I'tikaf Pada masa sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam senantiasa melakukan itikaf (berdiam diri di masjid). Hal ini terus dilakukan Rasulullah sampai beliau wafat Sudah semestinya kaum Muslimin melaksanakan sunnah yang diajarkan sosok teladan. Agar itikaf bisa memberikan hasil sesuai yang diharapkan dan agar orang yang beritikaf keluar dari masjid dalam kondisi telah diampuni dosa-dosanya, ada beberapa adab yang perlu diperhatikan, yaitu:
Niat yang Baik Hendaklah orang yang ingin beritikaf memurnikan niatnya untuk mencari keridhaan Allah Subhanahu wa Taala, meraih derajat di akhirat dengan cara melepaskan diri dari kegiatan dunia dan mengisinya dengan amaliyah akhirat, serta menghidupkan sunnah Rasulullah. Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan Inilah sunnah Rasulullah, yang berlandaskan pada hadits yang diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu anha, Bahwasanya Rasulullah beritikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian para istri beliau beritikaf setelahnya. Boleh saja beritikaf selain waktu-waktu itu, akan tetapi tetap saja yang terbaik adalah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Di Masjid Jami (Agung) Tidak sah bila seseorang beritikaf di rumah Rasulullah mencontohkan itikaf di masjid. Allah berfirman, Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam masjid. (Al-Baqarah [2]: 187). Ayat ini menunjukkan bahwa tempat itikaf adalah masjid. Seyogyanya orang yang beritikaf memilih masjid jami (yang menyelenggarakan shalat Jumat) sehingga ia tidak perlu pindah dari masjid untuk menunaikan shalat Jumat, berdasarkan kepada perkataan Aisyah, Yang disunnahkan kepada orang yang sedang beritikaf ialah ia tidak menjenguk orang sakit, tidak melayat jenazah, tidak menyentuh wanita, tidak mencampurinya, tidak keluar masjid untuk satu urusan pun kecuali urusan yang tidak mungkin ia tinggalkan, tidak ada itikaf kecuali disertai dengan puasa dan tidak ada itikaf kecuali di masjid jami. Di Mihrab atau Tenda Khusus Cara ini akan membantu orang yang beritikaf untuk menyendiri bersama Tuhannya dan tidak menghabiskan waktu untuk bercakap-cakap dengan temannya. Rasulullah juga melakukan cara ini, sebagaimana yang dikisahkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Aisyah, Bahwasanya Rasulullah jika hendak beritikaf beliau menunaikan shalat Shubuh lalu memasuki tempat itikafnya, dan suatu ketika beliau ingin beritikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, lalu beliau memerintahkan untuk dirikan tenda untuknya Memasuki Tenda Setelah Shalat Shubuh Yaitu pada hari pertama dari sepertiga terakhir bulan Ramadhan, karena itulah yang pernah dilakukan oleh Rasulullah, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits di atas. Ibnu Hajar berkata, dalam hal itu menunjukkan bahwa permulaan seseorang yang beritikaf memasuki tempat itikafnya ialah setelah shalat Shubuh. Tidak Keluar Masjid Hendaklah tidak keluar kecuali untuk urusan yang sangat penting dan tidak mungkin ditinggalkan. Ia tidak disunnahkan menjenguk orang sakit, atau melayat jenazah sebagaimana yang disebutkan dalam hadits terdahulu, kecuali jika ia mensyaratkan hal-hal tersebut ketika ia memulai beritikaf. Tidak Menyentuh Wanita Berdasarkan hadits terdahulu, dan berdasarkan firman Allah, Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam masjid. (Al-Baqarah [2]: 187). Sungguh-sungguh Tujuan utama dari itikaf adalah agar seseorang bisa berkonsentrasi untuk ibadah saja sambil menantikan datangnya lailatul qadr seperti yang disebutkan Allah, Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (Al-Qadr [97]: 3). Diriwayatkan, Bahwasanya Rasulullah jika telah memasuki sepuluh terakhir beliau mengencangkan kainnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya. Maksud mengencangkan kain di sini ialah bersungguh-sungguh dalam beribadah atau tidak mencampuri istrinya. Tidak Menyia-nyiakan Waktu Hendaklah seseorang yang beritikaf memanfaatkan setiap kesempatan yang ia miliki untuk beribadah, berdoa, membaca Al-Qur`an, istighfar, dzikir kepada Allah Swt, shalat, berpikir, dan merenung. Janganlah menyia-yiakan waktu dengan berbincang-bincang dengan teman dan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan ibadah.* (Pambudi, dikutip dari buku Ensiklopedi Etika Islam/Hidayatullah) http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1444&Itemid=0 Hadirilah Silaturrahim Anggota Milis Islam tanggal 22 Oktober 2005 di Al Azhar Syifa Budi Kemang Keterangan lengkap di: www.mifta.org Ingin belajar Islam? Mari bergabung milis Media Dakwah Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] __________________________________ Yahoo! Music Unlimited Access over 1 million songs. Try it free. http://music.yahoo.com/unlimited/ ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Click here to rescue a little child from a life of poverty. http://us.click.yahoo.com/rAWabB/gYnLAA/i1hLAA/TXWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah. Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
