http://www.kaltimpost.web.id/berita/index.asp?Berita=Opini&id=211740

Sabtu, 19 Mei 2007


Memberantas Korupsi, Membangun Citra
Oleh: Wahyu SS


Korupsi menjadi trendmark tersendiri bagi bangsa Indonesia, hingga muncul 
anekdot korupsi adalah disiplin ilmu tersendiri di Indonesia. Oleh karena itu, 
untuk mengasah skill dan knowledgenya dapat dipelajari di Indonesia untuk 
diterapkan di negara lain. 
BEGITU mirisnya anggapan masyarakat terhadap modus operandi korupsi ini hingga 
bangsa Indonesia ditahun 1997 mengalami krisis ekonomi bukan akibat dari 
eksternal (kondisi ekonomi global) yang dianggap given bagi para ekonom, tetapi 
lebih diakibatkan oleh "kejayaan budaya" KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) 
hingga terjadi ketidakpercayaan public terhadap kaum birokrat (eksekutif, 
legislatif dan yudikatif). 

Secara jujur, bobroknya kondisi ekonomi Indonesia lebih dikarenakan mentalitas 
bangsa yang lemah, tidak professional dan terpelihara kuat sifat koncoisme dari 
tingkat desa hingga tataran birokrasi. 

Apabila ditinjau secara holistik penyebab membudayanya mental "korup" ini 
adalah rendahnya kualitas sumberdaya manusia disuatu negara, sehingga perangkat 
sistem tidak berjalan dengan baik. Berdasarkan data hasil survei Transparansi 
Internasional (TI) negara-negara yang memiliki indeks persepsi korupsi (IPK) 
terendah adalah Bangladesh (1.7 poin), Mynmar (1.8 poin), Nigeria (1.9 poin) 
kemudian Indonesia berada diurutan keenam yang memiliki IPK terendah dengan 2.2 
poin lebih baik 0.2 poin 

dari tahun sebelumnya (dari 158 negara). 

Sementara poin indeks persepsi korupsi tertinggi yang artinya mencerminkan good 
gorvernance dan clean country adalah Islandia (9.7 poin), Finlandia, Selandia 
Baru dan Denmark dengan nilai 9.6 poin (Kompas, 2005). Kecenderungan dari hasil 
diatas secara umum, ternyata yang memiliki indeks persepsi korupsi terendah 
berada di negara-negara terbelakang dan sebaliknya. 

Kualitas sumberdaya manusia yang rendah yang mengakibatkan suburnya budaya 
korupsi yang berimbas secara signifikan terhadap kesejahteraan penduduk suatu 
negara. Kesejahteraan yang diakibatkan budaya korupsi, secara sederhana hanya 
dapat dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat yang menghalalkan segala cara 
untuk lepas dari perangkat hukum (tindak pidana korupsi). Jadi, sebenarnya 
pertumbuhan ekonomi yang tinggi di era 1990-an sebagian besar hanya dinikmati 
segelintir orang akibat penyimpangan trickle down effects yang tidak menetas 
kebawah tetapi menggelembung ke tangan-tangan koruptor ini, lebih tegasnya 
pertumbuhan yang terjadi lebih disebabkan dorongan kekuatan dari luar yang 
menginvestasikan dananya (hutang) dengan jaminan 

sumberdaya alam yang kaya di Indonesia. 

Berdasarkan hasil analisa Transpransi Internasional ternyata negara-negara 
dengan sumberdaya alam melimpah cenderung korup hal ini digambarkan dengan 
angka indeks korupsi yang rendah. Contohnya dapat dilihat diatas (berdasarkan 
CPI) bahwa negara yang rendah CPI-nya tetapi memiliki sumberdaya alam melimpah 
(migas, tambang dan hasil hutan) mengalami kesejahteraan yang rendah. Oleh UNDP 
masalah ini disebut "paradox of plenty" yang melihat dependensi suatu negara 
terhadap sumberdaya alam (migas, tambang dan hasil hutan) dengan Human 
Development Index yang rendah. 

Bukan rahasia lagi kalau hasil migas dan tambang menjadi tempat para koruptor 
mengais rezeki, contoh kasus Lawe-lawe di Balikpapan dan penyimpangan dana 
reboisasi hutan disebagian besar hutan Kalimantan. Ivan A Hadar (Kompas:2005) 
menganalisa tindakan korupsi juga dapat terjadi apabila: 

Pertama, untuk membuktikan telah terjadi korupsi dibutuhkan perangkat hukum 
yang rinci. Tanpa itu, terbuka lebar peluang penafsiran hukum yang pada 
gilirannya 

memperbesar godaan untuk, misalnya, menerapkan pungutan kepada masyarakat 
dengan seenaknya. Namun, pada saat sama, kian banyak aturan bisa berarti kian 
besar kekuasaan 

birokrasi, sehingga kian besar peluang pungutan liar. 

Kedua, kian erat hubungan sosial sebuah masyarakat kian sulit membuktikan 
praktik korupsi. Seorang pejabat yang memberi proyek kepada seorang pengusaha 
dengan memperoleh imbalan tertentu bisa dijerat dengan tuduhan korupsi. Tetapi, 
akan sulit dibuktikan bila imbalan atas jasanya itu diperoleh dalam bentuk 
sumbangan, hadiah, atau 

lowongan kerja bagi anaknya. Suap-menyuap untuk memperoleh kemudahan birokrasi 
dengan demikian tidak harus terjadi secara langsung dan terbuka. Mungkin karena 
itu, ada ketentuan di Malaysia, pejabat pemerintah dilarang menerima hadiah apa 
pun dari masyarakat, apalagi dari pengusaha. 

Ketiga, dalam masyarakat dengan pola hubungan perkerabatan seperti masyarakat 
Indonesia, boleh jadi tidak realistis menuntut seorang pejabat agar berperilaku 
berjarak 

terhadap keluarga, kerabat, suku, dan seterusnya. Sang pejabat yang berperilaku 
berjarak akan dinilai tak bermoral karena melupakan akar rumput, kerabat, dan 
daerahnya. Dalam masyarakat demikian, birokrat ideal yang jujur, pekerja keras, 
dan dingin seperti digambarkan Max Weber sulit terlaksana. 

Dari analisa tersebut terdapat dua hal penting yaitu penegakan hukum dan 
membangun budaya transparansi. Penegakan hukum merupakan cerminan bahwa aparat 
hukum bersih dari suap menyuap dan budaya transparansi menunjukan budaya 
kekerabatan bisa menjadi penghambat apabila tidak didukung dengan akuntabilitas 
nilai kekerabatan tersebut, maksudnya ketegasan keluarga didalam perilaku anti 
korupsi. 

Jadi didalam poin dua, ada derajat hubungan antara kerabat dan profesionalitas. 
Kemudian yang terpenting adalah political will dari pemerintah. Dengan 
political will yang diwujudkan dalam bentuk perundang-undangan memberikan 
harapan sebesar-besarnya mengurangi tindakan korupsi di negeri ini. 


DAMPAK KORUPSI 

Lemahnya Fundamental ekonomi. Korupsi dapat berakibat ekonomi biaya tinggi 
(high cost economy), dimana investasi pembangunan lebih mengarah pada sektor 
hulu yang harus mengimpor bahan baku dari luar ataupun sektor jasa perbankan 
yang memiliki modal "dengkul" tetapi karena mendapatkan rekomendasi kucuran 
dana dari pejabat publik mempermudah persyaratan menjalankan usaha. 
Sektor-sektor formal yang di back up melalui BUMN biasanya menjadi lahan basah 
yang menjadi sarang para koruptor, dengan cara penguasaan aset-aset yang 
seharusnya diperuntukan untuk kepentingan publik. 

Penguasaan aset-aset negara kepada segilintir orang ataupun pribadi oleh Teten 
Masduki merupakan sesuatu hal penyimpangan yang akan memperlancar proses 
korupsi, Teten Masduki menyatakan : "Pemberantasan korupsi merupakan agenda 
utama proyek good governance. Masyarakat dunia tidak lagi mentoleransi segala 
bentuk penyimpangan kepercayaan publik untuk kepentingan pribadi (abuse of 
public trust for private gain), yang menimbulkan penguasaan sumber-sumberdaya 
ekonomi didominasi segelintir 

orang, kehancuran lingkungan, pelayanan umum yang buruk, memacetkan penegakan 
hukum, dan banyak lagi. Di mata lembaga-lembaga dana internasional, korupsi 
telah 

menimbulkan ekonomi biaya tinggi (highcost economy) atau distorsi ekonomi yang 
mengganggu kepentingan bisnis dan percepatan akumulasi modal mereka." 

Ketidakseriusan dalam Penegakan Hukum. Ketika Masyarakat mencari keadilan 
karena adanya ketidaksewenang-wenangan, dimulai dari aparat kepolisian dari 
proses berjalannya law enforcement pun telah mengalami penyimpangan hingga 
sampai tingkat pengadilan ketika masyarakat menjadi saksi, perlindungan hukum 
terhadap saksi pun tidak menjamin kehidupan saksi atau jaminan perlindungan 
saksi. Berbeda sekali ketika kasus korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara 
ataupun pengusaha yang didampingi pengacara-pengacara handal untuk melepaskan 
tersangka dari dakwaan dan bahkan untuk membebaskannya.Demoralisasi Budaya. 
Korupsi menjadikan budaya dimasyarakat menjadi ambruk. Seakan-akan budaya 
korupsi sudah membangun budaya baru dimasyarakat Indonesia yang terkenal 
religius dan ramah tamah. 

Mungkin kuatnya kehidupan kekerabatan dan jiwa kekeluargaan yang disalahartikan 
inilah menjadikan mental korupsi mengakar hingga mendarah daging tumbuh subur 
di masyarakat. Budaya malu harus ditumbuhkan lagi dengan mematikan sikap 
permisif di kalangan masyarakat. 

Pengutamaan Sumberdaya Manusia. Permasalahan bangsa ini adalah penguasaan 
aset-aset oleh segelintir orang. Penguasaan ini dikarenakan kekuatan 
aksesbilitas terhadap sistem sumber yang ada untuk menopang kemampuan kelompok 
tersebut untuk memanfaatkan fasilitas yang ada. 

Permasalahan aksesibiltas berkaitan dengan pengetahuan terhadap pemanfaatan 
sistem sumber. Pengetahuan inilah harus digali dengan cara mencerdaskan 
manusianya dengan tujuan sumber-sumber yang ada tidak dimonopoli sekelompok 
orang, karena monopoli inilah menjadi sarang para koruptor. Penegakan Hukum 
(Law Enforcement). Seperti dikemukakan diatas, bahwa bangsa ini telah mengalami 
degradasi terhadap nilai kebangsaan akibat ketidakpercayaan 

masyarakat terhadap perangkat hukum yang ada. Permasalahan korupsi padahal 
harus dimulai dari aparatnya dulu untuk berbuat berani dan berani menolak dari 
segala macam bentuk suap menyuap. 

Menumbuhkan Budaya "Malu". Budaya malu menjadi ciri khas budaya timur tetapi 
budaya ini kian memudar ketika arus globalisasi semakin menjaring seluruh 
kehidupan. Budaya malu selaras dengan upaya mengontrol terhadap 
keinginan-keinginan yang dapat menjerumuskan terhadap perilaku yang menyimpang 
dari norma-norma yang ada di masyarakat.E - Procurement. 

Alternatif solusi pemberantasan korupsi selain dengan cara perbaikan SDM, 
penegakan hukum dan melalui budaya juga dapat menggunakan perangkat elektronik 
dengan menggunakan E - Procurement. E - Procurement adalah upaya menanggulangi 
tindakan korupsi melalui internet yang dilakukan oleh masyarakat secara on 
line, biasanya upaya ini dilakukan dalam hal proyek ataupun tender pengadaan 
barang dan jasa. Kendala E - Procurement ini adalah kesiapaan sumberdaya 
manusia dalam penguasaan Telematika atau ICT (Information and Communication 
Tecnology), tetapi sistem ini tingkat transparansinya lebih baik, karena yang 
mengontrol masyarakat secara langsung. **** 


*) Penulis Dosen ABA ALKON Balikpapan. Tinggal di Balikpapan 

Kirim email ke