Jadi pengen ikut urun :

Waktu saya menikah, salah satu pemberian dari pihak saya (lelaki)
adalah giwang dari ibu saya. Konon, itupun pemberian dari ibu dari
bapak saya... Kalau dihitung dengan materi, itu tak begitu berharga.
Namun dari yang tersirat,... tak terbayang perasaan saya saat dipeseni
giwang itu oleh ibu.. Something spiritual.
Tak pernah giwang itu dipakai oleh istri saya karena memang bentuknya
kuno banget. :-)

Entah niat dari ibu saya apa ketika memberi barang itu. 
Tetapi jelas saya tak berniat membeli istri.. Yang namanya pemberian
sayang kok ya masih dicurigai tho.. 

Mas kawin menurut saya adalah formalitas saja. Bahkan konon dengan
cincin besi pun tak masalah. Yang penting adalah niatnya, dan mas
kawin adalah simbolnya.. Sama sekali gak ada unsur membeli cinta, dan
justru harus dijauhkan dari unsur gengsi. Yang namanya nikah kan
saling memberi. Mungkin yang di'pesan'kan di situ bahwa yang harus
memberi dulu adalah suami. 

Kalau belom nikah udah ribut mas kawin,.. waah,.. gak kebayang di
kehidupan rumah tangga seperti apa.

Statemen saya : mas kawin itu netral sifatnya. Kalau memberatkan, bisa
diperingan. Kalau dihapuskan kok ya berlebihan. 
Kalau ada keributan karena mas kawin, ya itu mungkin karena masalah
gengsi tadi, maupun pribadi atau keluarga. Makanya lebih baik itu
adalah murni kesepakatan antara pihak yang mau nikah dan bukan dari
keluarga.

Maaf kalau kurang berkenan,

salam, 
ivan 

--- In [email protected], "marthajan04" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> wah sorry ya mas, karena saya perempuan jadi saya suka pengen ngeyel 
> terus.
> 
> 
> --- In [email protected], "Unik F sultan" <unik@> wrote:
> >
> > Saya pernah menanyakan mengapa harus ada mas kawin dalam sebuah 
> perkawinan
> > (dalam islam). Saya diberi jawaban bahwa ketika terjadinya hubungan
> > 'percintaan', bukan saja disana timbul hak dan kewajiban si laki 
> laki dan
> > perempuan, akan tetapi ada hak Tuhan juga, yaitu yang tertuang 
> dalam rukun
> > perkawinan termasuk mas kawin. Mas kawin merupakan hak TUhan yang 
> kemudian
> > di amanahkan untuk di pakai oleh si perempuan. 
> --------------------------------------------------
> saya mau tanya, kenapa harus diamanahkan untuk dipakai oleh 
> siperempuan ketika terjadi hubungan "percintaan"?
> kan jadinya sama saja dengan jual beli. saya kasih kamu "itu", kamu 
> kasih saya uang.
> saya pikir, dengan adanya mas kawin itu, kedudukan perempuan menjadi 
> lemah. Dan tentu saja anda2 yang laki2 dengan senang hati mau 
> mempertahankan tradisi ini. Iya enggak?
> 
> salam,
> mj
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> > 
> >  
> > 
> > Itu menurut Islam (sepanjang yang pernah saya tanyakan). Tidak 
> tahu kalau
> > adat arab, adat jawa, ada mana saja.
> > 
> >  
> > 
> > Salam,
> > 
> > Unik
> > 
> >   _____  
> > 
> > From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
> On Behalf
> > Of Priyo Husodo
> > Sent: Thursday, July 12, 2007 9:33 AM
> > To: [email protected]
> > Subject: Re: [mediacare] Hapuskan saja mas kawin
> > 
> >  
> > 
> > yah tidak semudah itu menghapuskan mas kawin... karena budaya ini 
> sudah
> > masuk ke dalam sendi agama..
> > 
> > kalo mau dihapus berarti khan harus mengamandemen kitab sucinya... 
> sesuatu
> > yang tidak mungkin terjadi.
> > 
> >  
> > 
> > btw: kalo umat tidak lagi memakai mas kawin dalam perkawinan 
> apakah ini
> > berarti menentang agama?
> > 
> >  
> > 
> > Salam,
> > 
> > rph
> > 
> >  
> > 
> > On 7/11/07, marthajan04 <marthajan04@ <mailto:marthajan04@>
> > yahoo.com> wrote: 
> > 
> > makanya mas Miftah, saya bilang juga hapuskan saja mas kawin itu.
> > Supaya sama2 tidak berat. Bukankah banyak juga lelaki yang 
> kesulitan
> > melamar wanita karena tidak sanggup menyediakan mas kawin?
> > 
> > Nah nanti kalau sang mertua jengkel karena merasa sudah diperas, 
> > siapa yang akan jadi luapan kemarahan itu? tentu sang menantu
> > perempuan bukan? maka jadilah adanya perbudakan dalam keluarga.
> > 
> > mj
> > 
> > ------------------------
> > 
> > --- In [EMAIL PROTECTED] <mailto:mediacare%40yahoogroups.com> 
> ps.com,
> > "Miftah Surur" <msurur@> wrote:
> > >
> > > wah repot, nanti kalu dibebankan ke perempuan, dibilang 
> penindasan 
> > lagi terhadap perempuan....
> > 
> > > Tapi begini, tradisi mas kawin seperti itu perlu dilihat dalam 
> > konteks hubungan laki-laki dan perempuan di tanah Arab yang memang 
> > tidak seimbang - atau dalam bahasa anak sekolahan disebut sangat 
> > patriarkhal. itulah mengapa laki-laki mendapat posisi yang lebih 
> > dibanding perempuan. Meskipun akhir-akhir muncul pemikiran baru 
> dari 
> > beberapa pemikir Islam komtemporer untuk memberikan kewajiban yang 
> > sama bagi perempuan untuk memberi mas kawin, tapi gagasan ini 
> belum 
> > popular
> > -----------------------------------------------------
> >
>


Kirim email ke