"Kebodohan" / Kejahilan Paling Berbahaya Ada dua kejahilan yang sering terjadi pada manusia. Namun, kejahilan paling berbahaya adalah kejahilan yang dilakukan orang cerdik-pandai
Sebelum Islam hadir, masyarakat Arab dikenal sebagai masyarakat jahiliyah. Ini bukan berarti bahwa masyarakat Arab orangnya bodoh-bodoh secara intelektual. Buktinya mereka sudah mengenal jenis perdagangan, mengenal perlombaan puisi dan sastra, dan sebagainya. Ibnu Mansur dalam karyanya "Lisanul Arab" membagi kejahilan dalam dua macam, yaitu kejahilan yang ringan dan kejahilan yang berat. Kedua kejahilan itulah yang sesungguhnya menjadi sumber penyebab kesalahan, penyimpangan, kesesatan dan juga kejahatan manusia di muka bumi ini. Kejahilan ringan Yaitu kurangnya ilmu tentang sesuatu yang seharusnya diketahui. Mereka belum memperoleh informasi tentang kebenaran (al-Haq) sehingga mereka tidak memiliki pilihan lain kecuali melakukan apa yang mereka ketahui sebagai suatu kebenaran. Contoh riil di zaman Rasulullah dalam kasus ini adalah seorang Badui (Arab Gunung) yang kencing didalam masjid Rasulullah SAW. Menyaksikan hal itu, Umar marah dan bermaksud memukul serta mengusir Si Badui tersebut. Tetapi Rasulullah mencegahnya dan meminta para sahabat beliau untuk mengambil air di ember kemudian menyiramnya hingga bersih. Kejahilan berat Yaitu keyakinan yang salah dan bertentangan dengan fakta atau realitas. Mereka meyakini sesuatu yang berbeda dengan sesuatu itu sendiri. Mereka melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda dengan yang seharusnya. Padahal telah sampai kepada mereka informasi tentang kebenaran (al-Haq) dengan hujjah yang meyakinkan dan dari sumber-sumber yang terpercaya. Kepada mereka juga telah datang para Nabi utusan Allah serta para penyeru ke jalan Allah yang lurus, tetapi mereka berpaling. Kasus penolakan Walid bin Mughirah dan para pembesar Qurays tentang kebenaran Muhammad serta Al-Qur'an dapat dijadikan sebagai contohnya. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, tentang latar belakang turunnya (asbabun nuzul) Surat Al Mudattsir ayat 18-25. Walid bin Mughirah adalah seorang pakar dan cendikiawan Qurays yang sangat disegani. Ia penasaran mendengar masyarakat membicarakan tentang Muhammad dan ajaran yang dibawanya. Suatu hari, ia datang ke tempat tinggal Nabi, sedang beliau saat tengah melaksanakan shalat dan membaca Al-Qur'an. Maka Walid mendengarkan dengan seksama kalimat demi kalimat apa yang beliau. Setelah usai, pulanglah Walid menemui kaumnya dari Bani Mahzum. Walid berkata: "Demi Allah, baru saja aku telah mendengarkan perkataan-perkataan Muhammad. Menurutku itu bukan perkataan manusia biasa dan juga bukan dari Jin. Demi Allah, sungguh perkataannya sangat manis, susunan katanya sangat indah, buahnya sangat lebat dan akarnya sangat subur. Sungguh perkataannya sangat agung dan tidak ada yang mampu menandingi keagungannya". Sejak itu, orang-orang Qurays ramai membicarakannya dan melaporkannya kepada Abu Jahal. Mereka menyebut bahwa Walid telah keluar dari agamanya, dan pasti akan diikuti oleh orang-orang Qurays lainnya. Setelah mendengar penjelasan mereka, Abu jahal berjanji kepada mereka: "Aku akan membereskannya". Abu Jahal kemudian mendatangi Walid dan duduk disampingnya dengan perasaan penuh kecemasan. Walid berkata: "Mengapa engkau seperti orang ketakutan seperti itu, wahai anak saudaraku?" Abu Jahal menjawab: "Bagaimana saya tidak ketakutan wahai paman, orang-orang Qurays pada mengumpulkan harta benda mereka untuk diberikan kepadamu, karena engkau telah mendatangi Muhammad". Mendengar hal itu, Walid merasa terhina dan marah. Ia berkata: "Bukankah mereka tahu bahwa aku memiliki harta dan anak-anak lebih banyak dibandingkan mereka semua?" Abu Jahal menjawab: "Jika demikian, sudilah kiranya paman mengatakan tentang Muhammad yang menunjukkan bahwa engkau sebenarnya mengingkari dan membencinya. Sampaikanlah wahai paman sikap itu dihadapan kaummu!" Walid bersama Abu Jahal kemudian mendatangi tempat orag-orang Qurays berkumpul. Sesampai dihadapan mereka, Walid berkata: "Wahai kaumku, kalian mengatakan bahwa Muhammad itu gila. Apakah kalian pernah melihat Muhammad berbicara sendiri?" Mereka menjawab: "Tidak, demi Allah!". Walid melanjutkan: "Kalian mengatakan bahwa Muhammad itu adalah dukun (kahin). Apakah kalian pernah melihat Muhammad melakukan praktek perdukunan?" Merekapun menjawab: "Tidak pernah!". Walid bertanya lagi: "Kalian mengatakan bahwa yang dikatakan Muhammad itu adalah syair (pusi). Apakah kalian pernah melihat Muhammad membuat syair?" Mereka menjawab: "Juga tidak". Lagi Walid bertanya untuk ke sekian kalinya: "Kalian mengatakan bahwa Muhammad itu pendusta. Apakah kalian pernah mengetahui Muhammad berdusta?" Mereka juga menjawab: "Demi Allah, tidak pernah sekalipun!". "Lalu, kalau demikian apakah yang diucapkan oleh Muhammad itu?" Walid terdiam dan kebingungan. Ia minta untuk diberikan kesempatan untuk berfikir dan menyendiri. Beberapa saat kemudian, Walid bin Mughirah kembali dan mengatakan dihadapan kaumnya: "Itu semua tidak lain adalah sihir yang dipelajari dari orang-orang dahulu!". Bukankah kalian mengatakan bahwa ucapan Muhammad dapat memisahkan seseorang dengan keluarganya, suami dengan istrinya dan orang tua dengan anak-anaknya?" Dalam kasus pertama, Si Badui yang kencing didalam masjid oleh Rasulullah dianggap sebagai kejahilan kecil saja, karena dilakukan oleh orang awam disebabkan ketidaktahuannya tentang ajaran Islam. Karena itulah ketika Umar bermaksud menggunakan kekerasan untuk menyelesaikannya, Rasulullah mencegahnya. Dan memerintahkan kepada para sahabat untuk mengambil air di ember dan menyiramnya. Kejahilan seperti ini dapat ditolelir. Kelak Si Badui yang jahil itu akan berubah juga setelah diberikan penjelasan atau diberi contoh yang benar. Sedangkan kejahilan kedua, yang dilakukan oleh para cendikiawan dan pembesar Qurays ini merupakan kejahilan besar yang tidak dapat ditolelir. Mereka bukan orang-orang awam yang bodoh, bahkan sesungguhnya mereka orang-orang yang cerdas dan mampu memahami yang benar dari yang salah. Merekapun tahu bahwa sesungguhnya Al-qur'an itu adalah kebenaran dari Allah, bukan kata-kata Muhammad; tetapi mereka berpaling dan mengingkarinya. Bahkan mereka mempengaruhi orang lain untuk mengingkarinya, dengan berbagai hujjah yang mereka buat-buat. Mereka sesungguhnya tahu kebenaran tapi tidak mau mengakuinya, mereka orang-orang sesat dan menyesatkan. Maka kelompok yang kedua ini tidak dapat dimaafkan oleh Allah SWT, sehingga diabadikan pengingkaran serta kesombongan mereka dalam Al-Qur'an, sebagai pelajaran bagi ummat setelahnya. "Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya). Maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian dia memikirkan. Sesudah itu dia bermasam muka dan merengut. Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri. Lalu dia berkata: "(Al Qur'an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu). Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia".(QS. Al-Mudattsir: 18-25) Problema yang dihadapi oleh ummat Islam hari ini sesungguhnya juga tidak terlepas dari dua model kejahilan ini. Di satu sisi masih banyak kita temukan ummat Islam yang kurang memahami ajaran Islam, sehingga mereka melakukan hal-hal yang dilarang serta meninggalkan yang diperintahkan. Atau melakukan hal-hal yang mereka sangka sebagai ajaran Islam padahal bukan. Seperti: maraknya kesyirikan, khurafat serta amalan-amalan bid'ah dan sejenisnya. Disisi lain dewasa ini juga tidak sedikit yang termasuk dalam kategori kaum cendikiawan yang mempelajari Islam, tetapi mereka memiliki pemikiran yang menyimpang dari prinsip-prinsip Islam yang telah disepakati oleh salafus shaleh dan ulama-ulama Islam. Dan yang lebih memprihatinkan lagi merekalah yang menggugat kebenaran Islam. Bukan hal baru jika belakangan ini orang-orang mengaku doktor, profesor -bahkan kebanyakan dari IAIN-datang membawa pikiran-pikiran aneh dan menyesatkan umatnya. Meski mereka mengaku dari kampus-kampus Islam, mereka tak segan-segan mengugat kebenaran Al-Qur'an dan al-Hadits, mereka anggap Rasulullah SAW seperti manusia pada umumnya -seolah-olah sama dengan dirinya-- . Mereka mengembangan logika berfikir menyesatkan. Seolah semua agama sama dan semua agama bisa masuk surga. Inilah kejahilan modern yang sangat membahayakan bagi masa depan Aqidah generasi muslim. Meski kedua bentuk kejahilan di atas sama-sama membuat kerusakan, namun kejahilan berbahaya adalah kejahilan yang dilakukan oleh orang-orang cerdik-pandai dan penguasa. Sebab kejahilan itu akan menciptakan kerusakan yang jauh lebih dahsyat bagi keimanan, kehidupan dan kemanusiaan. Karena itu, tantangan berat bagi kita semua untuk mencegahnya!. Wallahu a'lam bis-shawab [Ainur Rofiq-Hidayatullah.com] Wassallaam, Budi-pc
