sumber:
http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid==7&id=!0043&kat_id=
5&kat_id1=#2
Pesan Kemerdekaan Ibnu Taimiyah
Begitu banyak nikmat Allah yang diberikan pada manusia. Demikian
banyaknya nikmat tersebut, hingga manusia tidak akan pernah mampu
menghitung. "Jika kamu coba menghitung nikmat dari Allah, maka kamu
tidak akan mampu (menghitungnya). Sesungguhnya Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang," demikian firman Allah dalam QS An-Nahl [16] ayat
18.
Bila menghitungnya saja sudah tidak bisa, bagaimana mungkin manusia
bisa mensyukuri semua nikmat tersebut. Alhamdulillah dengan kasih
sayang dan kebijaksanaan-Nya, Allah SWT tidak menuntut manusia untuk
mampu mensyukuri seluruh nikmat itu, manusia cukup bersyukur
sekemampuannya saja. Maka di akhir QS An-Nahl [16] ayat 18 tersebut,
ada sebuah penekanan: "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang".
Kemerdekaan adalah satu nikmat terbesar yang Allah karuniakan pada
manusia. Derajatnya lebih tinggi daripada nikmat kehidupan (dengan
semua dimensi penyokongnya). Allah SWT memberi nikmat kehidupan tidak
hanya pada manusia, tapi juga pada hewan dan tumbuhan. Tidak demikian
dengan nikmat kemerdekaan, nikmat ini khusus diberikan pada manusia.
Maka, dengan kemerdekaanlah, manusia memiliki kualitas hidup lebih
tinggi dari makhluk lainnya. Dengan kemerdekaan pula, manusia
berkesempatan mendapatkan nikmat Allah tertinggi, yaitu nikmat hidayah
(keimanan), sehingga kedudukannya melambung tinggi melebihi malaikat.
Dan dengan kemerdekaan pula, kedudukan manusia bisa jatuh ke tempat
yang paling rendah, lebih rendah di banding hewan (lihat QS At-Tiin
[95]: 4-6).
Hakikatnya, kemerdekaan adalah kata lain dari kebebasan memilih. Dari
sini lahir sebuah ungkapan: "Hidup adalah pilihan". Ya, hidup adalah
rangkaian pilihan. Dan kualitas hidup kita sekarang dibentuk dari
pilihan-pilihan masa lalu. Inilah fitrah. Allah SWT memberi
kemerdekaan pada manusia untuk memilih jalan hidupnya. Difirmankan,
"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan
ketakwaan." (QS Asy-Syams [91]: 8).
Dengan kebebasan memilih inilah manusia terbagi ke dalam dua golongan.
Pertama, golongan orang beriman dan beruntung. Mereka menggunakan
kemerdekaan (kebebasan memilih) untuk taat kepada Allah. Kedua,
golongan kafir dan merugi. Mereka menggunakan kemerdekaannya untuk
bermaksiat dan menganiaya dirinya. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya
beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu; dan sesungguhnya
merugilah orang yang mengotorinya." (QS Asy-Syams [91]: 8-10).
Agar nikmat kemerdekaan ini bisa dinikmati secara maksimal, Allah SWT
mengaruniakan pula tiga perangkat penyokong, di luar perangkat fisik,
yaitu: hati nurani (dhamir/spiritual intelligence), akal (aqli', rasio
atau intelectual quotion), dan rasa (syu'ur atau emosi) (Muhammad
Imaduddin Abdulrahim, dalam Islam Sistem Nilai Terpadu, 2002: hlm.
48).
Dari sini kita bisa melihat adanya dua sisi kemerdekaan, yaitu sisi
dalam (mental, emosional, serta ruhani atau spiritual) dan sisi luar
(fisik atau jasmani). Sisi yang pertama kedudukannya jauh lebih tinggi
di banding sisi yang kedua. Sehingga pemenuhan dan pemeliharaannya
harus lebih diutamakan dibanding sisi pertama. Sebab, kualitas seorang
manusia tidak dilihat dari kemerdekaan jasmani atau fisiknya, karena
hampir semua manusia memilikinya. Kualitas seorang manusia dilihat
dari kemerdekaan pikiran dan ruhaninya dari belenggu hawa nafsu.
(Idealnya, kita harus merdeka secara jasmani dan ruhani).
Karena itu, tak usah heran bila orang-orang berkualitas lebih memilih
terpenjara fisiknya, daripada terpenjara mental, emosi, atau
ruhaninya. Sosok seperti Nabi Yusuf AS, Bilal bin Rabbah, Imam Hanafi,
Imam Ibnu Taimiyah, Sayyid Quthb, Zainab Al-Ghazali, hingga Hamka di
Indonesia, adalah sosok yang lebih suka terpenjara fisiknya, daripada
terpenjara ruhaninya. Fisik mereka terpenjara, tapi hatinya merdeka.
Dalam persfektif ini, boleh jadi ada orang yang merdeka fisiknya, tapi
hidupnya terpenjara hawa nafsu dan jauh dari hidayah Allah SWT.
Seorang ahli hikmah mengatakan, "Orang yang di penjara itu adalah
orang yang terpenjara hatinya hingga tidak dapat mengenal Allah, dan
orang yang tertawan itu adalah orang yang ditawan oleh hawa nafsunya".
Dan yang paling menyedihkan adalah orang yang selain terpenjara
fisiknya juga terpenjara akal pikiran, emosi, serta hatinya.
Na'udzubillah. Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat seperti ini.
Belajar dari Ibnu Taimiyah
Syekhul Islam Ibnu Taimiyah adalah sosok yang lebih suka menggadaikan
kemerdekaan fisiknya daripada harus menggadaikan kemerdekaan akal
serta hatinya. Mari kita lihat sekilas perjalanan hidupnya untuk kita
ambil hikmahnya.
Ulama yang lahir di Damascus pada 22 Januari 1265 M/10 Rabi'ul Awwal
661 H ini, dikenal karena pemikirannya yang membawa transformasi dalam
khazanah pemikiran Islam. Tak heran bila Ibnu Taimiyah, digelari
"putra mahkota" pembaharuan Islam. Jasa terbesarnya adalah adalah
"membuka" kembali pintu ijtihad yang lama dinyatakan "tertutup" oleh
mayoritas ulama pada masa itu.
Walaupun demikian, hari-hari Ibnu Taimiyah banyak dilewatkan di
penjara. Tak kurang dari empat kali ulama besar ini dipenjarakan
hingga akhir hayatnya. Yang jadi sebab, ia banyak "berbeda pendapat"
dengan penguasa dan para ulama yang menyokongnya.
Bagi sebagian besar orang, penjara adalah neraka dunia. Namun tidak
demikian bagi ulama sekaliber Ibnu Taimiyah. Baginya, penjara adalah
tempat berkarya, tempat ibadah yang tenang, sekaligus berkah yang
layak disyukuri. Ia mengatakan, "Sesungguhnya aku menunggu saat
seperti ini, karena di dalamnya terdapat kebaikan yang besar".
Saat di penjara di benteng Damascus, Ibnu Taimiyah sempat berkata,
"Kalau aku membelanjakan emas sepenuh benteng ini, niscaya tidak akan
pernah menyamai syukurku atas nikmat yang kurasakan ini".
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, seorang ulama besar yang juga murid
kesayangannya, menukilkan sebuah senandung gurunya: "Apakah gerangan
yang akan diperbuat musuh-musuhku kepadaku? Syurgaku dan kebunku ada
di dadaku. Ke mana pun aku pergi, dia selalu bersamaku dan tidak
pernah meninggalkanku. Sesungguhnya penjaraku adalah tempat
khuluwat-ku, kematianku adalah mati syahid, dan terusirnya diriku dari
negeriku adalah rekreasiku". Demikianlah, Ibnu Taimiyah adalah sosok
yang merdeka di tengah sempitnya penjara.
Pesan dari penjara
Alhamdulillah, pada 17 Agustus 2005 lalu, bangsa kita memperingati
hari kemerdekaannya yang ke-60. Sepintas lalu, 60 tahun kemerdekaan
ini "hanyalah" kemerdekaan fisik, dan memang seperti itulah
kenyataannya.
Hal terpenting dan harus menjadi prioritas kita sekarang adalah
memerdekakan pikiran kita dari kejumudan dan kebodohan; emosi dari
kebencian, dendam, rasa marah, dan ketakutan; serta memerdekakan
ruhani dari belenggu hawa nafsu yang membutakan.
Bagaimana cara memulainya? Kembali kita mengutip pesan Ibnu Taimiyah
kepada murid-muridnya saat berada di penjara. "Berpegang teguhlah
(iltizam) engkau kepada syariat Allah dengan landasan ilmu, gemarkan
beristighfar, perbanyak tasbih dan doa, dan lakukanlah amal saleh
dengan sepenuh hati".
"Ya Allah bantulah hamba untuk selalu berdzikir kepada-Mu, bersyukur
kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya". Amin.
( ems )
[Non-text portions of this message have been removed]
Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/