Sebagai ummat yang bermartabat, sudah sangat selayaknya kita tidak
berperilaku layaknya 'orang2an' seperti golongan2 yang selama ini jelas2
mendiskreditkan Islam atau mungkin ingin menyamarkan Islam dangan
menyamaratakan agama samawi dangan agama ardlhiyah seperti selama ini.

Bapak-bapak sekalian.... Yang jelas yang terbaik gak akan mungkin bisa
dibandingkan, manalah mungkin manusia 'hanya' sekelas Ulil atau yang cetek2
lainnya mampu melawan kekuasaan dan kekuatan yang maha Dahsyat itu.... Never
never never....

Selain itu, Islam tidak akan pernah bisa disamakan atau dibandingkan. Let
see....
Gak Mungkin bisa Demi Allah gak mungkin.....

Selanjutnya saya menganjurkan sebaiknya kita meningkatkan kewaspadaan dan
kesabaran kita.

Ingat rekans, bahaya laten yang jauh lebih besar sedang mengintip anak2 dan
keluarga kita melalui media cetak, hiburan dan pertelevisian,
sekolah-sekolah, lingkungan sekitar atau yang lainnya
Bahaya laten yang tanpa kita sadari secara perlahan namun pasti telah
merasuk sumsum dan aliran darah setiap ummat sehingga melupakan jati dirinya
sebagai seorang yang mulia yang pada hakekatnya memiliki dasar-dasar
kebenaran dan kebaikan.

Budaya korupsi dan memakan yang bukan hak kita sudah sangat membudaya dan
itu kelak SUNGGUH akan menjadi tarikan kita sekalian yang tadinya telah
lolos dari lintasan Siroj, namun tertarik kembali ke Naar karena tuntutan
banding dari keturunan yang telah lebih dulu menghuninya.....
NAUDZUBILLAH....

Biarlah 'orang2 miskin' akhlak tadi memperjual belikan hukum dan diri mereka
dan bahkan dunia yang fana ini kepada kafir2 itu, biarlah mereka menjual
'agama' mereka tapi bagi kita yang masih tetap istiqamah menjalani Diinul
Islam, harus Yakin haqul yakin Bahwa Allah adalah sebaik2nya pemelihara,
bahwa Islam tak akan pernah hilang dari hati dan jiwa kita dan keluarga
kita... Allahualam bissawwab...

Insya ALLAH - Wassalam

> Assalamu'alaikum wr. wb.
>
> Semiskin apa sih, oknum dosen dan tokoh2 JIL
> yang menjual akidahnya dengan sedikit uang?
>
> Sebaiknya dosen dan tokoh2 tersebut segera ditindak
> pola pikir mereka yang nyeleneh dapat membahayakan
> orang lain.
>
> IAIN harus segera merombak manajemennya.
> Orang-orang yang nyeleneh seperti itu seharusnya tidak
> perlu diberi kesempatan untuk menyebarkan benih-benih
> pemurtadan dalam lingkungan IAIN.
>
> Sangat perlu diwaspadai, kerena rusaknya moral dan
> perilaku oknum dosen seperti itu juga dapat mempengaruhi
> pola pikir mahasiswanya.
>
> wasalam
>
>> Assalamualaikum
>>
>> Dada saya sesak sekali saat membaca kejadian-seperti ini. Bagaimana virus
>> SEPILIS ini bisa melakukan penetrasi pada 'rahim' lembaga pendidikan
>> islam
>> seperti UIN, IAIN dll. yang kalau tidak bisa ditangani secara dini maka
> akan
>> lahir anak idamannya Konspirasi Internasional 'Novus Ordo Seclorum'. Yah
>> Lembaga Islam adalah salah satu dari jalan terbaik menuju roma bagi
>> mereka
>> untuk mencetak bibit sekuler baru yang bisa memperbanyak dengan sporadis
> di
>> Indonesia 'the most populous moslem in the globe' (ini sebuah ancaman).
>> Sekarang ini bertebaran Ilmuan Islam yang bukan ulama yang mendewakan
>> pemikirannya dan bersikap pragmatis dan berlomba-lomba menonjolkan diri
> agar
>> bisa menukar 'diri-akidah-mereka' dan 'Bill' yang menggiurkan seperti
>> dari
>> Asia Foundation dsb, sayang sekali jalan Seclorum menjadi pilihan mereka.
>>
>> Wasalam
>> >              Seorang dosen Fakultas Dakwah IAIN Supel menyebut
>> > al-Qur'an
>> > sebagai mahluk. Ia juga menginjak-injak lafadz Allah di hadapan para
>> > mahasiswa. Heboh. Bagaimana di perguruan tinggi Islam lainnya?
>> >
>> >              Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel (Supel),
>> > Surabaya, Jawa Timur, 6 Mei 2006. Perkuliahan di Fakultas Dakwah
>> > berlangsung. Sulhawi Ruba, dosen Sejarah Peradaban Islam (SPI)
>> menyampaikan
>> > kuliahnya di depan para mahasiswa semester dua Fakultas Dakwah. Di saat
>> > yang sama, perkuliahan juga berlangsung di sejumlah fakultas di kampus
>> > Islam kebanggaan arek-arek Suroboyo itu. Seperti biasanya, proses
> transfer
>> > ilmu di IAIN Supel berjalan tertib dan tenang.
>> >
>> >              Namun ketenangan proses belajar-mengajar itu pecah oleh
> ulah
>> > tidak pantas Sulhawi Ruba. Di hadapan para mahasiswa/inya, dosen SPI
> yang
>> > tidak fasih membaca "kitab kuning" itu, mengatakan bahwa al-Qur'an,
> kitab
>> > suci orang Islam sebagai mahluk. Sama seperti mahluk ciptaan Allah SWT
>> > lainnya, seperti rumput, harimau dan lainnya. "Al-Qur'an itu hasil
>> > kebudayaan manusia," kata laki-laki yang mengaku diri penganut paham
>> > liberal itu.
>> >
>> >              Tak cukup menyebut al-Qur'an sebagai mahluk. Dosen yang
>> sering
>> > menyebut dirinya dengan syekh (sebutan orang untuk para ulama dan
> pemikir
>> > Islam -red) ini, menginjak-injak lafadz Allah yang ditulisnya sendiri
>> > di
>> > atas secarik kertas kemudian dibuangnya ke lantai. "Niat saya untuk
>> > keilmuan. Saya lakukan itu untuk memberikan pemahaman kepada para
>> mahasiswa
>> > agar tidak syirik," tandasnya, tanpa ada rasa takut sedikit pun akan
>> protes
>> > umat Islam.
>> >
>> >              Penghinaan di atas seakan belum cukup buat Ruba. Ketika
>> > sejumlah mahasiswa protes, sikap dosen yang diragukan kemampuan
>> > agamanya
>> > ini malah makin menjadi-jadi. Menurutnya, sah saja menginjak-injak
> lafadz
>> > Allah, seperti menginjak rumput. "Karena al-Qur'an itu mahluk dan hasil
>> > budaya manusia, maka ketika menginjak lafadz Allah, sama seperti saya
>> > menginjak mahluk Allah lainnya," ujar lelaki yang mengaku sealiran
> dengan
>> > grup band Dewa ini.
>> >
>> >              Sikap nyeleneh Ruba tersebut sempat membuat heboh suasana
>> > perkuliahan di kelas. Karena tidak senang mendengar dan melihat Ruba
>> > melecehkan Allah SWT dan Islam, sejumlah mahasiswi tak kuat menahan
>> tangis.
>> > Yang lain, sambil menangis sejadi-jadinya, bergegas keluar meninggalkan
>> > perkuliahan. "Terus terang, hati saya sakit mendengar Allah dan Islam
>> > dilecehkan. Sambil menahan tangis, saya keluar dan menangis
>> > sejadi-jadinya," tutur salah seorang mahasiswi, mengenang kejadian yang
>> > tidak pantas tersebut.
>> >
>> >              Kejadian yang menyayat hati umat ini bemula ketika Ruba
>> > memberi kuliah tentang iqra (bacalah) kepada para mahasiswa semester
>> > dua
>> > Fakultas Dakwah. Awalnya, perkuliahan berjalan baik, apalagi Ruba
>> > menyampaikan materinya diselingi dengan humor.
>> >
>> >              Penyimpangan terjadi saat Ruba mengatakan bahwa al-Qur'an
>> > adalah mahluk. Dengan maksud memperjelas pandangannya tersebut, ia
> meminta
>> > lembaran kertas kepada seorang mahasiswi dan menuliskan lafadz Allah
>> dengan
>> > huruf Arab di atas kertas tersebut.
>> >
>> >              Sejurus kemudian, Ruba membuang lembaran kertas yang
> tertulis
>> > lafadz Allah tersebut ke lantai dan langsung menginjak-injak dengan
>> > sepatunya. Nah, jadilah kasus pelecehan al-Qur'an oleh oknum dosen IAIN
>> > Supel ini, heboh.
>> >
>> >              Ruba sendiri tidak terlalu mengkhawatirkan pandangan dan
>> > perbuatannya tersebut. Ia mengatakan, pendapatnya ini dalam konteks
>> > akademis. Seperti yang dikemukakannya kepada SABILI saat mewawancarai
>> dosen
>> > SPI ini di kampus IAIN Supel, Surabaya, Jatim beberapa waktu lalu.
>> >
>> >              "Saya ingin memberikan pemahaman kepada mahasiswa apa itu
>> > kebudayaan. Kebudayaan adalah hasil cipta manusia. Tulisan Allah, alif
> lam
>> > ha, adalah budaya. Kemudian saya tulis di atas kertas dengan tulisan
>> lafadz
>> > Allah. Ini bukan Allah. Jangan didewakan. Untuk apa? Maksud saya supaya
>> > tidak syirik," paparnya, memberi alasan.
>> >
>> >              Ia menambahkan, "Karena itu, ketika saya demo
> menginjak-injak
>> > lafadz Allah harus dilihat niatnya. Kalau niatnya pelecehan, harus
>> dibunuh.
>> > Tapi, niat saya adalah kelilmuan. Saya ingin memberikan pemahaman
>> > kepada
>> > mahasiswa agar tidak jatuh pada kesyirikan."
>> >
>> >              Tak ayal pandangan nyeleneh dan aksi menginjak-injak
>> > lafadz
>> > Allah tersebut memantikkan kemarahan kaum Muslimin. Gelombang protes
> akan
>> > aksi tak pantas tersebut datang dari alim-ulama, tokoh masyarakat,
>> kalangan
>> > akademisi dan masyarakat.
>> >
>> >              Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH.
>> > Ma'ruf
>> > Amin berpendapat menginjak-injak lafadz Allah sama saja dengan
>> > menginjak-injak al-Quran. Karena itu dia mengatakan, tindakan Ruba
>> tersebut
>> > merupakan penodaan dan penghinaan terhadap al-Qur'an. "Jangan
>> > menginjak-injak al-Qur'an. Para ulama tidak akan rela ada al-Qur'an
>> > diinjak-injak," kata ulama yang dikenal tegas pada paham sekular,
>> > plural
>> > dan liberal ini.
>> >
>> >              Ia juga mengatakan akan mengusut tuntas kasus ini. Kiai
>> Ma'ruf
>> > akan meminta MUI Jawa Timur untuk meneliti kasus ini dan segera
>> > melaporkannya ke MUI Pusat. "Paham seperti ini tidak bisa dibiarkan,
>> > apalagi ada penodaan agama. Kita sepakat dalam kebebasan tidak boleh
>> > ada
>> > penodaan agama," ujarnya.
>> >
>> >              Pandangan tak kalah kerasnya datang dari Ketua FUUI KH.
>> Athian
>> > Ali M. Da'i. Tokoh Islam asal Bandung ini mengatakan, orang yang
>> > menginjak-injak lafadz Allah itu telah dikatakan kafir karena murtad
> dari
>> > keyakinannya. "Di negara Islam orang seperti ini harus dipancung, baik
>> > karena kemurtadannya juga karena ajakannya agar orang tidak mengakui
>> adanya
>> > Allah," tegas tokoh Islam yang pernah memberi fatwa mati untuk Ulil
> Abshar
>> > Abdalla itu.
>> >
>> >              Athian juga menyayangkan sikap tak tegas pemerintah
> terhadap
>> > kasus-kasus pelecehan Islam selama ini. Sehingga, lanjutnya,
>> > menyebabkan
>> > para pengasong paham nyeleneh itu menjadi leluasa dan berani menyatakan
>> > pemikiran dan tingkah lakunya yang tidak sejalan dengan aturan Islam.
> "Tak
>> > ada sanksi yang membuat mereka jera," tambahnya.
>> >
>> >              Pandangan senada dikemukakan Peneliti LPPI Hartono A Jaiz.
>> > Penulis buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia ini menyatakan, kasus
>> > menginjak-injak lafadz Allah merupakan pelecehan ayat-ayat Allah.
> Menurut
>> > ulama, jika orang itu tidak segera bertaubat, maka hukumannya dibunuh.
>> >
>> >              "Kalau pelecehannya kepada Nabi Muhammad tidak usah
>> > diminta
>> > taubat, tapi langsung dibunuh. Namun jika menghina ayat-ayat Allah,
>> > maka
>> > diminta taubat terlebih dahulu. Jika tidak mau bertaubat, maka
> hukumannya
>> > adalah dibunuh. Karena prosedur hukum mati sulit dijalankan, maka
> diajukan
>> > ke pengadilan dengan tuduhan penodaan agama," tegasnya.
>> >
>> >              Protes keras juga datang dari institusi tempat Ruba
>> > mengais
>> > rejeki, IAIN Supel sendiri. Pembantu Dekan III Fakultas Dakwah Supel
>> > Sunarto menyatakan, Sulhawi tidak layak menginjak-injak lafadz Allah,
>> > apalagi di depan mahasiswa. Meski hanya simbol, sambung Sunarto, namun
>> > seharusnya ia tahu bahwa lafadz Allah itu adalah simbol zat Yang Maha
>> Kuasa.
>> >
>> >              "Kalau ia punya prinsip seperti itu, ya yakini sendiri
> saja,
>> > jangan didemonstrasikan di depan mahasiswa. Ini kan institusi Islam,
>> sangat
>> > tidak layak melakukan penginjakan lafadz Allah. Saya kira dia harus
>> > mempertimbangkan apa yang dia diperbuat. Kalau ada yang sekadar protes,
>> > masih untung. Tapi kalau ada yang pakai cara lain, bagaimana?" Ia juga
>> > mengatakan akan menggalang dukungan di internal kampus untuk melakukan
>> > peneguran kepada Ruba.
>> >
>> >              Protes yang sama juga datang dari Guru Besar IAIN Supel
> Prof.
>> > Dr. Syechul Hadi Purnomo. Dewan Penasihat MUI Surabaya ini menyatakan,
>> > tindakan Ruba tersebut bukan lagi tindakan bodoh, tapi penghinaan
> terhadap
>> > Islam. "Ini semakin besar karena dilakukan di hadapan para mahasiswa,"
>> > ujarnya.
>> >
>> >              Dewan Syuriah Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur ini juga
>> > menyatakan bahwa tindakan dosen SPI itu sama dengan penghinaan Islam
> yang
>> > dilakukan mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati (SGD), Bandung pada tahun
> 2004
>> > yang menyebut "Selamat datang di area bebas tuhan." "Mereka sudah kufur
>> dan
>> > murtad," tegasnya.
>> >
>> >              Mahasiswa UIN SGD ketika itu memasang spanduk bertuliskan,
>> > "Selamat datang di area bebas tuhan." Di hadapan mahasiswa baru, para
>> > pengecer SEPILIS itu juga mengajak mahasiswa baru untuk berdzikir
>> > dengan
>> > ucapan "Anjing hu akbar." Kejadian yang direkam baik dalam bentuk VCD
> itu
>> > juga merekam pembicaraan salah seorang di antaranya yang mengatakan,
>> "Allah
>> > kita telah mati."
>> >
>> >              Saat ini, para pengasong SEPILIS (sekularisme, pluralisme
> dan
>> > liberalisme) mulai unjuk gigi di IAIN Supel, Surabaya. Mereka protes
> keras
>> > saat pihak rektorat mengeluarkan kebijakan kode etik mahasiswa IAIN
> Supel
>> > yang salah satu poinnya memuat kewajiban memakai pakaian Muslimah atau
>> > jilbab di bawah lutut.
>> >
>> >              Mereka juga giat melakukan propaganda dengan membuat
> buletin,
>> > seminar, kajian dan diskusi yang mengusung ide SEPILIS. Tapi, gerakan
>> > mereka belum terlalu menyebar dan separah seperti di UIN Syarif
>> > Hidayatullah, Jakarta. Hal ini dikarenakan para dosen yang lurus masih
>> > dapat mengimbangi para pengasong SEPILIS tersebut. Meski demikian,
> mereka
>> > berusaha merintis dan membangun gerakannya agar cepat atau lambat IAIN
>> > Supel akan seperti di UIN Jakarta.
>> >
>> >              Cerita pelecehan Islam ternyata tak hanya "monopoli" IAIN
>> > Supel, Surabaya saja. Di sejumlah perguruan tinggi Islam itu juga
>> mengemuka
>> > kasus-kasus penodaan Islam seperti itu. Misalnya seperti kejadian di
>> > UIN
>> > Sunan Gunung Djati (SGD), Bandung, Jawa Barat, para pengasong SEPILIS
> juga
>> > gencar mengampanyekan ide-idenya.
>> >
>> >              Mereka juga bergerak dalam tataran wacana. Beberapa waktu
>> lalu
>> > misalnya, mereka menggelar seminar tentang pembelaan terhadap Ahmadiyah
>> dan
>> > pemikiran liberal. Meskipun belakangan, mereka tidak terlalu berani dan
>> > vulgar melontarkan berbagai pemikiran SEPILIS karena banyak counter
>> > dari
>> > mahasiswa lainnya. "Mereka pikir dua kali untuk berkoar secara vulgar
> saat
>> > ini," kata sumber SABILI yang minta tak disebutkan identitasnya.
>> >
>> >              Kini, mereka menjalankan trik baru dengan mengusung budaya
>> > hedonisme yang tentu saja bertolak belakang dengan niai-nilai Islam.
>> > Akibatnya muncul sikap-sikap tidak islami, seperti budaya pergaulan
> bebas,
>> > pemakaian obat-obatan terlarang.
>> >
>> >              Mereka pernah juga mengadakan festival band yang di
> dalamnya
>> > dibumbui perkelahian antar peserta dan panitia. Parahnya, pada tahun
> 2005
>> > lalu, mereka pernah mengadakan lomba kecantikan bencong yang sama
>> > sekali
>> > tidak ada kaitannya dengan persoalan akademik.
>> >
>> >              Praktik-praktik seperti ini mendapat respon serius dari
>> > Direktur Pascasarjana UIN SGD, Bandung Dr. Afif Muhammad. Ia tak
>> memungkiri
>> > ada pemikiran nyeleneh di kampusnya, namun jumlahnya bisa dihitung
> dengan
>> > jari. "Tidak bisa digeneralisir sebab banyak juga mahasiswa yang baik.
>> > Mereka mengembangkan pemikiran Islam, seperti TPA dan TQA," ujarnya.
>> >
>> >              Ia menambahkan, saat ini kampusnya sedang melakukan
> sejumlah
>> > revisi kurikulum yang ada dan melakukan berbagai pengawasan untuk
>> > mengembalikan tatanan ilmu kepada nilai-nilai Islam sebenarnya. "Kita
>> > berusaha menjadikan UIN lebih baik. Selain itu harus dilihat bahwa IAIN
>> > tidak sedikit memberikan kontribusi positif bagi masyarakat," ujarnya.
>> >
>> >              DI UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta lain lagi ceritanya.
>> > Di
>> > sini, berpikiran nyeleneh bukanlah barang baru. Bahkan, boleh dibilang
> UIN
>> > Jakarta menjadi contoh bagi IAIN lainnya dalam hal berpikir nyeleneh
> ini.
>> > Sejumlah oknum dosen dan mahasiswanya sering melontarkan pandangan
>> SEPILIS.
>> > Misalnya, mereka menyebut semua agama sama. Ada juga yang mengatakan
> bahwa
>> > Budha, Hindu termasuk agama samawi.
>> >
>> >              Padahal, ini bertentangan dengan konsep Islam yang dibawa
>> para
>> > nabi. Agama yang dibawa para nabi, mulai dari Nabi Adam sampai Nabi
>> > Muhammad hanya satu, yaitu Islam. Mereka membawa satu risalah Allah,
> yaitu
>> > Islam.
>> >
>> >              Tak sebatas melontarkan persamaan semua agama. Wacana
>> > mengkritisi (membongkar-red) al-Qur'an juga mencuat ke permukaan.
>> > Mereka
>> > menyebut, al-Qur'an wajib dikritisi dan ditafsir ulang untuk
> menyesuaikan
>> > dengan perkembangan zaman. Itulah sebabnya, tidak sedikit buku yang
>> > tujuannya membongkar al-Qur'an bermunculan dari perguruan tinggi Islam
>> ini.
>> >
>> >              Fenomena maraknya pemikiran SEPILIS di UIN Jakarta ini
>> > mendapat tanggapan dari pihak rektorat. Pembantu Rektor IV Bidang
>> > Pengembangan Lembaga Prof. Dr. Suwito membantah jika institusinya
>> > mengembangkan studi pengkritisi (revisi--red) al-Qur'an. "UIN tak
>> > mengajarkan seperti itu.
>> >
>> >              Meski demikian, Suwito tak membantah jika di UIN Jakarta
>> > diperkenalkan berbagai pendapat aliran dalam Islam, seperti Jabariyah,
>> > Mu'tazilah, Qodariyah dan lainnya. Ia juga tidak mengelak jika terjadi
>> > diskusi karena perbedaan pandangan tersebut. "Itu jalan memperoleh
>> > kebenaran. Jadi, jangan disimpulkan bahwa diskusi-diskusi itu merupakan
>> > keputusan final," ujarnya.
>> >
>> >              Sependapat dengan pandangan sejumlah tokoh Islam bahwa
>> > UIN,
>> > IAIN atau STAIN adalah aset bangsa. Oleh karena itu, perlu ada upaya
>> serius
>> > oleh semua pihak, baik dari internal maupun ekstral mereka untuk
>> > menyelamatkan perguruan tinggi Islam ini dari berbagai "virus" yang
>> > mematikan, seperti paham SEPILIS dan sejenisnya.
>> >
>> >              UIN, IAIN dan STAIN harus dikembalikan ke khittahnya
> sebagai
>> > lembaga tafaqquh fiddin yang nantinya menelurkan para sarjana yang
>> > tidak
>> > hanya berwacana saja. Tapi benar-benar sarjana yang menghayati
> nilai-nilai
>> > Islam yang sesuai tuntutan Nabi Muhammad saw untuk kemudian mengamalkan
>> dan
>> > mendakwahkannya ke masyarakat.
>> >
>> >              Rivai Hutapea
>> >              Laporan: Chairul Ahmad, Apriadi Murwanto, Diyah
>> Kusumawardani,
>> > Deffy Ruspiyandy (Bandung), Habibi Mahabbah.
>> >







Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Rek Beyond belief Islam online
Nation of islam Media


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke