AL-IMAM ASY-SYAFI'IE
(MUHAMMAD BN IDRIS ASY-SYAFI'IE)
ANAK YATIM YANG DIMULIAKAN OLEH ALLAH TA'ALA
PENULIS : AL-USTADZ JA'FAR UMAR THALIB
(MAJALAH SALAFY EDISI 03 / TH V/ 1425 H / 2004 M)
Sejak di kota Baghdad, Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi'ie mulai dikerumuni para muridnya dan mulai menulis berbagai keterangan Agama. Juga beliau mulai membantah beberapa keterangan para Imam ahli fiqih, dalam rangka mengikuti sunnah Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam. Kitab fiqih dan Ushul Fiqih pun mulai ditulisnya. Popularitas beliau di dunia Islam yang semakin luas menyebabkan banyak orang semakin kagum dengan ilmunya sehingga orang pun berbondong-bondong mendatangi majelis ilmu beliau untuk menimba ilmu. Tersebutlah tokoh-tokoh ilmu agama ini yang mendatangi majelis beliau untuk menimba ilmu padanya seperti Abu Bakr Abdullah bin Az-Zubair Al-Humaidi (beliau ini adalah salah seorang guru Al-Imam Al-Bukhari), Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam, Ahmad bin Hanbal (yang kemudian terkenal dengan nama Imam Hanbali), Sulaiman bin Dawud Al-Hasyimi, Abu Ya'qub Yusuf Al-Buaithi, Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid Al-Kalbi, Harmalah bin Yahya, Musa bin Abil Jarud Al-Makki, Abdul Aziz bin Yahya Al-Kinani Al-Makki (pengarang kitab Al-Haidah), Husain bin Ali Al-Karabisi (beliau ini sempat di tahdzir oleh Imam Ahmad karena berpendapat bahwa lafadh orang yang membaca Al-Qur'an adalah makhluq), Ibrahim bin Al-Mundzir Al-Hizami, Al-Hasan bin Muhammad Az-Za'farani, Ahmad bin Muhammad Al-Azraqi, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh ilmu yang lainnya. Dari murid-murid beliau di Baghdad, yang paling terkenal sangat mengagumi beliau adalah Imam Ahmad bin Hanbal atau terkenal dengan gelar Imam Hanbali.
Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Mizzi dengan sanadnya bersambung kepada Imam Abdullah bin Ahmad bin Hanbal (putra Imam Hanbali). Beliau menceritakan : "Aku pernah bertanya kepada ayahku: <Wahai ayah, siapakah sesungguhnya Asy-Syafi'ie itu, karena aku terus-menerus mendengar ayah mendo'akannya?> Maka ayahku menjawab: <Wahai anakku, sesungguhnya Asy-Syafi'ie itu adalah bagaikan matahari untuk dunia ini, dan ia juga sebagai kesejahteraan bagi sekalian manusia. Maka silahkan engkau cari, adakah orang yang seperti beliau dalam dua fungsi ini (yakni fungsi sebagai matahari dan kesejahteraan) dan adakah pengganti fungsi beliau tersebut?>."
Diriwayatkan pula oleh Imam Shalih bin Ahmad bin Hanbal (putra Imam Hanbali): "Pernah ayahku berjalan disamping keledai yang ditumpangi Imam Asy-Syafi'ie untuk bertanya-tanya ilmu kepadanya. Maka melihat demikian, Yahya bin Ma'ien sahabat ayahku mengirim orang untuk menegur beliau. Yahya menyatakan kepadanya: <Wahai Aba Abdillah (kuniah bagi Imam Hanbali), mengapa engkau ridha untuk berjalan dengan keledainya Asy-Syafi'ie?>. Maka ayah pun menyatakan kepada Yahya: <Wahai Aba Zakariah (kuniah bagi Yahya bin Ma'ien), seandainya engkau berjalan di sisi lain dari keledai itu, niscaya akan lebih bermanfat bagimu>." [1]
Disamping Imam Hanbali yang sangat mengaguminya, juga diriwayatkan oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Tarikhnya dengan sanadnya dari Abu Tsaur. Dia menceritakan: "Abdurrahman bin Mahdi pernah menulis surat kepada Asy-Syafi'ie, dan waktu itu Asy-Syafi'ie masih muda belia. Dalam surat itu Abdurrahman meminta kepadanya untuk menuliskan untuknya sebuah kitab yang terdapat padanya makna-makna Al-Qur'an, dan juga mengumpulkan berbagai macam tingkatan hadits, keterangan tentang kedudukan ijma' (kesepakatan Ulama') sebagai hujjah/dalil, keterangan hukum yang nasikh (yakni hukum yang menghapus hukum lainnya) dan hukum yang mansukh (yakni hukum yang telah dihapus oleh hukum yang lainnya), baik yang ada di dalam Al-Qur'an maupun As-Sunnah. Maka Asy-Syafi'ie muda menuliskan untuknya kitab Ar-Risalah dan kemudian dikirimkan kepada Abdurrahman bin Mahdi. Begitu membaca kitab Ar-Risalah ini, Abdurrahman menjadi sangat kagum dan sangat senang kepada Asy-Syafi'ie sehingga beliau menyatakan: "Setiap aku shalat, aku selalu mendo'akan Asy-Syafi'ie."
Kitab Ar-Risalah karya Imam Asy-Syafi'ie akhirnya menjadi kitab rujukan utama bagi para Ulama' dalam ilmu Ushul Fiqih sampai hari ini. Pujian para Ulama' dan kekaguman mereka bukan saja datang dari orang-orang yang seangkatan dengan beliau dalam ilmu, akan tetapi datang pula pujian itu dari para Ulama' yang menjadi guru beliau. Antara lain ialah Sufyan bin Uyainah, salah seorang guru beliau yang sangat dikaguminya. Sebaliknya Sufyan pun sangat mengagumi Imam Asy-Syafi'ie, sampai diceritakan oleh Suwaid bin Saied sebagai berikut: "Aku pernah duduk di majelis ilmunya Sufyan bin Uyainah. Asy-Syafi'ie datang ke majelis itu, masuk sembari mengucapkan salam dan langsung duduk untuk mendengarkan Sufyan yang sedang menyampaikan ilmu. Waktu itu Sufyan sedang membacakan sebuah hadits yang sangat menyentuh hati. Betapa lembutnya hati beliau saat mendengar hadits itu menyebabkan Asy-Syafi'ie mendadak pingsan. Orang-orang di majelis itu menyangka bahwa Asy-Syafi'ie meninggal dunia sehingga peristiwa ini dilaporkan kepada Sufyan: <Wahai Aba Muhammad (kuniah bagi Sufyan bin Uyainah), Muhammad bin Idris telah meninggal dunia>. Maka Sufyan pun menyatakan: <Bila memang dia meninggal dunia, maka sungguh telah meninggal orang yang terbaik bagi ummat ini di jamannya>."[2]
Demikian pujian para Ulama' yang sebagiannya kami nukilkan dalam tulisan ini untuk menggambarkan kepada para pembaca sekalian betapa beliau sangat tinggi kedudukannya di kalangan para Ulama' yang sejaman dengannya. Apalagi tentunya para Ulama' yang sesudahnya.
| Religion | Islam video | Islam book |
| Belief net | Beliefs | Islam matrimonial |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "mediasalafy" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
