiyyiin" adalah: yang
termulia/tersempurna/terunggul
> diantara para nabi atau meterai para nabi atau
cincin (perhiasan)
> para nabi, dst.
>
> Sekarang kita lihat penjelasan Hadits berikut ini:
>
> Peristiwa wafatnya Ibrahim (putera Rasulullah dari
Hz. Maria Qibtiyah
> ra) tercatat sebagai berikut: "Diriwayatkan dari
Ibnu Abbas,
> berkatalah ia: "Ketika Ibrahim ibnu Rasulullah saw
wafat, beliau
> (saw) menyembahyangkan jenazahnya dan berkata,
"Sesungguhnya di sorga
> ada yang menyusukannya, dan kalau usianya panjang,
ia akan menjadi
> nabi yang benar". (Sunan Ibnu Majah, Abu Abdillah
Alqazwaini, Darul
> Fikr, jld. II, hlm. 484, Hadits no. 1511).
>
> Peristiwa wafatnya Ibrahim terjadi pada tahun 9 H,
sedangkan
> ayat "khaataman-nabiyyiin" turun pada tahun 5 H.
Jadi, ucapan beliau
> saw mengenai Ibrahim sebagaimana ditemukan dalam
Hadits itu adalah 4
> tahun kemudian setelah beliau saw menerima ayat
"khaataman-
> nabiyyiin". Jika seandainya ayat
"khaataman-nabiyyiin" kemudian
> diartikan sebagai
"penutup/kesudahan/penghabisan/akhir" nabi-nabi
> yaitu enggak boleh ada nabi lagi apapun juga setelah
beliau saw, maka
> seharusnya beliau mengatakan jikalau usianya
panjang, tentu ia tidak
> akan pernah menjadi nabi karena akulah penutup
nabi-nabi.
>
> Jadi, amat jelas bahwa Nabi saw yang menerima wahyu,
dan beliau-lah
> yg paling mengetahui arti serta makna dari wahyu
yang diterimanya dan
> beliau saw tidak mengungkapkan pengertian "khaatam"
sebagai penutup
> atau terakhir, yaitu enggak boleh ada nabi apapun
juga setelah beliau
> saw - seperti yg biasa diucapkan
kyai2/mullah2/ulama2 Islam
> mainstream.
>
> > 2. Imam Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari
Abu
> > Hurairah r.a. bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
> >
> > "Perumpamaan saya dan para Nabi sebelum saya
seperti orang
> > yang membangun satu bangunan lalu dia membaguskan
dan
> > membuat indah bangunan itu kecuali tempat batu
yang ada di
> > salah satu sudut. Kemudian orang-orang
mengelilinginya dan
> > mereka ta'juk lalu berkata: 'kenapa kamu tidak
taruh batu
> > ini.?' Nabi menjawab : Sayalah batu itu dan saya
penutup
> > Nabi-nabi"
>
> Bangunan yang dimaksud adalah Syari'at yang dibuat
oleh Allah Ta'ala
> melalui para utusan-Nya. Syari'at (Bangunan) Tuhan
secara bertahap
> dibangun ditiap masa dan mencapai puncak
kesempurnaanya pada Syari'at
> (Bangunan) Islam, yang dibawa oleh Hz. Rasulullah
saw (5:3). Oleh
> sebab itu tidak akan ada lagi nabi yang akan membawa
Syari'at baru,
> sebab bangunan indah (Syari'at) tersebut telah
sempurna. Tidak dapat
> lagi ditambah/dikurangi. Inilah maksud dari arti
kalimat "saya adalah
> penutup nabi-nabi".
>
> Jadi, jika Hadits tsb di-interpretasikan bahwa yang
menjadi
> sebuah "batu terakhir" itu adalah Nabi Muhammad saw,
maka itu adalah
> merupakan suatu penghinaan atas diri Nabi saw
sendiri. Apakah beliau
> saw hanya seperti sebuah batu saja untuk ditempatkan
bagi sebuah
> bangunan yang sangat indah itu? Jika dimisalkan
dengan tiang, mungkin
> dapat diterima. Tetapi jika Nabi saw hanya "sekedar
batu bata
> terakhir" saja, sangat keterlaluan, padahal
kedudukan nabi Muhammad
> saw jauh lebih tinggi dari semua nabi yang pernah
ada, bahkan dari
> malaikat sekalipun.
>
> Jadi, jelaslah bahwa maksud Hadits ini adalah bahwa
beliau saw adalah
> nabi yang terakhir membawa Syari'at. Tidak akan
datang nabi lain yg
> membawa Syari'at.
>
> > 3. Imam Muslim juga meriwayatkan dari Jubair bin
Mut'im RA
> > bahwa Nabi SAW bersabda:
> >
> > "Sesungguhnya saya mempunyai nama-nama, saya
Muhammad, saya
> > Ahmad, saya Al-Mahi, yang mana Allah menghapuskan
kekafiran
> > karena saya, saya Al-Hasyir yang mana manusia
berkumpul di
> > kaki saya, saya Al-Aqib yang tidak ada Nabi
setelahnya"
>
> Dalam Hadits Tirmizi ditemukan: " Anal 'aaqibu wal
'aqibul-ladziy
> laisa ba'di hu nabiyyun" maksudnya adalah tidak akan
ada lagi nabi
> yang serupa/sederajat dengan Hz. Rasulullah saw.
Nabi yang membawa
> Syari'at baru yang akan menggantikan Syari'at Islam
tidak dapat
> datang lagi.
>
> Dalam Mirqat, Syarah Misykat, Jilid V, Hal. 376,
Imam Mulla Ali Al-
> Qari berkata: "Lahirnya ungkapan itu ('Aqib) adalah
tafsir dari
> sahabat-sahabat atau dari orang yang kemudian.
>
> Dalam syarah Muslim, Syekh Ibn Arabi berkata, bahwa
'aqib ialah orang
> yang menggantikan seseorang dalam sifat-sifat yang
baik.
>
> Jadi, dalam bahasa Arab, bahasa asli yang digunakan
oleh para sahabat,
> mereka sudah mengerti apa arti "aqib" yang
sebenarnya, sehingga para
> sahabat ra tidak ada yang protes ketika Hz. Aisyah
ra melarang orang
> untuk mengatakan "laa nabiya ba'dahu" (Tidak ada
nabi sesudahnya).
>
> > 4. Abu Daud dan yang lain dalam hadist Thauban
Al-Thawil,
> > bersabda Nabi Muhammad SAW:
> >
> > "Akan ada pada umatku 30 pendusta semuanya mengaku
nabi, dan
> > saya penutup para Nabi dan tidak ada nabi
setelahku"
>
> Membatasi jumlah itu hanya sampai 30 orang pembohong
yang akan
> mendakwakan dirinya nabi, sudah menunjukkan bahwa
akan adanya nabi
> yang benar. Kalau tiap-tiap orang yang akan
mendakwakan diri sbg nabi
> adalah pendusta, tentu Nabi Muhammad saw akan
mengatakan bahwa tiap-
> tiap orang yang mendakwakan diri sebagai nabi
semuanya adalah
> pembohong/pendusta.
>
> Jika anda mau melihat dalam syarah Muslim, Ikmalul
Ikmal, Jilid VI,
> hal 258, dikatakan: "Kebenaran Hadits ini sudah
nyata, sebab jika
> dihitung jumlahnya orang-orang yang mendakwakan
dirinya nabi dari
> sejak masa Nabi saw hingga sekarang pasti sudah
tercapai jumlah
> tersebut, dan ini diketahui oleh orang-orang yang
suka mempelajari
> riwayat (tarikh)". - Penulis buku tsb wafat pada
tahun 828 Hijriah.
> Jadi, dalam masa 400 tahun sudah ada 30 orang yang
mendakwakan
> dirinya jadi nabi.
>
> Jadi jelasnya, yang dimaksud oleh Hz. Rasulullah saw
dengan "laa
> nabiyya ba'di" adalah tidak akan ada lagi nabi yang
membawa Syari'at
> baru yang akan menggantikan Syari'at Islam.
>
> > 5. Khutbah terakhir Rasulullah ...
> >
> > " ...Wahai manusia, tidak ada nabi atau rasul yang
akan
> > datang sesudahku dan tidak ada agama baru yang
akan lahir.
> > Karena itu, wahai manusia, berpikirlah dengan baik
dan
> > pahamilah kata-kata yang kusampaikan kepadamu. Aku
> > tinggalkan dua hal: Al Qur'an dan Sunnah,
contoh-contoh
> > dariku; dan jika kamu ikuti keduanya kamu tidak
akan pernah
> > tersesat ..."
>
> Sumbernya darimana? Ngarang ya? Atau jangan-jangan
ini cuma karangan
> Maududi dan fans beratnya saja seperti Nizami dkk.
>
> > 6. Rasulullah SAW menjelaskan: "Suku Israel
dipimpim oleh
> > Nabi-nabi. Jika seorang Nabi meninggal dunia,
seorang nabi
> > lain meneruskannya. Tetapi tidak ada nabi yang
akan datang
> > sesudahku; hanya para kalifah yang akan menjadi
penerusku
> > (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).
>
> Hadits ini benar dan tidak bertentangan dengan
Al-Qur'an Karim maupun
> Hadits lainnya. Tidak akan datang nabi yang membawa
Syari'at baru dan
> setelah wafatnya Hz. Rasulullah saw, diteruskan oleh
para khalifah
> rasulullah. Lihat kata "sayakunu khulafa" (akan ada
khalifah-
> khalifah) menunjukkan maksud "dibelakang" atau
"kemudian aku" itu
> adalah masa yang dekat, karena huruf SA dalam
perkataan SAYAKUNU
> menunjukkan kepada masa yang dekat. Jadi, setelah
beliau saw wafat,
> dalam waktu dekat tidak akan ada nabi.
>
> Tapi ingat, ditempat lain Nabi saw bersabda: "Akan
terjadi nubuat
> (kenabian) sampai waktu yang disukai Allah Swt,
kemudian akan terjadi
> khilafat seperti dalam nubuat sampai waktu yang
dikehendaki Allah swt,
> kemudian akan berdiri kerajaan sampai waktu yang
dikehendaki Allah
> swt, kemudian terjadi khilafat dalam nubuat.
Kemudian beliau berdiam
> diri".(Musnad Ahmad, Baihaqi, Misykat hal.461).
>
> Juga dalam shahih Bukhari: "kaifa antum idza nazala
ibn maryama fikum
> wa imamukum minkum" - Bagaimana keadaan kamu [umat
Islam] jika turun
> ibn maryama dari antara kamu dan menjadi imam bagi
kamu? [Bukhari,
> kitabul-anbiya, chapter nuzul isa bin maryam] -
bahwa Isa ibn Maryam
> yg akan datang berasal dari umat Islam.
>
> > 7. Rasulullah SAW menegaskan: "Posisiku dalam
hubungan
> > dengan nabi-nabi yang datang sebelumku dapat
dijelaskan
> > dengan contoh berikut: Seorang laki-laki
mendirikan sebuah
> > bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang
agung,
> > tetapi dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk
tempat
> > sebuah batu yang belum dipasang. Orang-orang
melihat
> > sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi
keindahannya,
> > tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang
hilang
> > dari lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang
itu dan
> > aku adalah yang terakhir dalam jajaran Nabi-nabi".
(Bukhari,
> > Kitab-ul-Manaqib).
>
> Bangunan yang dimaksud adalah Syari'at yang dibuat
oleh Allah Ta'ala
> melalui para utusan-Nya. Syari'at (Bangunan) Tuhan
secara bertahap
> dibangun ditiap masa dan mencapai puncak
kesempurnaanya pada Syari'at
> (bangunan) Islam, yang dibawa oleh Hz. Rasulullah
saw (5:3). Oleh
> sebab itu tidak akan ada lagi nabi yang akan membawa
Syari'at baru,
> sebab bangunan indah (Syari'at) tersebut telah
sempurna. Tidak dapat
> lagi ditambah/dikurangi. Inilah maksud dari arti
kalimat "aku seperti
> batu yang hilang itu" artinya beliau yg membawa dan
menyempurnakan
> Syari'at (Bangunan), sehingga beliau adalah nabi
terakhir yang
> membawa Syari'at. Tidak akan datang nabi lain yg
membawa Syari'at.
>
> > 8. Rasulullah SAW menyatakan: "Allah telah
memberkati aku
> > dengan enam macam kebaikan yang tidak dinikmati
Nabi-nabi
> > terdahulu: - Aku dikaruniai keahlian berbicara
yang efektif
> > dan sempurna. - Aku diberi kemenangan kare musuh
gentar
> > menghadapiku - Harta rampasan perang dihalalkan
bagiku. -
> > Seluruh bumi telah dijadikan tempatku beribadah
dan juga
> > telah menjadi alat pensuci bagiku. Dengan kata
lain, dalam
> > agamaku, melakukan shalat tidak harus di suatu
tempat
> > ibadah tertentu. Shalat dapat dilakukan di manapun
di atas
> > bumi. Dan jika air tidak tersedia, ummatku
diizinkan untuk
> > berwudhu dengan tanah (Tayammum) dan membersihkan
dirinya
> > dengan tanah jika air untuk mandi langka. - Aku
diutus Allah
> > untuk menyampaikan pesan suciNYA bagi seluruh
dunia. - Dan
> > jajaran Kenabian telah mencapai akhirnya padaku
(Riwayat
> > Muslim, Tirmidhi, Ibnu Majah)
>
> Dalam hadist ini terlihat jelas dan tidak diragukan
lagi bahwa
> banyak peraturan/hukum disebutkan dalam Hadits ini
dan yang
> dimaksudkan oleh peraturan-peraturan itu adalah
Syari'at yang
> sempurna (Islam) telah berakhir pada kenabian Hz.
Muhammad saw.
>
> > 9. Rasulullah SAW menegaskan: "Rantai Kerasulan
dan Kenabian
> > telah sampai pada akhirnya. Tidak akan ada lagi
rasul dan
> > nabi sesudahku". (Tirmidhi, Kitab-ur-Rouya, Bab
> > Zahab-un-Nubuwwa; Musnad Ahmad; Marwiyat-Anas bin
Malik).
>
> Idem. Lihat diatas ttg maksud "laa nabiyya ba'di".
>
> > 10. Rasulullah SAW menjelaskan: 'Saya Muhammad,
Saya Ahmad,
> > Saya Pembersih dan kekafiran harus dihapuskan
melalui aku;
> > Saya Pengumpul, Manusia harus berkumpul pada hari
kiamat
> > yang datang sesudahku. (Dengan kata lain, Kiamat
adalah
> > satu-satunya yang akan datang sesudahku); dan saya
adalah
> > Yang Terakhir dalam arti tidak ada nabi yang
datang
> > sesudahku". (Bukhari dan Muslim, Kitab-ul-Fada'il,
Bab
> > Asmaun-Nabi; Tirmidhi, Kitab-ul-Adab, Bab
Asma-un-Nabi;
> > Muatta', Kitab-u-Asma-in-Nabi; Al-Mustadrak Hakim,
> > Kitab-ut-Tarikh, Bab Asma-un-Nabi).
>
> Bagaimana dengan pemahaman Hz. Aisyah ra? Beliau
berkata:
>
> "Katakanlah, sesungguhnya ia [Muhammad] adalah
khaatamul-anbiya',
> tetapi jangan sekali-kali kamu mengatakan laa
nabiyya ba'dahu (tidak
> ada Nabi sesudahnya)" (Durrun Mantsur, jld. V, hlm.
204; Takmilah
> Majmaul Bihar, hlm. 5)
>
> Lagi, dipertegas dan dibenarkan oleh ulama-ulama
Salaf sebagai
> berikut:
>
> Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi r.h. dalam kitabnya
Futuuhatul Makiyyah
> menulis:
>
> "Inilah arti dari sabda Rasulullah s.a.w..
`Sesungguhnya risalah dan
> nubuwat sudah terputus, maka tidak ada Rasul dan
Nabi yang datang
> sesudahku yang bertentangan dengan Syari'atku.
Apabila ia datang, ia
> akan ada di bawah Syari'atku'". (Futuuhatul
Makiyyah, Ibnu Arabi,
> Darul Kutubil Arabiyyah Alkubra, Mesir, jld II, hlm.
3)
>
> Imam Abdul Wahab Asy-Syarani r.h. berkata:
>
> "Dan sabda Nabi s.a.w.: `tidak ada Nabi dan Rasul
sesudah aku, adalah
> maksudnya: tidak ada lagi Nabi sesudah aku yang
membawa Syari'at'"
> (Al-Yawaqit wal Jawahir, jld. II, hlm. 42)
>
> Imam Thahir Al Gujrati berkata:
>
> "Ini tidaklah bertentangan dengan Hadits tidak ada
Nabi sesudahku,
> karena yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi
Nabi yang akan
> membatalkan Syari'at beliau". (Takmilah Majmaul
Bihar, hlm. 85)
>
> Sayyid Waliyullah Muhaddits Ad-Dahlawi berkata:
>
> "Dan khaatam-lah Nabi-Nabi dengan kedatangan beliau,
artinya tidak
> akan ada lagi orang yang akan diutus Allah membawa
Syari'at untuk
> manusia". (Tafhimati Ilahiyyah, hlm. 53) .
>
> Imam mazhab Hanafi yang terkenal, yaitu Mulla Ali
al-Qari menjelaskan:
>
> "Jika Ibrahim hidup dan menjadi Nabi, demikian pula
Umar menjadi
> Nabi, maka mereka merupakan pengikut atau ummati
Rasulullah s.a.w..
> Seperti halnya Isa, Khidir, dan Ilyas `alaihimus
salaam. Hal itu
> tidak bertentangan dengan ayat Khaataman-Nabiyyiin.
Sebab, ayat itu
> hanya berarti bahwa sekarang, sesudah Rasulullah
s.a.w. tidak dapat
> lagi datang Nabi lain yang membatalkan Syari'at
beliau s.a.w. dan
> bukan ummati beliau s.a.w.". (Maudhu'aat Kabiir,
hlm. 69).
>
> Jadi, jelaslah maksud dan hakikat dari sabda suci
Nabi saw: "laa
> nabiya ba'diy" (tidak ada nabi sesudahku) itu adalah
seperti yang
> dijelaskan oleh Hz. Shiddiqah Aisyah ra dan para
ulama terkemuka
> dalam dunia Islam.
>
> > 11. Rasulullah SAW menjelaskan: "Allah yang Maha
Kuasa tidak
> > mengirim seorang Nabi pun ke dunia ini yang tidak
> > memperingatkan ummatnya tentang kemunculan Dajjal
> > (Anti-Kristus, tetapi Dajjal tidak muncul dalam
masa
> > mereka). Aku yang terakhir dalam jajaran Nabi-Nabi
dan
> > kalian ummat terakhir yang beriman. Tidak
diragukan, suatu
> > saat, Dajjal akan datang dari antara kamu". (Ibnu
Majah,
> > Kitabul Fitan, Bab Dajjal).
>
> Dalam banyak kitab Hadits shahih ditemukan bahwa
dajjal akan dibunuh
> oleh Imam Mahdi/Al-Masih ibn Maryam. Jadi jelas
bahwa akan ada
> kenabian tanpa Syari'at setelah Hz. Rasulullah saw.
>
> > 12. Abdur Rahman bin Jubair melaporkan: "Saya
mendengar
> > Abdullah bin `Amr ibn-`As menceritakan bahwa suatu
hari
> > Rasulullah SAW keluar dari rumahnya dan bergabung
dengan
> > mereka. Tindak-tanduknya memberi kesan seolah-olah
beliau
> > akan meninggalkan kita. Beliau berkata: "Aku
Muhammad, Nabi
> > Allah yang buta huruf", dan mengulangi pernyataan
itu tiga
> > kali. Lalu beliau menegaskan: "Tidak ada lagi Nabi
> > sesudahku". (Musnad Ahmad, Marwiyat `Abdullah bin
`Amr
> > ibn-`As).
>
> Lihat penjelasan diatas dari Hz. Siti Aisyah ra dan
para ulama SALAF
> di no. 10.
>
> > 13. Rasulullah SAW berkata: " Allah tidak akan
mengutus Nabi
> > sesudahku, tetapi hanya Mubashirat". Dikatakan,
apa yang
> > dimaksud dengan al-Mubashirat. Beliau berkata:
Visi yang
> > baik atau visi yang suci". (Musnad Ahmad, marwiyat
Abu
> > Tufail, Nasa'i, Abu Dawud). (Dengan kata lain
tidak ada
> > kemungkinan turunnya wahyu Allah di masa yang akan
datang.
> > Paling tinggi, jika seseorang mendapat inspirasi
dari Allah,
> > dia akan menerimanya dalam bentuk mimpi yang
suci).
>
> Yang ada dalam tanda kurung di kalimat terakhir:
"Dengan kata lain
> tidak ada kemungkinan turunnya wahyu Allah di masa
yang akan datang.
> Paling tinggi, jika seseorang mendapat inspirasi
dari Allah, dia akan
> menerimanya dalam bentuk mimpi yang suci" - adalah
bukan bagian dari
> Hadits. Itu adalah tulisan dan interpretasi Maududi,
seorang
> kyai/mullah/ulama Pakistan penentang sengit
Ahmadiyah.
>
> Mengapa manusia (Maududi dan fans berat-nya seperti
Nizami dkk) kok
> berani mengatakan bahwa wahyu tidak boleh turun
lagi? Apakah manusia
> dapat meng-intervensi sunnah Allah? Bukankah Allah
Ta'ala bersifat
> Mutakallim (Maha Berkata-kata), sehingga sifat tsb
akan tetap bekerja
> untuk selama-lamanya?
>
> Sebagai informasi, banyak diantara umat Islam yang
juga menerima
> wahyu dari Allah Ta'ala seperti: Syekh Muhyiddin Ibn
Arabi rh (Bapak
> kaum Sufi), Khawajah Miir Dard rh, Abdullah Ghaznawi
rh, Syekh Abdul
> Qadir Jaelani rh dll.
>
> > 14. Rasulullah SAW berkata: "Jika benar seorang
Nabi akan
> > datang sesudahku, orang itu tentunya Umar bin
Khattab".
> > (Tirmidhi, Kitab-ul-Manaqib).
>
> Oleh karena nabi Muhammad saw yang diutus, maka Hz.
Umar ra tidak
> diutus sebagai nabi. Jadi bukan tidak akan ada nabi
yang akan diutus.
>
> Disini ada satu hal yang harus mendapat perhatian.
Kenapa Nabi saw
> tidak menyebut nama Abu Bakr ra, padahal Abu Bakr
seorang shiddiq,
> lebih tinggi dari Umar yang berpangkat syahid?
Rahasianya adalah
> Sayyidina Umar ra diketahui oleh Rasulullah saw
mempunyai bakat hukum
> (undang-undang) melebihi dari para sahabat lainnya,
termasuk Abu
> Bakr. Sering Hz. Umar memberikan saran kepada Hz.
Rasulullah saw, dan
> akhirnya turun ayat-ayat yang membenarkan saran Hz.
Umar tsb.
>
> Jadi, maksudnya Hadits ini adalah bahwa tidak akan
datang nabi yang
> akan membawa Syari'at (hukum/undang-undang).
>
> > 15. Rasulullah SAW berkata kepada `Ali,
"Hubunganmu denganku
> > ialah seperti hubungan Harun dengan Musa. Tetapi
tidak ada
> > Nabi yang akan datang sesudahku". (Bukhari dan
Muslim, Kitab
> > Fada'il as-Sahaba).
>
> Perkataan "laa nabiyya ba'diy" jelas khusus untuk
Hz. Ali ra dan
> tidak berlaku untuk umum. Sebab kita temukan
penegasannya atas Hadits
> itu dalam Hadits lain sbb: "Berkata ia (Rasulullah
saw), "Wahai Ali,
> tidakkah engkau suka mempunyai kedudukan Harun
disamping Musa, tetapi
> bedanya engkau bukan nabi" (Thabaqat Kabir, Jilid V,
hal. 15).
>
> > 16. Rasulullah SAW menjelaskan: "Di antara suku
Israel
> > sebelum kamu, benar-benar ada orang-orang yang
berkomunikasi
> > dengan Tuhan, meskipun mereka bukanlah NabiNYA.
Jika ada
> > satu orang di antara ummatku yang akan
berkomunikasi dengan
> > Allah, orangnya tidak lain daripada Umar.
(Bukhari,
> > Kitab-ul-Manaqib)
>
> Telah terjawab dengan sangat jelas bahwa bukan hanya
Hz. Rasulullah
> saw saja yang dapat "berkomunikasi" dengan Allah
Ta'ala, orang yang
> bukan nabi juga dapat menerima anugerah wahyu
(komunikasi) dengan
> Allah Ta'ala.
>
> Jadi, omongan Maududi dan para fans beratnya seperti
Nizami dkk yg
> mengatakan bahwa wahyu enggak boleh turun lagi
setelah Nabi Muhammad
> saw telah dibantah oleh Hadits ini.
>
> > 17. Rasulullah SAW berkata: "Tidak ada Nabi yang
akan datang
> > sesudahku dan karena itu, tidak akan ada ummat
lain pengikut
> > nabi baru apapun". (Baihaqi, Kitab-ul-Rouya;
Tabrani)
>
> Jawab : Pengertian "laa nabiyya ba'di" telah
dijelaskan dengan
> komprehensif diatas.
>
> Salam,
> M. A. Suryawan
Bacalah artikel tentang Islam di:
http://www.nizami.org
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Small Business - Try our new Resources site
http://smallbusiness.yahoo.com/resources/
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Would you Help a Child in need?
It is easier than you think.
Click Here to meet a Child you can help.
http://us.click.yahoo.com/sTR6_D/I_qJAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/