Pemilihan Umum Legislatif di Prancis berbeda dengan pemilihan umum di 
Indonesia. Pemilu untuk parlemen di Prancis ini dilakukan setelah Pemilu 
Presiden. Hal ini membuat Presiden  yang telah terpilih sebelumnya akan merasa 
was-was jika partai pendukungnya tidak menjadi mayoritas di parlemen. Jika hal 
itu terjadi, maka biasanya akan dilakukan perombakan kabinet yang baru dibentuk 
sebulan sebelumnya dimana Perdana Menterinya akan diganti oleh perdana menteri 
yang berasal dari partai mayoritas di parlemen. Program-program yang dijanjikan 
oleh Presiden pada Pemilu Presiden pun bisa berantakan. 
 
Pemilu legislatif di Prancis ini  dilakukan dengan sistem winner take all. 
Calon anggota parlemen dipilih langsung oleh rakyat dan rakyat tidak memilih 
partai. Sehingga partai pun biasanya hanya mencalonkan satu orang untuk setiap 
region pemilihan untuk memperebutkan 577 kursi parlemen. Dengan demikian, 
pemilihan umum untuk parlemen dilakukan secara dua putaran. Putaran pertama 
untuk mendapatkan calon anggota parlemen 2 terbesar. Jika tidak ada kandidat 
yang mendapatkan lebih dari 50% suara, maka diadakan putaran kedua.

Yang akan ditulis disini adalah hal yang unik dari seputar Pemilu legislatif 
kali ini yaitu adanya sebuah program keceplosan dari salah satu menteri 
mengenai penggantian sistem TVA (PPN) yang ada dengan sistem TVA Social (PPN 
Sosial). PPN yang dikenakan terhadap nilai penjualan barang, sebelumnya sebesar 
19,6%, akan digantikan oleh PPN Sosial sebesar 24,6% (naik 5%).

Program PPN Sosial ini jelas merupakan program keceplosan yang mencuat dari 
satu anggota kabinetnya. Menaikkan tarif PPN seringkali dianggap sebagai 
sesuatu kebijakan yang merugikan masyarakat karena harga barang akan menjadi 
mahal. Walaupun hal ini telah disangkal habis-habisan oleh kabinet bahwa 
program ini akan melindungi perusahaan-perusahaan Prancis dari delokalisi 
perusahaan-perusahaan ke Asia atau Eropa Timur.

Kita simak apa itu PPN Sosial ? 

Salah satu program yang dijanjikan oleh Presiden Prancis yang baru adalah 
penurunan charges social (biaya jamsostek) perusahaan yang nilainya sebesar 40% 
dari gaji karyawan. Biaya jamsostek di Prancis adalah 40% dari gaji dibayarkan 
oleh perusahaan dan 20% dari gaji dibayarkan oleh karyawan. Biaya jamsostek 
yang dibayar oleh perusahaanlah yang akan diturunkan. Penurunan biaya jamsostek 
inilah yang akan dialihkan kepada pembeli barang/jasa. Jadi pada prinsipnya 
sebagian biaya jamsostek ditanggung oleh  pembeli sehingga 
perusahaan-perusahaan di Prancis bisa lebih kompetitif dengan adanya 
pengurangan ongkos produksi. Dan disisi lain, produk impor akan terasa lebih 
mahal karena pengurangan ongkos produksi bukanlah untuk mereka, sedangkan 
PPNnya diberlakukan untuk semua barang/jasa baik produk lokal maupun produk 
impor. Inilah yang dijadikan argumentasi sebagai alat untuk mencegah 
delokalisasi perusahaan-perusahaan di Prancis.

Tapi tak pelak sistem PPN Sosial yang mencuat seminggu sebelum putaran kedua 
pemilihan umum legislatif ini bak membangunkan macan yang tengah tidur. Partai 
Sosialis (kiri) layaknya mendapatkan angin segar untuk menyerang Partai UMP 
(kanan). Partai Sosialis menuduh bahwa kebijakan itu tidak lebih dari cara 
pemerintah mengganti anggaran yang hilang atas kebijakan penghapusan berbagai 
jenis pajak dimana pajak warisan akan dihapuskan, Pajak ISF (pajak untuk warga 
negara yang memiliki kekayaan diatas 750000 euros) pun akan dihapuskan. Dan 
tentunya lebih-lebih adanya kredit pajak bagi warga negara yang membeli tempat 
tinggal utamanya. 

Kredit pajak atas pembelian properti ini bukan hanya sekedar pengurangan pajak 
tapi juga bisa mengakibatkan pemerintah berutang pajak kepada warga negaranya. 
Misalnya bila seorang warga negara membayar pajak 2500 euros setahun, kemudian 
setelah dihitung bunga kredit yang menjadi bagian pengurangan pajak sebesar 
1500 euros, maka dia harus membayar pajak sebesar 1000 euros. Dengan hitungan 
yang sama bagi warga negara yang membayar pajak hanya 100 euros setahun, maka 
dia berhak mendapatkan uang dari pemerintah sebesar 1400 euros.

Partai sosialis menyerang kebijakan menaikkan PPN sebagai pengganti dari 
penghapusan berbagai pajak karena akan mengurangi daya beli masyarakat. Penulis 
teringat terhadap tulisan sebelumnya yang lebih condong ke arah penghapusan 
seluruh pajak pendapatan (pajak penghasilan atas gaji, pajak atas keuntungan 
bursa, pajak lain-lain) yang kemudian dialihkan ke PPN. Pengalihan pajak 
seperti ini akan jauh lebih menguntungkan terhadap pertumbuhan ekonomi. Karena 
pada dasarnya PPN itu adalah sebuah pajak terhadap penghasilan kita. Dan ketika 
kita mendapatkan bonus fiskal, maka biasanya secara refleks bonus fiskal itu 
digunakan untuk konsumsi. Disinilah lowongan pekerjaan akan tercipta karena 
konsumsi bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Sebuah teori yang harus ditunggu hasilnya selama 1 tahun ke depan di Pemerintah 
baru Prancis ini. Tapi satu hal yang pasti, hasil legislatif sangatlah 
mengecewakan bagi partai UMP akibat program keceplosan ini. Walaupun tetap 
menjadi partai mayoritas di parlemen, tapi telah terjadi penurunan jumlah 
anggota terpilih.

On verra l'annee prochaine...

Paris, 19 Juin 2007


Win'K








Web:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Klik: 

http://mediacare.blogspot.com

atau

www.mediacare.biz

====================
Untuk berlangganan MEDIACARE, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mediacare/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke