Kalimat Terindah
Oleh Sus Woyo
7 Jun 2006 10:25 WIB

Setelah berbulan-bulan tak ada kabar yang jelas. Setelah sekian waktu jadwal 
kepulangan saya ke tanah air belum bisa dipastikan, maka suatu malam saya 
dipanggil sang majikan untuk berbicara empat mata. Saat pertemuan itu ada 
kalimat terindah yang pernah saya dengar dari mulutnya. Kalimat itu adalah, 
"Akhir bulan ini kamu pulang ke Indonesia."

Saya terdiam. Tapi saya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang bergejolak 
di dada ini. Pulang! Sebuah kata yang sangat indah di telinga saya. Setelah dua 
tahun lebih saya meninggalkan orang-orang yang saya cintai: isteri, anak, 
keluarga yang lain, teman dan siapa saja orang-orang yang dekat dengan saya 
sebelum berangkat merantau ke negeri seberang.

Terlintas dalam pikiran saya, tentang masa lalu. Tentang sepenggal dari episode 
kehidupan saya pada masa duduk di sekolah menengah. Waktu di mana saya harus 
meninggalkan kampung halaman yang amat sangat saya cintai.

Selepas tamat sekolah dasar, orang tua saya mengirim saya untuk meneruskan 
pendidikan di kota. Karena kampung saya jauh dari kota, maka saya harus kost. 
Itu saya jalani dari SMP sampai tamat SMA. Dan saya selalu teringat saat yang 
paling indah, saat yang paling menyenangkan, yaitu saat datang hari Sabtu. 
Sebab di akhir pekan itu saya pulang kampung. Saking gembiranya kalau datang 
hari Sabtu, sayasering menyebutnya "Pulang ke pinggir sorga." Sebab akan 
bertemu dengan orang tua. Dan biasanya ibu saya sudah menyediakan 
makanan-makanan kesukaan saya. Yang tentunya sangat jarang saya temui di rumah 
kost.

Nah, saat mendengar kalimat dari majikan saya itu, hati saya sama persis 
seperti ketika mau pulang kampung di masa-masa menempuh pendidikan di kota 
saya, beberapa tahun yang lalu.

Sejak itu, hari-hari saya diliputi kegembiraan. Walaupun pekerjan yang saya 
tangani sebenarnya sangat banyak. Ocehan-ocehan dari majikan yang bersifat 
memarahipun tak begitu saya pedulikan. Artinya, apa yang ia omongkan hanya saya 
masukan telinga kanan dan saya keluarkan lewat telinga kiri. Bahkan terkadang, 
hati dan pikiran saya seolah sudah di kampung sendiri, padahal jasad saya masih 
bermandi keringat di negeri orang.

Suatu hari seorang teman menangkap perangai saya. Dan teman saya itu 
berkomentar. "Duh, gembiranya mau pulang kampung, ya...." Saya senyum-senyum 
saja mendengar itu. Memang itulah adanya.

Namun, di siang bolong yang terik mataharinya mencapai titik kulminasi, saat 
saya merebahkan badan untuk melepas lelah, tiba-tiba saya berpikir keras. 
Sambil melihat langit-langit kamar, saya bergumam sendiri. "Apakah kegembiraan 
ini bisa bertahan lama, atau setidaknya sampai ke Indonesia nanti?'

Saya tak bisa menjawab pertanyaan saya sendiri itu. Bahkan tiba-tiba pikiran 
saya melayang terlalu jauh ke depan. "Mampukah saya segembira ini jika nanti 
Allah juga memberikan kalimat itu kepada saya?"

Ya, setelah merantau, pasti saya akan pulang. Sama juga setelah saya diberi 
kesempatan hidup di dunia, pasti juga akan dipanggil pulang. Dan kepulangan 
yang terahir ini jelas tidak mungkin bisa ditawar-tawar lagi. Cepat atau 
lambat, Allah akan menyapa juga dengan kalimat yang tak beda jauh dengan 
kalimat majikan saya, walau dengan nuansa yang berbeda, tentunya.

Kalau pertemuan saya dengan semua keluarga nanti di tanah air mampu memberikan 
kegembiraan yang luar biasa pada saya, mampukah saya juga berperasaan yang sama 
tatkala saya nanti akan berjumpa dengan Sang Pencipta?

Saya tertunduk lama. Lama sekali. Bahkan tak terasa air mata ini memberontak 
ingin keluar. Seolah memerintahkan saya untuk cepat-cepat berintrospeksi diri, 
tentang apa yang telah saya perbuat di "rantau" ini.

Bekal saya belum seberapa. Entah dalam tingkatan yang mana derajat keimanan 
saya. Komitmen saya terhadap aturanNya belum bisa saya jadikan barometer untuk 
menjadikan saya tersenyum di hadapanNya. Apalagi merasa gembira.

Namun, walaupun demikian, mudah-mudahan kepulangan saya ke tanah air tercinta 
akan menjadi pelajaran besar untuk menyongsong kepulangan saya yang sebenarnya, 
yaitu pulang ke pangkuanNya. Sehingga ketika kalimat terindah dari Allah, yang 
dibawa malaikat penyabut nyawa,datang menyapa saya, mudah-mudahan saya bisa 
menyambutnya dengan senyum kegembiraan. Seperti senyumnya para kekasih Allah 
ketika dipanggil pulang menuju kampung abadi, kampung akhirat.

# [EMAIL PROTECTED]


Yathie 
(hidup ini hanya sekali, maka janganlah disia-siakan. Mari kita kembali kepada 
niat yang baik InsyaAlloh akan mendapatkan yang baik pula.....Amien)

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Home is just a click away.  Make Yahoo! your home page now.
http://us.click.yahoo.com/DHchtC/3FxNAA/yQLSAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke