*** Ngurusin yang enggak enggak, baca ini aja dehhh...
Dujana cs Bahas Pemindahan Senjata YOGYAKARTA- Sejumlah pertemuan penting digelar di rumah kontrakan tersangka terorisme, Zarkasih alias Mbah. Pertemuan itu antara lain membahas mengenai pemindahan senjata, karena kondisi Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng) semakin mengkhawatirkan. Pertemuan-pertemuan di rumah kontrakan Zarkasih di Dusun Watu Getek, Desa Donoharjo, Ngaglik, Sleman terungkap dalam rekonstruksi yang digelar Polri Rabu (11/7). Dalam rekonstruksi itu dihadirkan empat tersangka, yakni Abu Dujana, Zarkasih, Nur Afifuddin, dan Bejo alias Wahid. Sebagian tersangka terorisme diperankan oleh polisi karena masih buron. Pertemuan antara Abu Dujana, Zarkasih, dan empat tersangka lainnya dilakukan di kamar berukuran 3 x 3 meter. Mereka duduk beralaskan kasur lipat warna biru yang dihamparkan di atas lantai tanah. Ruangan tersebut tepat berada di belakang ruang tamu. Dinding rumah ini belum dicat. Juga tak ada pintu, hanya terpasang kain korden. Dalam pertemuan itu, enam tersangka terorisme duduk membentuk setengah lingkaran. Abu Dujana duduk di tengah berhadapan dengan Zarkasih. Di sebelahnya ada dr Agus, Karim, Helmi, dan Wahid alias Bejo. Menurut Asluddin Hadjani, pengacara para tersangka terorisme, rekonstruksi di rumah kontrakan Zarkasih terdiri atas tiga adegan, yakni setelah dan sesudah insiden Poso, serta rencana pemindahan senjata. Ketika ditanya apa ada silang pendapat dalam rapat itu, Asluddin mengaku tidak ada. "Semua setuju ada pemindahan senjata dan mereka punya peran masing-masing dalam pertemuan itu," ujar dia. Rekonstruksi tersebut selesai pukul 15.30. Seusai rekonstruksi, Abu Dujana tampak dikeluarkan pertama kali dari rumah tersebut. Tangan dan kakinya diborgol. Zarkasih juga diperlakukan sama. Keduanya selanjutnya dimasukkan ke dalam mobil berlainan saat meninggalkan lokasi. Proses reka ulang berlangsung dengan pengawalan ketat dari aparat Densus 88 dan Polres Sleman. Polisi berjaga-jaga dalam jarak sekitar 100 meter dari lokasi. Masyarakat tidak boleh melintas maupun memasuki lokasi rekonstruksi. Hanya beberapa wartawan yang diizinkan masuk ke lokasi reka ulang, sedangkan lainnya harus menunggu di luar. Kepala Satgas Antiteror Brigjen Pol Surya Darma Salim usai reka ulang tak mau berbicara banyak. Dia hanya menjelaskan, olah tempat kejadian perkara (TKP) kemarin sudah selesai. Namun tidak tertutup kemungkinan akan ada rekonstruksi lagi. ''Untuk saat ini olah TKP sudah selesai, mungkin masih akan ada lagi tapi waktunya belum bisa ditentukan,'' tandasnya. (D19,H42,dtc-46) --- In [email protected], "scribbler scribbler" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > populer di mana? Di Freedom Institute dan kalangan mahasiswa dia di Univ > Paramadina paling. Kasian mahasiswanya punya professor bergelar Phd tapi > karyanya kelas Drs dari universitas nggak jelas. he he he > > On 7/11/07, mikhsan_modjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Namanya opini yah jelas subyektif. Kalau semua orang opininya sama yah > > bukan dunia namanya. Selain itu, saya pikir dalam banyak hal yang > > bersangkutan benar. > > > > So what gitu loh kalau teroris ditembak kakinya. Masak baru kakinya > > sudah rame, untung bukan kepalanya..... Maling sandal biasa saja > > kadang sampai babak belur (saya pernah lihat yang dipotong > > kupingnya...) atau bahkan mati dihukum massa ngak ada yang pernah > > ramai. Ini teroris kelas kakap baru ditembak kakinya sudah "manja". > > Makanya jangan jadi teroris dong....kasihan anak istri..... > > > > Btw, Luthfi sudah tidak butuh popularitas, wong sudah populer....:) > > > > Salam, > > > > M. Modjo > > > > --- In [email protected] <mediacare%40yahoogroups.com>, marwan > > azis <wan_greenpress@> wrote: > > > > > . > > . > > > > > > >
