Republika : Rabu, 27 Juli 2005

Menikmati Kesederhanaan 
Oleh : Syarif Hade Masyah 

Suatu kali Umar bin Khathab RA berkunjung ke rumah Rasulullah SAW. Kala itu
Umar mendapati Nabi sedang berbaring di tikar yang sangat kasar. Saking
kasarnya alas tidur Nabi itu, anyaman tikarnya membekas di pipi beliau.
Tidak semua tubuh beliau beralas tikar. Sebagian tubuhnya beralas tanah.
Bantal yang beliau gunakan pun pelepah kurma yang keras. 
Melihat pemandangan itu Umar langsung menangis. ''Mengapa Anda menangis?''
tanya Rasulullah. ''Bagaimana saya tidak menangis? Alas tidur itu telah
menorehkan bekas di pipi Anda. Anda ini Nabi sekaligus kekasih Allah.
Mengapa kekayaan Anda hanya seperti yang saya lihat sekarang ini? Apa Anda
tidak melihat bagaimana Kisra (Raja Persia) dan Kaisar (Raja Romawi) duduk
di atas singgasana emas dan berbantalkan sutra terindah?'' jawab Umar yang
sekaligus balik bertanya.
Apa jawab Nabi? ''Mereka ingin menghabiskan kenikmatan dan kesenangan
sekarang ini. Padahal, kenikmatan dan kesenangan itu cepat berakhir. Berbeda
dengan kita. Kita lebih senang mendapat kenikmatan dan kesenangan itu untuk
hari nanti.''Nabi telah memberi contoh dan teladan mulia dalam sikap
sederhana. Catatan sejarah menunjukkan beliau tidak memiliki perabot rumah
tangga biasa, apalagi yang mewah. Makanan favorit beliau hanya roti kering,
segelas air putih, dan satu-dua butir kurma. Itu pun sudah beliau anggap
sebagai kemewahan.
Menyerukan sikap sederhana tidak akan berhasil bila tidak diiringi
keteladanan. Belakangan kita banyak melihat orang yang menggembar- gemborkan
hidup hemat, meski sikap hidupnya tidak menunjukkan apa yang diserukannya.
Mobilnya lebih dari satu, rumahnya ada di mana-mana, perlengkapan rumahnya
serbamewah, watt untuk perabotan elektroniknya luar biasa, dan pakaiannya
impor semua.
Menurut seorang tabi'in, seseorang dikategorikan boros jika dalam hal
makanan dan berpakaian dia selalu menuruti keinginannya. Rasulullah SAW juga
bersabda, ''Dunia itu diperuntukkan bagi pecintanya. Siapa yang mengambil
dunia lebih dari batas kecukupannya, maka tanpa terasa dia telah merenggut
ajal kematiannya.'' (HR Al-Bazzar). Sekarang kita sedang merasakan 'ajal
kematian' akibat sikap konsumtif dan boros pada listrik dan BBM. Sikap
seperti itu biasanya dilatari oleh keinginan terlihat mewah yang sering kali
membuat seseorang lupa diri. Sebagian kita bahkan tak segan meraih keinginan
itu dengan cara yang tidak dibenarkan. Godaan untuk sikap hidup seperti itu
tak ada habisnya. 
Allah SWT berfirman, ''Bermegah-megahan telah melalaikan kalian sampai
kalian masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu! Kelak kalian akan mengetahui
akibat perbuatan kalian itu. Janganlah begitu! Kelak kalian akan
mengetahuinya.'' (QS 102: 1-4). Kita tidak hanya hidup untuk hari ini. Semua
yang kita miliki jangan dihabiskan sesuka hati. Kita masih mempunyai
anak-cucu yang juga ingin mewarisi apa yang sudah kita raih. Sederhana itu
pilihan untuk menjalani hidup yang terfokus pada hal yang benar-benar
berarti dan membebaskan diri dari segala belenggu. Ini yang membedakannya
dari miskin.




Suryati 
Staf Akademik 
Program Pascasarjana FEUI 
Program Studi Ilmu Ekonomi 
Gd. PAU Ekonomi UI lt. 1 
Kampus Depok 

Telp  : 021-78849152/53 
Hp    : 0812-8634055

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke