Senantiasa Menjaga Tawhîd
Oleh : M. Luthfi Thomafi
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ عَنْ مُبَارَكِ
بْنِ فَضَالَةَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ
أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :
"... يَقُولُ اللَّهُ أَخْرِجُوا مِنْ النَّارِ مَنْ ذَكَرَنِي يَوْمًا أَوْ
خَافَنِي فِي مَقَامٍ. . .".
قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ
“…Akhrijû minan-nâri man dzakara-nî yawman aw khâfa-nî fî maqâmin...”.
T e r j e m a h :
Diriwayatkan dari Muhammad ibn Rôfi’, dari Abû Dâwûd, dari Mubârok ibn
Fadhâlah, dari Ubaydillâh ibn Abî Bakr ibn Anas, dari Anas, dari Nabi
Muhammad saw, bersabda, “Allah berfirman : Keluarkanlah dari neraka, orang
yang (pernah) mengingat-Ku (walaupun) sesaat, atau takut kepada-Ku pada satu
momen (tertentu)”.
Hadits di atas diriwayatkan hanya oleh Imam At-Tirmidzi dalam kitab kumpulan
Hadits beliau, Sunan At-Tirmidzi. Hadits tersebut masuk dalam kategori
Hadits Qudsy, yaitu Hadits yang diriwayatkan oleh Nabi Muhammad saw dari
Tuhan, tetapi status lafaz dan kalimatnya tidak sama dengan status al-Qur’
an. Hadits Qudsy, biasanya, dicirikan dalam periwayatan Nabi saw dengan
kata-kata “…Allah berfirman …”, atau yang semakna dengannya. Kebanyakan
Hadits Qudsy berbicara tentang hal-hal spiritual dan tauhid (monotheis),
serta hal-hal seputar Hari Akhir.
***
S a n a d
Sanad adalah transmisi orang-orang yang meriwayatkan sebuah Hadits. Sanad
Hadits tersebut terdiri dari 5 generasi (thabaqât). Berikut ini penjelasan
transmisi itu :
1. Anas. Yakni Anas ibn Mâlik, salah satu sahabat Nabi saw. Sebutan
beliau adalah Abû Hamzah, bermukim di Basrah. Wafat tahun 91 H.
2. Ubaydillâh ibn Abî Bakr ibn Anas, alias cucunya Anas ibn Mâlik.
Termasuk generasi Tâbi’în, yaitu generasi setelah sahabat Nabi saw. Sebutan
beliau adalah Abû Mu’âdz, bermukim di Basrah.
3. Mubarok ibn Fadhâlah. Adalah generasi Tabi’it-Tâbi’în, yakni
generasi setelah Tâbi’în. Sebutan beliau adalah Abû Fadhâlah, bermukim di
Basrah.Wafat tahun 166 H.
4. Abû Dâwûd. Nama aslinya adalah Sulaymân ibn Dâwûd ibn Al-Jârûd.
Wafat tahun 204 H, di Basrah. Menempati generasi Tâbi’ul-Atbâ’, yakni
generasi setelah Tabi’it-Tâbi’în.
5. Muhammad ibn Rôfi’, Syaikhul-Mushonnif atau guru pengumpul kitab
Hadits, Imam At-Tirmidzi. Sebutan beliau adalah Abû Abdullâh, wafat tahun
245 H.
Periwayatan yang ada dalam Hadits dilakukan dalam sistem berguru. Dengan
demikian, urutan silsilah dari sisi perguruan adalah sebagai berikut : Imam
At-Tirmidzi berguru kepada Muhammad ibn Rôfi’, Muhammad ibn Rôfi’ berguru
kepada Abû Dâwûd, Abû Dâwûd berguru kepada Mubarok ibn Fadhâlah, Mubarok ibn
Fadhâlah berguru kepada Ubaydillâh ibn Abî Bakr ibn Anas, Ubaydillâh ibn Abî
Bakr ibn Anas berguru kepada Anas ibn Mâlik, dan Anas ibn Mâlik mendapatkan
Hadits itu dari Kanjeng Nabi Muhammad saw. Tradisi berguru dan menghapalkan
sebuah riwayat—tidak harus hadits Nabi saw—adalah satu-satunya tradisi di
dunia yang hanya dimiliki oleh orang Arab. Maka, ketika Islam menjadi agama
mayoritas orang Arab, Islam pun berkembang menjadi melalui tradisi-tradisi
yang dimiliki oleh orang Arab itu.
Orang-orang yang ada dalam transmisi periwayatan Hadits di atas, dalam
Mustholah Hadits—yakni kajian ilmu yang mendalami hal-hal berkenaan dengan
Hadits Nabi saw, disebut sebagai Râwî. Râwî secara etimologis berarti orang
yang meriwayatkan. Bentuk pluralnya adalah ruwât. Sebagaimana telah penulis
terangkan di atas, ada klasifikasi-klasifikasi yang disebut dengan thabaqât
ar-ruwât (generasi para rawi), yaitu sebagai berikut :
=> Nabi Muhammad saw
1. Sahabat
2. Tâbi’în
3. Tabi’it-Tâbi’în
4. Tâbi’ul-Atbâ’
=> Syaikhul-Mushonnif
Jumlah generasi dari Syaikhul-Mushonnif sampai kepada Nabi saw tak mesti 4,
melainkan melihat silsilah periwayatannya. Maka sebutannya pun bisa
bertambah, dan yang demikian itu tidak masalah karena hal tersebut hanya
persoalan istilah generasi saja.
***
M a t a n
Matan adalah substansi, yakni substansi atau materi Hadits. Kalimat yang
penulis garis bawahi pada Hadits di atas, atau yang dicetak miring dalam
terjemahannya, adalah matan Hadits.
Hadits di atas berbicara tentang urgensi memegang teguh keimanan--dalam hal
ini tauhid atau monotheisme. Hadits tersebut mengingatkan betapa mengingat
atau berzikir atas tauhid sedikit banyak akan membawa dan memiliki dampak
yang positif bagi kehidupan manusia di Hari Akhir. Setidaknya ada empat tema
yang bisa diringkas dari Hadits di atas, yaitu (1) takut kepada Allah swt
yang terimplementasikan ke dalam bentuk-bentuk adab atau moral yang positif.
(2) Keutamaan berzikir kepada-Nya, (3) Amalan-amalan yang dapat
menyelamatkan kita dari api neraka, serta (4) keluarnya seluruh kaum
monotheis dari api neraka.
Namun, sudah tentu bahwa keimanan dalam bentuk sikap tauhid yang dimaksud
atau dipersyaratkan tidak begitu saja disampaikan secara oral alias hanya
keluar di mulut. Sebab, kalau hanya keluar dari mulut, maka orang-orang yang
hari ini ingkar kepada eksistensi Tuhan pun bisa melakukannya. Maka dari
itu, sudah barang tentu jika adanya keimanan tersebut mesti diwujudkan dari
bentuk keikhlasan dan pengakuan kepasrahan yang keduanya timbul dari hati
manusia. Hal ini sama persis dengan apa yang disabdakan oleh Nabi saw;
Man qâla Lâ-ilâha illallâh khôlishon min qalbihi dakhala al-Jannah.
T e r j e m a h : Barang siapa mengucapkan Lâ-ilâha illallâh secara ikhlas
dari lubuk hatinya, maka dia masuk surga.
Muncul pertanyaan dalam benak kita, apakah hanya cukup dengan membaca
Lâ-ilâha illallâh seseorang bisa masuk sorga? Jawabnya adalah bahwa maksud
Hadits tersebut tentu bukan seperti yang ada dalam pertanyaan tadi. Hadits
tersebut hanya memberikan jaminan bahwa kalimat Lâ-ilâha illallâh yang
diucapkan melalui hati yang ikhlas dan dengan pemaknaan serta pemahaman yang
tepat, maka ucapan-ucapan tersebut bisa menjadi pertimbangan penting bagi
amaliah-amaliah manusia selama di dunia pada Hari Akhir nanti. Selain itu,
yang juga perlu dipahami, seorang muslim pun tidak bisa memahami Hadits
secara sepotong-potong. Misalnya, dari Hadits di atas memahami bahwa cukup
dengan i-n-g-a-t maka seseorang telah mendapatkan tiket sorga, atau cukup
dengan m-e-n-g-u-c-a-p-k-a-n kalimat Lâ-ilâha illallâh, telah mendapatkan
jatah tempat di Hari Akhir.
Pemahaman serupa bisa juga demikian : salah satu Hadits Nabi saw adalah
sebagai berikut, barang siapa beriman kepada Hari Akhir, maka hendaknya
memuliakan tetangganya. Tidak bisa kita memahami Hadits tersebut dengan
prinsip : cukup dengan menghormati tetangga, maka kita telah termasuk
sebagai orang yang beriman. Namun, pemahaman yang ideal adalah bahwa
menghormati tetangga adalah bagian atau salah satu ciri orang yang beriman.
Pemahaman yang sepotong-potong tersebut dapat menimbulkan pemaknaan yang
keluar dari maksud-maksud diturunkannya agama Islam. Dari sini kita semakin
bisa menyadari bahwasanya dalam memahami nilai-nilai yang diberikan oleh
Islam, kita mesti mempelajarinya secara menyeluruh.
****
Wallohu a'lam bish-showab,-
__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam
http://id.mail.yahoo.com
Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata'ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah bila diamalkan, salah satu pengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan.
Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu wata'ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas yang engkau mampu.
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "mencintai-islam" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
