RADAR SORONG
Kamis 29  Maret 2007

Warga  Sebyar Tuntut BP Miliaran Rupiah

*Manager BP Minta Pemda Fasilitasi Masyarakat ke Jakarta



MANOKWARI- Belum beroperasi dan baru dalam tahap pembangunan konstruksi kilang, 
LNG Tangguh sudah berhadapan dengan sejumlah tuntutan. Para tokoh masyarakat 
Suku Besar Sebyar Kembarano Dambando serta kepala-kepala kampung dari daerah 
tersebut kemarin (28/3) menggelar aksi unjuk rasa damai di Kantor Gubenur Papua 
Barat. Massa dari Distrik Aranday Kabupaten Teluk Bintuni ini menyampaikan 
sejumlah tuntutan agar BP Tangguh membayar sejumlah tuntutan yang besarnya 
miliaran rupiah.

Massa yang dipimpin Drs Jamaluddin Iribaram,MSi ini dihadapan Gubernur Papua 
Barat AO Atururi membacakan pernyataan sikap yang memuat 23 tuntutan, 
diantaranya Suku Besar Sebyar Kembarano Dambando menuntut agar BP Tangguh 
membayar uang adat minang atau ketuk pintu atas 6 sumur gas, dimana 
masing-masing sumur dihargai Rp 10 M, jadi total yang harus dibayarkan Rp 60 M.

   Tuntutan penting lainnya yakni, masyarakat suku besar Sebyar berhak 
memperoleh 10 % per hari dibayarkan per triwulan dari hasi produksi kotor yang 
dikelola BP Tangguh. Juga berhak mendapatkan bagi hasil 30 % dari 70 % yang 
nantinya diperoleh  Pemerintah Provinsi Papua Barat dari pemerintah pusat. Bila 
pemerintah Provinsi Papua Barat tidak memiliki saham dari pemerintah pusat, 
maka10 % saham untuk masyarakat Suku Sebyar menjadi tanggung jawab BP Indonesia 
sebagai kompensasi hak ulayat.

Massa juga menuntut pemerintah segera merealisasikan ganti rugi yang layak atas 
terbakarnya hutan sagu saat kegiatan seismic tahun 1990-an, ganti rugi sebesar 
Rp 10 M. Serta tuntutan agar Pertamina/Koneko membayar ganti rugi atas 
pengelolaan sumbe daya alam sejak tahun 1990 hingga 2003. ''Pemerintah pusat 
dalam hal ini BP Migas harus tindaklanjuti permintaan masyarakat untuk 
membangun infrastruktur, peningkatan ekonomi, air bersih,listrik, pembangunan 
rumah ibadah, pemberdayaan pemuda dan perempuan serta perbaikan lingkungan 
hidup,'' tegas Jamaludin  yang membacakan pernyataan sikap.

  Disampaikan, pemerintah pusat dalam hal ini BP Migas harus menghormati,  
mengakui dan menghargai bahwa sumur gas yang dikelola BP Indonesia di wilayah 
suku Sebyar adalah milik warga setempat baik secara perorangan, adat, marga dan 
suku secara adat. Namun menurut Jamaludin, selama ini masyarakat di 12 kampung 
sebagai pemilih ulayat 6 sumur gas alam terasa diabaikan. Sehingga terjadi 
kesenjangan sosial antara warga di bagian Utama dan Selatan. Masyarakat di 
Tanah Merah tempat dibangunnya kilang sangat diperhatikan sedangkan warga di 
Sebyar yang menjadi pusat sumur gas tak diperhatikan secara baik. ''Kami 
berharap agar masyarakat dapat ditingkatkan taraf hidupnya secara adil dan 
merata. Ini diperlukan kebijakan dan ketegasan dari pemerintah dan BP Migas,'' 
ujarnya lagi.

  Penyataan sikap yang ditembuskan ke Presiden RI dan sejumlah pejabat di 
Jakarta itu kemudian diserahkan ke gubernur. Penyampaian aspirasi dihadapan 
Gubernur berlangsung aman.  Pembacaan tuntutan ini dimeriahkan dengan tarian 
adat. Mereka membawa serta 2 piring adat.Hadir pula 12 kepala kampung. Mereka 
mengawali aksi dari tempat penginapan di Hotel Maluku,kompleks Borobudur. Massa 
yang diantaranya mengenakan pakaian adat melakukan arak-arakan, berjalan kaki 
hingga ke kantor gubernur.

Gubernur tidak langsung menjawab tuntutan masyarakat di halaman kantor 
gubernur. Karena sifatnya mendasar, maka orang nomor satu di pemerintahan Prov 
Papua Barat ini mengarahkan perwakilan Suku Besar Sebyar  masuk di ruang rapat. 
''Hanya masyarakat adat dan para kepala kampung  yang boleh masuk, sedangkan 
lainnya yang tak ada hubungannya tidak bolehkan,'' tegasnya.

  Pertemuan masyarakat suku Sebyar dengan Gubernur yang didampingi Plt Sekda Ir 
ML Rumadas MSi,Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Prov Papua Barat Drs J 
Hegemur berlangsung kurang lebih 2 jam. Menurut Kadis Pertambangan dan Energi,  
tuntutan masyarakat ini cukup rumit dan harus dibicarakan di tingkat nasional 
karena menyangkut bagi hasil yang sudah ditentukan pemerintah pusat.

Sementara itu Manager Integrated Social Programe BP Indonesia di Papua, Erwin 
Maryoto yang menghubungi koran ini tak mempermasalahkan tuntutan 
masyarakat,bila hal itu berlangsung aman dan lancar. Ia hanya meminta kepada 
pemerintah daerah segera memfasilitasi tim yang dibentuk saat kegiatan Papua 
Stakeholder Meeting IV awal Maret lalu yang melibatkan LSM, akademisi,tokoh 
masyarakat dan pers untuk memfasilitas tuntutan masyarakat di kantor BP 
Indonesia di Jakarta. (lm

Kirim email ke