bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem Anda minta penjelasan kepada saya atau kepada penulis artikel tsb ?
-muslim voice- At 10:35 05/04/2006, you wrote: >Apakah dengan merujuk pada buku karangan Imam Ghazali dan Ibnu Taimiyah itu >saja tidak cukup bagi kalangan pesantren untuk menghadapi paham-paham >tersebut pak ?!?!?! Bukankah akar dari paham2 liberalisme itu sama akarnya >dengan yang Imam Ghazali dan Ibnu Taimiyah kritik melalui bukunya itu >?!?!?!?!?! > >Mohon penjelasan ?!?!?! > > > > > > "muslim > insuffer" > > <[EMAIL PROTECTED] To: > [email protected] > ail.com> cc: > [EMAIL PROTECTED] > Sent by: Subject: [media-dakwah] > Klarifikasi tentang upaya infiltrasi paham > [EMAIL PROTECTED] sekularisme-liberalisme > (SIPILIS) ke pondok pesantren > groups.com > > > > > > 05/04/2006 > 09:35 > > > > > > > > > >http://musliminsuffer.blogspot.com/ > >bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem >In the Name of God, the Compassionate, the Merciful > > >=== News Update === > > >"Peringatan KH Khalil Ridwan" > >Senin, 03 April 2006 >KH Khalil Ridwan, pimpinan pesantren Husnayain mengklarifikasi tentang >upaya infiltrasi paham sekularisme-liberalisme (SIPILIS) ke pondok >pesantren. Baca Catatan Akhir Pekan Adian Husaini ke 142 > >Oleh: Adian Husaini > >Pada tanggal 27 Maret 2006, Harian Republika memuat sebuah surat pembaca >yang dikirim oleh KH A. Khalil Ridwan, seorang Ketua Majelis Ulama >Indonesia. Surat ini sangat penting untuk diperhatikan, karena memberikan >klarifikasi dan peringatan tentang upaya infiltrasi paham >sekularisme-liberalisme ke pondok-pondok pesantren. Surat itu juga >menyebutkan adanya sikap tegas dari pimpinan Badan Kerjasama Pondok >Pesantren se-Indonesia (BKSPPI) yang memutus segala bentuk kerjasama dengan > >lembaga pengasong ide liberal ICIP (International Center for Islam and >Pluralism) yang dipimpin Dr. M. Syafii Anwar. Tampaknya, selama ini, >kerjasama itu hanya dilakukan oleh 'oknum' BKSPPI saja. > >Sebagai salah satu anggota Majlis Pimpinan BKSPPI, Kyai Khalil mengaku >tidak tahu menahu tentang kerjasama tersebut, dan menyebut kerjasama itu >sebagai "sebuah kecelakaan dan bencana yang sedang menimpa organisasi >BKSPPI." Ia juga menyatakan, kerjasama tersebut, "sangat berbahaya bagi >ketahanan aqidah umat." > >Alhamdulillah, kata Kyai Khalil, KH.Didin Hafiduddin sebagai ketua >Presidium MP BKSPPI telah mengadakan rapat yang dihadiri oleh pengurus >BKSPPI, pada Hari Rabu 22 Shafar 1427. Hasilnya: Memutuskan semua kerjasama > >antara BKSPPI dengan ICIP dan membatalkan kerjasama menerbitkan majalah >AL-WASATHIYAH. Selanjutnya BKSPPI, tidak bertanggung jawab apabila majalah >tersebut masih terbit. > >Kyai Khalil Ridwan mengimbau agar umat umat Islam dengan serius merapatkan >barisan dan jangan mudah terbius oleh zukhrufalqoul (ucapan yang menipu) >dari kalangan munafiqin yang mengasong-asongkan dagangan berupa syirik >modern dalam bentuk faham atau aliran yang sudah diharamkan oleh MUI pada >MUNAS 2005. Juga, khususnya kepada kalangan pondok Pesantren dan organisasi > >pondok pesantren, Kyai Betawi itu juga mengingatkan, agar mereka mewaspadai > >kemungkinan adanya infiltran yang sengaja disusupkan di lingkungan >masing-masing. > >Demikian surat KH Khalil Ridwan di Harian Republika. > >Peringatan KH Khalil, yang juga pimpinan pesantren Husnayain, sebenarnya >menyiratkan satu beban kepedihan yang sangat mendalam. Betapa tidak, di >tengah-tengah tekanan dan beban ekonomi yang sedang dililit oleh kalangan >pondok pesantren, datanglah agen-agen LSM asing yang menawarkan >program-program dan dana yang menggiurkan. > >Tidak mudah untuk menolak hal semacam itu. Saat ini, "dagangan" yang laku >dijual kepada Barat adalah menjual isu atau ide yang "mengobok-obok Islam", > >seperti paham Pluralisme Agama, dekonstruksi konsep wahyu, kesetaraan >gender, dekonstruksi syariah, dan sejenisnya. Isu-isu semisal >"pemberantasan kemiskinan" dan "advokasi hukum" tidak begitu laku lagi >dijual, sehingga LSM-LSM sejenis YLBHI pun tidak semakmur dulu, sebelum >Perang Dingin berakhir. Simaklah sederetan nama LSM yang mendapat kucuran >dana dari The Asia Foundation berikut ini: > * Yayasan Desantara (Pluralisme agama, penerbit Majalah Syir'ah) > * Lembaga Studi Agama dan Demokrasi (Elsad) (Pluralisme Agama dan >Demokrasi) > * Fahmina Institute - (Pluralisme Gender equality) > * Indonesia Center for Civic Education - Demokrasi > * International Center for Islam and Pluralism (ICIP) - (Pluralisme >agama) > * Indonesia Conference on Religion and Peace (Pluralisme agama) > * Institut Arus Informasi (ISAI) (Pluralisme dan Jurnalisme) > * Jaringan Islam Liberal (JIL) (Liberalisasi Pemikiran) > * Paramadina (Pluralisme agama) > * Pusat Studi Wanita UIN - (Gender equality) > * Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ) - (Gender equality) > * Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) (Penerbitan buku-buku >pluralisme) > * Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdhatul Ulama (Pluralisme >Agama, dekontsruksi syariah) > * Pusat Studi Agama dan Peradaban Muhammadiyah (Pluralisme Agama) > >Daftar lembaga itu bisa diperpanjang lagi sampai tiga halaman. Isu-isu yang > >ditebarkan oleh lembaga-lembaga tersebut juga tidak jauh-jauh seputar >liberalisasi Islam. Seolah-olah, itulah isu utama yang sedang dihadapi umat > >Islam. Seolah-olah, umat Islam akan bangkit dan maju jika mengikuti >agenda-agenda Barat tersebut. > >Padahal, masalahnya sebenarnya tidak demikian. Memang tidak dapat >dipungkiri terdapat banyak kelemahan internal di kalangan pondok pesantren >sendiri. Tetapi, jika cara untuk memperbaikinya adalah dengan menyebarkan >paham multikulturalisme dan pluralisme agama, adalah salah sama sekali. > >Jika yang dipersoalkan adalah soal toleransi, maka kita dapat bertenya >dengan sungguh-sungguh, sebenarnya, siapa yang selama ini tidak toleran? >Apa yang salah dengan pandangan keagamaan pesantren terhadap kaum >non-Muslim? Selama ratusan tahun, pondok pesantren dan umat Islam di >Indonesia sudah bersikap sangat toleran dan menghargai umat dan agama lain, > >tanpa meninggalkan keyakinan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang >benar. > >Workshop-workshop, pelatihan, dan sejenisnya tentang pluralisme dan >multikulturalisme ala ICIP itu harusnya justru diberikan kepada pihak >Barat, seperti George W. Bush dan kawan-kawannya, yang hingga kini >jelas-jelas bersikap sangat tidak toleran terhadap Islam dan umat manusia, >dengan memaksakan paham sekular-liberalnya untuk dipeluk umat manusia. > >Mereka jelas-jelas tidak menghargai perbedaan, tidak bersikap >'multikultural', sebagaimana yang mereka gembar-gemborkan. Dengan pemaksaan > >ide "sekularisasi-liberalisasi" ala Barat kepada kaum Muslimin, Barat dan >agen-agen liberalnya di Indonesia sebenarnya telah bersikap monolitik dan >sama sekali tidak memberikan kesempatan kepada umat Islam untuk meyakini >dan menjalankan ajaran-ajaran agamanya sendiri. > >Mereka memaksakan dengan segala kekuatan dana, politik, informasi paham > >mereka kepada umat Islam. Mereka juga tidak menghargai aspirasi keagamaan >umat Islam. Hingga kini, AS dan Inggris tidak berani mengangkat seorang >menteri Muslim-pun. Juga, mereka tidak mau memberi hari libur Idul Fithri >dan Idul Adha kepada umat Islam. Padahal, Inggris mempunyai hari libur >'Boxing Day' dan libur Paskah dua hari. > >Kita bisa membuktikan dalam sejarah, siapa yang sebenarnya lebih bersikap >menghargai perbedaan dan keragaman: Islam atau Barat? Sayangnya, ada saja >sebagian dari kalangan kaum Muslim yang lebih suka menjadi corong >paham-paham destruktif semisal Pluralisme Agama. > >Adalah musibah besar bagi umat Islam, jika yang menyebarkan paham syirik >itu adalah dari kalangan ulama dan cendekiawan. > >Sayyidina Umar bin Khathab pernah menyatakan dalam satu khutbahnya; "Yang >paling aku khawatirkan akan menimpa kalian adalah perubahan zaman, >tergelincirnya orang yang berilmu dari kebenaran, berargumentasinya >orang-orang munafik dengan al-Quran, pemimpin yang sesat dan menyesatkan >manusia dalam kondisi ketidaktahuan." (Ibnul Jauzi, Sirah Umar, hal. 223) > >Karena itu, para tokoh Islam, ulama, kyai, ustad, mubaligh, dan sebagainya, >seyogyanya menyadari pentingnya memahami tantangan pemikiran dan aqidah >Islam di zaman globalisasi ini. Dalam Kitab Ihya' Ulumuddin, Imam Ghazali >menyatakan, wajib hukumnya bagi para ulama untuk memahami >pemikiran-pemikiran yang bathil, agar dapat menjelaskan dan menjaga aqidah >umat. Sebab, para ulama itulah yang diamanahi untuk menjaga Islam. Dan >pondok pesantren merupakan benteng-benteng terakhir pertahanan umat Islam >di bidang aqidah. > >Di masa lalu, para ulama Islam sangat memahami pemikiran-pemikiran yang >berkembang di zaman itu. Imam al-Ghazali memahami masalah filsafat dengan >baik dan memberikan kritik yang sangat tajam melalui bukunya Tahafut >al-Falasifah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberikan kritik yang sangat >tajam terhadap kepercayaan agama Kristen melalui empat jilid bukunya, >al-Jawab al-Shahih li-Man Baddala Din al-Masih. Dalam bidang Ilmu Kalam, >begitu banyak ditemukan jawaban-jawaban yang sangat argumentatif terhadap >pemikiran Mu'tazilah. > >Para ulama, kyai, cendekiawan Muslim, khususnya yang saat ini memegang >amanah memimpin pondok pesantren, seyogyanya meneladani jejak para ulama >terdahulu. Disamping memiliki kualitas ketaqwaan yang tinggi, seyogyanya, >pada kyai itu juga memahami benar hakekat dan jatidiri paham-paham yang >destruktif terhadap para santrinya. > >Di era globalisasi, hampir tidak mungkin membendung paham-paham itu tidak >memasuki arena pondok pesantren, melalui media komunikasi yang ada, baik >cetak maupun elektronik. Satu-satunya jalan untuk menangkalnya adalah >memahami paham-paham destruktif itu dengan mendalam, sehingga para kyai >atau ustad di pesantren dapat menjelaskan kepada para santri dan muridnya, >apa dan bagaimana sebenarnya paham-paham yang bertentangan dengan aqidah >Islam tersebut. > >Peringatan KH Khalil Ridwan sangatlah penting untuk direnungkan secara >mendalam. Sebab, jika orang yang berstatus kyai atau ulama justru termakan >paham-paham yang bertentangan dengan aqidah Islam, maka akibatnya sangatlah > >fatal. Orang yang diamanahi menjaga agama dan mewarisi risalah kenabian, >justru menjadi penghancur risalah itu sendiri. > >Rasulullah saw sudah pernah mengingatkan; "Yang merusak umatku adalah orang > >alim yang durhaka dan ahli ibadah yang bodoh. Seburuk-buruk manusia yang >buruk adalah ulama yang buruk dan sebaik-baik manusia yang baik adalah >ulama yang baik." (HR Ad-Darimy). > >Juga ada sabda beliau saw: >"Termasuk diantara perkara yang aku khawatirkan atas umatku adalah >tergelincirnya orang alim (dalam kesalahan) dan silat lidahnya orang >munafik tentang Al-Quran." (HR Thabrani dan Ibn Hibban). > >Menyambut imbauan dan peringatan KH Khalil Ridwan, kita berdoa dan >berharap, mudah-mudahan para kyai dan pimpinan pondok pesantren, khususnya >sekitar 2000 pesantren yang ada di lingkungan BKSPPI, tidak sampai >kebobolan dan terinfiltrasi paham-paham syirik modern yang kini dijajakan >dengan kemasan yang sangat menarik. Allahumma Amin. (Jakarta, 30 Maret >2006/hidayatullah.com). > >Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian Husaini adalah hasil kerjasama Radio Dakta >107 FM dan www.hidayatullah.com > >=== > > >-muslim voice- >______________________________________ >BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW > > >[Non-text portions of this message have been removed] > > > > >Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah. >Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] >Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > > > > > > >-- >No virus found in this incoming message. >Checked by AVG Anti-Virus. >Version: 7.1.385 / Virus Database: 268.3.5/301 - Release Date: 04/04/2006 Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah. Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
