SUARA PEMBARUAN DAILY   
---------------------------------
    Dibutuhkan Sikap Kenegarawanan dari Presiden dan DPR     SP/YC Kurniantoro  
 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla 
menerima Ketua DPR Agung Laksono (kedua dari kiri), Wakil Ketua DPR Zaenal 
Ma'arif (kiri), Soetardjo Soerjogoeritno (kedua dari kanan), dan Muhaimin 
Iskandar (kanan) di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (18/6). Presiden tetap 
menolak menghadiri sidang paripurna untuk menjawab interpelasi nuklir Iran.   
[JAKARTA] Penggunaan hak interpelasi DPR atas sikap pemerintah mendukung 
Resolusi DK PBB soal nuklir Iran, dinilai telah menjadi proses politik yang 
berlebihan dan mengarah kepada ketegangan antarlembaga negara. DPR dan presiden 
sebaiknya bersikap layaknya seorang negarawan.   "Kita harapkan DPR dan 
presiden, keduanya bisa menampilkan sikap kenegarawanan. Lalu biar publik yang 
menguji siapa yang memiliki sikap sebagai negarawan," kata Ketua Fraksi Partai 
Keadilan Sejahtera (FPKS) Mahfudz Siddiq, Senin (18/6).   Dia menilai,
 pertemuan antara Pimpinan DPR dan presiden membahas interpelasi Iran, membuat 
interpelasi sebagai sesuatu yang menyeramkan. "Hal itu bisa menggiring sebagian 
anggota DPR mempolitisasi persoalan untuk berbagai kepentingan, termasuk 
deal-deal politik," katanya.   Seperti diberitakan, pertemuan Presiden dengan 
pimpinan DPR, di Kantor Presiden, Senin (18/6) malam, selama sekitar satu jam 
tidak menghasilkan keputusan apa pun, termasuk apakah Presiden Yudhoyono akan 
hadir dalam rapat paripurna DPR menjawab interpelasi soal Iran.   Pertemuan itu 
sendiri dirancang untuk mengatasi kebuntuan komunikasi antara lembaga eksekutif 
dengan legislatif, menyusul ketidakhadiran Presiden Yudhoyono menjawab 
interpelasi DPR, pekan sebelumnya. Begitu pun Menteri Sekretaris Negara 
(Mensesneg) Hatta Rajasa dalam jumpa pers bersama Ketua DPR Agung Laksono, di 
Kantor Presiden seusai pertemuan, menyebutkan, pembicaraan berlangsung 
konstruktif dan baik.   Karena tidak menghasilkan kesepakatan apapun,
 Hatta dalam jumpa pers menambahkan, pertemuan tersebut akan dilanjutkan dengan 
pertemuan berikutnya, yang waktu dan tempatnya masih akan dibahas lagi.   
Pengamat politik senior dari Universitas Indonesia (UI) Arbi Sanit mengatakan, 
kebuntuan pertemuan konsultasi antara pimpinan DPR dan Presiden menunjukkan 
kekoyolan para pemimpin negara ini dalam menyelesaikan berbagai persoalan 
bangsa.   Arbi melihat akar kekoyolan itu pertama-tama ada di pihak pemerintah 
yang tidak menggunakan momentum pertemuan konsultasi untuk menjelaskan sistem 
kenegaraan yang dipakai. "Ini sebenarnya peluang untuk Presiden menjelaskan 
sistem yang dipakai di negara ini, apakah presidensial atau parlementer," 
katanya.     Sederhana   Jika sistem presidensial, kata Arbi, DPR harus tahu 
diri bahwa hak interpelasi tidak bisa menjatuhkan presiden. Karena itu, DPR 
perlu memberi jaminan bahwa ketika Presiden hadir di sidang paripurna, DPR 
tidak akan memberikan interupsi yang memojokkan. Sebaliknya, kalau
 menggunakan sistem parlementer, jelas bahwa akan ada perdebatan dan jika 
pemerintah kalah, dia jatuh.   Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicated 
(SSS), Sukardi Rinakit, mengatakan, persoalannya sederhana saja yakni Presiden 
harus hadir di DPR menjawab interpelasi soal Iran dan masalahnya selesai. "Tapi 
ketika Presiden menyatakan tidak akan hadir dengan banyak tuntutan, itu artinya 
dia mengajak DPR berperang. DPR akan meladeni dengan berbagai cara termasuk 
mengajukan hak-hak yang mereka miliki," katanya.   Dalam jumpa pers tanpa tanya 
jawab tersebut, Ketua DPR Agung Laksono menyebutkan, pertemuan dengan Presiden 
tersebut adalah amanat rapat Badan Musyawarah (Bamus) DPR kepada pimpinan DPR. 
Menurut Agung, Bamus belum menjadwalkan kembali rapat paripurna DPR dengan 
agenda mendengarkan jawaban pemerintah. [B-14/Y-3/L-8]     
---------------------------------
  Last modified: 19/6/07 
       
---------------------------------
 Yahoo! Mail is the world's favourite email. Don't settle for less, sign up for 
your freeaccount today.

Kirim email ke