HITUNG SEMUA 
   
  Kulihat jam dinding menunjukan waktu hampir istirahat dan kuputar 
No.telpn.guruku dan tak lama kemudian 
  “Hallo..” terdengar suara sekretarisnya yg tidak asing lagi ditelingaku
   
  “say..babeku ada nda..?” tanyaku langsung
   
  “sebentar ya.han..aku sambungkan..”jawabnya ramah dan nda lama kemudian
   
  “hallo…” terdengar suara guruku
   
  “Assalamu’alaikum wr.wb..” sapaku seperti biasanya
   
  “wa’alaikum salam wr.wb…” jawabnya
   
  “pak..aku mau kesana ya..?” tanyaku
   
  “iya..” jawabnya singkat dan aku kembali ucapkan salam dan terdengar jawab 
salamnya yg kemudian telpon ku tutup kembali dan aku sudah mengenakan sepatuku 
dan kemudian keluar menuju kantornya yg terletak tidak jauh dari tempatku dan 
tak lama kemudian, aku sudah berada di ruangan sekretarisnya
   
  “say..babeku mana..?” tanyaku pada sekretarisnya yg sebelumnya aku sudah 
menengok di ruangannya dan beliau tidak ada disana
   
  “Ada di ruangan staf..sebentar aku panggil ya..?” jawabnya dan sudah memutar 
no. tlpn ke ruangan lain dan terdengar dia meninggalkan pesan pada staf yg 
lainnya, kalau ada tamu untuk guruku dan tak lama kemudian terdengar suara 
guruku yang sedang berbicara dengan salah seorang anak buhanya sambil berjalan 
menuju ke arah ruangannya dan tak lama kemudian beliau sudah masuk melewati aku 
dan sekretarisnya yg sekedar hanya menoleh ke arah kami dan terus menuju 
ruangannya dan spontan aku sudah mengikutinya dari belakang dan beliau sudah 
duduk di depan meja kerjanya dan akupun pamit minta diijinkan duduk di kursi 
tamu yg ada diruangan itu.
  “pak..aku mau sekolahkan shafa tahun ini di gontor..” ceritakku memulai 
pembicaraan
   
  “kenapa kamu pingin sekolahkan dia disana dan kenapa shafa mau sekolah 
disana.?” Tanyanya dengan mimik wajah yg serius
   
  “karena aku kepingin dia disana dan shafa juga tertarik disana. Hmm..beberapa 
minggu lalu kami kesana, kami sudah liat2 situasi disana dan aku nyaman 
tinggalkan dia disana, dan shafa waktu aku tanyapun katanya suka kalau 
disana..?” kataku yg berusaha menceritakan kepergian kami ke gontor liburan 
minggu lalu
   
  “dengan siapa kamu kesana..dan kamu sudah lihat apa dan sudah tanya apa aja 
disana..?” sederet pertanyaan spt biasanya meluncur dari mulutnya bila aku 
ingin menginginkan sesuatu
   
  “aku pergi bertiga dengan temanku mantan santriawati disana, dan aku sudah 
melihat lingkungannya yg nyaman, kamar tidur murid2, dapur, perpustakaan, aula 
dan kami keliling2 disana, aku juga sudah tanya para santriawati yg kebetulan 
waktu itu mereka semua ngumpul di penginapan yg aku sewa dan berada di 
lingkungan pesantren, kami banyak bicara sampai larut malam, dan kesannya 
bagiku menarik sekali semuanya dan shafa juga tertarik sekali pada saat 
mendengar pembicaraan dan sikap para santriawati yg ngumpul dan bercanda2 
dengan kami, seolah2 kami sudah mengenal lama dan seperti kawan lama yg baru 
ketemu lagi..” ceritaku dengan semangat dan diselingi tawa dan senyumku
  “ooh..iyalah..jelas aja semua cerita akan baik dan bagus aja, bila kamu 
tanyakan pada orang2 yg sudah berhasil disana. Coba ingat..apa kamu pernah 
dengar cerita ttg al-azhar yg jelek dari mulut saya..?” terangnya yg mulai 
dengan argumentasinya dan kembali melanjutkan pembicaraannya
  “Harusnya kamu cari informasi dari murid2 yg baru kelas 1 disana dan benar2 
baru masuk, dan kamu cari informasi dari murid2 baru itu, tanyakan..apa yg 
mereka rasakan selama ada disana? Apakah mereka merasakan tekanan perasaan 
setelah jauh dari rumah dan orangtua..?dan suruh mereka ceritakan semua hal2 yg 
tidak mengenakan yg sudah mereka rasakan. Dan kalau kamu tanya pada 
senior2nya..jelas aja semua akan menjadi baik, apalagi senior yg sudah menjadi 
seorang ustadzah dan sudah merasakan enaknya ganti mengajar dan ganti ngerjain 
para santri.” Ceritanya terus yg mulai berusaha masuk ke dalam pikiranku dan 
beliau masih terus berbicara
   
  “kamu harus punya data2 yg lengkap, sampai ke hal2 yg pahit sekali yg bisa 
saja terjadi dan kamu sudah siap menerimanya untuk mengukur kemampuan kamu dan 
shafa, dan jangan sampai nanti kamu nangis2 karena hal2 yg pahit itu. Dan 
pikirkan juga masalah psikis shafa yg biasanya pulang sekolah selalu cerita 
dengan kamu, lalu tidak ada lagi  tempat cerita. Biasanya bercanda dgn kamu dan 
adiknya lalu harus berhadapan dengan menumpuknya pelajaran tanpa banyak waktu 
untuk bermain apalagi bercanda. Biasanya tidur dengan kamu dan sekarang harus 
tidur dengan puluhan orang dalam satu kamar dan itu terjadi selama 24jam x 6 
tahun. Kebayang sama kamu, apa aja kemungkinan yg bisa terjadi..?sedangkan 
shafa anak wanita  dan masih kecil pula? Coba hitung..seberapa besar dia bisa 
mengatasi tekanan2 perasaannya yg membuatnya tidak nyaman selama itu dan 
seberapa besar dia bisa melakukan perlawanan apabila tekanan fisik di terimanya 
dan itu semua harus kamu perhitungkan..?” bicaranya serius dan
 aku hanya tertunduk diam mendengarkan dan beliau masih terus bicara
   
  “ lalu untuk kamu sendiri?apa kamu bisa terima kenyataan seandainya shafa 
tidak lagi menjadikan kamu tempat curhatnya? Karena dia sudah dekat dgn teman 
sekamarnya yg wanita. Yang tidur bersama, mandi bersama, main gitar bersama dan 
itu wanita?! Jelas dong…24jam x 6thn dan otomatis dekatlah..?! seberapa mampu 
kamu bisa terus berkomunikasi dengannya selama 6thn tsb?lalu seberapa banyak 
informasi perkembangan anakmu yg bisa kamu dapatkan melalui telphon?dan berapa 
banyak biaya yg harus kamu keluarkan untuk itu? Dan seberapa besar tekanan 
perasaan yg akan kamu terima..pada saat kenyataan pahit..kamu tidak bisa 
melakukan itu semua..?” katanya yg terus  bicara dan tak terasa mataku mulai 
berkaca2 membayangkan andai kenyataan pahit itu benar terjadi.
   
  “sekarang.. data apa saja yg sudah kamu dapatkan dari sana..?” tanyanya padaku
   
  “aku sudah mengeprint jadual kegiatan belajar selama disana dan shafa sudah 
tahu, kalau dia tidak bisa lagi melihat acara TV kesukaannya, dia nda bisa 
bebas bermain, jam berapa dia harus bangun tidur, dan kondisi kamar yg harus 
ditempati oleh puluhan orang. Dan dia juga sudah tahu..kalau tidak bisa bertemu 
denganku, adiknya dan neneknya dalam waktu lama” ceritaku menginformasikan 
seberapa banyak kemungkinan pahit yg akan diterima oleh kami  padanya
   
  “lalu..data pahit yang kamu terima dari orang disana itu apa..?” tanyanya lagi
   
  “hmmm..waktu itu temanku yg pernah nyantri disana kasih masukan ke aku yg 
katanya kemungkinan pernah terjadi adalah hubungan sesama jenis dengan dalih 
adik kakak..” kataku menginformasikan dan terlihat senyum di wajahnya 
   
  “nah..itu satu sudah kamu dapatkan..?hmm..adik ipar saya tahun 80an dulu 
sekolah disana, dan 1 bln pertama yg di dapat adalah kudisan. Entah..karena 
tempat mandinya yang kotor atau karena dia anak orang yg kaya sekali, hingga 
tidak terbiasa mandi di kali hingga kudisan. Kedua..ayahnya adalah seorang 
walikota sedangkan omnya seorang bupati di malang, jadi..apabila terjadi apa2 
dengannya maka dalam waktu 2 jam ayahnya atau ajudan ayahnya bisa langsung tiba 
disana atau ayahnya bisa amenghubungi adiknya yg bupati untuk menengok anaknya 
dan dalam waktu mungkin kurang dari 1 jam sudah bisa sampai ditempat. Sedangkan 
kamu mungkin butuh waktu 24jam untuk bisa ke sana dan kebayang..apa saja yg 
sudah terjadi dgn anakmu dalam waktu 24jam itu..? dan itu harus kamu pikirkan 
semua..?” ceritanya panjang lebar dan tak terasa air mataku sudah jatuh 
membayangkan kemungkinan2 pahit itu terjadi pada anakku dan beliau masih 
meneruskan bicaranya
   
  “ hmm..saya baru mengerti, kenapa dulu ayah saya melarang saya berangkat ke 
AS untuk pertukaran pelajar di tahun 78. setelah saya berangkat ke jerman dan 
setelah itu menetap di Canada untuk S2 saya..” katanya mulai bercerita dan aku 
hanya diam mendengarkan
   
  “boleh dong..saya menceritakan prestasi saya sebagai gambaran untuk kamu dan 
bukan untuk nyombongin diri?” katanya dan terlihat mimik yg seriusnya dan
  “kamu sudah pernah saya ceritakan ttg pertukaran pelajar waktu saya SMA 
dulu..?” tanyanya padaku dan spontan kugelengkan kepalaku, bertahun2 aku 
mengenalnya dan beliau belum pernah menceritakan kisahnya yang satu ini dan 
akhirnya beliaupun melanjutkan ceritanya setelah yakin aku belum pernah 
mendengarnya
   
  “setiap tahun negara kita selalu menyelenggarakan pertukaran pelajar dengan 
sekolah2 di Luar Negeri, kemudian pada tahun 1978 saya mengikuti beberapa tes 
persyaratan untuk mengikuti pertukaran pelajar tsb dan ternyata hasil tes saya 
sangat memuaskan dan saya diterima di 10 sekolah di Eropa dan urutan sekolah 
pertama yg menerima saya adalah sekolah Kennedy di AS dan sejak berdirinya 
sekolah Kennedy dari tahun 1950 s.d. thn 1978 saya adalah orang ke 3 dari 
Indonesia yg berhasil menembus sekolah itu yang sebelumnya belum pernah ada 
lagi anak Indonesia yg berhasil masuk ke sana. Kebayang sama kamu..gimana 
bangganya pemerintah Indonesia saat itu, ketika mengetahui ada anak Indonesia 
yg berhasil menembus kembali sekolah Kennedy di AS dan dengan penuh harap agar 
saya menerima tawaran itu dan bersekolah disana. Wow..Amerika!! anak seusia 
saya dan diterima dgn baik di sekolah itu dan sekolah Kennedy adalah sekolah 
terbaik di Amerika. Tapi….kenapa ayah saya melarang saya untuk
 berangkat kesana? Dan saat itu tidak pernah terjawab oleh saya alasan ayah 
saya itu apa? Walau ayah saya tidak bicara langsung alasannya kepada saya dan 
saya hanya dapat masukan dari mami saya tentang keberatan ayah saya tsb. Dan 
akhirnya keputusan itu tetap ada ditangan saya. Dan saya memutuskan untuk 
menolak tawaran itu dan kamu tahu saat itu..apa yg terjadi pada saya..? saya 
dipanggil menghadap oleh lebih 10 orang petinggi negara waktu itu dan salah 
satunya Taufik Ismail, posisi saya spt terdakwa yg ditanyakan alasan kenapa 
saya menolak pertukaran pelajar itu? Dan enggak mungkin dong..saya bilang 
alasannya dilarang ayah? Emang saya bayi..?” ceritanya panjang lebar..
   
  ‘lalu..bapak alasannya apa waktu ditanya oleh mereka..?” tanyaku yg serius 
mendengarkan ceritanya
   
  “ya..saya bilang untuk menguji kemampuan saya dan ternyata saya berhasil, dan 
setelah berhasil, boleh dong..saya menolak tawaran pergi itu..?”ceritanya 
sambil tersenyum2 dan akupun hanya tersenyum2 mendengarkan ceritanya kembali
   
  “dan kebayang sama kamu betapa kecewanya mereka saat itu?sesuatu yg 
dibanggakan dan lama dinantikan akan berhasil ditembus oleh anak Indonesia dan 
ternyata setelah berhasil..lalu ditolak begitu saja..?walaupun saat itu saya 
belum tahu..alasan ayah saya melarang pergi ke sana dan saya yakin sekali kalau 
itu semua untuk kebaikan saya dan bukan tanpa alasan sampai ayah saya melarang 
saya pergi..karena saya tahu sekali siapa ayah saya..?dan saya dapatkan jawaban 
itu setelah saya pertama kali ke Jerman dan jawaban itu makin terbuka setelah 
saya sekolah S2 di Canada dan menetap beberapa tahun disana, lalu saya pergi 
kembali ke London untuk S3 dan makin jelas bagi saya kenapa dulu ayah saya 
melarang saya berangkat ke AS. Dan kebayang semuanya…andai saat itu saya jadi 
pergi ke AS di usia remaja dengan gejolak jiwa yg masih labil dan pemahaman 
agama yg pas2an, maka akan jadi apa saya disana?hidup dan besar di negara 
kapitalis dalam satu sistem yg semuanya serba bebas dan terbuka,
 dan perduli setan dengan nilai moral apalagi agama?” ceritanya panjang lebar
   
  “hmm..iya pak..belum lama pak Fulan cerita ke aku, kalau anaknya yg sekolah 
di Singapura dan dapat bea siswa dari pemerintah Singapura karena menang 
olimpiade fisika itu, diminta beberapa kali oleh pemerintah Singapura untuk 
menjadi warga negaranya dan bekerja untuk lembaga riset disana dan melakukan 
penelitian disana, lalu aku bilang..jangan mau dan pak fulan juga setuju dengan 
usulku” ceritaku menanggapi kisahnya
   
  “nah..dan pak fulan itu tidak bisa apa2 kan..?dan semua keputusan itu ada 
ditangan anaknya kan..? coba gimana susahnya saya untuk menanamkan nilai 
patriotisme pada ke 2 anak saya, pada saat saya ingin mengajarkan agar cinta 
dan membela pada Indonesia dan jawabnya “urusan bela tumpah darah indonesia itu 
urusan ayah, bunda dan ade, aku kan..tumpah darahku bukan disini..?” coba 
bayangin dan ke 2 anak saya itu, andai dia serius..dia mampu untuk mengurus 
kewarganegaraan asingnya. Dan coba perhatikan sendiri oleh kamu..gimana 
rendahnya rasa tanggung jawab dan nilai patriotisme orang2 yg lahir dan besar 
di Indonesia sendiri?mereka selalu berpikir..kalau mereka sedang didzolimi, 
karena pemerintah memberikan mereka gaji yg rendah dengan kemampuan mereka yg 
tinggi dan akhirnya lihat..mereka jadi jarang berada di kantor dan keluar untuk 
bekerja di tempat lain sedangkan mereka masih menerima gaji dari sini..?” 
ceritanya panjang lebar ttg kisahnya dan aku hanya terdiam sambil sesekali
 tersenyum karena tahu sekali berapa besar nilai kecintaannya pada Indonesia 
dengan kemampuannya yg sangat tinggi dan sudah berapa banyak tawaran yg datang 
pada dirinya dari dalam dan LN untuk pindah dari sini dan beliau masih 
melanjutkan ceritanya
   
  “dan saya dilepas jauh pisah pertama kali oleh orang tua saya, pada saat saya 
S1 di ITB dan itupun setiap hari saya ditelphon mami saya untuk mengetahui apa 
saja kegiatan saya seharian disana dan tiap minggu saya harus pulang ke 
Jakarta. Jadi..saya tidak pernah lepas dari kontrol orang tua saya dan orang 
tua saya tidak begitu saja melepaskan saya sebagai tanggung jawabnya. 
Hmmm..jadi saya juga mau tahu seberapa besar tanggung jawab kamu terhadap 
anakmu atau jangan2 kamu sengaja taruh shafa disana untuk lepaskan tanggung 
jawabmu sebagai orang tua..?” tanyanya dengan wajah menyelidik
   
  “yeeee….enak aja!! Kalau ngomong sembarangan..?!” teriakku spontan
   
  “lalu apa dong..alasan kamu, kirim dia ke sana..?” tanyannya penuh selidik 
   
  “aku lihat keadaan anak2 sekolah saat ini dan buat aku khawatir..dan aku 
takut nda mampu mendidik agama di lingkungan spt saat ini..? aku didik baik2 
anakku, tapi orang lain tidak mendidik baik anaknya. Sedangkan di pesantren 
semua anak di didik dengan pendidikan yg sama.” Ceritaku memberikan alasan
   
  “di pesantren juga banyak anak2 yg digauli ustadznya..? dan orang yg sakit 
jiwa bukan hanya berada dilingkungan kita aja..tapi di pesantren juga ada. Dan 
gimana andai nanti anakmu sepulang dari sana dan memutuskan hubungan keluarga 
dengan orang2 yg dilihatnya tidak menjalani islam dengan benar dan dia membawa 
hadist bahwa persaudaraan dalam islam itu bukan berdasarkan hubungan darah tapi 
hubungan keimanan. Lalu..apa kamu siap andai dia bersikap spt itu..?hmm..waktu 
pertama kali anak saya memutuskan untuk sekolah di Insan Cendikia, yg pertama 
kali ditanya sama neneknya adalah apakah disana dia masih bertemu dengan lawan 
jenisnya? Dan setelah diterangkan kalau disana masih campur lawan jenis, lalu 
neneknya diam. Dan saya harus tahu alasan dia ingin kesana dan waktu itu saya 
berikan gambaran kalau disana dia akan banyak menemukan sesuatu yg selama ini 
mungkin tidak ditemukan oleh anak saya. Dia selama ini hanya terikat 8jam 
pelajaran disekolanya dan , setelah itu dia bebas
 mau main, bercanda, makan kapan aja dia lapar, menyalurkan hobi renangnya, 
tapi nanti setelah disana dia harus 24 jam dengan segala peraturan yg 
mengikatnya, makan harus diwaktu2 tertentu, tidur dan sekamar dengan beberapa 
orang yg mungkin aneh2 kebiasannya dan bisa saja buat dia kesal dan dia bisa 
terima itu semua, tapi bundanya? Waktu itu bundanya protes  “kenapa harus 
kesana sich..?kenapa nda disini aja dekat bunda..? lalu jawab anak saya  
apa?bun..aku kan mau sekolah di pesantren dgn pendidikan islam, dulu ayah 
sekolah dinegara kapitalis yg jauh dan dibolehkan oleh nenek lalu bunda mau 
khawatirkan aku apa? Kalau bunda kangen sama aku..bunda bisa datang ke 
sekolahku kapan aja? Dan jarak sekolahku dengan rumah hanya 1 jam perjalanan.” 
Dan akhirnya bundanya diam dan tetap aja sampai saat ini bundanya masih sering 
nangis karena ditinggal anak kesayangannya, dan bukan tidak mungkin kamupun 
akan mengalami hal yg sama spt istri saya kan.? Dan jangan sampai kesedihan kamu
 nantinya terdengar oleh shafa, karena otomatis itu akan menjadi , beban 
untuknya dan itu akan menggrogoti jiwanya.” Ceritanya serius dan masih terus 
dilanjutkan
   
  “jarak Insan Cendikia dengan rumah saya hanya 1 jam perjalanan, sedangkan 
gontor?kamu butuh waktu 24 jam untuk sampai kesana. Dan kalau ada apa2 dengan 
anak saya, gurunya bisa langsung hubungi saya di kantor dan saya hanya butuh 
waktu 15 menit dari sini ke sekolahnya sedangkan kamu? Anak saya itu laki2 dan 
umurnya lebih dewasa dari shafa sedangkan shafa Anak perempuan dan baru mau 
masuk SMP dan usiannya masih kecil. Ingat..?! shafa sudah dipisahkan dari 
ayahnya dan sekarang mau dipisahkan pula dari mama dan adiknya? Kamu harus ukur 
perasaannya dan jangan sampai dia merasa tidak diinginkan untuk dekat dengan 
kamu. Dan kamu belum pernah merasakan yg shafa rasakan.? Dari kecil hingga 
sebesar ini..kamu ditemani oleh ayah dan ibumu, sedangkan shafa hanya ditemani 
oleh kamu. Saya tidak perduli dengan semua orang yg di luar tanggung jawabmu, 
tapi shafa adalah tanggung jawabmu, maka saya perlu tahu seberapa besar 
tanggung jawabmu terhadap anakmu. Dan apa kamu sudah siap
 menyerahkan anakmu dalam 1 sistem, dimana mau tidak mau kamu harus menerima 
sistem itu sedangkan kamu tidak pernah tahu sistem itu spt apa..? aturan di 
sekolah anak saya hanya mengijinkan para orang tua untuk bertemu anaknya paling 
cepat 3 bulan sekalli, sedangkan saya sudah melanggar sistem yg dibuat 
sekolahnya dan saya masih datang 3hari sekali ke sana, walau hanya sekedar 
sebagai tamu dan saya bilang ke anak saya, kalau ayah akan datang ke sekolahmu 
3 hari sekali dan andai dia perlu dengan saya dia saya minta untuk langsung 
hampiri saya, kalau dia melihat saya ada disana, dan pernah saya datang ke 
sekolahnya dan saya lihat dia sedang main basket dan dia tidak hampiri saya, 
berarti dia sedang tidak ada perlu dengan saya dan setelah yakin dia tidak 
perlu, saya balik ke kantor. Tanggung jawab saya sebagai orang tua adalah 
mengawasi kegiatan anak saya dan saya akan biarkan dia bermain dan berjalan, 
tapi saya tidak lepas kontrol dia dari belakang, walau dari jarak jauh tapi
 semua gerakannya masih terlihat oleh saya. Dan kalau tiba2 dia berhenti dan 
tertarik pada satu hal dan saya lihat yg membuat dia tertarik masih bisa 
diterima..maka akan saya biarkan dia, tapi kalau dia mulai menyukai sesuatu yg 
menurut saya tidak perlu, dia harus berikan alasan kepada saya kenapa dia 
menyukai itu. Jadi..saya tahu kapan dia belok,  berhenti dan jalan, kalau saya 
lihat dia mau terjatuh, maka sayapun bisa langsung berlari menghampiri. 
Lha..kamu gimana..?kalau tiba2 shafa sudah nyelonong jauh berjalan dan berbelok 
bahkan mungkin terjatuh dan kamu tidak melihat bahkan kehilangan 
jejaknya..apakah tidak membuat kamu panik..?ceritanya terus dan selama itu 
sudah ada beberapa anak buahnya yg melaporkan pekerjaan kepadanya dan 
seketarisnya pun mengingatkan jadual rapat yg tinggal 15 menit lagi kepadanya 
dan beliau hanya mengintruksikan anak buahnya untuk begini dan begitu dan 
beliau kembali meneruskan ceritanya padaku
   
  “setiap organisasi ataupun instansi pasti mereka mempunyai 1 sistem yg sudah 
mereka buat dan mau tidak mau apabila kita berada didalamnya maka kita pun 
harus mengikuti sistem tsb. Seperti kejadian kamu waktu itu yg menentang sistem 
dimana kamu berada didalamnya, maka mau tidak mau kamu akan dianggap gagal 
karena menentang, harusnya kamu cukup memberikan jawaban yg diinginkan oleh 
sistem itu dan bukan berarti kamu menyetujui sistem tsb tapi juga..jangan 
pernah kamu menentangnya, karena kamu akan dianggap gagal. Seperti saya, hanya 
punya hak dan bertanggung jawab kepada semua yg ada dibawah kendali saya, tapi 
yg ada di atas saya..?saya tidak punya hak untuk mengatur semua sesuai 
keinginan saya..gimana..?sudah jelas semua..?” tanyanya padaku
   
  “iya..sudah jelas semua..” jawabku singkat yg tidak terasa hampir 2 jam aku 
berada disana dan tempat dudukku sudah terasa panas dan AC diruangnya yg sangat 
dingin sudah buat aku sedikit meriang
   
  “oke..sekarang tugas kamu adalah menghitung semua yg positive dan 
negativenya, ttg keputusan sekolah shafa dan bicarakan semua secara terbuka 
dengan shafa dan jangan sekali-kali  memaksakan keinginanmu padanya dan kamu 
sebagai orang tua harus dapat mengambil keputusan yg terbaik untuk semuanya. 
Kamu, shafa dan adiknya. Agar nanti tidak ada kata2 penyesalan, andai dulu 
begini dan begitu..?” lanjutnya dan kembali sekretarisnya mengingatkan jadual 
rapat padanya dan beliau hanya menoleh kearah sekretarisnya dan kembali 
meneruskan bicaranya
   
  “saya tidak mengatakan sekolah disana jelek, tapi ibarat orang memasak nasi 
dengan rice cooker dan  yg kamu tanak sendiri, walaupun hasilnya sama2 matang 
dan jadi nasi, tapi hasilnya jadi beda karena kamu bisa melihat berapa menit 
lagi nasi itu matang dan sambil sekali2 kamu mengaduk2nya” lanjutnya sambil 
menggerak2 kan tangannya seolah2 mencontohkan orang yg menanak nasi
   
  “oke pak..aku ngerti dan nanti akan aku tanyakan lagi sama anakku..” jawabku
   
  “Oke..ada lagi yg ingin kamu sampaikan dan tanyakan..?” tanyanya kembali 
padaku
   
  “hmm..sebenarnya masih banyak yg mau aku ceritakan dan diskusikan sama bapak 
dan salah satunya masalah poligami, tapi nanti ajalah..dikit lagi dzuhur dan 
bapak harus sholat sebelum rapat dan harus siapkan bahan rapat, aku juga mau 
sholat dan lunch. Thanks ya..pak..aku pamit dulu..Assalamu’alaikum” ucapku 
mengakhiri pembicaraan dan bangkit berdiri untuk keluar dan beliaupun berdiri 
sambil membalas salamku dan berjalan mengikutiku dari belakang dan akupun pamit 
pada sekretarisnya dan sudah kembali menuju ruanganku.
   
   
  By
  hana

                
---------------------------------
Yahoo! Messenger with Voice. PC-to-Phone calls for ridiculously low rates.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Great things are happening at Yahoo! Groups.  See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/iDk17A/hOaOAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke