http://www.indomedia.com/bpost/072007/31/opini/opini2.htm
Republik Rakyat Tempe Oleh: Andre Febriansyah Dosen LP3I Banjarmasin Beberapapenjelasan tentang manfaat tempe sudah terlalu banyak diketahui masyarakat. Jadi, tulisan ini tidak bermaksud 'menggarami lautan', dan bukan pula memulai pro kontra tentang kebaikan tempe yang sudah tersohor itu. Tempe adalah makanan bergizi dan mengandung zat antioksidan, sehingga dapat diandalkan untuk mencegah kanker. Begitulah sering terdengar khasiat makanan murah meriah tersebut. Namun tentu saja banyak makanan yang bergizi selain tahu dan tempe. Itu masalah pilihan. Tapi kenapa tahu dan tempe yang digembar-gemborkan, itu masalah politis supaya rakyat kecil cukup puas dan merasa sehat walaupun cuma makan tahu dan tempe saja, sehingga tidak menuntut yang macam-macam. Seperti susu yang masih dikategorikan sebagai barang mewah, sehingga tak perlu apabila harganya melambung tinggi itu wajar saja. Apalagi yang perlu susu kan cuma anak kecil. Wacana tentang zat antioksidan sebagai pencegah kanker rasanya perlu dijabarkan secara komprehensif. Dalam takaran berapa tahu atau tempe yang perlu dimakan dalam sehari terbukti efektif mencegah kanker? Mengingat begitu besarnya faktor karsinogen (pembentuk kanker) yang ada di lingkungan kita seperti virus, polusi, kebocoran ozon, tingkat stress dan zat-zat aditif yang berbahaya termasuk formalin yang banyak digunakan dalam industri pengolahan makanan! Informasi yang sepotong-sepotong bisa menjerumuskan kita yang awam. Dengan memakan seiris tahu atau tempe goreng lantas kita merasa sudah cukup sehat. Padahal, di era industri seperti sekarang, besar kemungkinan tahu atau tempe goreng mengandung berbagai macam zat karsinogen. Pemakaian minyak goreng yang berulang-ulang, penggunaan bahan pengawet, bumbu tepung mengandung perasa atau MSG. Kedelai yang diimpor entah dari mana, dan cara pengolahannya. Juga warung penjualnya yang dipinggir jalan disinggahi virus dan bakteri yang gentayangan. Informasi yang sepotong-sepotong itu pula yang sering kita terima dalam berbagai pemberitaan di media massa. Baik secara resmi yang disebarkan pemerintah maupun hasil investigasi pihak lain. Sekarang ini sangat jarang ada sesuatu yang bisa dijelaskan dengan sederhana. Semua orang bisa berbicara bahkan melakukan aksi dengan dasar dan ilmu yang sepotong-sepotong pula. Memang sekarang zamannya demokrasi. Namun itu bukan berarti semua berdasar pada pendapat atau suara terbanyak. Beberapa persoalan kadangkala memerlukan orang yang benar-benar ahli dan memiliki informasi yang benar, sehingga pendapat awam bisa dikesampingkan. Yang jadi persoalan sekarang adalah, sulit dibedakan yang memerlukan penanganan ahli (mungkin juga karena semua merasa ahli). Kini yang ramai dibicarakan adalah tentang beredarnya produk dari China mengandung formalin. Beberapa waktu lalu tentang bakso yang mengandung borax dan formalin, dan berbagai macam makanan yang diawetkan dengan formalin. Sepertinya masyarakat sudah sangat sering digelisahkan dengan isu-isu sepotong-sepotong yang tidak bertanggung jawab. Atau bahasa halusnya tak ada koordinasi yang baik. Seharusnya yang menciptakan keresahan dengan isu-isu tersebut mempunyai langkah-langkah cepat dan nyata dalam menanggulangi hal-hal seperti itu. Jangan hanya melempar statemen. Kita berterimakasih telah dilakukan peringatan terhadap hal-hal semacam itu. Namun masyarakat bukanlah regulator yang mampu dan berwenang mengatasi masalah secara sistematis. Yang tercipta adalah kepanikan dan korban-korban lain yang seharusnya tak perlu terjadi. Sayang tidak pernah terinformasi dulu berapa industri kecil yang gulung tikar karena isu bakso berformalin. BPOM mengeluarkan statemen bahwa semua produk makanan dari China akan dilarang masuk (Banjarmasin Post, Sabtu, 28 Juli 2007). Kita marah-marah ketika maskapai Indonesia dilarang terbang Eropa, namun kemudian kita melakukan generalisasi yang sama. Mengapa bukan "Semua produk yang tak layak dikonsumsi dilarang beredar". Kita tidak peduli buatan China atau buatan tukang penthol sebelah rumah, apabila tak aman dikonsumsi maka harus dilarang. Alangkah baiknya jika pemerintah menarik produk-produk bermasalah tersebut dan menjatuhkan sanksi tegas yang membuat ulah, tanpa ribut-ribut terlebih dahulu. Kita jadi berpikir, jangan-jangan pemerintah lebih mengandalkan kecepatan media massa dan reaksi masyarakat untuk mengatasi masalah mereka sendiri. Atau pemerintah yang kebobolan. Sehingga kita juga jadi berpikir buat apa kita menggaji aparatur negara. Kita tidak tahu berapa lama kita mungkin telah teracuni oleh makanan yang seharusnya tak layak dikonsumsi. Dan, kita juga tidak mau dihantui oleh perasaan was-was setiap menyantap makanan yang kita santap. Hidup sudah susah, masih juga ditakuti-takuti. Mungkin sekarang saatnya kita kembali ke tempe. Back to tempe. Dengan syarat tempe yang murni dengan kedelai nonimpor, dan digoreng dengan minyak kelapa buatan rumah tangga. Biar saja dibilang terbelakang dan berkualitas rendah. Biar melarat asal selamat. Menjadi Republik Rakyat Tempe yang damai. e-mail: [EMAIL PROTECTED]
