Tidak ada perbedaan apakah Imlek merupakan perayaan agama atau 
perayaan budaya, di Indonesia tidaklah proporsional menjadikan Imlek 
sebagai hari libur nasional. Perhatikan: yang saya katakan "tidak 
pantas menjadi hari libur nasional", bukan "tidak boleh 
merayakannya".

Semua sukubangsa di Indonesia harus bebas merayakan tradisinya 
sendiri, tanpa perlu dikawal oleh belasan ribu polisi, barisan 
pemuda dan metal detector alias dalam suasana aman nyaman tenteram. 
Tapi perayaan tradisional itu tidak semuanya pantas dijadikan hari 
libur nasional. Natal pun menurut saya tidak pantas dijadikan hari 
libur nasional di Indonesia. Menurut saya (sekali lagi), hari-hari 
libur nasional di Indonesia haruslah yang berasal dari agama Islam 
saja, ditambah hari Proklamasi 17 Agustus. 

Bila anda-anda di Indonesia mau memikirkan kesejahteraan pegawai di 
Indonesia, maka jatah cuti semua karyawan di Indonesia mesti 
ditambah. Jadi, hari libur massal Natal/Nyepi/Waisak/Imlek 
dihapuskan, diganti dengan hari libur fleksibel, karyawan dapat 
menentukan sendiri kapan akan berlibur. Di Belanda, jatah cuti 
karyawan fulltimer dalam setahun berjumlah sekitar sebulan penuh, 
yang boleh diambil kapan saja sesuka hatinya, misalnya 3 hari di 
buan April, 4 hari di bulan Juni, 7 hari di bulan September dst. 
Sebuah diskusi yang menarik dan bermanfaat.

Salam hangat, Danny Lim, Nederland

--- In [email protected], "Ray Indra" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Dear Hong Gie,
> 
> Setuju dengan pendapat Anda. Kenapa ya pak Jenderal mikir seperti 
itu?
> Bagi umat Konghucu dan Buddha Tridharma, hari Imlek adalah hari
> keagamaan, lengkap dengan semua ritualnya seperti ritual 
pembersihan
> dewa-dewi (kalau di Jawa tambah acara lek-lekan atau begadang),
> menyucikan diri (puasa/tidak makan daging), membaca kitab suci,
> sembahyang leluhur dan tentunya berdoa ke kelenteng/vihara. 
> 
> Semua ritual di atas TIDAK dilakukan oleh Tionghoa yang sudah 
beragama
> lain (misalnya Kristen/Katolik/Islam), yang sebagian hanya 
mengikuti
> Imlek sebagai budaya dan tradisi orang tua (nah ini baru budaya 
saja),
> seperti makan-makan, nonton barongsai, angpao dan kesempatan 
berkumpul
> melepas kangen dengan sanak saudara. 
> 
> Jadi jelas ada unsur ritual keagamaan yang bersifat unik, milik
> pemeluknya. 
> 
> Benar kata Anda, kalau Imlek hanya budaya, maka kita harus ada dong
> hari libur budaya Papua, Banten, Madura, Dayak... jadi libur terus
> dong...;)
> 
> 
> 
> --- In [email protected], "Yap Hong Gie" <ouwehoer@> wrote:
> >
> > Seandainya, saya ulangi, seandainya, pernyataan dan penjelasan 
penulis
> > adalah benar;  "Imlek adalah Perayaan Budaya",  maka Pemerintah 
telah
> > keliru menetapkan Imlek sebagai Hari Raya (Keagamaan) Nasional.
> > Dan oleh karena itu, Keputusan Presiden Nomor 19/2002, yang 
menyatakan
> > Imlek adalah Hari Libur Nasional, perlu ditinjau kembali, untuk 
dicabut.
> > 
> > Menyambut Hari Raya Imlek, nampak suasana suci dan indah 
dikotori oleh 
> > kontroversi terbuka, bahkan adanya kecenderungan pihak-pihak
> tertentu yang 
> > mengkerdilkan magna Hari Raya Imlek, sebagai perayaan budaya 
(pakai
> huruf 
> > kecil).
> > 
> > Melalui Keppres No.6/2000, Presiden Abdurrahman Wahid mencabut 
Inpres
> > No.14/1967. Yang artinya, warga keturunan Tionghoa tak lagi
> memerlukan izin
> > khusus untuk mengekspresikan secara publik berbagai aspek dari
> kepercayaan,
> > kebudayaan, dan tradisi asli mereka.
> > Kemudian, Presiden Megawati Soekarnoputri menindaklanjutinya 
dengan
> > mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2002 tertanggal 9 April 
2002
> > yang meresmikan Imlek sebagai hari libur nasional. Mulai 2003, 
Imlek
> resmi
> > dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional.
> > Hari libur nasional yang terkait dengan agama, merupakan Hari 
Raya dari
> > agama-agama yang ada di Indonesia dan diakui oleh pemerintah.
> > 
> > Tradisi silaturahmi keluarga, kerabat, teman dan tetangga; yang 
intinya
> > adalah penghormatan yang muda pada orang yang lebih tua dan 
saling
> memberi
> > selamat ini memiliki kesamaan dengan tradisi silaturahmi 
masyarakat
> Muslim,
> > setelah melaksanakan sembahyang (solat) Ied, pada Hari Raya Idul 
Fitri.
> > Dikalangan pribumi jaman dulu, Imlek lebih dikenal 
sebagai "Lebaran
> Cina".
> > 
> > Kalau cuma sekedar perayaan budaya, mengapa masyarakat Tionghoa 
> > menyelenggarakan rangkaian ritual sembayangang di rumah dan 
> > berbondong-bondong sembahyang ke Klenteng (agama Tao/Konghucu) 
dan
> ke Vihara 
> > (Budha)?
> > 
> > Quote:
> > Konon, Perayaan Imlek Nasional ini atas prakarsa bersama Duta 
Besar
> RI di
> > Beijing dan Duta Besar RRT di Jakarta dalam rangka peningkatan 
hubungan
> > kerjasama kebudayaan kedua negara. ---End quote.
> > 
> > Apakah maksudnya Perayaan Imlek Nasional mau dijadikan acara 
perayaan
> > (budaya) bilateral?
> > Kalau menurut penulis, acara perayaan Imlek adalah dalam rangka
> "peningkatan
> > hubungan kerjasama kebudayaan kedua negara", maka kehadiran 
Presiden RI
> > sudah amat berlebihan. Sehingga di masa mendatang, setiap acara 
hari
> > "Kebudayaan Imlek", cukup dihadiri oleh Menteri Pendidikan & 
Kebudayaan
> > RI saja.
> > 
> > 
> > Quote:
> > Perayaan Imlek Nasional Indonesia bersatu yang akan berlangsung
> dalam rangka
> > meningkatkan kerjasama antara RI dan RRT.---End quote.
> > 
> > Mudah-mudahan saya salah tangkap kesan tersirat, bahwa adanya
> kecenderungan
> > untuk memanfaatkan Hari Raya Imlek sebagai komoditas Politik-
Ekonomi
> > (dagang).
> > 
> > 
> > 
> > Wassalam,
> > Yap Hong Gie (Kristen)
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > http://www.suarapembaruan.com/News/2007/02/17/Editor/edit01.htm
> > 
> > SUARA PEMBARUAN DAILY
> > Last modified: 16/2/07
> > Imlek adalah Perayaan Budaya
> > Eddie Kusuma
> > 
> > Menjelang peringatan Imlek tanggal 18 Februari 2007 ini, masih 
ada yang
> > mempertanyakan apakah Imlek itu perayaan agama atau budaya.
> > Untuk itulah penulis ingin menjelaskan bahwa perayaan Imlek 
adalah
> sebuah
> > tradisi masyarakat Tionghoa yang telah membudaya.
> > Perayaan Imlek tidak membedakan agama maupun asal usulnya, akan 
tetapi
> > tradisi yang mewujudkan silaturahmi keluarga, kerabat, teman, dan
> tetangga.
> > 
> > Jembatan bagi orang yang beragama menyatakan rasa syukur kepada
> Tuhan Yang
> > Maha Esa, dengan doa dan harapan mendapat perlindungan dari Sang
> Pencipta,
> > Panjang Umur, Rezeki Melimpah, Kesehatan dan Sukses selalu. Jadi
> tidak heran
> > di Tiongkok.
> > 
> > Perayaan Imlek dilakukan oleh umat Islam, Kristen, Katolik, Budha
> dan agama
> > lainnya, bahkan orang yang tidak beragama (atheis) pun 
merayakannya
> karena
> > Tiongkok adalah negara komunis. Jika dikatakan Imlek perayaan 
agama atau
> > tahun baru sebuah agama, menurut saya itu keliru. Tapi boleh-
boleh saja
> > karena keyakinan seseorang umat yang beragama sepanjang tidak 
mengklaim
> > Imlek adalah miliknya.
> > 
> > Tahun baru Imlek adalah kebudayaan yang lahir dari para petani. 
Imlek
> > merupakan tahun baru masyarakat Tionghoa yang ditandai dengan
> penanggalan
> > berdasarkan sistem lunar (Yin li) yaitu sistem penanggalan 
berdasarkan
> > peredaran bulan. Jadi tidak ada hubungannya dengan kepercayaan 
dan
> ajaran
> > agama apapun. Sistem ini berbeda dengan sistem solar yaitu 
penanggalan
> > masehi yang berdasarkan peredaran matahari Yang Li
> > 
> > Dalam kehidupan masyarakat di Tiongkok, sistem lunar lebih cocok
> bagi para
> > petani, sebab pada setiap tanggal 15 Imlek, rembulan akan bulat 
dan
> setiap
> > rembulan bulat, air laut akan pasang. Oleh karena bertani sangat
> bergantung
> > pada kondisi alam, maka kalender lunar menjadi kebutuhan para
> petani. Sampai
> > sekarang petani di Tiongkok mempergunakan penanggalan Imlek guna
> menyambut
> > datangnya musim semi yang membahagiakan mereka.
> > 
> > Di Tiongkok, tradisi perayaan Imlek diwarisi ribuan tahun yang 
lalu
> yakni
> > sejak 2698 SM yang sampai sekarang telah mencapai 4705. Telah
> mengakar dalam
> > hati sanubari masyarakat Tionghoa dimanapun, baik yang di 
daratan maupun
> > diluar Tiongkok seperti Korea, Jepang, Malaysia, Singapore, 
Amerika,
> > Australia maupun Indonesia.
> > 
> > Menurut Dr Kai Kuok Liang dalam buku "Festival Tradisi Budaya 
Tionghoa"
> > perayaan Imlek berawal di zaman pemerintahan kaisar Huang Ti Yu
> (2698-2598
> > SM), tetapi baru merata di masyarakat pada zaman pemerintahan 
kaisar
> Chin
> > Che Huang (246-210 SM). Sistem penanggalan Huang Ti kemudian 
diterapkan
> > oleh dinasti Xia (2205-2197 SM), namun ketika dinasti Xia jatuh
> diganti oleh
> > Shang (1766-1122 SM) sistem penanggalan diganti dengan 
penanggalan
> Shang.
> > 
> > Ketika dinasti Shang runtuh dan diganti oleh dinasti Zhou (1122-
475 SM)
> > sistem penanggalannya pun diganti dengan sistem penanggalan Zhou.
> Dinasti
> > Zhou jatuh, berdirilah dinasti Qin (221-207 SM) dengan kaisarnya 
Qin Shi
> > Huang dan sistem penanggalan diubah lagi. Jadi boleh dikatakan 
daratan
> > Tiongkok pernah memakai empat macam penanggalan dari zaman Xia 
sampai
> > dengan dinasti Qin.
> > 
> > Pada masa revolusi Xin Hai tanggal 10 Oktober 1911 yang 
dicetuskan
> Dr Sun
> > Yat Sen, tahun baru Imlek diubah menjadi festival musin semi (kuo
> chun ciek)
> > dan saat tahun baru Imlek inilah muncul Sin Cun Ju Ie yang 
berarti
> keluarga
> > baru yang sehat, sentosa dan lancar, sesuai rencana. Sedang Gong 
Xi
> Fat Cai
> > adalah salam bahagia dan makmur selalu
> > 
> > 
> > Imlek di Indonesia
> > Di Indonesia perayaan Imlek baru berlangsung semarak dan 
dilakukan
> secara
> > terbuka pascareformasi 1998. Imlek dapat dirayakan karena 
reformasi dan
> > Presiden KH Abdurrahman Wahid menerbitkan Kepres No 6 Tahun 2000
> > yang intinya mencabut Inpres No 14 Tahun 1967 yang menghimbau 
kegiatan
> > seni budaya, adat istiadat, aksara China di Indonesia
> diselenggarakan secara
> > kekeluargaan dan di tempat ibadah.
> > 
> > Inpres No 14/1967 dampaknya sangat besar, karena aparat birokrat
> > menafsirkannya sebagai larangan. Contohnya, seni budaya barongsai
> dan liong
> > (naga) dilarang dipertontonkan kepada masyarakat.
> > 
> > Nyatanya, seni budaya barongsai maupun liong bukan hanya 
kepunyaan
> > masyarakat Tionghoa, tetapi digemari semua elemen bangsa.
> > 
> > Sekarang pemain barongsai dan liong bukan lagi A Kau, A Ho 
ataupun A
> Hok,
> > tapi sudah turut bermain Paiman, Paidjo dan Parman sebagai 
cerminan
> > barongsai dan liong sudah membudaya dalam masyarakat Indonesia 
sebagai
> > bagian dari budaya bangsa atau budaya nasional. Lahirnya Kepres 
No
> 19 Tahun
> > 2002 tentang Imlek sebagai hari nasional dan juga libur nasional 
lebih
> > mempertegas makna Imlek. Wujud nyata pemerintah sangat memberi 
perhatian
> > hak-hak hidup dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan 
bernegara.
> > 
> > Namun perhatian pemerintah terhadap Imlek tidak terlepas
> dariberbagai peran
> > dan perjuangan masyarakat Tionghoa kala itu. Contohnya, Jerry H 
Lo
> bersama
> > Yongki dan Anda Hakim dan lainnya di masa Orde Baru, 
menyelenggarakan
> > seminar mengenai Imlek menjelang perayaan Imlek 1998. Hadir 
dalam acara
> > tersebut pejuang reformasi seperti Sabam Sirait dan Megawati
> Soekarnoputri,
> > Ketua Umum PDI Perjuangan dengan moderator dr Frans Tjsai. Di 
balik itu,
> > begitu getolnya tokoh spritual Suhu Acai dan kelompoknya
> menyelenggarakan
> > Imlek secara besar-besaran di Hotel Sahid Jaya tahun 1999
> > 
> > Kelompok Amien Rais juga sangat mendorong etnis Tionghoa berani
> > menyelenggarakan Imlek dan menampilkan naga dan barongsai. Tidak
> ketinggalan
> > pimpinan agama Konghucu memanfaatkan momen ini menyelenggarakan 
perayaan
> > Imlek nasional bagi kelompoknya yang didukung para pengusaha 
nasional
> > Tionghoa dan menghadirkan Presiden RI dalam acara perayaan 
tersebut dari
> > tahun ke tahun.
> > 
> > Tahun 2007 ini, menurut rencana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
> akan hadir
> > pada perayaan Imlek Nasional Indonesia Bersatu 2007. Konon, 
Perayaan
> Imlek
> > Nasional ini atas prakarsa bersama Duta Besar RI di Beijing dan 
Duta
> Besar
> > RRT di Jakarta dalam rangka peningkatan hubungan kerjasama
> kebudayaan kedua
> > negara. Perayaan Imlek Nasional Indonesia bersatu 2007 sifatnya
> nasional dan
> > panitia penyelenggaranya terdiri dari berbagai unsur yakni staf
> kedutaan,
> > tokoh masyarakat Tionghoa.
> > 
> > Imlek dan bencana alam adalah dua variabel yang berbeda namun 
saling
> > berkaitan. Imlek dirayakan dengan berdoa kepada Tuhan Yang Maha 
Esa agar
> > mendapatkan kesejahteraan dan kemakmuran adalah sebuah harapan 
yang
> > diinginkan termasuk menghindari bencana alam. Sekalipun bencana 
alam
> terjadi
> > diluar perhitungan dan perkiraan manusia, adalah relevan melalui
> perayaan
> > Imlek dilakukan kegiatan sosial membantu sesama terutama korban 
bencana
> > alam, ini momen yang baik dalam membangun semangat kebersamaan 
dalam
> > bingkai persatuan dan kesatuan bangsa.
> > 
> > Berbagai kelompok masyarakat Tionghoa telah mengaitkan perayaan
> Imlek ini
> > dengan kegiatan sosial termasuk bantuan kepada korban bencana 
alam,
> terutama
> > bencana banjir yang baru terjadi di Jakarta. Sebelum Imlek 
masyarakat
> > Tionghoa sangat peduli terhadap bencana yang terjadi, contoh
> tsunami, gempa
> > Nias, gempa Yogya dan lainnya dan kini para pengusaha maupun 
ormas-ormas
> > Tionghoa telah bergabung dalam sebuah organisasi yang bernama 
Masyarakat
> > Tionghoa peduli bencana alam.
> > 
> > Perayaan Imlek Nasional tahun 2007 akan berlangsung dengan sangat
> sederhana,
> > tidak di ruangan yang mewah. Panitia sangat memahami kondisi 
masyarakat
> > sekarang, sehingga memilih tempat perayaan di ruang pamer PRJ 
Jakarta.
> > 
> > Ini juga sebuah wujud prinsip kesederhanaan, namun tidak 
mengurangi
> makna
> > perayaan. Yang penting melalui momen Imlek ini mari kita 
membangun
> > kebersamaan antar masyarakat dan juga antar bangsa seperti 
kerjasama
> yang
> > akan terjadi dalam perayaan Imlek Nasional Indonesia bersatu 
yang akan
> > berlangsung dalam rangka meningkatkan kerjasama antara RI dan 
RRT.
> Ini perlu
> > dipetik maknanya, disamping menggalang persatuan dan persatuan 
juga
> menjalin
> > yang lebih harmonis antar bangsa dalam mencapai kemakmuran dan
> > kesejahteraan.
> > 
> > Melalui Imlek kita introspeksi kembali pemikiran dan pandangan 
kita yang
> > jernih dan bersih dalam membangun bangsa Indonesia yang tercinta.
> > 
> > Penulis adalah Ketua Umum Suara Kebangsaan Tionghoa Indonesia, 
Alumnus
> > Lemhannas RI
> > 
> > Last modified: 16/2/07
> >
>


Kirim email ke