Assalamu'alaikum wr wb
Mungkin ada yang belum pernah baca... :)
Wassalam
M.A
Yang Datang dan Yang Pergi
Izzatul Jannah - Cahaya di atas Cahaya
Publikasi : 16-12-2003
Jam Dinding menunjukan pukul dua belas malam tepat. Entah kenapa
tiba-tiba aku terbangun. Kutatap dalam-dalam wajah istriku yang masih
lelap dalam tidurnya. Kubelai perlahan anak-anak rambut yang tergerai
didahinya. Kamu cantik Ratri..., bisikku perlahan.
Tanpa terasa, usia pernikahan kami sudah menginjak tahun yang ketiga,
tapi kami belum juga dikaruniai anak. Ya.. Allah karuniakan kepada kami
anak, seorang saja pun tak mengapa..., begitu jerit do'aku tiap malam
diatas sajadah. Tapi, entahlah hikmah apa yang tersembunyi dibalik semua
ini. Aku yakin, Allah menyimpan hikmah itu untuk kuketahui kelak. Ya,
itu Pasti!!
"Ratri.., bangun... shalat yuuk..." Kutepuk pipi istriku perlahan. Ia
menggeliat. Aku tersenyum saja. Mungkin ia masih lelah, seharian
mengurus tumah. Mengepel, memasak, mencuci, membersihkan rumah, masih
ditambah lagi kesibukannya menulis di media cetak. Ah.. aku sayang
padamu Ratri...
Akhirnya, aku beranjak sendiri. Berwudhu dan kemudian tenggelam dalam
shalat malamku yang panjang. Dan selalu do'a itu yang aku dahulukan.
Rabbanaa lain aataitana shaalihan lanakunanna minasy syakiriin. Ya,
Allah jika Engkau memberi kami anak shalih, tentulah kami termasuk
orang-orang yang bersyukur.
Jam dinding berdentang tiga kali. Ketika aku menghabiskan tiga rakaat
terakhir witirku. Kulihat Ratri sudah ada dibelakangku dengan wajah
merajuk. Kutatap wajahnya dengan geli.
"Kamu kenapa? Mulutnya monyong begitu...??" godaku. Ratri semakin
merajuk.
"Si Mas mesti begitu..., nggak bangunin Ratri..." protesnya.
Aku tersenyum arif. "La Wong, kamu pulas banget tidurnya. Mana tega Mas
bangunin.., tadi nulis sampai jam sebelas 'kan? Mosok baru tidur satu
jam sudah disuruh bangun lagi..."
"Iya deeh.., tapi nanti temani Ratri muraja'ah Qur'an yaa...," pintanya
manja.
"Inggih, sendiko dawuh.., jawabku dengan logat Jawa yang kaku. Maklum
besar di Betawi! Ratri tertawa geli mendengar jawabanku. Serentak
jemarinya yang mungil beraksi menggelitik pinggangku.
"Ssst.., sudah ah, shalat sana, nanti keburu shubuh..., "elakku.
Ratri masih tersenyum sambil mengerjapkan matanya, lucu.
Sering kulihat Ratri termenung menatap ikan-ikan di aquarium kami.
Matanya binar menatap kosong ikan-ikan berwarna perak itu. Ia betah diam
tanpa ekspresi seperti itu.
"Sssst .., Muslimah kok hobi bengong, sihh...?" bisikku persis di
telinganya. Ratri tersentak kaget. Pipinya bersemu merah, malu ketahuan
melamun.
"Enngg....ngak kok, ini lho mas..., ikannya bertelur...," katanya
perlahan.
"Ck... pura-pura, dari tadi Mas lihat matamu ngak berkedip, lama banget.
Itu bengong namanya, Non...," kuacak kepalanya gemas.
"Ikan saja bisa punya keturunan ya Mas..., kita kapan?" tanyanya lirih,
hampir tak terdengar. Seketika mataku memanas. Leherku tiba-tiba
tercekat. Oh, Allah... ratri tersenyum manis, lalu mengamati lenganku
menuju meja makan. Tak lama kemudian ia kembali berceloteh menceritakan
aktifitasnya seharian. Ah, Ratri.... Ratri...
Ketika pernikahan kami menginjak tahun kedua, kami sudah memeriksakan
diri secara intensif kedokter kandungan. Hasilnya, kami berdua normal!
Dokter cuma menyuruh kami bersabar, berdo'a dan berusaha tentunya.
Yah.., barangkali kami berdua memang sedang diuji.
"Nikah lagi aja, Maaasss...," celetuk Ratri suatu kali.
Aku tersentak. Keturunan memang sangat kuharapkan. Tapi membagi cintaku
pada Ratri dengan wanita lain, meski itu dibolehkan dalam Islam, apa aku
sanggup?? Kucubit pipi istriku perlahan.
"Ngak takut cemburu?" tanyaku menggodanya.
"Cemburu khan manusiawi Mas..., Aisyah juga cemburu pada Khadijah, tapi
bukan cemburu masalahnya Mas..., kalau Mas punya istri lagi, 'khan Ratri
bisa ikut membesarkan anak dari istri Mas...," tuturnya panjang lebar.
"Kalau dia juga tidak bisa hamil?"
"Ambil istri lagi..."
"Kalau belum punya anak juga?"
"Ambil lagi..."
"Hussss.... sembarangan!!" protesku pura-pura galak. Kudekap kepala
mungilnya erat-erat.
Hari ini hari ulang tahun pernikahan kami yang keempat. Umurku sudah dua
puluh delapan tahun. Uban dikepalaku sudah belasan jumlahnya. Ketika
menikah dulu, Ratri bilang ubanku ada enam lembar!! Dan sampai saat ini
kami belum dipercaya Allah untuk menimang seorang anak. Tapi aku masih
mencintai Ratri. Dan, tidak akan pernah pudar.
Wajah Ratri yang oval dengan hidung yang bangir dan mulut mungilnya
kelihatan merah berseri-seri. Kulihat ia membawa sebuah nampan yang
tertutup menuju kearah meja makan. Lalu ia menarik lenganku manja.
"Sini Mas...," ajaknya.
Aku menurut saja. "Happy fourth anniversary...," katanya lembut. Mataku
berkaca-kaca. Perlahan kubuka nampan itu. Sebuah kue tart, romantis
sekali. Dan sebuah amplop, dengan logo sebuah klinik. Keningku berkerut.
Ketika tanganku bergerak hendak mengambil amplop itu, seketika Ratri
merebutnya.
"Makan dulu doooong....," protesnya.
Aku cuma menggeleng-gelengkan kepala, sambil tersenyum. Tak urung kuraih
pisau lalu. "Bismillahirahmanirrahiim..," kupotong kue tart itu. Ratri
tersenyum, ia kelihatan bahagia sekali. Kutengadahkan tanganku meminta
amplop itu. Ratri menggeleng. Makan dulu..., katanya. Kugaruk-garuk
kepalaku dengan gemas. Ni, anak bikin penasaran juga.
Setelah selesai menyantap potongan kue yang kumakan dengan dua kali
telan. Dan Ratri protes karenanya. Kurenggut amplop di tangannya. Dan
Subhanallah..., Maha suci Engkau wahai Rabb sekalian alam!!! Ratri
hamil!!! Masya Allah...., setelah sekian tahun!!! Seketika aku
tersungkur sujud. Air mataku meleleh. Kudekap kepala Ratri erat-erat.
Air mataku masih mengalir, menitik membasahi kepala Ratri. Ia mendongak,
jemarinya menghapus air mataku.
"Mas menangis?" tanyanya retoris.
Aku mengangguk. Ya, aku menangis! Tangis syukur....
"Kok, periksa ke dokter nggak bilang-bilang?" protesku.
"Biarin, nanti nggak surprise ...," katanya. Tiba-tiba aku merasa
bersalah. Sejak tahun ketiga pernikahan kami, aku tidak rajin mengikuti
tanggal-tanggal haid dan masa subur Ratri seperti dulu. Kudekap Ratri
makin erat.
Sejak hari itu, kesehatan Ratri menjadi perhatian utamaku. Aku sering
marah-marah kalau Ratri masih juga menulis sampai larut malam. Ya,
tiba-tiba aku menjadi sangat cerewet.
Sembilan bulan, lebih delapan hari. Rasanya hari itu tiba..., tadi pagi
Ratri sudah mulas-mulas. Katanya mulasnya dimulai dari punggung menjalar
sampai kedepan. Aku ribut setengah mati. Kuraih gagang telpon. Aku
menelpon seorang teman untuk membawa mobil kerumah. Ratri masih mengeluh
mulas-mulas. Tiba-tiba keluar cairan, oh... air ketubanya sudah pecah.
Di rumah sakit aku begitu gelisah. Bapak-ibu yang menungguiku cuma
menggeleng-geleng kepala. Maklum anak pertama, begitu kata ibu. Ya,
Allah... entah kenapa aku tiba-tiba merasa ketakutan yang luar biasa. Ya
Allah, selamatkan istri dan anakku..., bisikku berulang kali.
"Bapak Syaiful Bahri?" seorang dokter keluar dari ruang bersalin.
"Ya..., saya, Dokter...," sahutku cepat. Kuhampiri dokter itu.
"Ada sedikit kelainan, harus dioperasi... Suster, tolong bimbing Pak
Syaiful untuk mengisi formulir ini..." kata dokter itu.
Aku tersentak kaget! Operasi? Astaghfirullah...
"Tapi..., istri saya tidak apa-apa'kan dokter??" tanyaku khawatir.
Dokter itu terdiam. "Berdo'alah ...," katanya pelan. Kugigit bibirku
erat-erat. Allah..., selamatkan isri dan anakku.. Kuambil wudhu dan
shalat di musholla. Kuhabiskan gelisahku disana.
Tiba-tiba kudengar suara tangis bayi. Anakku...,: desisku perlahan. Aku
seperti dituntun nuraniku. Bergegas keluar musholla.
"Bapak Syaiful Bahri..."
"Ya, Dokter..."
"Selamat, bayinya perempuan, sehat, tiga setengah kilo, cantik seperti
ibunya..." kata dokter itu.
"Alhamdulilah..." desisku berulang-ulang.
"Istri saya dokter?"
Dokter itu terdiam. Tiba-tiba ada perasaan tidak enak menjalar disegenap
hatiku. Kutatap mata dokter itu dengan tatapan penuh tanya. Tiba-tiba
dokter itu menepuk bahuku perlahan, sementara kepalanya pun menggeleng
perlahan pula.
Mulutku terngaga seketika.
"Ma'afkan .., saya sudah berusaha. Tapi Tuhan menghendaki lain...,"
katanya. Air mataku berloncatan tanpa bisa dibendung. Dokter itu
perlahan membimbingku masuk ke ruang bersalin. Aku menurut saja tanpa
rasa.
Sosok tubuh ditutup kain putih terbaring. Perlahan dokter itu membuka
kain penutup itu. Inalilahi wa innailayhi raji'uun... Wajah Ratri
terlihat pucat. Tapi bibirnya tersenyum manis..., manis sekali. Kudekap
kepala Ratri erat-erat, tangisku tak tertahankan.
"Sabar... sabar... pak...," hibur dokter itu." Suster, bawa kemari anak
Bapak Syaiful Bahri...," katanya lagi.
Seorang bayi mungil yang masih merah disodorkan dihadapanku. Perlahan
kugendong dan kutatap ia. Dadaku masih sesak karena tangis. Kutatap bayi
merah itu dan Ratri berganti-ganti. Mereka begitu mirip. Matanya,
hidungnya, mulutnya..., Allahu Akbar !!!.
Rupanya ini hikmah itu, Ratri..., Allah memberi kesempatan padaku untuk
menemanimu selama empat tahun, untuk akhirnya memanggilmu setelah ia
memberikan gantinya.....
Ya, Allah jangan biarkan hatiku berandai-andai, seandainya saja aku
tidak mengharapkan anak, jika itu membawa kematian Ratri..., ini semua
takdir-Mu, ya Rabbi....
Selamat Jalan Ratri.....................
CONFIDENTIALITY NOTICE
The information in this email may be confidential and/or privileged.
This email is intended to be reviewed by only the addressee(s) named
above. If you are not the intended recipient, you are hereby notified
that any review, dissemination, copying, use or storage of this email
and its attachments, if any, or the information contained herein is
prohibited. If you have received this email in error, please
immediately notify the sender by return email and delete this email
from your system. Thank you.
[Non-text portions of this message have been removed]
Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/