Betul sekali, ana baru dengar semalam dari kawan-kawan yg kebetulan
tetangga  atau saudaranya pernah masuk di Ponpes Al-Zaytun tersebut,
semua menyatakan tidak ada yg baik, semua yg ada di ponpes tersebut
serba di Bisniskan untuk para santrinya, dan benar sekali bahwa mereka
jarang Sholat karena bukan merupakan kewajiban,dan banyak terjadi
pencurian dan kehilangan terhadap barang-barang pribadi milik para
santri, para santri di doktrin sehingga tidak dapat bercerita kepada
orang tuanya.

Saudara teman saya tersebut punya tiga orang anak yg dimasukkan ke
Pondok Pesantren berbeda, dan setelah lulus ternyata lulusan ponpes
Al-Zaytun (maaf) adalah paling Bodoh, surat-surat pendek dalam Juz Amma
saja tidak hapal, dan banyak lagi keluhan-keluhan lainnya, 

Mudah-mudahan ini bisa dijadikan sebagai referensi supaya jangan sampai
kita terjerumus dengan kemegahan pondok pesantren tersebut.

Wassalam
 

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
On Behalf Of Henny
Sent: Wednesday, August 30, 2006 8:44 AM
To: [email protected]
Subject: [media-dakwah] FW: kejutan al-zaytun

Catatan dari milis tetangga.

 

AKHIR Juli 2006, saya dan suami menghadiri resepsi perkawinan anak teman
saya, kebetulan orangtua (keluarga) dari pihak mempelai pria maupun
wanita
kami kenal betul, mereka adalah pengurus Ponpes Al-Zaytun. Sebuah Ponpes
yang konon termegah di Asia Tenggara. Resepsi berlangsung di Gedung
Depnaker, Jalan Jen. Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Sejak dari rumah,
saya
membayangkan resepsi pernikahan yang digelar tentulah Islami, karena
kedua
belah pihak adalah pengurus Ponpes Al-Zaytun yang pernah diresmikian
Prof.
B.J. Habibie pada tanggal 27 Agustus 1999, semasa beliau masih menjabat
sebagai Presiden RI ketiga.

Namun, betapa terkejutnya, ketika melihat kenyataan di depan mata,
resepsi
digelar dalam nuansa barat, penerima tamu pria berbanjar mengenakan jas,
ada
beberapa penerima tamu wanita yang berkerudung. Begitu juga dengan tuan
rumah dari kedua belah pihak, mengenakan jas lengkap seperti orang
barat.
Ruang resepsi dipenuhi live music bernuansa Timur Tengah.

Ketika kedua mempelai memasuki ruang resepsi, live music semakin keras
dan
kian bersemangat menyambut kedatangan keduanya. Mempelai wanita
mengenakan
gaun pengantin sebagaimana bisa dilihat pada acara perkawinan umat
Kristen
di gereja. Rambut mempelai wanita tak bertutup, dan dihias sedemikian
rupa
indahnya.
 
Resepsi digelar dalam format standing party, makan dan minum sambil
berdiri,
tidak disediakan kursi. Laki-laki dan perempuan campur aduk, saling
bersalaman satu sama lain, begitu juga dengan kedua mempelai yang
menerima
ucapan selamat (bersalaman) dari setiap tamu.
 
Rasanya, kejadian ini cuma sebuah kejutan kecil dari komunitas
Al-Zaytun.
Sejak pertama kali diresmikan, Al-Zaytun selalu menyuguhkan
kejutan-kejutan.
Khalayak penonton televisi pernah dikejutkan oleh pemberitaan keberadaan
Ponpes termegah di Asia Tenggara, bahkan ada yang menyebutnya termegah
di
Asia.
 
Ponpes bernama Al-Zaytun itu, berdiri di atas tanah berhektar-hektar.
Semula
tanah itu merupakan tanah produktif milik rakyat setempat yang diperoleh
dengan berbagai cara. Antara lain, disebarkan isu bahwa di atas tanah
itu
akan dibangun sebuah proyek besar milik ABRI.
 
Dan yang lebih mengejutkan lagi, berkenaan dengan sosok pimpinan
Al-Zaytun
yang menyebutkan dirinya Syaikh Al-Ma'had Al-Zaytun A.S. Panji Gumilang.
Ternyata, dia adalah Toto Salam alias Abu Toto, aktivis NII-KW9 yang
sesat
itu.
 
Pada tahun 1980, elite NII KW-9 ditangkap aparat, namun Abu Toto
berhasil
meloloskan diri dan kabur ke Malaysia (Sabah). Abu Toto kabur bersama
uang
jamaah yang jumlahnya konon mencapai miliaran rupiah.
 
Sosok ini kembali ke Indonesia hampir satu dasawarsa kemudian, yaitu
sekitar
tahun 1989. Ia kemudian menjadi bagian dari kelompok Haji Karim Hasan,
yang
pernah menjadi bagian dari gerakan NII namun akhirnya mengundurkan diri
(1983) karena memiliki pemahaman yang menyimpang.
 
Penyimpangan Haji Karim Hasan antara lain berupa pendapat bahwa meski
sosok
Rasul sudah berakhir pada diri Nabi Muhammad, namun sebagai sebuah
lembaga
tetap berlanjut. Untuk itulah setelah keluar dari NII Haji Karim Hasan
membentuk komunitas bernama Lembaga Kerasulan. Sebuah lembaga yang
menjalankan fungsi Rasul, dan Haji Karim Hasan adalah pimpinan lembaga
tersebut.
 
Ajaran Lembaga Kerasulan antara mengatakan, shalat belum wajib karena
saat
ini umat Islam masih berada dalam periode Madinah, belum Futuh Mekah.
 
Sekembalinya dari Sabah, Abu Toto berhasil meyakinkan Haji Karim Hasan
untuk
'kembali' kepada 'manhaj' NII. Akhirnya mereka membentuk NII KW9, dan
duduk
sebagai Imam adalah Haji Karim Hasan. Di tempat ini, doktrin sesat
Lembaga
Kerasulan tetap dijalankan.
 
Setelah Haji Karim Hasan meninggal, kepemimpinan dilanjutkan oleh Haji
Rais
Ahmad. Banyak saksi mata yang melihat kematian Haji Karim Hasan sebagai
"tidak layak untuk diceritakan", karena mereka takut digolongkan sebagai
"membuka aib" orang yang sudah meninggal.
 
Tahun 1992, Abu Toto merekayasa sebuah kejadian yang membuat Haji Rais
Ahmad
ditangkap, ditahan tanpa proses pengadilan hingga 1997 (meninggal di
tahanan). Sejak Haji Rais Ahmad mendekam di penjara, Abu Toto mengambil
alih
kepemimpinan. Ia semakin giat menerapkan doktrin sesat ala Lembaga
Kerasulan, bahkan semakin canggih menerapkan doktrin sesat tersebut.
Antara
lain, dalam hal mengumpulkan 'dana perjuangan' yang membolehkan mencuri
harta milik orang kafir. Yang dimaksud orang kafir adalah siapa saja
selain
anggota kelompok mereka.
 
Modus operandi yang hingga kini masih dipraktekkan adalah berpura-pura
menjadi pembantu rumah tangga, setelah sekian lama bekerja, dan dapat
dipercaya, kemudian menguras harta majikan. Modus seperti ini di tahun
2006
ini masih saja terjadi, namun tidak sedahsyat tahun-tahun sebelumnya
(2001
ke bawah).
 
Banyak cara lain yang diterapkan Abu Toto untuk menyedot dana umat,
dengan
menggunakan istilah-istilah berbau agama padahal sama sekali tidak ada
aturannya dalam Islam. Bahkan zakat fitrah dan Qurban dilombakan untuk
mengeruk dana sebesar-besarnya. Ini terjadi ketika Abu Toto sudah
mendirikan
Al-Zaytun. Dan yang menjadi sasarannya adalah para santri, mereka sampai
merengek-rengek kepada orangtuanya agar diberikan dana yang lebih besar
untuk kedua hal tadi.
 
Begitulah ajaran sesat Lembaga Kerasulan, pada satu sisi shalat belum
diwajibkan, namun untuk urusan yang berbau duit, seperti zakat fithrah,
Qurban, dan sebagainya, sudah diwajibkan meski belum Futuh Mekah.
 
Dua tahun kemudian, 1994, Abu Toto tidak dipercaya lagi oleh seluruh
jamaah
NII KW9. Sebanyak 800 jamaah NII KW9 mengundurkan diri. Justru, ke-800
jamaah inilah yang ditangkap aparat, dijebloskan ke penjara. Sementara
itu
Abu Toto tetap eksis memimpin NII KW9, dan terus melanjutkan doktrin
sesat
Lembaga Kerasulan, dan semakin piawai mencekik leher umat (jamaahnya)
dengan
berbagai pungutan yang dibuat-buat.
 
Tahun 1999 terlihat hasilnya, berupa bangunan megah bernama Ponpes
Al-Zaytun
yang berdiri angkuh di antara penduduk sekitar yang miskin.
 
Beberapa bulan kemudian, sekitar akhir 1999, Kepala Badan Intelijen
(BAKIN)
Letjen Purn ZA Maulani, pernah diminta melakukan negosiasi atas nama AS
Panji Gumilang (alias Abu Toto) untuk berhadapan dengan Al Chaidar,
misinya
meminta Al Chaidar tidak usah menerbitkan buku tentang masa lalu Abu
Toto
yang berkaitan dengan Al-Zaytun. 
 
Pertemuan antara Al Chaidar dengan Maulani dijembatani oleh Zaenal
Muttaqin.
Ketika itu, Zaenal Muttaqin (yang kala itu menjabat sebagai pemimpin
redaksi
majalah Sabili) membawa Al Chaidar ke rumah makan Sate Pancoran. Di sana
ternyata sudah hadir ZA Maulani. Negosiasi pun berlangsung, dan Al
Chaidar
akan menghentikan rencana penerbitan buku yang sedang disusunnya bila
mendapat uang kompensasi sebesar satu miliar rupiah. Sayangnya, saat itu
tidak ada kesepakatan yang bisa dihasilkan. Maka, buku berjudul "Sepak
Terjang KW9 Abu Toto Syekh A.S. Panji Gumilang Menyelewengkan NKA-NII
Pasca
S.M. Kartosoewirjo" terbit pada bulan Januari 2000.
 
Zaenal Muttaqin pria kelahiran 13 Agustus 1963 di Labuan (Banten) adalah
mantan aktivis PII (Pelajar Islam Indonesia) yang dikenal dekat dengan
pati
TNI seperti Prabowo Subianto, Brigjen Adityawarman, ZA Maulani, Mayjen
Kivlan Zein (yang oleh Gus Dur pernah disebut dengan julukan "Mayjen K"
ketika kasus Ambon pertama kali meledak), Muchdi PR (terakhir sebagai
salah
satu Deputi Kepala BIN ketika BIN dijabat Hendropriyono). Pada suatu
ketika
para pemegang saham meminta Zaenal untuk meninggalkan posisinya di
Sabili,
konon karena ada masalah keuangan. Di masa Zaenal, Sabili merupakan
salah
satu pembela Al-Zaytun. Sekarang tidak lagi.

  _____  

  

  _____  

Want to be your own boss? Learn how on Yahoo!
<http://us.rd.yahoo.com/evt=41244/*http:/smallbusiness.yahoo.com/r-index
>
Small Business.  



[Non-text portions of this message have been removed]






Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links



 








Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke