muslim insuffer <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:                                  
 http://musliminsuffer.blogspot.com/
 
 bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem

 ini aku forward tulisan bang musliminsuffer.. beliau jarang bicara 
kalau dimilis ini, but..aku percaya abu ubasy orang yg lebih paham 
ttg sejarah islam dan Rasulullah, mudah2an bisa ditelaah dan jadi 
masukan untuk kita semua.
 
selama menikmati kajian bang muslim voice:)^_*
hana 

 ------------------
 Muslim Answer
 ------------------
 
 Kebanyakan muslim menjawab bahwa pernikahan seperti itu diterima 
masyarakat
 pada saat itu. Jika tidak, orang-orang akan merasa keberatan dengan
 pernikahan Nabi saw dengan Aisyah.
 
 Bagaimanapun, penjelasan seperti ini akan mudah menipu bagi orang-
orang yang
 naif dalam mempercayainya. Tetapi, saya tidak cukup puas dengan
 penjelasan seperti itu.
 
 Nabi merupakan manusia tauladan, Semua tindakannya paling patut 
dicontoh
 sehingga kita, Muslim dapat meneladaninya. Bagaimaanpun, kebanyakan 
orang
 di Islam, termasuk saya, Tidak akan berpikir untuk men-tunangkan 
saudara
 perempuan kita yang berumur 7 tahun dengan seorang laki-laki berumur 
50
 tahun. Jika orang tua setuju dengan pernikahan
 seperti itu, kebanyakan orang, walaupun tidak semuanya, akan 
memandang
 rendah terhadap orang tua dan suami tua tersebut.
 
 Tahun 1923, pencatat pernikahan di Mesir diberi intruksi untuk 
menolak
 pendaftaran dan menolak mengeluarkan surat nikah bagi calon suami 
berumur di
 bawah 18 tahun, dan calon isteri dibawah 16 tahun. Tahun 1931, 
Sidang dalam
 oraganisasi-oraganisi hukum dan syariah menetapkan untuk tidak 
merespon
 pernikahan bagi pasangan dengan umur diatas (Women in Muslim
 Family Law, John Esposito, 1982). Ini memperlihatkan bahwa walaupun 
di
 negara Mesir yang mayoritas Muslim pernikahan usia anak-anak adalah 
tidak
 dapat diterima.
 
 Jadi, Saya percaya, tanpa bukti yang solidpun selain penghormatan 
saya
 terhadap Nabi, bahwa cerita pernikahan gadis brumur 7 tahun dengan 
Nabi
 berumur 50 tahun adalah mitos semata. Bagaimanapun perjalanan 
panjang saya
 dalam menyelelidiki kebenaran atas hal ini membuktikan intuisi saya 
benar
 adanya.
 
 Nabi memang seorang yang gentleman. Dan dia tidak menikahi gadis 
polos
 berumur 7 atau 9 tahun. Umur Aisyah telah dicatat secara salah dalam
 literatur hadist. Lebih jauh, Saya pikir bahwa cerita yang 
menyebutkan hal
 ini sangatlah tidak bisa dipercaya. Beberapa hadist (tradisi Nabi) 
yang
 menceritakan mengenai umur Aisyah pada saat pernikahannya dengan 
Nabi,
 hadist-hadist tersebut sangat bermasalah. Saya akan menyajikan 
beberapa
 bukti melawan khayalan yang diceritakan Hisham ibnu `Urwah dan untuk
 membersihkan nama Nabi dari sebutan seorang tua yang tidak 
bertanggung
 jawab yang menikahi gadis polos berumur 7 tahun.
 
 Bukti #1: Pengujian Terhadap Sumber
 
 Sebagian besar riwayat yang menceritakan hal ini yang tercetak di 
hadist
 yang semuanya diriwayatkan hanya oleh Hisham ibn `Urwah, yang 
mencatat atas
 otoritas dari bapaknya, yang mana seharusnya minimal 2 atau 3 orang 
harus
 mencatat hadist serupa juga. Adalah aneh bahwa tak ada seorangpun 
yang di
 Medinah, dimana Hisham ibn `Urwah tinggal, sampai usia 71 tahun baru
 menceritakan hal ini, disamping kenyataan adanya banyak murid-murid 
di
 Medinah termasuk yang kesohor Malik ibn Anas, tidak menceritakan hal 
ini.
 Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Iraq, di mana Hisham 
tinggal
 disana dan pindah dari Medinah ke Iraq pada usia tua.
 
 Tehzibu'l-Tehzib, salah satu buku yang cukup terkenal yang berisi 
catatan
 para periwayat hadist, menurut Yaqub ibn Shaibah mencatat : " Hisham 
sangat
 bisa dipercaya, riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang dia
 ceritakan setelah pindah ke Iraq " (Tehzi'bu'l-tehzi'b, Ibn Hajar
 Al-`asqala'ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, 15th century. Vol 11, 
p.50).
 
 Dalam pernyataan lebih lanjut bahwa Malik ibn Anas menolak riwayat 
Hisham
 yang dicatat dari orang-orang Iraq: " Saya pernah diberi tahu bahwa 
Malik
 menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq" (Tehzi'b
 u'l-tehzi'b, IbnHajar Al- `asqala'ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, 
Vol.11,
 p. 50).
 
 Mizanu'l-ai`tidal, buku lain yang berisi uraian riwayat hidup pada 
periwayat
 hadist Nabi saw mencatat: "Ketika masa tua, ingatan Hisham mengalami
 kemunduran yang mencolok" (Mizanu'l-ai`tidal, Al-Zahbi,
 Al-Maktabatu'l-athriyyah, Sheikhupura, Pakistan, Vol. 4, p. 301).
 
 KESIMPULAN: berdasarkan referensi ini, Ingatan Hisham sangatlah 
buruk dan
 riwayatnya setelah pindah ke Iraq sangat tidak bisa dipercaya, 
sehingga
 riwayatnya mengenai umur pernikahan Aisyah adalah tidak kredibel.
 
 KRONOLOGI: Adalah vital untuk mencatat dan mengingat tanggal penting 
dalam
 sejarah Islam:
 
 Pra-610 M: Jahiliyah (pra-Islamic era) sebelum turun wahyu
 610 M: turun wahyu pertama Abu Bakr menerima Islam
 613 M: Nabi Muhammad mulai mengajar ke Masyarakat
 615 M: Hijrah ke Abyssinia.
 616 M: Umar bin al Khattab menerima Islam.
 620 M: dikatakan Nabi meminang Aisyah
 622 M: Hijrah ke Yathrib, kemudian dinamai Medina
 623/624 M: dikatakan Nabi saw berumah tangga dengan Aisyah
 
 Bukti #2: Meminang
 
 Menurut Tabari (juga menurut Hisham ibn `Urwah, Ibn Hunbal and Ibn 
Sad),
 Aisyah dipinang pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada usia 
9
 tahun.
 
 Tetapi, di bagian lain, Al-Tabari mengatakan: "Semua anak Abu Bakr 
(4 orang)
 dilahirkan pada masa jahiliyahh dari 2 isterinya " (Tarikhu'l-umam
 wa'l-mamlu'k, Al-Tabari (died 922), Vol. 4,p. 50, Arabic, Dara'l-
fikr,
 Beirut, 1979).
 
 Jika Aisyah dipinang 620M (Aisyah umur 7 tahun) dan berumah tangga 
tahun
 623/624 M (usia 9 tahun), ini mengindikasikan bahwa Aisyah 
dilahirkan pada
 613 M. Sehingga berdasarkan tulisan Al- Tabari, Aisyah seharusnya 
dilahirkan
 pada 613M, Yaitu 3 tahun sesudah masa Jahiliyahh usai (610 M).
 Tabari juga menyatakan bahwa Aisyah dilahirkan pada saat Jahiliyah. 
Jika
 Aisyah dilahirkan pada era Jahiliyah, seharusnya minimal Aisyah 
berumur 14
 tahun ketika dinikah. Tetapi intinya Tabari mengalami kontradiksi 
dalam
 periwayatannya.
 
 KESIMPULAN: Al-Tabari tak reliable mengenai umur Aisyah ketika 
menikah.
 
 Bukti # 3: Umur Aisyah jika dihubungkan dengan umur Fatimah
 
 Menurut Ibn Hajar, "Fatima dilahirkan ketika Ka`bah dibangun 
kembali, ketika
 Nabi saw berusia 35 tahun... Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah"
 (Al-isabah fi tamyizi'l-sahabah, Ibn Hajar al-Asqalani, Vol. 4, p. 
377,
 Maktabatu'l-Riyadh al-haditha, al-Riyadh,1978).
 
 Jika Statement Ibn Hajar adalah factual, berarti Aisyah dilahirkan 
ketika
 Nabi berusia 40 tahun. Jika Aisyah dinikahi Nabi pada saat usia Nabi 
52
 tahun, maka usia Aisyah ketika menikah adalah 12 tahun.
 
 KESIMPULAN: Ibn Hajar, Tabari, Ibn Hisham, dan Ibn Humbal 
kontradiksi satu
 sama lain. Tetapi tampak nyata bahwa riwayat Aisyah menikah usia 7 
tahun
 adalah mitos tak berdasar.
 
 Bukti #4: Umur Aisyah dihitung dari umur Asma'
 
 Menurut Abda'l-Rahman ibn abi zanna'd: "Asma lebih tua 10 tahun 
dibanding
 Aisyah (Siyar A`la'ma'l-nubala', Al-Zahabi, Vol. 2, p. 289, Arabic,
 Mu'assasatu'l-risalah, Beirut, 1992).
 
 Menurut Ibn Kathir: "Asma lebih tua 10 tahun dari adiknya [Aisyah]"
 (Al-Bidayah wa'l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 371,Dar al-fikr al-
`arabi,
 Al-jizah, 1933).
 
 Menurut Ibn Kathir: "Asma melihat pembunuhan anaknya pada tahun 73 
H, dan 5
 hari kemudian Asma meninggal. Menurut iwayat lainya, dia meninggal 
10 atau
 20 hari kemudian, atau beberapa hari lebih dari 20 hari, atau 100 
hari
 kemudian. Riwayat yang paling kuat adalah 100 hari kemudian. Pada 
waktu Asma
 Meninggal, dia berusia 100 tahun" (Al-Bidayah wa'l-nihayah, Ibn
 Kathir, Vol. 8, p. 372, Dar al-fikr al-`arabi, Al- jizah, 1933)
 
 Menurut Ibn Hajar Al-Asqalani: "Asma hidup sampai 100 tahun dan 
meninggal
 pada 73 or 74 H." (Taqribu'l-tehzib, Ibn Hajar Al-Asqalani,p. 654, 
Arabic,
 Bab fi'l-nisa', al-harfu'l-alif, Lucknow).
 
 Menurut sebagaian besar ahli sejarah, Asma, Saudara tertua dari 
Aisyah
 berselisih usia 10 tahun. Jika Asma wafat pada usia 100 tahun dia 
tahun 73
 H, Asma seharusnya berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah 622M).
 
 Jika Asma berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (ketika Aisyah 
berumah
 tangga), Aisyah seharusnya berusia 17 atau 18 tahun. Jadi, Aisyah, 
berusia
 17 atau 18 tahun ketika hijrah pada taun dimana Aisyah berumah 
tangga.
 
 Berdasarkan Hajar, Ibn Katir, and Abda'l-Rahman ibn abi zanna'd, 
usia Aisyah
 ketika beliau berumah tangga dengan Rasulullah adalah 19 atau 20 
tahun.
 
 Dalam bukti # 3, Ibn Hajar memperkirakan usia Aisyah 12 tahun dan 
dalam
 bukti #4 Ibn Hajar mengkontradiksi dirinya sendiri dengan 
pernyataannya usia
 Aisyah 17 atau 18 tahun. Jadi mana usia yang benar ? 12 atau 18..?
 
 KESIMPULAN: Ibn Hajar tidak valid dalam periwayatan usia Aisyah.
 
 Bukti #5: Perang BADAR dan UHUD
 
 Sebuah riwayat mengenai partisipasi Aisyah dalam perang Badr 
dijabarkan
 dalam hadist Muslim, (Kitabu'l-jihad wa'l-siyar, Bab karahiyati'l-
isti`anah
 fi'l-ghazwi bikafir). Aisyah, ketika menceritakan salah satu moment 
penting
 dalam perjalanan selama perang Badar, mengatakan: "ketika kita 
mencapai
 Shajarah". Dari pernyataan ini tampak jelas, Aisyah merupakan anggota
 perjalanan menuju Badar. Sebuah riwayat mengenai pastisipasi Aisyah 
dalam
 Uhud tercatat dalam Bukhari (Kitabu'l-jihad wa'l-siyar, Bab Ghazwi'l-
nisa'
 wa qitalihinnama`a'lrijal): "Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, 
Orang-orang
 tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. [pada hari itu,] Saya melihat 
Aisyah
 dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit
 pakaian-nya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb]."
 Lagi-lagi, hal ini menunjukkan bahwa Aisyah ikut berada dalam perang 
Uhud
 dan Badr.
 
 Diriwayatkan oleh Bukhari (Kitabu'l-maghazi, Bab Ghazwati'l-khandaq 
wa
 hiya'l-ahza'b): "Ibn `Umar menyatakan bahwa Rasulullah tidak 
mengijinkan
 dirinya berpastisispasi dalam Uhud, pada ketika itu, Ibnu Umar 
berusia 14
 tahun. Tetapi ketika perang Khandaq, ketika berusia 15 tahun, Nabi
 mengijinkan Ibnu Umar ikut dalam perang tsb."
 
 Berdasarkan riwayat diatas, (a) anak-anak berusia dibawah 15 tahun 
akan
 dipulangkan dan tidak diperbolehkan ikut dalam perang, dan (b) Aisyah
 ikut dalam perang badar dan Uhud
 
 KESIMPULAN: Aisyah ikut dalam perang Badar dan Uhud jelas 
mengindikasikan
 bahwa beliau tidak berusia 9 tahun ketika itu, tetapi minimal 
berusia 15
 tahun. Disamping itu, wanita-wanita yang ikut menemani para pria 
dalam
 perang sudah seharusnya berfungsi untuk membantu, bukan untuk 
menambah beban
 bagi mereka. Ini merupakan bukti lain dari kontradiksi usia 
pernikahan
 Aisyah.
 
 BUKTI #6: Surat al-Qamar (Bulan)
 
 Menurut beberapa riwayat, Aisyah dilahirkan pada tahun ke delapan 
sebelum
 hijriyah. Tetapi menurut sumber lain dalam Bukhari, Aisyah tercatat
 mengatakan hal ini: "Saya seorang gadis muda(jariyah dalam bahasa 
arab)"
 ketika Surah Al-Qamar diturunkan(Sahih Bukhari, Kitabu'l-tafsir, Bab 
Qaulihi
 Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa'l-sa`atu adha' wa amarr).
 
 Surat 54 dari Quran diturunkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah
(The
 Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), menunjukkan bahwa surat tsb 
diturunkan
 pada tahun 614 M. jika Aisyah memulai berumahtangga dengan 
Rasulullah pada
 usia 9 di tahun 623 M or 624 M, Aisyah masih bayi yang baru lahir 
(sibyah in
 Arabic) pada saat Surah Al-Qamar diturunkan. Menurut riwayat diatas, 
secara
 aktual tampak bahwa Aisyah adalah gadis muda, bukan bayi yang baru 
lahir
 ketika pewahyuan Al-Qamar. Jariyah berarti gadis muda yang masih suka
 bermain (Lane's Arabic English Lexicon). Jadi, Aisyah, telah menjadi 
jariyah
 bukan sibyah (bayi), jadi telah berusia 6-13 tahun pada saat
 turunnya surah Al-Qamar, dan oleh karena itu sudah pasti berusia 14-
21 tahun
 ketika dinikah Nabi.
 
 KESIMPULAN: Riwayat ini juga mengkontra riwayat pernikahan Aisyah 
yang
 berusia 9 tahun.
 
 Bukti #7: Terminologi bahasa Arab
 
 Menurut riwayat dari Ahmad ibn Hanbal, sesudah meninggalnya isteri 
pertama
 Rasulullah, Khadijah, Khaulah datang kepada Nabi dan menasehati Nabi 
untuk
 menikah lagi, Nabi bertanya kepadanya tentang pilihan yang ada di 
pikiran
 Khaulah. Khaulah berkata: "Anda dapat menikahi seorang gadis (bikr) 
atau
 seorang wanita yang pernah menikah (thayyib)". Ketika Nabi bertanya 
tentang
 identitas gadis tersebut (bikr), Khaulah menyebutkan nama Aisyah.
 
 Bagi orang yang paham bahasa Arab akan segera melihat bahwa kata 
bikr dalam
 bahasa Arab tidak digunakan untuk gadis belia berusia 9 tahun. Kata 
yang
 tepat untuk gadis belia yang masih suka bermain-main adalah, seperti
 dinyatakan dimuka, adalah jariyah. Bikr disisi lain, digunakan untuk 
seorang
 wanita yang belum menikah serta belum punya pertautan pengalaman
 dengan pernikahan, sebagaimana kita pahami dalam bahasa 
Inggris "virgin".
 Oleh karena itu, tampak jelas bahwa gadis belia 9 tahun 
bukanlah "wanita"
 (bikr) (Musnad Ahmad ibn Hanbal, Vol. 6, p. .210,Arabic, Dar Ihya al-
turath
 al-`arabi, Beirut).
 
 Kesimpulan: Arti literal dari kata, bikr (gadis), dalam hadist 
diatas adalah
 "wanita dewasa yang belum punya pengalaman sexual dalam pernikahan." 
Oleh
 karena itu, Aisyah adalah seorang wanita dewasa pada waktu 
menikahnya.
 
 Bukti #8. Text Qur'an
 
 Seluruh muslim setuju bahwa Quran adalah buku petunjuk. Jadi, kita 
perlu
 mencari petunjuk dari Qur'an untuk membersihkan kabut kebingungan 
yang
 diciptakan oleh para periwayat pada periode klasik Islam mengenai 
usia
 Aisyah dan pernikahannya. Apakah Quran mengijinkan atau melarang 
pernikahan
 dari gadis belia berusia 7 tahun?
 
 Tak ada ayat yang secara eksplisit mengijinkan pernikahan seperti 
itu. Ada
 sebuah ayat, yang bagaimanapun, yang menuntun muslim dalam mendidik 
dan
 memperlakukan anak yatim. Petunjuk Qur'an mengenai perlakuan anak 
Yatim juga
 valid diaplikasikan ada anak kita sendiri sendiri. Ayat tersebut 
mengatakan:
 Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna
 akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan 
Allah
 sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari 
hasil
 harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (Qs. 
4:5) Dan
 ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian 
jika
 menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), 
maka
 serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. ?? (Qs. 4:6)
 
 Dalam hal seorang anak yang ditingal orang tuanya, Seorang muslim
 diperintahkan untuk (a) memberi makan mereka, (b) memberi pakaian, 
(c)
 mendidik mereka, dan (d) menguji mereka thd kedewasaan "sampai usia 
menikah"
 sebelum mempercayakan mereka dalam pengelolaan keuangan.
 
 Disini, ayat Qur'an menyatakan tentang butuhnya bukti yang teliti 
terhadap
 tingkat kedewasaan intelektual dan fisik melalui hasil test yang 
objektif
 sebelum memasuki usia nikah dan untuk mempercayakan pengelolaan 
harta-harta
 kepada mereka.
 
 Dalam ayat yang sangat jelas diatas, tidak ada seorangpun dari 
muslim yang
 bertanggungjawab akan melakukan pengalihan pengelolaan keuangan pada
 seorang gadis belia berusia 7 tahun. Jika kita tidak bisa 
mempercayai gadis
 belia berusia 7 tahun dalam pengelolaan keuangan, Gadis tersebut 
secara tidak
 memenuhi syarat secara intelektual maupun fisik untuk menikah. Ibn 
Hambal
 (Musnad Ahmad ibn Hambal, vol.6, p. 33 and 99) menyatakan bahwa 
Aisyah
 yang berusia 9 tahun lebih tertarik untuk bermain dengan mainannya 
daripada
 mengambil tugas sebagai isteri. Oleh karena itu sangatlah sulit untuk
 mempercayai, bahwa Abu Bakar,seorang tokoh muslim, akan menunangkan 
anaknya
 yang masih belia berusia 7 taun dengan Nabi yang berusia 50 tahun.. 
Sama
 sulitnya untuk membayangkan bahwa Nabi menikahi seorang gadis belia 
berusia
 7 tahun.
 
 Sebuah tugas penting lain dalam menjaga anak adalah mendidiknya. 
Marilah
 kita memunculkan sebuah pertanyaan,"berapa banyak di antara kita yang
 percaya bahwa kita dapat mendidik anak kita dengan hasil memuaskan 
sebelum
 mereka mencapai usia 7 atau 9 tahun?" Jawabannya adalah Nol besar. 
Logika
 kita berkata, adalah tidak mungkin tugas mendidik anak kita dengan 
memuaskan
 sebelum mereka mencapai usia 7 tahun, lalu bagaimana mungkin kita 
percaya
 bahwa Aisyah telah dididik secara sempurna pada usia 7 tahun seperti 
diklaim
 sebagai usia pernikahannya?
 
 Abu Bakr merupakan seorang yang jauh lebih bijaksana dari kita 
semua, Jadi
 dia akan merasa dalam hatinya bahwa Aisyah masih seorang anak-anak 
yang
 belum secara sempurna sebagaimana dinyatakan Qur'an. Abu Bakar tidak 
akan
 menikahkan Aisyah kepada seorangpun. Jika sebuah proposal pernikahan 
dari
 gadis belia dan belum terdidik secara memuaskan datang kepada Nabi, 
Beliau
 akan menolak dengan tegas karena itu menentang hukum-hukum Quran.
 
 KESIMPULAN: Pernikahan Aisyah pada usia 7 tahun akan menentang hukum
 kedewasaan yang dinyatakan Quran. Oleh karena itu, Cerita pernikahan 
Aisyah
 gadis belia berusia 7 tahun adalah mitos semata.
 
 Bukti #9: Ijin dalam pernikahan
 
 Seorang wanita harus ditanya dan diminta persetujuan agar pernikahan 
yang
 dia lakukan menjadi syah (Mishakat al Masabiah, translation by James 
Robson,
 Vol. I, p. 665). Secara Islami, persetujuan yang kredible dari 
seorang
 wanita merupakan syarat dasar bagi kesyahan sebuah pernikahan.
 
 Dengan mengembangkan kondisi logis ini, persetujuan yang diberikan 
oleh
 gadis belum dewasa berusia 7 tahun tidak dapat diautorisasi sebagai
 validitas sebuah pernikahan.
 
 Adalah tidak terbayangkan bahwa Abu Bakr, seorang laki-laki yang 
cerdas,
 akan berpikir dan mananggapi secara keras tentang persetujuan 
pernikahan
 gadis 7 tahun (anaknya sendiri) dengan seorang laki-laki berusia 50 
tahun.
 
 Serupa dengan ini, Nabi tidak mungkin menerima persetujuan dari 
seorang
 gadis yang menurut hadith dari Muslim, masih suka bermain-main dengan
 bonekanya ketika berumah tangga dengan Rasulullah.
 
 KESIMPULAN: Rasulullah tidak menikahi gadis berusia 7 tahun karena 
akan
 tidak memenuhi syarat dasar sebuah pernikahan islami tentang klausa
 persetujuan dari pihak isteri. Oleh karena itu, hanya ada satu 
kemungkinan
 Nabi menikahi Aisyah seorang wanita yang dewasa secara intelektual 
maupun
 fisik.
 
 Summary:
 
 Tidak ada tradisi Arab untuk menikahkan anak perempuan atau laki-
laki yang
 berusia 9 tahun, Demikian juga tidak ada pernikahan Rasulullah SAW 
dan
 Aisyah ketika berusia 9 tahun. Orang-orang arab tidak pernah 
keberatan
 dengan pernikahan seperti ini, karena ini tak pernah terjadi 
sebagaimana isi
 beberapa riwayat.
 
 Jelas nyata, riwayat pernikahan Aisyah pada usia 9 tahun oleh Hisham 
ibn
 `Urwah tidak bisa dianggap sebagai kebenaran, dan kontradisksi dengan
 riwayat-riwayat lain. Lebih jauh, tidak ada alasan yang nyata untuk 
menerima
 riwayat Hisham ibn `Urwah sebagai kebenaran ketika para pakar lain, 
termasuk
 Malik ibn Anas, melihat riwayat Hisham ibn `Urwah selama di
 Iraq adalah tidak reliable. Pernyataan dari Tabari, Bukhari dan 
Muslim
 menunjukkan mereka kontradiksi satu sama lain mengenai usia menikah 
bagi
 Aisyah. Lebih jauh, beberapa pakar periwayat mengalami internal 
kontradiksi
 dengan riwayat-riwayatnya sendiri. Jadi, riwayat usia Aisyah 9 tahun 
ketika
 menikah adalah tidak reliable karena adanya kontradiksi yang nyata 
pada
 catatan klasik dari pakar sejarah Islam.
 
 Oleh karena itu, tidak ada alasan absolut untuk menerima dan 
mempercayai
 usia Aisyah 9 tahun ketika menikah sebagai sebuah kebenaran 
disebabkan cukup
 banyak latar belakang untuk menolak riwayat tsb dan lebih layak 
disebut
 sebagai mitos semata. Lebih jauh, Qur'an menolak pernikahan gadis 
dan lelaki
 yang belum dewasa sebagaimana tidak layak membebankan kepada
 mereka tanggung jawab-tanggung jawab
 
 ===
 
 -muslim voice-
 ______________________________________
 BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW  
 
 [Non-text portions of this message have been removed]
 
 
     
                       

                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Next-gen email? Have it all with the  all-new Yahoo! Mail Beta.

[Non-text portions of this message have been removed]

--- End forwarded message ---







Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke