Karena Tebusan Kurang Rp15.000, Ijazah Ditahan 3 Tahun Di SDN Kadulolo



Pandeglang  — Tragis nasib Sumarni (15), warga Desa Kadulolo,
Kecamatan Karang Tanjung, Kabupaten Pandeglang. Sudah 3 tahun ijazahnya
ditahan SDN setempat karena uang tebusannya kurang Rp 15.000.

Oleh : Lulu Jamaludin

Nasib serupa dialami adiknya,  Unip Firmansyah (12) yang tak bisa
melanjutkan ke SMP karena tak mampu menebus ijazah Rp 150.000. Unip yang
duduk di kelas 6 SDN Kadulolo dinyatakan lulus, tetapi ijazahnya tak
mampu diambil karena tak punya uang.

Hidayatullah (35), kakak tertua Unip dan Sumarni, warga Desa Kadulolo
Kecamatan Karang Tanjung Kabupaten Pandeglang di rumahnya Kamis (28/6).
Menurutnya, keluarganya tidak mampu menebus ijazah Unip dan Sumarni dari
penghasilannya sebagai petani dan hasil berkebun.

Ijum, orang tua Unip dan Sumarni mengaku pasrah saja. Dia mengatakan, 
tidak bisa melanjutkan pendidikan anaknya kepada jenjang yang lebih
tinggi. "Apalagi untuk sekolah, untuk makan saja susah, cukup sampai
SD aja, " kata Ijum.

Sehari-hari, Ijum menjadi buruh tani yang pengasilannya tidak bisa
dipastikan. Bahkan kedua anak lelakinya yang sekolahnya hanya sampai 
SMP, karena tak mampu melanjutkan sekolah terpaksa menjadi buruh lepas
di sebuah konveksi. "Semua anak saya tidak ada yang sekolah sampai
tinggi, ada satu laki-laki, itupun hanya sampai SMP, " kata Ijum.

Menurut Hidayatullah, kakak korban, pihak sekolah sudah meminta uang
Rp150.000 tersebut untuk menebus ijazah Unip Frimansyah sebelum ujian
dilaksanakan. Permintaan itu tak hanya kepada adiknya, tetapi ke
orangtua murid lainnya. Orang tua murid di SD Negeri Kadulolo itu banyak
yang tidak setuju mengenai uang tebusan ijazah tersebut, meskipun uang
tebusan itu pernah dimusyawarahkan dengan sekolah dan masyarakat
setempat. "Tapi kan, orang kampung mana berani protes kang, mereka
manut-manut saja, takut," ucap Hidayatullah.

Seharusnya, pemerintah setempat membantu pendidikan masyarakat yang
tidak mampu, bukan malah membebani orang kampung yang dililit
kemiskinan. Bantuan itu tentunya agar orang kampung itu bisa mengenyam
pendidikan yang lebih layak. "Harusnya pemerintah setempat membantu
rakyat dong, ini malah membebani," katanya.

Dia memastikan nasib seperti adiknya, Unip Firmansyah dan Sumarni bukan
jumlah yang sedikit. Mereka hanya mengenyam pendidikan sampai tingkat
SD. " Adik saya tiga tahun ijazahnya ditahan oleh SD Negeri
Kadulolo, karena masih punya hutang sebesar Rp15.000," tuturnya.

Dia tidak mengerti mengapa orang miskin susah untuk sekolah. Padahal
pemerintah sudah menganggarkan bantuan pendidikan untuk masyarakat
miskin berupa Bantuan Operasional Sekolah (BOS). "Lalu untuk apa ada
BOS, kalau keluarga miskin seperti saya tidak bisa mendapatkan ijazah,
apalagi meneruskan ke SMP, " kesal Hidyatullah. (nr)



dari situs berita : www.bantenlink.com <http://www.bantenlink.com/>


Kirim email ke