KONTROVERSI SEPUTAR DZIKIR BERSAMA

Oleh Al Ustadz Ja'far Umar Thalib

 

        Ketika saya hadir dalam acara dzikir bersama di masjid Istiqlal Jakarta tanggal 18 Agustus 2003, banyak telepon, dan SMS ke handphone saya, yang menanyakan, menyesalkan, mengkritik dan mencerca tindakan saya menghadiri majelis tersebut. Namun ada pula yang senang dan gembira dengan penampilan saya di majelis tersebut. Dengan berbagai sorotan antara pro dan kontra terhadap kehadiran saya di majelis tersebut, saya merasa perlu untuk memberi keterangan akan hal ini, berbagai masalah yang mengganjal pikiran banyak orang. Semoga Allah membukakan hati kita untuk melihat yang benar itu adalah kebenaran dan kita diberi kekuatan untuk mengikutinya dan yang salah itu adalah salah serta kita diberi kekuatan untuk menjauhinya.

 

MAJELIS DZIKIR DAN HALAQAH DZIKIR DALAM HADITS-HADITS NABI SHALLALLAHU 'ALAYHI WA ALIHI WASALAM

 

        Terdapat beberapa hadits-hadits Nabi shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam yang memberitakan keutamaan majelis-majelis dzikir dan halaqah-halaqah dzikir di sisi Allah Ta'ala . Juga hadits-hadits tersebut memberitakan adanya halaqah-halaqah dzikir di kalangan para Shahabat Nabi shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam di masa hidupnya Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam. Hadits-hadits itu antara lain adalah sebagai berikut:

 

1.    Keutamaan majelis dzikir:

Rasulullah shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat yang berputa-putar di jalan-jalan untuk mencari orang-orang yang berdzikir. Maka bila mereka mendapati suatu kaum yang sedang berdzikir kepada Allah, maka merekapun saling panggil memanggil dengan menyatakan: Kemarilah kalian karena di sini ada yang kalian cari."

Selanjutnya Nabi shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam menceritakan: "Maka para Malaikat itu merendahkan sayap-sayap mereka, demikian bertumpuk-tumpuk sampai kelangit terdekat (dengan bumi)."

Kata Nabi shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam : "Maka Tuhan mereka Yang Maha Agung dan Maha Mulia menanyai mereka – dan Dia lebih tahu dari mereka-: "Apa yang diucapkan oleh hamba-hamba-Ku?" Maka para malaikat itu menjawab: "Mereka bertasbih kepada-Mu (yakni mengucapkan subhanallah), dan mereka bertakbir kepada-Mu (yakni mengucapkan Allahu akbar), dan mereka bertahmid kepada-Mu (yakni mengucapkan alhamdulillah), dan mereka mengagungkan Engkau."

Kemudian Allah menanyai mereka para malaikat itu: "Apakah mereka yang berdzikir itu pernah melihat Aku?" Para Malaikat pun menjawab: "Tidak, demi Allah mereka tidak pernah melihat Engkau." Allah menanyakan lagi: "Bagaimana seandainya mereka melihat Aku." Maka para Malaikat pun menyatakan: "Seandainya mereka melihat Engkau, niscaya ibadah mereka kepada-Mu akan lebih kuat, dan mereka akan lebih kuat semangatnya dalam mengagungkan-Mu, dan lebih banyak bertasbih kepada-Mu."

Kemudian Allah menanyai para malaikat itu: "Maka apakah yang dimintai dari-Ku?" Para malaikat pun menjawab: "Mereka meminta dari-Mu surga." Allah bertanya lagi kepada para Malaikat-Nya: "Apakah mereka pernah melihatnya?" Dijawab: "Tidak pernah mereka melihatnya demi Allah wahai Tuhan." Selanjutnya Allah bertanya lagi: "Bagaimana pula kalau mereka pernah melihatnya?" Dijawab: "Seandainya mereka pernah melihatnya, niscaya mereka akan lebih besar keinginannya untuk mendapatkannya, dan lebih kuat semangatnya untuk memintanya serta lebih semangat untuk mencapainya." Allah bertanya lagi: "Dan apakah yang mereka berlindung daripadanya?" Para Malaikat itu menjawab :"Mereka memohon perlindungan kepada-Mu dari api neraka." Ditanyakan pula oleh-Nya: "Apakah mereka pernah melihatnya?" Dijawab: "Tidak, demi Allah mereka belum pernah melihatnya." Kemudian Allah menanyakan lagi: "Bagaimana pula kalau seandainya mereka pernah melihatnya?" Dijawab: "Mereka akan lebih kuat semangat larinya dan akan lebih takut daripadanya." Maka Allah menyatakan kepada para Malaikat itu: "Aku jadikan kalian sebagai saksi, bahwa Aku mengampuni dosa-dosa mereka." Maka berkatalah salah satu dari para Malaikat itu: "Di majelis dzikir itu ada si fulan yang sesungguhnya bukan dari mereka yang berdzikir itu. Dia datang ke majelis itu untuk suatu keperluan." Allah-pun menyatakan: "Mereka itu adalah majelis yang tidak akan celaka siapa pun yang duduk di majelis itu." (HR. Bukhari dalam Shahihnya, lihat Fathul Bari juz 11 hal. 208 no hadits 6408 Kitabud Da'awaat bab Fadl-lu Dzikrillahi 'Azza wa Jalla )

 

2.    Halaqah dzikir yang dilakukan oleh para Shahabat Nabi shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam dan dipuji oleh beliau shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam:

Abu Said Al-Khudri radhiyallahu 'anhu menceritakan: Mu'awiyah bin Abi Sufyan pernah keluar dari rumahnya menuju masjid, dan mendapati di masjid itu halaqah (posisi duduk segerombol orang dengan formasi lingkaran). Maka Mu'awiyah menanyai mereka: "Untuk apa kalian duduk-duduk di sini?" Mereka pun menjawab: "Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah." Mu'awiyah pun mengulang pertanyaan sembari memastikan: "Demi Allah kalian tidak duduk di sini kecuali untuk itu?" Mereka pun menjawab: "Demi Allah, kami tidak duduk di sini kecuali untuk itu." Maka Mu'awiyah menyatakan kepada mereka: "Tidaklah aku meminta kalian bersumpah karena aku mencurigai kejujuran kalian. Dan tidaklah ada seorang pun yang kedudukannya dekat dengan Nabi yang lebih sedikit dariku dalam meriwayatkan hadits Nabi. Dan sesungguhnya Nabi shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam pernah di suatu hari keluar dari kamarnya ke masjid Beliau dan mendapati satu halaqah dari para Shahabat beliau. Maka beliau pun menanyakan kepada mereka yang duduk di halaqah itu: (("Mengapa kalian duduk di sini?")) Mereka pun menjawab: (("Kami duduk di sini adalah untuk berdzikir kepada Allah dan bertahmid kepada-Nya karena Dia telah menunjuki kami kepada Islam dan telah memberi kami kenikmatan dengan agama ini.")).

Kemudian Rasulullah shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam mengatakan kepada mereka: (("Demi Allah kalian tidak duduk di sini kecuali untuk keperluan itu?")). Maka merekapun segera menjawab: (("Demi Allah kami tidak duduk di sini kecuali untuk keperluan tersebut.")). Setelah mendapat jawaban demikian beliau pun menyatakan kepada mereka: (("Ketahuilah, sesungguhnya aku tidaklah meminta kalian bersumpah karena aku mencurigai kalian. Akan tetapi, telah datang kepadaku Malaikat Jibril. Dia memberitahukan kepadaku bahwa Allah Yang Maha Agung dan Maha Mulia telah berbangga dengan majelis kalian di hadapan para Malaikat-Nya." (HR. Muslim dalam Shahihnya juz 17 hal. 190 Kitab Adz-Dzikir wad Du'a wat Taubah wal Istighfar , Bab Fadl-lul Ijtima' ala Tilawatil Qur'an wa 'ala Adz-Dzikri. Hadits ke 2701/40).

 

3.    Nabi shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam memerintahkan kita untuk duduk di halaqah-halaqah dzikir

"Apabila kalian melewati taman-taman surga, maka hendaklah kalian bersenang-senang padanya." Para Shahabat beliau bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksud dengan taman-taman surga?" Beliau pun menjawabnya: "Halaqah-halaqah dzikir." (HR. At-Tirmidzi dalam Sunannya juz 5 hal. 498 Kitabud Da'awat bab Ma Ja'a fi Aqdit Tasbih bil Yadi no hadits 3510 dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu)

 

Demikianlah tiga hadits dari sekian banyak hadits shahih yang menegaskan keutamaan majelis dzikir dan adanya majelis dan halaqah dzikir di kalangan para Shahabat Nabi shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam. Bahkan Nabi shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam memerintahkan untuk ikut duduk di halaqah dzikir itu.

 

 

MAKNA MAJELIS ATAU HALAQAH DZIKIR

 

        Tentang makna majelis dzikir dan halaqah dzikir yang disebutkan dalam hadits-hadits tersebut di atas, telah diterangkan oleh Al-Imam Al-Hafidh Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani rahimahullah (wafat th. 852 H) dalam Fathul Barinya jilid 11 hal. 209 sebagai berikut: "Dan yang dimaksud dengan dzikir di sini ialah membawakan lafadh-lafadh yang telah diriwayatkan anjuran untuk melafadhkannya dan memperbanyak mengucapkannya, seperti lafadh-lafadh yang dinamakan Al-Baqiyatus Shalihat, yaitu ucapan subhanallah wal hamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar, dan lafadh-lafadh yang digabungkan dengannya seperti Al-Hauqalah (yaitu ucapan La haula wala quwwata illa billah), Al-Basmalah (yaitu ucapan bismillahirrohmanirrohim), Al-Hasbalah (yaitu ucapan hasbunallah wani'mal wakil), dan Al-Istighfar (yaitu ucapan astargfirullah) dan semisal itu serta do'a meminta kebaikan dunia dan akherat. Diistilahkan dengan sebutan dzikir kepada Allah pula bila orang terus-menerus menjalankan amalan yang diwajibkan atau disunnahkan, seperti membaca Al-Qur'an dan membaca hadits, mempelajari ilmu agama, dan shalat sunnah."

 

Kemudian Ibnu Hajar menambahkan di halaman 213:

 

"Dan dalam hadits ini terdapat keterangan yang menunjukkan keutamaan dzikir dan keutamaan orang-orang yang berdzikir. Dan juga menunjukkan keutamaan berkumpul untuk berdzikir. Diterangkan pula bahwa orang yang duduk bersama mereka yang berkumpul dalam rangka berdzikir itu adalah dianggap termasuk dari orang-orang yang berkumpul untuk berdzikir dalam segala keutamaan yang Allah berikan kepada mereka, sebagai kemuliaan bagi mereka walaupun orang yang duduk di situ tidak ikut dalam pokok amalan dzikir yang dilakukan disitu."

 

 

BEBERAPA PENGINGKARAN PARA ULAMA' TERHADAP MAJELIS DZIKIR DAN HALAQAH DZIKIR

 

        Kita perlu memahami beberapa pengingkaran para Ulama' terhadap berbagai majelis dzikir yang ada di zaman beliau-beliau itu. Agar kita mengerti duduk permasalahan yang sesungguhnya seputar masalah ini. Untuk itu saya nukilkan berbagai pengingkaran tersebut sebagai berikut:

 

1)    Al Imam Abu Muhammad Abdullah bin Abdurrahman bin Al-Fadlel bin Bahram Ad-Darimi rahimahullah (meninggal pada th. 255 H) dalam Sunannya membawakan sebuah riwayat pengingkaran Shahabat Nabi Shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam bernama Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu terhadap halaqah-halaqah dzikir yang ada di jaman beliau. Riwayat tersebut adalah sebagai berikut:

 

"Telah menceritakan kepada kami Al-Hakam bin Al-Mubarak, dia mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Umar bin Yahya, dia mengatakan : Aku mendengar ayahku yang menceritakan apa yang didengarnya dari ayahnya, dia menyatakan: Kami sedang duduk di depan pintu rumah Abdullah bin Mas'ud menjelang shalat shubuh. Kebiasaannya bila beliau keluar dari rumahnya, kami pun berjalan bersamanya ke masjid untuk shalat berjama'ah di sana. Di saat kami sedang menunggu Abdullah bin Mas'ud keluar dari rumahnya, tiba-tiba datanglah Abu Musa Al-Asy'ari dan beliau bertanya kepada kami: "Apakah Abu Abdurrahman telah keluar menemui kalian?" Kami pun menjawab: "Belum." Maka Abu Musa akhirnya duduk bersama kami di depan pintu rumah Abdullah bin Mas'ud sampai beliau keluar dari rumah untuk menuju masjid. Ketika beliau keluar, kami semua berdiri menyambutnya. Maka Abu Musa pun menyatakan kepadanya : "Wahai Aba Abdirrahman, aku barusan melihat di masjid suatu kejadian yang engkau ingkari, akan tetapi aku tidak melihatnya alhamdulillah kecuali kebaikan." Maka beliau pun bertanya: "Apakah kejadian yang engkau maksudkan?" Abu Musa menjawab: "Bila engkau sampai ke masjid engkau akan melihatnya. Aku melihat di sana ada sekelompok orang yang duduk berhalaqah-halaqah untuk menanti shalat. Pada setiap halaqah itu ada seorang pria yang memimpin mereka dan di tangan mereka ada batu kerikil. Pemimpin mereka berkata: (("Bertakbirlah seratus kali.")). Maka mereka pun bertakbir seratus kali. Kemudian pimpinan mereka menyatakan: (("Bertahlillah seratus kali!.")), maka mereka pun bertahlil seratus kali. Selanjutnya pemimpin mereka menyatakan: (("Bertasbihlah seratus kali.")), maka mereka pun bertasbih seratus kali." Abdullah bin Mas'ud kemudian menyatakan kepada Abu Musa: "Lalu apa yang engkau katakan kepada mereka?" Aku tidak berkata apapun kepada mereka, karena aku menanti pendapatmu dan perintahmu." Ibnu Mas'ud mengatakan: "Tidaklah sebaiknya engkau perintahkan kepada mereka untuk menghitung kejelekan-kejelekan mereka dan engkau katakan kepada mereka bahwa kebaikan mereka itu sesungguhnya terjamin dan tidak akan disia-siakan." Kemudian Abdullah bin Mas'ud berjalan menuju masjid dan kami pun berjalan bersamanya. Ketika beliau masuk masjid dan mendatangi satu halaqah dari halaqah mereka itu, beliau pun berdiri di hadapan mereka sembari beliau menyatakan kepada mereka : "Perbuatan apa ini yang aku lihat sedang kalian lakukan?" Maka mereka pun menjawab: "Wahai Aba Abdirrahman, ini adalah kerikil yang kami pakai untuk menghitung takbir, tahlil dan tasbih kami." Maka Abdullah bin Mas'ud menyatakan kepada mereka: "Hendaklah kalian menghitung kejelekan-kejelekan kalian, karena kita menjamin bahwa kebaikan-kebaikan kalian tidak akan hilang sia-sia sedikit pun. Celakalah kalian wahai Ummat Muhammad, betapa cepatnya kebinasaan kalian. Para Shahabat Nabi kalian masih ada dan baju Nabi belum rusak dan bejana-bejana peninggalan beliau masih belum pecah. Demi yang diriku ada ditangan-Nya, sesungguhnya kalian dalam keadaan lebih baik dari agama yang diajarkan oleh Muhammad Shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam (dan yang demikian itu tidak mungkin terjadi, pent), atau kalian sedang membuka pintu kesesatan." Mereka yang duduk di halaqah tersebut menyatakan kepada Abdullah bin Mas'ud: "Demi Allah, kami tidak menginginkan kecuali kebaikan wahai Aba Abdirrahman." Maka beliau pun menyatakan: "Betapa banyaknya orang yang menginginkan kebaikan tetapi tidak bisa mencapainya selama-lamanya. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam telah menceritakan kepada kami bahwa akan adanya kaum yang membaca Al-Qur'an tetapi bacaannya tidak melampaui kerongkongan mereka. Demi Allah, saya tidak tahu barangkali mayoritas mereka itu adalah kalian." Kemudian Abdullah bin Mas'ud berpaling dari mereka setelah menasehati mereka.

 

    Amer bin Salamah berkata: "Kami melihat setelah itu bahwa mayoritas orang-orang yang duduk-duduk di halaqah-halaqah itu adalah orang-orang dari kalangan Khawarij yang memerangi kami di peperangan Nahrawan." Demikian riwayat ini dibawakan oleh Al-Imam Ad-Darimi dalam Sunannya jilid 1 hal. 68-69.

 

    Riwayat ini menegaskan pengingkaran Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'anhu terhadap cara berdzikir yang ada di halaqah tersebut. Yaitu menghitung dzikir dengan batu yang dinilai oleh beliau sebagai amalan bid'ah, dan bukan pengingkaran terhadap dzikir bersama yang dilakukan padanya.

 

2)    Al-Hafidh Al-Imam Jamaluddin Abil Faraj Abdurrahman bin Al-Jauzi Al-Baghdadi rahimahullah (wafat th. 597 H) menerangkan dalam kitab beliau Talbis Iblis halaman 393 sebagai berikut:

 

"Dan iblis sungguh telah menipu sebagian besar orang awam yang hadir di majelis-majelis dzikir. Mereka ikut menangis di dalamnya dan mereka menganggap bahwa hanya dengan begitu telah cukup dalam mencapai keutamaan majelis dzikir. Seandainyalah mereka tahu bahwa yang dituju dengan menghadiri majelis dzikir itu ialah untuk beramal dengan ilmu yang diterangkan padanya. Bila seseorang tidak beramal dengan ilmu yang dia dengar, maka apa yang didengarnya itu akan menjadi saksi yang memberatkannya di hari kiamat. Dan sungguh aku mengetahui adanya sekelompok orang yang menghadiri majelis-majelis dzikir sejak bertahun-tahun dan mereka menangis padanya dan mereka menghadirinya dengan penuh kekhusyu'an. Tetapi tak seorang pun dari mereka ini berubah dari kebiasaan yang biasa mereka perbuat yaitu perbuatan riba, menipu dalam berjual-beli serta tidak berubah pula kejahilannya tentang rukun-rukun shalat. Juga tidak berubah dari kebiasaan ber ghibah (menggunjing) terhadap kaum Muslimin dan durhaka kepada kedua orang tua. Mereka yang demikian keadaannya itu telah ditipu oleh iblis dengan menampakkan kepada mereka bahwa menghadiri semata majelis dzikir itu dan menangis padanya akan menghapuskan dosa-dosanya. Aku berpandangan, seandainyalah mereka menghadiri majelis-majelisnya para Ulama' dan orang-orang shalih, niscaya ia akan menggugurkan dosa-dosa mereka. Sebagian orang-orang yang hadir di majelis dzikir itu disibukkan dengan berangan-angan dalam keharusan bertaubat dari kemaksiyatan kepada Allah sehingga mereka tertunda-tunda untuk bertaubat dari dosa mereka. Sebagiannya lagi, adanya orang-orang yang menghadiri majelis dzikir itu untuk sekedar senang mendengar ungkapan yang ada padanya tetapi mereka terus-menerus saja mengabaikan keharusan beramal."

 

    Maka yang dikecam oleh Ibnul Jauzi disini adalah orang-orang yang tidak mendapatkan manfaat apa-apa dari majelis dzikir itu. Tidak mendapatkan tambahan ilmu dan tidak pula mendapatkan tambahan amal. Jadi bukanlah beliau mengecam majelis dzikir tersebut, tetapi yang dikecamnya adalah orang-orang yang hadir padanya tetapi tidak berubah ilmu dan amalnya kepada kebaikan.

 

3)    Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Taimiyah rahimahullah (wafat th. 728 H) menerangkan berbagai kemungkaran yang terjadi pada majelis-majelis dzikir sebagai berikut :

 

"Adapun dzikir dengan menyebut nama Allah semata, baik penyebutan namanya secara langsugn (yaitu seperti menyebut lafadh Allah, Allah, Allah, Allah, ... , pent) ataukah dengan menyebut dhamirnya (yaitu lafadh pengganti seperti menyebut lafadh Hua, Hua, hua, Hua yang artinya ialah Dia, Dia, Dia, Dia, ..., pent) adalah perbuatan bid'ah dalam Syariat ini. Juga secara bahasa dan perkataan Arab, kalimat tersebut salah. Karena nama tunggal (yakni penyebutan nama semata tanpa digandengkan dengan kata yang lainnya, pent) bukanlah ia sebagai kalimat pernyataan iman dan bukan pula kalimat pernyataan kufur." Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyah jilid 10 halaman 398.

 

    Syaikhul Islam banyak membahas majelis yang sering dinamakan Majelis As-Sima' atau terkenal juga dengan majelis yang ada padanya dibacakan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam serta bait-bait syair yang dinyanyikan dengan irama-irama tertentu. Beliau mengingatkan adanya kemungkaran dalam majelis-majelis demikian, seperti penabuhan gendang dan alat-alat musik lainnya, bertepuk-tepuk tangan, bersiul-siul, dan berteriak-teriak dalam berdzikir kepada Allah. Juga dzikir yang mengandung lafadh tawassul yang syirik serta bid'ah. Semua hal tersebut adalah perkara-perkara yang diingkari oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah. (Lihat Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyah jilid 10 dan 11).

 

    Semua pengingkaran para Ulama' sebagaimana tersebut, telah saya pelajari dan ketika semua itu saya teliti pada majelis dzikir yang dipandu oleh saudara Muhammad Arifin Ilham, hal-hal kemungkaran tersebut tidak saya dapati dan bila kadang-kadang terdapat pada sebagian yang hadir, maka pemandu segera menegurnya dan melarangnya. Ini yang saya saksikan pada mereka. Adapun berkenaan dengan dzikir yang disuarakan bersama dan dikomandoi dengan satu komando, hal ini ada catatan tersendiri berkenaan pengingkaran kepadanya oleh Al-Imam As-Syathibi rahimahullah untuk kita telaah secara ilmiyah.

 

-Bersambung ke Bagian 2-

 

__._,_.___


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke