Berpikir Positif
Oleh : Siti Nuryati
Publikasi: 02 Februari 2006
Berbaik sangka (khusnudzan) dan berpikir positif hendaknya melekat pada diri
kita. Mengapa? Karena bisa jadi orang lain tidaklah seburuk yang kita kira.
Kita hanya melihat apa yang tampak, tapi tidak tahu niat baik apa yang ada di
hatinya. Dengan berbaik sangka dan berpikir positif dapat mengubah suatu
keburukan menjadi kebaikan.
Ketika menghadapi penentangan lantaran risalah Islam yang dibawanya, Rasulullah
SAW bukannya melontarkan doa kutukan. Beliau justru memohonkan maaf dan harapan
kepada yang telah menyakitinya agar diberi petunjuk Allah SWT. Pilihan beliau
ternyata tidak salah.
Tak lama setelah peristiwa itu, mereka yang pernah menyakiti beliau memeluk
Islam dan menjadi sahabat yang paling setia. ''Tanggapilah (kejahatan itu)
dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dengan dia ada
permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat akrab.'' (QS
Al-Fushilat: 34).
Berbaik sangka dan berpikir positif dapat menyelamatkan hati dan hidup kita.
Hati yang bersih adalah yang tidak menyimpan kebencian. Hati yang tenteram
adalah yang tidak memendam syakwasangka dan apriori terhadap orang lain. Dan
hati yang berseri-seri ialah yang selalu berpikir positif bagi dirinya maupun
orang lain.
Sementara kebencian, berburuk sangka, dan berpikir negatif hanya akan meracuni
hati kita. Umpatan seorang Yahudi yang mendatangi Rasulullah SAW tak membuatnya
berpikir balas dendam, meski beliau bisa melakukannya.
Ada ungkapan yang sangat menggugah dari seorang sufi, ''Yang paling penting
adalah bagaimana kita selalu baik kepada semua orang. Kalau kemudian ada orang
yang tidak baik kepada kita, itu bukan urusan kita, tapi urusan orang itu
dengan Allah SWT.''
Berpikir positif pun bisa membuat hidup kita lebih legowo, karena Allah SWT
seringkali menyiapkan rencana yang mengejutkan bagi hamba-Nya. Suatu saat, Umar
bin Khathab tengah dirundung kegalauan yang menyesakkan.
Putrinya, Hafshah, baru saja menjanda. Umar datang menemui Abu Bakar dan
menawarinya menikahi Hafshah. Ternyata Abu Bakar menolak. Umar pun menawari
Utsman bin Affan untuk menikahi Hafshah. Namun, Utsman pun menolaknya.
Dalam kegalauan itu, Umar mengadu kepada Rasulullah SAW tentang sikap kedua
sahabatnya itu. Rasulullah SAW menuntun Umar agar selalu berpikir positif,
sehingga bisa menjalani hidup dengan legowo.
Rasulullah SAW bahkan berdoa, ''Semoga Allah akan menentukan pasangan bagi
Hafshah, yang jauh lebih baik dari Utsman serta menentukan pasangan bagi
Utsman, yang jauh lebih baik dari Hafshah.'' Ternyata, tak lama setelah itu,
Rasulllah SAW menikahkan Utsman dengan putri beliau sendiri. Dan setelah itu,
beliau pun menikahi Hafshah.
republika
[Non-text portions of this message have been removed]
Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/