Saya kuatir ketika teman-teman selalu menyamakan mas kawin dengan sesuatu
yang serba material, maka justru di situlah pola pikir terjebak pada
hegemoni materialistik. Ini sangat berbahaya, karena hubungan antar manusia
hanya dinilai dari sekedar untung dan rugi. Kita tidak pernah menanyakan
filosofi yang ada di balik praktik-praktik kultural seperti itu. Padahal,
menurut saya sebuah bentuk interaksi tidak harus melulu dinilai secara
material. Selain terdapat unsur formalitas, mas kawin juga perlu dilihat
dari segi filosofinya. Mengapa demikian? karena manusia tidak selalu harus
disamakan dengan barang yang memiliki nilai jual seperti barang mati yang
lain.
Kalau pola pikir kita sudah sangat materialistis seperti itu, jangan-jangan
kita sendiri akan memperlakukan pasangan kita seperti barang dagangan yang
bisa dibeli, dijual, atau dibuang sekalipun. Malah, jangan-jangan karena
sudah terlanjur sangat materialistis, setiap selesai melakukan hubungan
intim, maka salah satu pasangan akan memberi uang karena menganggap
pernikahan itu sendiri adalah rangkaian dari jual beli. kalau sudah begini,
waduh......!!!! Pasangan kita tidak akan ada bedanya dengan pekerja seks
yang lebih melihat uang daripada perasaan kemanusiaan.


Pada tanggal 12/07/07, Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

Kirim email ke