hmm..jadi merenung lagi nich..;) kenapa amrozi ingin hukuman matinya untuk disegerakan? but tibo malah sebaliknya??? minta dibebaskan or ditunda eksekusinya *_^
mungkin..karena Amrozi yakin sekali akan masuk syurga, but..tibo yakin sekali akan masuk neraka, makanya takut di hukum mati dan akan bertemu dengan sang Maha Adil yang sebenarnya:) subhannallah.. entah sadar or nda..? ternyata terlihat sekali perbedaan antara "tauhid" dgn kesesatan yg nyata:) jauh di lubuk hatinya.. antara amrozi dengan tibo mempunyai keyakinan yg bertolak belakang. Amrozi yakin sekali dengan "kebenarannya" atas apa yg dilakukannya, but..Tibo yakin sekali, kalau dia sudah melakukan dosa besar yg harus dipertanggung jawabkan dihadapan Yang Maha Adil. hehehe..kalau merasa benar and kalau umat nasrani merasa yg dilakukan tibo benar..??cuek aza lagiiiii..*_^ toch..sang pahlawannya yg akan di eksekusi itu kan..mau bertemu "Bapa" nya di syurga?? asik toch?? bukankah..menurut keyakinan umat nasrani, dosa mereka sudah ditanggung oleh Yeses di tiang salib?? jadi..cuek aja lagi..wong harusnya umat nasrani berterima kasih oleh para hakim dan eksekutor yg akan mempercepat pertemuan Tibo dengan "Bapa" nya di syurga *_^ hehehehe.. lucu juga ya..ternyata, secara nyata umat nasrani yg meminta keringanan hukuman untuk Tibo itu nda konsekuen dan nda yakin dengan agamanya ya..???wong katanya dosa mereka udah ditanggung oleh yesus di tiang salib?? jadi..kenapa harus takut di hukum mati?? bukannya harus bersyukur..karena akan bertemu sang penebus dosa ?? hehehehe..lain yg disebarkan dan diyakini, but lain yg dilakukan??? agama yg aneh....(termenung sambil manggut2..:) salam:) hana --- In [email protected], "Henny" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Yah begitulah dunia memperlakukan Islam, > > > > Pada saat kita membela diri dikatakan kita TEROSIS. > > > > Pada saat mereka yang menjadi terosis, mereka katakana untuk membela diri > dan hak mereka.. > > AJAIB! > > Semoga keadilan Allah akan tegak bersama tegaknya ISLAM. > > > > _____ > > From: [email protected] [mailto:media- [EMAIL PROTECTED] On > Behalf Of A Nizami > Sent: Thursday, September 07, 2006 6:04 PM > To: media dakwah; sabili; padhang-mbulan; Saksi > Subject: [media-dakwah] Warga Kristen Dukung Tibo si Pembantai Muslim? > > > > Menyedihkan sekali melihat warga Kristen mendukung > Fabianus Tibo yang membantai ribuan Muslim di Poso. > Saya pikir hanya segelintir warga Kristen saja yang > membela Tibo, ternyata tidak. Begitu banyak, bahkan > para tokoh agama sekelas Paus Benedictus pun membela > Tibo yang telah membantai ribuan Ummat Islam. > Akibatnya pemerintahan SBY seperti tidak dapat berbuat > apa-apa dan menunda eksekusi hukuman mati. > > Pengadilan dari pengadilan pertama, banding, kasasi, > PK telah membuktikan Tibo bersalah. Begitu pula ribuan > keluarga Muslim yang jadi korban mengenali Tibo yang > membantai keluarga mereka. > > Hal ini membuktikan bahwa dalam membantai ummat Islam > Tibo mendapat dukungan yang luas. Tak mungkin dia bisa > membantai ribuan Muslim jika hanya bertindak sendiri > tanpa bantuan orang lain mau pun pasokan dana. > > Pengakuan Tibo yang mengenal 16 pelaku lain sebagai > terlibat pembantaian justru makin membuktikan > keterlibatan Tibo. Dia adalah bagian komplotan mereka > karenanya dia tahu. Pemerintah juga harus > menindak-lanjuti ini. Tibo tetap harus dihukum mati > karena keterlibatannya. > > Jika alasannya hanya faktor kemanusiaan atau menolak > hukuman mati, kenapa para pendukung Tibo itu tidak > membela Amrozi yang juga dihukum mati? > > Jika akhirnya karena dukungan warga Kristen Tibo tidak > dihukum oleh pemerintah, maka ummat Islam di Indonesia > harus berhati-hati. Mereka harus bisa melindungi diri > sendiri agar tidak dibantai laksana hewan korban > seperti ribuan ummat Islam di Ambon dan Poso. > > Jika hanya mengandalkan aparat saja, maka nasibnya > akan sama seperti ummat Islam di Ambon dan Poso. Akan > jadi korban. Sementara pemerintah tidak mampu > menghukum si Pembantai. > > Ummat Islam Indonesia hendaknya mempelajari Hizbullah > di Lebanon yang sanggup membela ummat Islam dengan > berbagai rudal canggih. Bahkan negara Israel yang > senjatanya teramat canggih pun harus mundur melawan > mereka. Ummat Islam dilarang menyerang ummat lain. > Tapi ketika diserang, mereka harus membela diri. > > "Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa > saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang > ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) > kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang > orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; > sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu > nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi > dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya > (dirugikan)." [Al Anfaal:8] > > "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil > menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar > kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya > (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa > yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari > mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati > mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami > terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu > memahaminya. " [Ali Imran:118] > > > http://www.mail- > <http://www.mail-archive.com/daarut- [EMAIL PROTECTED]/msg00520.html> > archive.com/[email protected]/msg00520.html > [daarut-tauhiid] Exlusive News : Kilas Balik Kelelawar > Hitam, Pembantai "Muslim Poso" > Wido Q Supraha > Thu, 06 Apr 2006 03:27:23 -0700 > > *Kilas Balik Kelelawar Hitam, Pembantai "Muslim Poso" > * > Selasa, 04 April 2006 > *Warga Pesantren Walisongo, nama "Pasukan Kelalawar > Hitam" sudah tak > asing lagi. Dialah pelaku pembantai santri di > pesantren itu ketika tahun > 2000. Jumlahnya diperkirakan lebih dari 200 * > > Hidayatullah.com--Ratusan Muslim Poso, khususnya warga > Pesantren > Walisongo tentu tak akan pernah lupa nama "Pasukan > Kelewar Hitam." Sebab > dialah sang pelaku pembantaian Muslim Poso di tahun > 2000. Tulisan ini > merupakan kilas balik investigasi yang pernah dimuat > di majalah > Hidayatullah. > > *** > > Puluhan warga Pesantren Walisongo itu dibariskan > menghadap Sungai Poso. > Mereka dihimpun dalam beberapa kelompok yang saling > terikat. Ada yang > tiga orang, lima, enam atau delapan orang. Para pemuda > digabungkan > dengan pemuda dalam satu kelompok. Tangan mereka semua > terikat ke > belakang dengan kabel, ijuk, atau tali rafiah yang > satu dengan lainnya > saling ditautkan. > > Sebuah aba-aba memerintahkan agar mereka membungkuk. > Secepat kilat > pedang yang dipegang para algojo haus darah itu > memenggal tengkuk > mereka. Bersamaan dengan itu, terdengar teriakan > takbir. Ada yang > kepalanya langsung terlepas, ada pula yang setengah > terlepas. Ada yang > anggota badannya terpotong, ada pula badannya > terbelah. Darah segarpun > muncrat. Seketika itu pula tubuh-tubuh yang tidak > berdosa itu berjatuhan > ke sungai. > > Bersamaan dengan terceburnya orang-orang yang dibantai > itu, air sungai > Poso yang sebelumnya bening berubah warna menjadi > merah darah. Sesaat > tubuh orang-orang yang dibantai itu menggelepar > meregang nyawa sambil > mengikuti aliran sungai. Tidak semuanya meninggal > seketika, masih ada > yang bertahan hidup dan berusaha menyelamatkan diri. > Namun regu tembak > siap menghabisi nyawa korban sebelum mendapatkan > ranting, dahan, batang > pisang, atau apapun untuk menyelamatkan diri. > > Itulah salah satu babak dalam tragedi pembantaian > ummat Islam di Poso, > Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu. Warga Pesantren > Walisongo merupakan > salah satu sasaran yang dibantai. Di komplek pesantren > yang terletak di > Desa Sintuwulemba, Kecamatan Lage, Poso ini tidak > kurang 300-an orang > yang tinggal. Mulai dari ustadz , santri, pembina, dan > istri pengajar > serta anak-anaknya. > > Tidak satupun orang yang tersisa di komplek pesantren > itu. Sebagian > besar dibantai, sebagian lainnya lari ke hutan > menyelamatkan diri. > Bangunan yang ada dibakar dan diratakan dengan tanah. > Pesantren Poso > hanya tinggal puing-puing belaka. > > Ilham (27) satu-satunya ustadz Pesantren Walisongo > yang turut dibantai > namun selamat setelah mengapung beberapa kilometer > mengikuti aliran > sungai Poso, menuturkan kepada majalah Hidayatullah, > sebelum dibantai > mereka mengalami penyiksaan terlebih dahulu. Mereka > dikumpulkan di dalam > masjid Al Hirah. Di sanalah warga pesantren Walisongo > yang sudah > menyerah itu dibantai. Ada yang ditebas lehernya, > dipotong anggota > badannya, sebelum akhirnya diangkut truk ke pinggir > Sungai Poso. > > Sungai Poso menjadi saksi bisu pembantaian ummat > Islam, khususnya warga > Pesantren Walisongo. Mayat-mayat mereka hanyut di > Sungai Poso dan > terbawa entah sampai ke mana. Belum ada angka yang > pasti jumlah korban > dalam pembantaian itu. > > Seorang warga Kelurahan Kayamanya, Kecamatan Poso > Kota, Syahrul Maliki, > yang daerahnya dilewati aliran sungai Poso dan > terletak sembilan > kilometer dari ladang pembantaian, menuturkan kepada > Sahid, Dari pagi > hingga siang saja, saya menghitung ada 70-an mayat > yang hanyut terbawa > arus, berikutnya saya tidak menghitung lagi, katanya. > Sementara Pos > Keadilan Peduli Ummat (PKPU) melaporkan jumlah mayat > yang ditemukan di > Sungai Poso tidak kurang dari 165 orang. > > Tidak hanya lak-laki dewasa, banyak pula yang > perempuan, orang tua, dan > anak-anak. Biasanya mayat wanita disatukan dengan > anak-anak. Ada yang > cukup diikat, ada pula yang dimasukkan karung, kata > Syahrul. Sebagian > besar mayat sudah rusak akibat siksaan. > > Menurut Ilham, sebelum diserang, warga pesantren > diteror oleh Pasukan > Merah ini. Komplek Pesantren Walisongo sering dipanah. > Hingga saat ini > bekas panah tersebut masih terlihat jelas. > > Pembantainya sudah sangat jelas. Mereka adalah > orang-orang Kristen yang > dikenal sebagai "Pasukan Kelalawar Hitam." Dalam > aksinya mereka > mengenakan pakaian serba hitam. Salib di dada dan ikat > kepala merah. > Karena itu pula mereka sering disebut pula sebagai > Pasukan Merah. > Pembataian itu puncak dari hubungan ummat Islam dan > Kristen yang kurang > harmonis di kawasan itu. Tercatat sekitar 200 - 400-an > orang yang tewas > terbantai. > > Dalam laporannya, pihak gereja melalui 'Crisis Center > GKST untuk > Kerusuhan Poso' mengakui dikalangan mereka ada > kelompok terlatih yang > berpakaian ala ninja ini. Mereka menyebutnya sebagai > 'Pejuang Pemulihan > Keamanan Poso'. > > Ada ciri-ciri yang sama ketika kelompok merah > menyerang. Mereka selalu > mengenakan pakaian ala ninja yang serba hitam, semua > tertutup kecuali > mata. Mereka juga mengenakan atribut salib di dada dan > ikat kepala > merah. Mayat-mayat juga ditemukan selalu dalam kondisi > rusak akibat > siksaan atau sengaja dicincang hingga tidak dikenal > identitasnya. Dalam > berbagai penyerangan pasukan merah selalu di atas > angin. Karena itu > sebagian besar korbannya adalah orang-orang Muslim. > > Selain di Pesantren Walisongo penyerangan dan > pembantaian juga dilakukan > di sejumlah tempat. Tercatat 16 desa yang penduduknya > mayoritas Muslim > kampungnya hancur dan terbakar. Dari arah selatan > Poso, kerusakan hingga > mencapai Tentena. Dari arah Timur hingga Malei. Dari > arah barat hingga > Tamborana. > > Temuan Komite Penanggulangan Krisis (Kompak) > Ujungpandang yang melakukan > investigasi di Poso menunjukkan adanya keterlibatan > gereja dalam > beberapa kerusuhan. Buktinya Sebelum mereka melakukan > penyerangan, > mereka menerima pemberkatan dari gereja, kata Agus > Dwikarna, ketua > Kompak Ujungpandang. > > Misalnya pemberkatan yang dilakukan Pendeta Leniy di > gereja Silanca > (8/6/00) dan Pendeta Rinaldy Damanik di halaman > Puskesmas depan Gereja > Sinode Tentena. Selain kepada pasukan Kelelawar Hitam, > pemberkatan juga > diberikan kepada para perusuh. Pemberkatan ini > memberikan semangat dan > kebencian yang tinggi masyarakat Kristen kepada ummat > Islam. > > Yang menarik menurut Agus, meskipun mereka mengakui > telah membumi > hanguskan seluruh perkampungan ummat Islam dan > membantai masyarakatnya, > Pendeta R Damanik dan Advent Lateka mengadukan ummat > Islam sebagai > provokator. > > Kini kabupaten yang dikenal sebagai penghasil kakau > terbesar ini nyaris > seperti kota mati karena ditinggal penduduknya > mengungsi, bangunan yang > ditinggalkan hanya tersisa puing-puing yang beserakan. > > Penyerangan terhadap ummat Islam yang berlangsung > sejak tanggal 23 Mei > lalu, merupakan pertikaian ketiga antara Islam Kristen > di Poso. > Pertikaian pertama berlangsung pada Desember 1998. > Enam belas bulan > kemudian, 15 April 2000 pertikaian meledak lagi, yang > dipicu perkelaian > pemuda Kelurahan Kamayanya (muslim) dengan Lambogia > (Kristen). > > Dalam penyerangan kali ini kelompok merah yang > bergabung dalam pasukan > Kelelawar Hitam dipimpin oleh Cornelis Tibo asal > Flores menyerang > kampung Muslim Kayamanya. Mereka memukul-mukul tiang > listrik hingga > memancing kemarahan ummat Islam. Selanjutnya mereka > mengaiaya ummat > Islam di situ dan membunuh Serma Komarudin. > > Ummat Islam yang marah mengejar Pasukan Kelelawar > Hitam yang lari ke > Gereja Katolik Maengkolama. Karena bersembunyi di > gereja itu ummat Islam > yang marah membakar gereja yang dijadikan tempat > persembunyian itu. > > Salah satu yang dianggap menjadi penyebab pertikaian > adalah konflik > politik lokal. Perebutan jabatan Bupati Poso pada > Desember 1998 > merupakan salah satunya. Herman Parino, tokoh Kristen, > gagal merebut > jabatan. Namun Herman Parino dan para pendukungnya > menuduh Arif > Patangga, bupati yang hendak digantikannya, muslim, > merekayasa gagalnya > Parino. > > Karena jengkel, Parino menggalang massa untuk > menyerang rumah Patangga. > Namun rencana itu sudah tercium sebelumnya, para > pendukung Patangga > tidak diam dan bersiap menyambut. Bentrokan tidak > terelakkan lagi. Dua > hari kemudian giliran pendukung Patangga menyerang > rumah Parino di desa > Tentena. Dalam kerusahan itu polisi langsung menangkap > tokoh dari kedua > belah pilah, Herman Parino dan Agfar Patangga, adik > kandung Arif > Patangga yang dianggap memprovokasi massa. > > Nampaknya penangkapan Herman Parino yang merupakan > tokoh Kristen yang > dihormati membuat pendukungnya kecewa. Apalagi Herman > lantas dijatuhi > hukuman, meskipun Agfar juga dijatuhi hukuman oleh > pengadilan negeri > Poso. Kasus inilah yang menjadi api dalam sekam. Maka > ketika terjadi > perkelaian pemuda Islam dan Kristen yang mabuk pada > pertengahan April > 2000 lalu, kerusuhan pun tidak dapat terhindarkan. > > Dipicu kerusuhan pada bulan April, tanggal 23 Mei 2000 > pasukan merah > melakukan penyerangan ke beberapa perkampungan muslim. > Pertikaian tidak > hanya sebatas para pendukung Herman Parino dan Arif > Patangga. > Perkampungan Muslim yang tidak ada kaitannya dengan > kerusuhan sebelumnya > ikut dihancurkan, warganya dibantai, perempuannya > diperkosa. > > Selain konflik lokal, sumber intelejen menyatakan > bahwa kerusuhan di > Poso juga terkait dengan tokoh-tokoh di Jakarta. Salah > satu kekuatan > yang bermain itu adalah kelompok Soeharto. Indikasinya > jika proses hukum > Soeharto meningkat, tingkat kerusuhan meningkat. > Temuan di lapangan > menunjukkan keterlibatan sekitar 70-an purnawirawan > TNI dalam melatih > pasukan merah. Karena itulah pasukan merah sangat > mahir dalam > menggunakan berbagai senjata api maupun tangan kosong. > > Pihak intelejen menyebutkan, kelompok yang > berkepentingan terhadap > kerusuhan di Poso ini juga didukung sumber dana yang > kuat. Kasus > beredarnya milyaran uang palsu dan hilangnya dua > kontainer kertas uang > yang hingga kini belum ditemukan juga sangat terkait > dengan > berlangsungnya kerusuhan di Poso ini. > > Informasi sumber intelejen tersebut juga dibenarkan > oleh Wakapolda > Sulawesi Tengah, Kolonel Zaenal Abidin Ishak, yang > menyatakan > keterlibatan 15 anggota Polres Poso dan enam anggota > TNI AD dalam > kerusuhan itu. Mereka kini sedang ditahan untuk > pemeriksaan lebih lanjut. > > Agus Dwikarna tidak percaya bahwa kerusuhan di Poso > hanya persoalan > gagalnya Herman Parino menjadi bupati. Kalau hanya > karena perebutan > kursi bupati kenapa ummat Islam yang dibantai, tanya > Agus. Ia yakin ada > upaya melenyapkan ummat Islam dari bumi Poso. > > Apapun penyebabnya, kerusuhan Poso menyebabkan trauma > yang mendalam di > kalangan orang-orang Muslim di Poso. Sejak kerusuhan > itu ribuan ummat > Islam menjadi pengungsi di negerinya sendiri. > (Haryono, laporan > Munanshar dan Pambudi /majalah hidayatullah) > > *Tibo Ikut Seret 16 Nama Pelaku Poso Jilid III * > > Selasa, 04 April 2006 > Terpidana berat sendirian mungkin tak mengenakkan bagi > otak pembantaian > Poso, Fabianus Tibo. Karenanya, ia menyeret 16 nama > lain yang diduga > ikut terlibat. Ia juga menyebut ada pejabat > > Hidayatullah.com--Kepolisian Sulteng dibantu penyidik > Mabes Polri, kini > dikabarkan sedang mengungkap 16 nama yang diduga juga > ikut terlibat > sebagai otak pelaku kerusuhan Poso. Penyelidikan ini > dilakukan penyidik > Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah dibantu tim Markas > Besar Polri setelah > memeriksa tiga terpidana mati yang juga pelaku utama > kasus itu; Fabianus > Tibo, Dominggus Da Silva, dan Marinus Riwu. > > 16 nama yang diduga menjadi otak pelaku kerusuhan Poso > jilid III periode > Mei hingga Agustus 2000 disebut Tibo terdiri atas > mantan pejabat > Pemerintah Provinsi Sulteng, seorang purnawirawan, dan > tokoh pemuda. > > Di antara mereka adalah mantan Sekretaris DPRD Sulteng > Edi Bungkundapu > dan mantan Asisten IV Pemerintah Provinsi Sulteng, > Yahya Patiro. > > Fabianus Tibo dan kedua rekannya mengaku, mereka > hanyalah korban atas > peristiwa yang menewaskan lebih dari 200 warga Poso > tersebut. Kendati > demikian, hingga kini belum seorang pun dari 16 tokoh > itu diperiksa. > > Sementara itu, Mantan Sekretaris Daerah Kabupaten > Poso, Yahya Patiro > yang disebut-sebut Tibo dalam pemeriksaan membantah > tudingan. > > Menurut Yahya, tuduhan tersebut tidak berdasar. > Apalagi, dia tak pernah > ketemu dan mengenal terpidana hukuman mati itu. > > "Untuk menyelamatkan diri, dia (Tibo) akan mencari > alasan dan cara > sebagaimana dia mampu lakukan. Antara lain dia > menyebut orang lain," > kata Yahya sebagaimana dikutip situs liputan6.com. > > Yahya berharap, pernyataan Tibo tentang enam belas > tokoh yang terlibat > kerusuhan dalam Poso harus diklarifikasi menurut fakta > hukum di > pengadilan. Bukan atas dasar desakan atau paksaan > massa. Yahya sendiri > mengaku tak tahu siapa yang menyerahkan keenam belas > nama tersebut. > (sctv/lp6/cha) > > *Bulan April ini, Tibo CS Dieksekusi * > Selasa, 04 April 2006 > > Meski banyak tuntutan agar pelaksanaan hukuman mati > terhadap tiga > tersangka utama pelaku pembantaian Poso, Sulawesi > Tengah (Sulteng) enam > tahun lalu, kejaksaan tetap akan mengeksekusi > > Hidayatullah.com--Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi > Tengah (Sulteng) > kini sedang mempersiapkan teknis pelaksanaan eksekusi > terhadap tiga > terpidana mati kasus kerusuhan Poso, Fabianus Tibo, > Dominggus da Silva, > dan Marinus Riwu. > > Pelaksanaan eksekusi mati terhadap tiga terpidana mati > kasus kerusuhan > Poso, Fabianus Tibo, Marinus Riwu, dan Dominggus da > Silva kemungkinan > dilaksanakan April 2006, bulan ini. Kepastian tersebut > disampaikan > Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sulawesi Tengah, > Yahya Sibe, Sabtu > (1/4) sebagaimana dikutip antara. > > Sedianya, Kejaksaan Agung dan Kepolisian Daerah > Sulawesi Tengah > memastikan eksekusi dilakukan akhir Maret. Namun, > hingga kini, > pelaksanaan eksekusi belum dilaksanakan. "Segala > sesuatu yang terkait > pelaksanaan eksekusi Tibo dan kawan-kawan sedang > disiapkan secara matang > oleh Kejati Sulteng," kata Kepala Pusat Penerangan > Hukum (Kapuspenkum) > Kejaksaan Agung (Kejagung) Masyhudi Ridwan di Jakarta, > Senin. > > Persiapan yang dilakukan itu, menurut Masyhudi, di > antaranya adalah > koordinasi dengan pihak Polda dan Muspida Sulteng. > > Disinggung mengenai upaya Peninjauan Kembali (PK) II > yang sedang > ditempuh para terpidana, menurut Masyhudi, hal itu > dilakukan Tibo Cs > yang sebelumnya telah menempuh seluruh tahapan hukum, > mulai dari banding > atas putusan pengadilan negeri hingga kasasi dan PK ke > Mahkamah Agung (MA). > > Sebelumnya, Tibo cs meminta grasi kepada Presiden > Susilo B Yudhoyono, > namun permintaan tersebut ditolak pada November 2005 > sehingga putusan > dinilai telah berkekuatan hukum tetap (in kracht) dan > menjadi alasan > bagi kejaksaan untuk melaksanakan eksekusi perkara > tersebut. > > Pihak Jaksa Agung Muda Pidana Umum (JAM Pidum) > Prasetyo bahkan pernah > mengatakan, proses hukum Tibo Cs dianggap sudah > selesai. "Semua tahapan > upaya hukum sudah dilalui, dan sudah ada keputusan > yang berkekuatan > hukum tetap. Jadi tidak ada alasan untuk tidak > dieksekusi," ujarnya. > > Fabianus Tibo (56), Dominggus da Silva (41), dan > Marinus Riwu (49), > sejak pertengahan tahun 2001 dijatuhi hukuman pidana > mati oleh PN Palu > karena ketiganya terbukti secara sah dan meyakinkan > melakukan pembunuhan > berencana, pembakaran dan penganiayaan berat terhadap > banyak manusia tak > berdosa saat kerusuhan Poso bernuansa SARA bergolak > pertengahan tahun 2000. > > Kerusuhan itu mencapai klimaksnya pertengahan tahun > 2000 mengakibatkan > lebih 1.000 orang terbunuh dan hilang. Korban > terbanyak adalah warga > kompleks Pesantren Walisongo di Kelurahan Sintuwu > Lembah, sekitar > sembilan kilometer selatan kota Poso. > > Setahun setelah keputusan itu PT Sulteng mengeluarkan > putusan menolak > upaya hukum banding yang diajukan ketiga terpidana ini > sekaligus > menguatkan putusan PN Palu. > > Tahun 2003 kembali MA menolak permohonan kasasi mereka > seraya meneguhkan > putusan dua pengadilan di tingkat bawahnya dan > terakhir lagi-lagi > lembaga peradilan tertinggi itu awal tahun 2005 > menolak upaya hukum PK > yang diajukan Tibo dkk. Tibo CS kemudian mengajukan > permohonan > pengampunan kepada Presiden namun ditolak > > Peran Tibo, Dominggus dan Marinus, saat pecah > kerusuhan di Poso, ketika > itu, justru bersamaan dengan penyelenggaraan MTQ > Nasional ke-19 di Palu. > Tibo disebut-sebut banyak saksi di pengadilan in fact > sebagai aktor > penggerak di lapangan, selain membunuh dengan > tangannya sendiri banyak > manusia dengan cara sadis. > > Kini, Fabianus Tibo, Dominggus Soares dan Marinus Riwu > yang merupakan > pimpinan kelompok "Pasukan Kelelawar Hitam" itu > menunggu detik-detik > ajal yang mungkin tak pernah mereka bayangkan > sebelumnya. (Cha, berbagai > sumber) > > http://www.sinarhar <http://www.sinarharapan.co.id/berita/0608/12/sh03.html> > apan.co.id/berita/0608/12/sh03.html > Eksekusi Tibo dkk Ditunda > Doa Pengharapan Menjadi Suka Cita > > PALU-Doa pengharapan agar eksekusi Tibo dkk dibatalkan > berubah menjadi doa suka cita dan pujian syukur. "Puji > Tuhan, Tuhan mendengar doa kita semua. Terima kasih > buat semuanya," tutur Pendeta Rinaldy Damanik, Ketua > Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah di Palu, > Sabtu (12/8) dini hari. > Keputusan penundaan eksekusi Tibo dkk diumumkan > Kapolri Jenderal Sutanto di Kantor Kepresidenan di > Jalan Medan Merdeka Utara, Jumat (12/8) malam. Dia > mengatakan eksekusi atas tiga terpidana mati Poso, > Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marinus Riwu > ditunda. Penundaan itu dijadwalkan hingga tiga hari > setelah peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi > Republik Indonesia 17 Agustus 2006 mendatang. > Sepanjang Jumat (11/8) malam hingga Sabtu dini hari > ribuan umat Kristen di Palu, Sulawesi Tengah > (Sulteng), bahkan juga di Flores, Nusa Tenggara Timur > (NTT), melaksanakan kebaktian agar eksekusi Tibo dkk > dibatalkan. Di Tentena, Poso, sekitar 275 kilometer > Kota Palu, ribuan umat Kristen memadati puluhan gereja > di sana. Mereka memanjatkan doa pengharapan agar > eksekusi Tibo dkk dibatalkan. > > Ternyata Tuhan mendengar doa itu. Pastor Jimmy > Tumbelaka dari Paroki Tentena yang selama ini menjadi > pendamping rohani ketiga terpidana mati Fabianus Tibo, > Dominggus da Silva, dan Marinus Riwu juga menyatakan > kegembiraan atas penundaan eksekusi Tibo dkk. > "Penundaan ini disambut gembira oleh pihak keluarga. > Mereka sangat bersuka-cita. Doa dan harapan mereka > dikabulkan Tuhan," tutur Pastor Jimmy Tumbelaka. > Keluarga terpidana mati kasus kerusuhan Poso yang > berkumpul di Gereja Katolik Santa Maria, Palu, > menyambut dengan suka cita putusan penundaan eksekusi > terhadap Tibo dkk. > Nurlin Kasiah (50), istri Fabianus Tibo, yang > sebelumnya terlihat tegang menjelang jarum jam > menunjukkan pukul 11:50 Wita langsung merangkul kedua > putranya, Robertus (29) dan Angki (22), sesaat setelah > mendapat kabar penundaan eksekusi dari Pastor Jimmy > Tumbelaka. > Adam Atha (64), paman Dominggus da Silva, sempat > bersimpuh di lantai gereja mendapat kabar penundaan > eksekusi. Suasana haru juga dirasakan sekitar 300 umat > Katolik Palu yang memadati Gereja Santa Maria hingga > di halaman gereja. > Misa requiem (arwah) yang rencananya akan digelar 10 > menit sebelum proses eksekusi tembak mati ketiga > terpidana dilaksanakan berubah menjadi doa syukur yang > dipimpin Pastor Jimmy Tumbelaka. "Sekitar 15 menit > kami berdoa memanjatkan puji atas kebesaran Tuhan," > kata Pastor Jimmy Tumbelaka. > Keluarga terpidana mati, Jumat (11/8) malam, sempat > mengunjungi LP Petobo Palu dengan maksud bertemu > dengan Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marinus > Riwu, untuk yang terakhir kalinya, namun tak diizinkan > oleh petugas dengan alasan ketiga terpidana sudah > diisolasi total menjelang detik-detik pelaksanaan > eksekusi. > "Tapi Tuhan berkehedak lain," ujar Robertus. Keluarga > para terpidana yang datang dari Desa Beteleme di > Kabupaten Morowali-tetangga Kabupaten Poso-memilih > menginap di rumah pastorial yang berada dalam kompleks > gereja. > > Permintaan Paus > Sepanjang Jumat (11/8) malam, kesibukan luar biasa > terlihat di Kejaksaan Negeri (Kejari) Palu, Sulawesi > Tengah. Para jaksa telihat berkumpul. Beberapa mobil > juga terlihat di parkir. > Sebuah mobil minibus dengan nomor polisi DN-7401-A > menarik perhatian. Di dalam mobil milik Kejari Palu > itu terlihat tiga peti mati dan sejumlah peralatan > lainnya, seperti tali nilon. > Ya, tiga peti mati itu dipersiapkan untuk jenazah tiga > terpidana mati Poso yang akan dieksekusi di depan regu > tembak Satuan Brigade Mobil Kepolisian Daerah Sulawesi > Tengah. Eksekusi mati atas ketiga lelaki asal Flores, > Nusa Tenggara Timur (NTT) itu, dijadwalkan Sabtu > (12/8) dini hari, pukul 00.15 Wita. > Malam terasa merangkak perlahan. Bulan penuh rupanya > menghias langit. Jarum jam terus beputar. Waktu sudah > menunjukkan pukul 23.00 Wita saat tiba-tiba mobil > pengangkut peti jenazah itu bergerak melesat laju. > Para wartawan pun memburunya hingga ke Kejaksaan > Tinggi Sulawesi Tengah. > Ternyata, sampai waktu menunjukkan pukul 00.00 Wita, > belum ada tanda-tanda tim eksekutor akan segera > menjemput Tibo Cs di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I A, > Palu. "Eksekusi ditunda. Lihat saja tinggal 15 menit > waktu tersisa dari jadwal yang ada," celetukan Amran > Nawir Amier, wartawan TV7 yang sejak awal mengikuti > proses persiapan eksekusi di Kejari Palu dan Kejati > Sulteng. > Kepala Kejari Palu M Basri Akib, ditemani Kepala > Bagian Hubungan Masyarakat dan Penerangan Hukum Kejati > Sulteng Hasman AH, terlihat berdiam diri dalam > ruangan. Tiba-tiba dari Jakarta berembus kabar, > eksekusi atas Tibo cs ditunda. > Suasana pun berubah senyap sejenak, sampai tiba-tiba > Basri meminta Hasman menghubungi Humas Kejagung di > Jakarta untuk menanyakan kebenaran kabar itu. "Ya, > memang benar bahwa eksekusi ditunda sampai tiga hari > pasca-(peringatan) Proklamasi RI," kata Basri. > Rumor yang beredar menyebutkan penundaan eksekusi Tibo > dkk itu terkait dengan permintaan pemimpin tertinggi > umat Katolik Dunia Paus Benedictus XVI kepada Presiden > Susilo Bambang Yudhoyono. Paus meminta agar Presiden > Yudhoyono memberikan klemensi kepada Tibo dkk dari > hukuman mati menjadi hukuman seumur hidup. Akankah > permintaan Paus Benedictus XVI itu dikabulkan? Kita > tunggu saja. (*) > > === > Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits? > Kirim email ke: media-dakwah- > <mailto:media-dakwah-subscribe%40yahoogroups.com> [EMAIL PROTECTED] > http://www.media- <http://www.media-islam.or.id> islam.or.id > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail. <http://mail.yahoo.com> yahoo.com > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah. Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
