Oh, ya, saya harus (kembali) memperkenalkan diri. Saya skrg bekerja untuk
media online 'okezone' (www.okezone.com), media yang "sekandung" dengan koran
SINDO.
Saya ini sering berpindah-pindah media, sebelumnya di www.rakyatmerdeka.co.id,
sebelumnya lagi di majalah komunitas INFO GADING, pernah juga di PANTAU, Media
Indonesia, Riau Mandiri, majalah olahraga, truss..(lha, sy jadi lupa sendiri
neh,saking seringnya pindah2)
Salam damai,
Sholahudin 'adhie' Achmad
adhie achmad <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Kawan
yang memposting berita kekerasan terhadap wartawan ini lupa nomor kontak yang
bisa dihubungi.
Mohon japri, ke saya ya mas.
Tks
salam damai
sholahudin 'adhie' achmad
MOD:
Mas Adhie dari media mana??
abdul malik <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Dewan
Kesenian Jember Teror Wartawan/Peneliti Desantara
Kawan-kawan,
Kemarin, Selasa, 3 April, peristiwa tragis menimpa Taufik Soleh, kawan kita di
Jember. Ia adalah wartawan sekaligus peneliti Desantara Institute for Cultural
Studies yang tinggal di Jember yang giat mengamati pergulatan kebudayaan di
Jawa Timur, khususnya Jember dan sekitarnya.
Hasil pengamatan lapangan Taufik Soleh yang menyorot Dewan Kesenian Jember
(dan Dewan-dewan Kesenian lain) dan diterbitkan Harian Surya Surabaya pada
Minggu, 1 April 2007, berjudul Kala Seniman Berebut SK Penguasa, Dewan
Kesenian di Mata Para Seniman, wawancara berjudul Jika Terus Konflik, DKJ
Akan Rapuh, ditambah dengan esei Bisri Effendy berjudul Dewa(n) (Ke)seni(an)
, memperoleh respon tak mengenakkan.
Taufik Soleh yang salah seorang anggota lembaga RIAK Jember ini menerima teror
dan intimidasi dari seorang preman. Dengan tanpa basa basi dan dialog, pria
yang nampaknya tidak menerima isi liputan lapangan tersebut memukul dan
menempeleng Taufik Soleh, sambil terus mengintimidasinya. Kejadian ini
berlangsung pada hari Selasa, 3 April, jam 09.00 WIB di Jl. Karimata Gg.
Mandauli Jember.
Peristiwa ini jelas sangat memprihatinkan. Bahkan amat menyedihkan bagi
kebebasan informasi yang amat kita perjuangkan dalam alam demokrasi sekarang
ini. Peristiwa ini sekaligus menjadi tantangan bagi kita semua yang terlibat
aktif dalam kerja-kerja kebudayaan semacam ini.
Karena itu, kami mohon dukungan kawan-kawan jaringan di manapun berada agar
aktifitas dan perjuangan Taufik Soleh dan kawan-kawan di Jember tak berhenti
hanya karena teror yang tak bermartabat ini.
Salam,
Mh. Nurul Huda
Asisten program Halaqah Kebudayaan
Desantara Institute for Cultural Studies
KRONOLOGI PERISTIWA
Oleh Taufik Soleh
Saat itu hari Selasa, sekitar jam 09.00 WIB di Jl. Karimata Gg. Mandauli.
Saat saya hendak membeli rokok, tiba-tiba saya dipanggil seseorang yang saya
kenal dengan nama Popong. Karena memang sebelumnya saya sudah kenal dia, dan
sering diskusi soal kesenian dan juga pernah sama-sama kuliah di Unmuh Jember.
Akhirnya saya pun berhenti menyambut panggilannya. Dengan sapaan, ada apa bos!?
sebelum dia menjawab, dia tanya; ini tulisanmu
? Sambil melayangkan pukulan
(tempelengan tangang di dahi) dia menunjukkan tulisan saya dengan kawan saya
(Paring) di harian surya, Minggu 1 April 2007. Kamu kok nulis seperti ini
.?
Saat itu saya tidak bereaksi apa-apa. Dan saya coba menjelaskan duduk
persoalannya. Namun, hal itu tidak bisa membuatnya berhenti melakukan
tempelengan di dahi dan pelipis kanan kiri saya beberapa kali. Saya pun tidak
membalas perlakuan itu kerena saya anggap hal itu tidak mungkin saya lakukan.
Disamping karena secara pisik saya jauh lebih kecil dari dia, juga karena saya
anggap itu tidak akan bisa menjelaskan persoalan yang sebenarnya. Karena saat
itu dia sepertinya sudah tidak bisa diajak untuk berpikir jernih.
Saya katakana/tanyakan padanya; sebentar bang
.., dibagian mana tulisan saya
dan Paring itu yang salah? Dia jawab, udah
.., pokoknya saya tidak mau diskusi
soal ini. Pokoknya kamu berhenti lakukan hal-hal yang seperti ini. Kalau gak,
awas kamu tak pateni (bunuh). Dan lagi, sebelum kamu dipukuli orang se Jember,
mending kamu tak amuk disini. Kamu tahu apa soal kesenian Jember ini. Saat
tahun 1996 saya sudah ngurus kesenian. Dengan nada kasar dia Tanya; saat itu
kamu dimana
.?kamu masih bayi
.!lagi-lagi dia nempeleng saya. Saya bilang,
sebentar bang
..! Jangan emosi gini dong. Saya kan sebelumnya sudah konfirmasi
ke samean, responlah tulisan ini dengan tulisan bukan dengan cara seperti ini.
Dia jawab dengan nada keras dan mengancam dia mengatakan; kalau soal itu saya
gak bisa, kalau megang parang dan perang sama kamu, kayak orang dayak itu,
saya bisa. Sambil dia menempeleng lagi dia bilang; berapa juta data yang kamu
miliki? Sambil mengeluarkan map biru, dia bilang; ini data semua. Mau kamu saya
tempeleng pakai ini lagi?. Saya pun diam sejenak. Lalu saya bilang; Ok, nanti
kita selesaikan. Dan ini bukan hanya tanggung jawab saya tapi juga Desantara.
Dia bilang silahkan, atau kamu pakai jalur hukum sekalian. Tapi kamu juga harus
mati
! Saya pun berlalu dari tempat itu.
---------------------------------
Looking for earth-friendly autos?
Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center.