Dear Chandra, beruntung saya bukan pemilih Jakarta, dan saya tidak mengajak golput lho, bisa dipenjara saya, hehehe.
Saya concern dengan Jakarta, karena kalau Jakarta berhasil melaksanakan Good Corporate Governance (GCG), maka akan berimbas dengan pemerintahan yang semakin baik di daerah-daerah. Jakarta adalah undoubtly parameter bangsa ini. Demikian juga sebaliknya, kalau masih berkutat terus dengan pola dagang sapi seperti sekarang ini, kalaupun ada kemajuan, tidak sebanding dengan kerugian yang ditanggung rakyat. Saya hanya mengingatkan, supaya tidak menaruh harapan yang tinggi kepada gubernur baru nanti, siapapun pemenangnya. Too much hope will kill you. Pilkada model sekarang ini, just a complete wrong direction. Apa Anda percaya Fauzi Bowo dengan partai-partai besarnya itu "hanya" punya dana kampanye 10 milyar? Wong Adang saja, saya yakin jumlahnya pasti lebih besar dari yang dikatakannya. Kalau tahu cuma butuh dana kampanye 10 milyar, bakalan nyesel tuh Bupati atau Walikota, yang udah ngabisin dana sama, tapi cuma dapat Kabupaten/Kotamadya, hehehe. Sekadar tambahan informasi, kekayaan SBY dulu "cuma" 4.5 milyar, Adang 17 milyar, dan Fauzi Bowo 38 milyar. Benar, kita membutuhkan orang macam Chavez, atau Ahmadinejad, orang yang sederhana tapi sudah merasa cukup kaya, sehingga nggak kepikiran untuk menggerogoti kekayaan negara. Menjadi skeptis itu pilihan yang realistis saat ini, tapi tidak mengurangi optimisme kita dalam pekerjaan kita masing-masing. --- In [email protected], T Chandra <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Dear all, > > Kalau bangsa mau lebih beradab gak usah deh jauh-jauh liat ke AS, Eropa, Australia segala. Lihat saja India, jelas orangnya mayoritas Hindu banget, tapi mereka tuh gak peduli presiden, perdana mentri, menteri dan segala pejabat apa Hindu, apa Islam, Kristen, Shik yang penting buat mereka mutu dan pengalaman track records nya. > > Mr Felix jangan skeptik banget dong, jangan ikutan nggolput. Biasanya tuh kalau perbaikan ya datang pelan-pelan, emangnya kita mau revolusi? Kalo emang senang PKS dan Adang ya coblos aja, ikut proses demokrasi dong sambil nunggu datengnya satria kayak Chavez atau Morales, kan? > > Salam, > > Chandra > > MOD: > Apa yang dipaparkan Bung Felix ada benarnya. Diskusi soal Fauzi Bowo lulusan Kolese Kanisius bermula di milis PKS. Menurut pandangan mereka, kalau kita pernah sekolah di institusi non Islam artinya sudah 'cacat' di mata mereka. > > Dan saya klop dengan pandangan Bung Felix. Kampanye hitam dari pendukung Adang ini amat tak sesuai dengan ucapan Adang sendiri yang "seolah-seolah pluralis". Namun sudah kita duga, Adang termasuk golongan "saiki kedele, sesuk tempe". > > > felix_milis <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Dear Ferry, > > jelas keliru kalau ada yang melakukan black campaign seperti itu. Saya > tahu memang beliau lulusan Kanisius, tapi who cares? > > Saya sendiri kenal dengan banyak orang lulusan dari institusi milik > Kristen, tapi malah justru pemahaman Islamnya lebih bagus dari lulusan > IAIN. > > Sebenarnya selebaran semacan itu justru seperti pedang bermata dua. Di > satu sisi, kalau audience-nya memang not very much educated, mungkin > akan termakan. > > Tapi kalau yang ter-educated, justru malah muak, dan malah antipati > dengan si penyebar selebaran. > > Anyway, saya tidak lagi mbelain Fauzi Bowo, karena saya yakin nggak > perlu saya bela, Fauzi Bowo akan sulit dikalahkan. Dan intuisi saya, > Fauzi Bowo tidak akan bisa membawa Jakarta lebih maju, kantong APBD > Jakarta bakal banyak tersunat untuk kepentingan partai pendukungnya, > itu sudah jadi common practice di dunia politik Indonesia. > > So, jangan banyak berharap lah dari Pilkada kali ini.
