Ikhwah fillah semoga Allah merahmati anda semua yang tetap dalam keimanan,
 
Intermezzo, sekedar mengenang khabar masa lalu agar menjadi pelajaran bagi kita 
semua maka kami sampaikan sebuah analisa dan berita seputar penangkapan (bukan 
penyanderaan) 2 Wartawan Metro TV Meutia Hafid dan Budiyanto sebagai berikut:
 
===========================
MENGAPA MEREKA DITANGKAP?
http://abuibnihi.tripod.com/news/penahanan.htm
Mengapa?

Wartawan Metro TV, Mutia Hafid dan kameramen Budiyanto sejak 7 hari lalu 
ditahan oleh sekelompok mujahidin di sekitar Ramadi, oleh sekelompok orang yang 
menamakan dirinya Kataibul Mujahidin.

Pertanyaan yang pertama terlintas di benak saya adalah : Mengapa?

Saya mengajak pembaca untuk melihat kejadian ini dalam konteks yang terjadi di 
sana, bukan berdasarkan apa yang terjadi di Indonesia. Iraq adalah negara yang 
sedang dilanda perang, dengan sekitar 150.000 tentara Amerika, dan ribuan 
tentara Inggris, Australia, Italia, Ukraina, Bulgaria, Jepang dan Korea 
Selatan, belum termasuk ribuan mercenary (tentara bayaran) tanpa seragam dan 
personil intelijen, baik dari CIA dan Mossad, juga negara-negara lain yang 
mempunyai kepentingan di Iraq seperti Turki dan Iran. Orang-orang asing 
mengalir masuk ke Iraq untuk berbagai alasan lainnya, seperti pekerja dari 
Cina, yang dipekerjakan di proyek rekonstruksi, juga warga Nepal, yang biasa 
membawa truk-truk sipil  untuk mengangkut perbekalan dan suplai amunisi bagi 
tentara Amerika -karena truk militer Amerika mudah dikenali dan diserang. 
Bahkan para arkeolog Israel, masuk ke dalam Iraq untuk mencuri artifak-artifak 
bersejarah di Iraq.

Situasi keamanan sangat buruk, karena hampir setiap pria dewasa memiliki 
senjata api dan hampir setiap hari terjadi perampokan dan pembunuhan oleh 
kelompok-kelompok penjahat. Dalam situasi yang rawan seperti ini, adalah wajar 
bagi orang setempat untuk mencurigai motif orang-orang asing yang masuk ke 
Iraq. 

Cover sebagai wartawan merupakan cover yang baik bagi personil intelijen untuk 
menyusup ke Iraq, karena bisa menerangkan aktivitas mereka yang mobile di 
seluruh Iraq. Meliput hari raya Asyura, tampaknya merupakan alasan yang 
trivial, terlalu sepele, di mata warga Iraq, dibandingkan resiko kehilangan 
nyawa di zona perang.

Karena itu, menurut hemat saya, penahanan (bukan penyanderaan, karena belum ada 
tuntutan yang diajukan) kedua wartawan Metro TV, adalah bentuk upaya pencegahan 
terhadap penyusupan intelijen/militer asing ke Iraq. Terbukti dengan tidak 
adanya tuntutan yang diminta oleh kelompok mujahidin tersebut. Dalam 
pernyataannya mereka hanya menyatakan bahwa kedua orang Indonesia itu telah 
ditahan, dan mereka hanya meminta pemerintah Indonesia untuk memberikan 
klarifikasi bahwa mereka yang ditahan tersebut adalah benar-benar wartawan.

Penulis sendiri berpendapat bahwa kedua wartawan tersebut akan dibebaskan, 
Insya Allah. Rakyat Indonesia telah membantu rakyat Iraq sejak dimulainya 
invasi Amerika. Pawai satu juta orang di Bundaran HI, Jakarta,  untuk menentang 
perang yang akan dikobarkan Bush tidak akan dilupakan oleh warga Iraq. Begitu 
juga posisi pemerintah Indonesia yang sejak awal menentang penggunaan kekerasan 
dalam dugaan pemilikan WMD.  Insya Allah, mereka akan mendapatkan perlakukan 
yang baik dan pada akhirnya dibebaskan, sebagaimana yang terjadi juga pada 
kedua Simona (keduanya wartawati Italia) dan kedua wartawan Perancis, yang 
dibebaskan setelah ditahan selama 8 bulan. Padahal Italia mengirimkan 
pasukannya di Iraq, dan Perancis menyulitkan warga muslim dengan memberlakukan 
peraturan larangan jilbab di sekolah-sekolah umum. 

Keduanya akan diperlakukan dengan hormat, sebagaimana seharusnya para tawanan 
perang diperlakukan menurut hukum Islam. Jika mereka bukan combatant, maka 
mereka akan dibebaskan dan diantarkan ke tempat yang aman. Jika keduanya 
terbukti mata-mata, maka hukuman bagi mereka adalah kematian.

Tetapi mereka bukan mata-mata, dan saya optimis bahwa Mutia dan Budiyanto akan 
kembali ke Indonesia dengan selamat, Insya Allah. Waktu yang akan 
membuktikannya.

Abu Ibnihi

 

http://abuibnihi.tripod.com/news/220205a.htm

Selasa, 22 Februari 2005 (1)
 

 

Baghdad

 

Bom mobil mujahidin target kolom tentara boneka di "green zone"

 

Sumber-sumber di polisi boneka Iraq dan RS Iraq melaporkan bahwa sebuah bom 
mobil meledak dekat konvoi pasukan Iraq ketika meninggalkan salah satu pintu 
utama kantor pusat penjajah AS di Republican Palace, Baghdad ("green zone"). 
Mafkarat al-Islam mengutip Reuters melaporkan bahwa ledakan terjadi tengah hari 
dekat al-Mansur.

 

Polisi boneka Iraq melaporkan bahwa mobil itu meledak ketika satu unit komando 
lewat, melontarkan serpihan logam ke segenap penjuru dan mengguncangkan kota.

 

"Green zone" di sisi Barat sungai Tigris di ibukota Iraq adalah tempat yang 
paling ketat penjagaannya di Iraq. Ia dikelilingi oleh tembok tinggi dan selalu 
dikitari penjaga setiap saat.

 

Dua jurnalis Indonesia dibebaskan, bawa pesan untuk rekan mereka

 

 Dua Jurnalis Indonesia yang ditangkap dan ditahan oleh mujahidin 
memberitahukan pada hari Selasa setelah mereka tiba di Amman, Jordania bahwa 
mujahidin memberikan pesan untuk disampaikan kepada rekan mereka.

 

Repoter TV Indonesia, Muti'ah Hafiz, 26, tiba di Amman bersama dengan kameraman 
Budiyanto, 38, satu hari setelah pembebasannya oleh mujahidin. Muti'ah Hafiz 
bertutur kepada pers di ibukota Jordania, "Mereka berkata kepada kami bahwa 
kami harus memberitahu para jurnalis untuk tidak masuk Iraq dan hal itu tidak 
aman bagi jurnalis". Mereka juga berkata bahwa "mereka kecewa dengan pelaporan 
yang dibuat jurnalis yang mendiskreditkan mereka".

 

Kedua orang itu yang bekerja pada Metro TV Indonesia, berkata bahwa 3 lelaki 
membawa mereka setelah mereka dihentikan di pompa bensin dekat Ramadi ketika 
dalam perjalanan pulang ke Jordania dari pencarian berita di Iraq.

 

Reuters melaporkan seperti yang dikatakan Muti'ah Hafiz bahwa mujahidin yang 
menangkapnya selalu meyakinkan dan menenangkan mereka. Ia berkata, "mereka 
tidak mengganggu kami."

 

Ia berkata, "kami makan pagi, siang dan malam setiap hari dan mereka tidak 
meminta bayaran dari kami. Mereka sangat perhatian terhadap segenap kebutuhan 
kami."

 

Muti'ah Hafiz berkata, "Saya percaya betul pada mereka ketika mereka mengatakan 
'kami tidak bermusuhan dengan anda' ... 'kami mujahidin yang bertempur demi 
Islam dan kami tidak butuh uang'.

 

Angkatan Bersenjata mujahidin meminta untuk menyiarkan rekaman video yang 
mereka inginkan, Pemerintah Indonesia dimohon menjelaskan apa yang telah 
dilakukan 2 jurnalis itu di Iraq.

 

Australia kirim 450 tentara tambahan ke Iraq

Dengan naiknya tekanan mujahidin, Perdana Mentri Australia, John Howard 
mengumumkan pada hari Selasa bahwa negaranya akan mengirimkan 450 tentara 
tambahan ke Iraq.  Ia berkata, misi mereka untuk menjaga insinyur Jepang yang 
membantu penjajah AS di Selatan Iraq dan mereka akan mengisi kekosongan tentara 
yang ditinggalkan oleh 1,400 tentara dari Netherlands.

Saat ini secara resmi mereka mempertahankan 850 tentaranya di negara yang 
diduduki AS itu.

AS mengamankan kesediaan NATO membantu pelatihan pasukan boneka Iraq untuk 
Amerika.

Presiden AS tampaknya telah berhasil memecahkan oposisi di negara Eropa agar 
ikut terlibat dalam kegiatan pendudukan AS di Iraq. Pada hari Selasa 26 anggota 
gabungan NATO setuju di Brussels, Belgia, untuk ikut melatih tentara Iraq 
melayani penjajah AS. Asosiasi Pers Amerika melapokan bahwa semua negara NATO 
setuju bekerja membantu pelatihan AB boneka Iraq.

 

Pada waktu yang sama, resolusi yang membulatkan persetujuan ini dinodai 
perbedaan. Perancis, Jerman, dan negara lainnya menolak untuk mengirim 
pelatihnya ke Iraq, tetapi kemudian menjanjikan pelatihan dilakukan di luar 
Iraq, atau membiayai pelatihannya.

 

AS menganggarkan 4.55 juta dollar untuk pelatihan di luar Iraq

Kenyataannya sebelum perjanjian itu disetujui, negara NATO telah mengirim 110 
pelatih untuk bekerja dengan AS melatih pasukan Iraq di kantor pusat di 
Republican Palace, di Baghdad ("green zone"). Akan tetapi, separuh dari 110 
pelatih itu adalah orng Amerika.

 

Tall 'Afar - Provinsi Ninwa

 

Mujahidin gempur barak di markas AS di Tall 'Afar ketika AS kibarkan benderanya

 

Lima roket mujahidin meledak di barak militer AS yang terletak 8 km Barat Tall 
'Afar pada jam 7:30 Selasa pagi, koresponden lokal Mafkarat al-Islam 
melaporkan. Serangan itu bersamaan dengan adanya upacara penaikan bendera AS 
dan Iraq, sesuatu yang diketahui orang kota terjadi setiap hari diikuti dengan 
tembakan senjata.

 

Koresponden melaporkan bahwa lusinan tentara AS dan tentara boneka Iraq tewas 
dan luka-luka. Asap dan nyala api membumbung ke angkasa. Heli-heli AS  
berputaran di atas barak-barak dan mendarat untuk mengevakuasi korban.

 


________________________________

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Ahmad 
Iman
Sent: Friday, July 07, 2006 1:32 PM
To: [email protected]
Subject: [media-dakwah] Re: Islamphobia ala Metro TV



Wa'alaikumussalam warohmatullah wabarokaatuh

Alhamdulillah, saya masih ingat juga khabar tentang Meutia Hafid dan 
konconya Kameramen Budiyanto dari Metro TV yang tidak punya rasa 
syukur ketika sudah dibebaskan Mujahidin. Walaupun sudah 
diperlakukan dengan baik tetap saja memberitahukan kepada khalayak 
umum melalui KOMPAS tempat penyanderaannya yang juga menjadi posisi 
Mujahidin yang amat dirahasiakan oleh mereka dengan menceritakan 
bahwa posisinya semacam goa di padang pasir yang terletak antara 
Ramadi dan Fallujah. Ini pengkhianatan namanya. Sudah bebas lupa 
atas jasa-jasa baik Mujahidin yang memperlakukannya dengan baik.

Meutia Hafid selayaknya memberikan loyalitasnya kepada perjuangan 
kaum Muslimin Irak melalui Mujahidin melawan penjajah Amerika dan 
pemerintah boneka irak.

Perlu diketahui bahwa sebagian besar (tidak semua) wartawan/jurnalis 
yang merangkap sebagai intel atau informan untuk pihak militer musuh.

Wartawan yahudi seperti BBC, CNN yang masuk ke area Mujahidin dan 
kaum muslimin pasti akan ditangkap dan habis jika terbukti menjadi 
intel atau informan bagi pihak musuh.

Maka tegaskanlah posisi atau keberpihakan anda jika anda berada di 
area peperangan antara kaum muslimin dengan kafirun (baik kafir asli 
maupun munafik), jika tidak nyawa taruhannya. Lebih baik mati syahid 
ditangan kafirun daripada mati sangit ditangan kaum muslimin...:)

Sekedar mengingat kembali beritanya silahkan lihat link dan copy 
paste-nya berikut ini:
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0502/24/utama/1579203.htm 
<http://www.kompas.com/kompas-cetak/0502/24/utama/1579203.htm> 
============================================================
Pesannya: Wartawan Hendaknya Tidak Pergi ke Irak Dulu... 

Saya dan rekan Budiyanto diperlakukan baik sekali selama 
penyanderaan. Para penyandera sama sekali tidak menyentuh tubuh 
kami, mulai dari ujung rambut sampai telapak kaki. 

DEMIKIAN penuturan wartawan MetroTV, Meutya Hafid dari Amman, 
Jordania, saat berbincang lewat telepon dengan wartawan Kompas 
Musthafa Abd Rahman yang berada di Cairo, Mesir, Rabu (23/2).

"Mereka (penyandera) berulang kali mengatakan, 'Kami tidak akan 
melukai kalian dan siapa pun, kecuali pihak yang dianggap musuh'," 
kata Meutya.

Meutya bersama Budiyanto, rekan kerjanya dari MetroTV, berada di 
sekitar kota Ramadi, Irak, dalam rangka perjalanan mereka dari Amman 
menuju Baghdad tanggal 15 Februari lalu. Di dekat Ramadi keduanya 
disandera oleh tiga orang dari kelompok yang menamakan dirinya Faksi 
Tentara Mujahidin. Pada Senin, 21 Februari, pagi mereka dibebaskan.

"Saya merasa tenang, lega, dan haru karena masyarakat di luar dan di 
dalam negeri Indonesia ternyata sangat menaruh perhatian pada nasib 
kami," kata Meutya ketika ditanya tentang perasaannya setelah 
dibebaskan.

"Selama penyanderaan kami diberi makan secara teratur, tiga kali 
sehari. Kami juga diberi tempat tidur dan selimut meskipun tentunya 
sangat terbatas dan seadanya," ujar jurnalis itu lagi.

Meutya tidak bisa mengingat semua pesan yang sering diucapkan 
penyandera selama sepekan penyanderaan itu. "Tentu banyak sekali 
karena memang kami cukup lama bersama mereka. Tetapi yang menonjol, 
mereka sering mengatakan bahwa mereka tidak akan melukai kami dan 
tidak pernah melukai siapa pun kecuali pihak yang mereka anggap 
musuh," ujarnya.

Cerita pun beranjak mengenai latar belakang penyanderaan. "Mereka 
sebetulnya hanya ingin mengetahui identitas dan misi kami di Irak. 
Apakah kami betul-betul untuk tujuan jurnalistik dan tidak memiliki 
misi politik. Setelah mendapat klarifikasi dari Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono tentang identitas dan misi kami (pada Sabtu, 19 
Februari 2005), mereka sudah memutuskan untuk membebaskan kami," 
ujar Meutya.

Akhir pekan lalu Faksi Tentara Mujahidin itu memang hanya meminta 
agar Pemerintah Indonesia segera memberikan klarifikasi mengenai 
identitas dan misi kedua wartawan itu, khususnya soal keberadaan 
mereka di Irak. Presiden Yudhoyono pun kemudian-melalui televisi, 
termasuk Al Jazeera dan Associated Press Television News (APTN)-
memberi konfirmasi yang diinginkan. Rekaman pernyataan Presiden 
selanjutnya ditayangkan di Irak dan tayangan itu ternyata segera 
mendapat tanggapan positif dari pihak penyandera.

Meski demikian, masih muncul pertanyaan, apakah penyanderaan itu 
bermotifkan uang. Adakah pembebasan wartawan MetroTV itu karena 
imbalan uang? "Mereka sama sekali tidak meminta sesuatu, bahkan tak 
meminta sepeser uang pun. Mereka hanya berpesan, tolong sampaikan 
kepada rakyat Indonesia dan siapa pun secara jujur dan jangan bohong 
tentang misi perjuangan Mujahidin yang hanya ingin membebaskan Irak 
dari penjajahan (Amerika Serikat)," kata Meutya menuturkan 
pernyataan penyandera.

"Tentara Mujahidin tak pernah punya tujuan kriminal atau melakukan 
tindakan yang menyakiti orang lain yang tidak bersalah," katanya 
menambahkan.

BAGAIMANA situasi terakhir di lokasi penyanderaan menjelang 
pembebasan?

"Salah satu dari pemimpin mereka datang dan menyampaikan telah 
mengetahui klarifikasi Presiden sesuai dengan tuntutan mereka. Pada 
saat itu pula mereka memutuskan untuk membebaskan kami. Sebetulnya 
mereka telah memutuskan membebaskan lebih awal, tetapi tertunda 
karena problem pengamanan untuk mengeluarkan kami dari tempat 
penyanderaan," papar Meutya.

Maklum, lanjutnya, pada saat penyanderaan berlangsung, terjadi 
pertempuran sengit antara pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat 
(AS) dan gerilyawan Irak di sekitar kota Ramadi.

Mengenai lokasi penyanderaan, Meutya mengatakan, tempatnya semacam 
goa di padang pasir yang kira-kira berada di antara kota Ramadi dan 
Fallujah.

Setelah dibebaskan, wartawati MetroTV ini menyatakan Irak tetap 
merupakan obyek liputan yang sesungguhnya menarik. "Namun, kami 
hanya akan melaksanakan pesan dari mereka bahwa wartawan hendaknya 
tidak pergi ke Irak sebelum tercipta keamanan dan perdamaian di 
negeri itu. Suatu saat nanti, kami akan pergi ke Irak lagi kalau 
situasinya sudah memungkinkan," kata Meutya.

Ketika sudah dibebaskan, dua wartawan MetroTV itu sempat terhambat 
di perbatasan Irak-Jordania selama 24 jam. "Kebetulan ketika kami 
hendak meninggalkan tempat penyanderaan menuju perbatasan, 
berlangsung pula perayaan hari besar di Irak (hari Asyura, hari 
besar kaum Syiah). Karena itu, Pemerintah Irak menutup perbatasan," 
katanya.

"Namun, kami akhirnya mendapatkan pengecualian untuk bisa melintasi 
perbatasan lebih cepat, pukul 19.35 WIB, Selasa," kata Meutya. 
Pemerintah Irak sebenarnya baru akan membuka kembali semua 
perbatasan pada Kamis (24/2) pukul 00.00 waktu setempat.

"Di perbatasan itu ternyata semua orang sudah tahu bahwa kami adalah 
jurnalis Indonesia yang baru bebas dari penyanderaan. Ketika kami 
berhenti di sebuah stasiun pompa bensin dalam perjalanan keluar 
Irak, orang-orang di sekitar sudah langsung mengenal kami. Selain 
itu, ketika tiba di perbatasan, orang-orang yang berada di situ juga 
sudah mengenal kami," kata Meutya menceritakan. *

--- In [email protected] <mailto:media-dakwah%40yahoogroups.com> , 
"thoriq kusuma" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Assalamualaimum Wr. Wb.
> terus terang saya juga dari dulu agak curiga dengan Metro TV . kok 
kayaknya
> jadi corongnya Amerika. terutama dgn adanya VOA (Voice of 
America) nya.
> 
> 
> On 7/7/06, yusuf rinaldy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
> >
> > Ikhwan, adakah diantara Anda yang melihat tayangan Editorial 
Malam Metro
> > TV, kamis 6 Juli 2006. Dalam Editorial malamnya, Metro TV 
menyajikan berita
> > tentang kesepakatan diantara anggota DPR yang mempermasalahkan 
perda anti
> > maksiat dan anggota DPR lainnya yang mendukung perda tersebut.
> > Dalam tayangan tersebut secara jelas terlihat bagaimana sikap 
Metro TV
> > yang cenderung menolak perda anti maksiat. Metro TV menyebutnya 
sebagai
> > Perda Syariat Islam. Semakin jelaslah bagaimana sikap Metro TV 
dan Media
> > Indonesia yang tidak suka kepada Islam. Nampaknya, Metro TV dan 
Media
> > Indonesia sudah Islamphobia.
> > Kita tentu ingat bagaimana kedua media massa itu sejara jelas 
menolak RUU
> > Pendidikan, RUU APP. Mereka juga secara jelas mendukung 
pembubaran
> > ormas-ormas Islam, yang oleh Metro TV dikatakan sebagai Ormas 
Radikal. Aneh
> > sedemikan bencinya Metro TV dan Media Indonesia kepada Islam.
> > Dan kita tentu juga ingat, saat dua wartawan Metro TV, ditawan 
oleh
> > kelompok pejuang di Irak. Satu hal yang disampaikan kepada para 
pejuang Irak
> > saat itu, Metro TV adalah televisi dari Indonesia yang mayoritas 
muslim, dan
> > dua wartawan itu juga beragama Islam.
> > Metro TV juga meminta bantuan kepada MUI, serta ormas-ormas 
Islam lainya
> > di Indonesia untuk membebaskan dua wartawannya. Hingga akhirnya 
mereka bisa
> > dibebaskan dengan selamat. Dengan kata lain bisa dikatakan Metro 
TV
> > berhutang kepada umat Islam, khususnya di Indonesia.
> > Tapi apa lacur, sekarang Metro TV justru gencar menyakiti umat 
Islam di
> > Indonesia. Mungkin jika saat itu pejuang Irak tahu bahwa Metro 
TV adalah
> > televisi yang membenci Islam, bisa jadi dua wartawannya tidak 
akan bebas
> > dengan selamat....
> >
> > Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
> >
> >
> > ---------------------------------
> > Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US 
(and 30+
> > countries) for 2ยข/min or less.
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> > 
> >
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>



 


[Non-text portions of this message have been removed]



Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke