Republika Online
   
  Selasa, 07 Maret 2006

  Muchsin Al-fikri SSos 
Berdakwah Lewat Politik 
   
  
Dunia politik, bagi sebagian orang, identik dengan citra negatif. Namun, tidak 
semua aktivis politik hanya memikirkan kekuasaan semata. Muchsin Al Fikri, 
Sekretaris Komisi C DPRD Kota Bandung, dapat dijadikan contoh. Dia salah 
seorang wakil rakyat yang tak hanya memperhatikan kepentingan pribadi. Ia 
memberikan perhatian pada kepentingan umat.
  Meskipun tidak berasal dari keluarga yang bergelut dengan politik, pria 
kelahiran Bandung, 19 November 1971 ini, terjun ke dunia politik dengan membawa 
misi dakwah. Sebelum berkecimpung di dunia politik, Muchsin aktif dalam 
beberapa organisasi seperti Pemuda Persatuan Islam, Kharisma ITB, Dewan Dakwah 
Islamiah dan Yayasan Percikan Iman. 
  ''Berpolitik tanpa dakwah, dalam arti hanya meraih kekuasaan, saya yakin 
tidak akan mencapai kepuasan,'' tutur pria lulusan Fakultas Komunikasi, Jurusan 
Jurnalistik, Universitas Islam Bandung, dalam perbincangan dengan Republika, 
beberapa waktu lalu. 
  Menurut pemahaman Muchsin, setiap politik merupakan bagian dari dakwah. 
Bentuk dakwahnya, sambung dia, dengan memasukkan nilai-nilai ajaran Islam ke 
dalam peraturan-peraturan daerah. Muchsin tertarik masuk ke dunia politik, 
setelah ada ketentuan yang membebaskan asas partai pada 1998. Dengan modal 
semangat dakwah, ia berusaha mewarnai setiap peraturan yang dikeluarkan. 
  Ia mencontohkan dalam perencanaan pembangunan Pasar Banceuy yang diharuskan 
mempunyai mushola. ''Ke depan setiap bangunan fasilitas publik akan dibangun 
mushola. Pengelola harus memperhatikan norma yang ada di masyarakat,'' ujarnya.
  Disibukkan dengan aktivitas di politik, Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai 
Bulan Bintang (PBB) Kota Bandung ini, mengaku tetap memberikan perhatian yang 
serius mengenai agama kepada keluarganya. Pernikahannya dengan Sri Wati (28 
tahun), yang juga mantan muridnya di Madrasah, telah dikarunia tiga putra yaitu 
Gilman Hizbul Islam (9), Giaz Abdul Nasser (7) dan Ghozi Muhammad (4). Ketiga 
putranya ini diarahkan menjadi para mujahid yang berjuang di jalan Allah.
  Muchsin berpandangan bahwa seorang istri merupakan figur yang mendampingi 
suami dalam jihad dari segi yang luas. ''Selain memberikan dukungan kepada 
suami, istri mempunyai peran strategis dalam pembinaan anak-anak,'' katanya 
menegaskan. Di waktu luangnya, Muchsin setiap Ahad mengagendakan acara rekreasi 
bersama keluarga. ''Acara ini setengah wajib, karena di sinilah saat yang tepat 
untuk dekat dengan keluarga,'' ungkapnya.
  Dari berpolitik, Muchsin belajar banyak tentang kehidupan. Pengalamannya 
selama menjadi anggota dewan, menjadikan dirinya selalu berusaha sabar 
menghadapi setiap permasalahan. Mulai dari teror yang pernah ia terima mengenai 
kasus hotel di Kota Bandung dan tindakan teror lainnya dari pihak yang tidak 
senang terhadap sikapnya. Ia menyadari bahwa semua itu adalah bagaian dari 
risiko perjuangan.
  Terhadap teror semacam itu, Muchsin masih bisa bersabar dan memakluminya. 
''Kalau sudah menyangkut agama seperti adanya pemikiran-pemikiran Islam 
liberal, saya marah. Sebaliknya, terhadap orang yang berdakwah walaupun dalam 
keadaan serba kekurangan saya justru berempati,'' ujarnya.
  Kegemaran Muchsin membaca buku dan menulis sangat berpengaruh terhadap jalan 
hidupnya. Buku 'Dinamika Hidup' karangan Yunan Nasution diakui mengubah jalan 
hidupnya hampir 180 derajat. ''Buku ini memberikan semangat, optimisme, 
manajemen hidup dan waktu. Buku ini bercerita tentang seseorang yang patah 
semangat akhirnya bisa bangkit kembali,'' papar pemilik prinsip 'hidup adalah 
ibadah.''
  Sementara tokoh politik yang sangat mempengaruhi pandangan dan sikap Muchsin 
ialah Natsir. Menurut dia, Natsir yang mantan perdana menteri di era orde lama 
itu, memberikan teladan dalam hal kesederhanaan, komitmen, jujur, tidak korup 
dan tidak menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan pribadi. Pendidikan di 
keluarga menurut Muchsin berpengaruh besar pada 
  Kepribadiannya sekarang ini. Orang tuanya, H Ichwan dan Ny E Suhaemi, yang 
berjualan mainan anak-anak ke sekolah-sekolah, mengajarkan nilai-nilai agama 
dan kesederhanaan. ''Setelah shalat subuh orang tua saya tidak tidur lagi, 
mereka langsung beraktivitas,'' ujar ujar pria yang suka menulis dan berprofesi 
di dunia jurnalistik hampir sepuluh tahun itu.
  Muchsin yang berencana untuk mendirikan pesantren ini, berpandangan jauh ke 
depan untuk lebih menciptakan politik yang bermoral. ''Politik sebagai cara 
untuk meraih kekuasaan harus memperhatikan norma-norma yang dipakai, tidak 
bebas nilai dan diwarnai dengan nilai-nilai agama,'' katanya.
  (rig ) 
© 2005 Hak Cipta oleh Republika Online 


Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke