PARA PENIPU UMMAT YANG BERMUKA DUA

Penulis : Al-Ustadz Ja'far Umar Thalib

 

Iblis la'natullah 'alaih melakukan operasi penipuan pertama kali dengan model dua muka. Dia bersumpah dengan nama Allah, bahwa ia adalah pihak yang menasehati Adam dan Hawwa' 'alaihimas salam dengan penuh ketulusan, ketika ia menyuruh keduanya untuk memakan buah terlarang di sorga Allah. Dan akhirnya Adam dan Hawwa tertipu untuk melanggar larangan Allah karenanya. Cara penipuan yang demikian ini rupanya sangat efektif menurut anggapan iblis dan anak buahnya. Sehingga berbagai manuver penipuan setelah itu, selalu dilakukan dengan model dua muka.

-Tulisan ke- 4-


UPAYA ISHLAH YANG DILAKUKAN OLEH KAUM MU'MININ

 

Setelah kita mengerti kedok-kedok ishlah yang ada di kalangan orang-orang munafiqin, maka kita perlu mengerti hakikat ishlah itu sendiri. Dalam keterangan Al-Qur'an dan Al-Hadits, kita dapati beberapa ungkapan sebagai berikut:

 

  1. Ishlah yang dilakukan oleh para Nabi dan Rasul Allah dalam rangka menjalankan misi dakwah yang mengajak manusia ke jalan Allah Ta'ala dengan agama yang diridhoi oleh-Nya. Hal ini seperti yang diberitakan tentang perjuangan dakwah Nabi Syu'aib 'alaihis salam dari kalangan kaumnya yaitu penduduk negeri Madyan, dalam Al-Qur'an surat Hud ayat 88:

"Syu'aib berkata: Wahai kaumku, bagaimana pandanganmu bila aku di atas kebenaran dari Tuhanku dan Dia menganugerahi aku dari sisi-Nya dengan anugerah yang baik. Dan aku tidaklah ingin menyelisihi kalian dalam apa yang kalian telah aku larang darinya. Aku tidak menginginkan dari kalian kecuali ishlah dengan sebesar kemampuanku. Dan tidak ada yang memberi taufiq (bimbingan) bagiku kecuali Allah. Kepada-Nya lah aku bertawakal dan kepada-Nya lah aku bertaubat." (QS. Hud ayat 88)

 

  1. Perintah Allah Ta'ala terhadap kaum Mu'minin untuk mengupayakan ishlah diantara mereka dalam menjalankan ketentuan agama Allah. Hal ini ditegaskan oleh-Nya dalam Al-Qur'an di surat Al-Anfal ayat 1:

"Mereka bertanya kepadamu tentang harta rampasan perang. Katakanlah sesungguhnya harta rampasan perang itu adalah milik Allah dan Rasul-Nya. Maka bertaqwalah kepada Allah dan upayakanlah ishlah diantara kalian dan taatilah Allah dan Rasul-Nya bila kalian memang sebagai orang-orang Mu'min." (QS. Al-Anfal ayat 1)

 

  1. Perintah Allah Ta'ala terhadap kaum Mu'minin untuk mengupayakan ishlah diantara mereka dalam rangka memadamkan pertikaian dan perselisihan yang terjadi diantara sesama kaum Mu'minin. hal ini ditegaskan oleh-Nya dalam Al-Qur'an surat Al-Hujurat ayat 10:

"Hanyalah kaum Mu'minin itu bersaudara diantara mereka. Oleh karena itu upayakanlah ishlah diantara kalian dan bertaqwalah kepada Allah. Semoga dengan taqwa itu kalian akan dirahmati-Nya." (QS. Al-Hujurat ayat 10)

 

  1. Perjuangan ishlah sekelompok kecil dari kaum Mu'minin ketika Islam telah dianggap sebagai agama yang asing oleh ummat manusia umumnya dan Ummat Islam khususnya. Hal ini telah ditegaskan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam sebagai berikut:

"Islam itu mulai didakwahkan dalam keadaan asing dan akan kembali dianggap asing sebagaimana semula. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing (karena menjalankan agama dengan benar, pent)." (HR. Muslim dalam Shahihnya, Kitabul Iman bab Bada'al Islamu Ghariban wa Saya'uudu Ghariban, hadits ke 145 / 232, dari Abi Hurairah).

 

Al-Imam Abu Bakr Muhammad bin Al-Husain Al-Aajurri meriwayatkan dalam kitab beliau Al-Ghuraba' Minal Mu'minin beberapa sabda Nabi shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam yang menjawab pertanyaan tentang siapakah orang-orang terasing yang beruntung itu dan apa perjuangan mereka. Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam ditanya:

"Ditanyakan: Siapakah mereka yang beruntung itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Yaitu orang-orang yang melakukan upaya ishlah ketika keumuman orang dalam kerusakan." (HR. Al-Ajurri dalam Al-Ghuraba' minal Mu'minin hal. 23 no. 1 dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu)

 

Al-Aajurri juga meriwayatkan pertanyaan kepada Rasulullah shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam dan jawaban beliau sebagai berikut:

"Dan siapakah orang-orang asing yang beruntung itu wahai Rasulullah? Beliaupun menjawab: Ialah orang-orang shalih yang sedikit jumlahnya di tengah-tengah kebanyakan orang yang telah rusak aqidah dan akhlaqnya. Orang yang menetangnya lebih banyak dariapda orang yang menurutinya." (HR. Al-Ajurri dalam Al-Ghuraba' minal Mu'minin hal. 28 no. 6 dari Abdullah bin Amru)


-bersambung-


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke