Yth Bpk Salim Said, terimakasih sekali untuk email dan isinya yang menarik, dan yg serta merta saya lontarkan ke dunia maya.
Wassalam, Bismo DG ----- Original Message ----- From: "Salim Said" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Monday, March 26, 2007 8:33 AM Subject: Menonton film Berbagi Suami di Praha. > Dear Jajang, > Akhirnya saya nonton juga Berbagi Suami di Praha. Seperti cerita Pak > Bismo, penontonnya membeludak. Sebagai tontonan film tsb sangat > entertaining, dan well made. Sebagai mantan pemerhati serius film-film > Indionesia, apa yang dicapi oleh film tersebut dari segi teknis dan cara > bercerita sangat menggembirakan, sehingga memang pantas tampil dalam > festival internasional. Sejak menonton Ca Bau Kan, saya memang berpendapat > bahwa Nia Dinata berbakat dan berketrampilan besar. Dan itu dibuktikannya > lagi lewat Berbagi Suami ini. Saya berharap saja akan banyak film Indonesia > yang > mencapi tingkat yang diraih oleh karya-karya Nia ini. Saya teringat dulu > sebagai juri FFI, setiap tahun kami mencari satu dua film Indonesia yang > agak bermutu, sulitnya minta ampun. Sebagai orang Indonesia di Praha, saya > bangga film itu disaksikan banyak orang. Tadinya saya merencanakan > meminjam film tersebut untuk sebuah screening dengan mengundang para Dubes > serta pejabat tinggi Ceko, tapi niat Dubes itu tak kesampaian karena film > Berbagi harus segera melanjutkan perjalanannya ke Eropa Utara untu sebuah > festival lain. > > However, saya ada beberapa catatan kecil tentang Berbagi: bagi saya film > lebih merupakan sebuah komedi tapi pendekatannya kurang seragam. Adegan > keluarga DR Salma dan istri-istri Pak Haji serta adegan sopir perusahaan > sinetron dengan istri-istri dan anak-anaknya dibuat karikatural. Bagus > memang, dan lucu. Tapi adegan Khoh Bun dibikin realistik dan bagus. > Akibatnya terasa film ini tidak mempunyai kesatuan artistik. khusus untuk > adegan Khoh Bun, saya melihat itu sebagai kehebatan Nia dalam mengamati > untuk kemudian menggambarkan dengan pas gaya dan tingkah laku masjarakat > peranakan Tionghoa di Indonesia. Penggambarannya sangat bagus dan > dimainkan dengan baik oleh Ira Maya Sopha dan Paku Sadewo.Ini bagian yang > saya paling nikmati dari film ini. Saya juga menganggap ini bagian > terbagus dari film ini. > > Sembari menonton , timbul juga pertanyaan pada saya apakah betul ada > dokter seperti dokter Salma itu dalam masyarakat Indonesia yang menerima > dan membenarkan poligami tanpa perlawanan memadai ? Dan sopir yang punya > istri banyak itu, apakah dia seorang sexmaniak? Meski karikatural saya > kira perlu informasi mengenai latar belakang Dr Salma (dan istri-istri > lain: apakah mereka tertipu oleh Pak Haji?) serta latar belakang sopir dan > istri-istri mereka. Film ini memberi kesan kuat taken for granted bahwa > mempunyai istri banyak, apalagi tinggal serumah(seperti dalam kasus sopir) > adalah hal yang normal-- bukan soal lagi, di Indonesia. Ada kesan kuat Nia > menggampangkan persoalan l untuk mencapai suatu tujuan di sini. > > Tapi dengan segala kelemahan yang saya sebutkan itu, sebagai tontonan, > film ini entertaining antara lain karena well made. > > Salam dari Praha. > > Salim Said.
