*Tausiah Kebangsaan: Pancasila bagian dari Amanah*

Oleh: KH. Adib Rafi'uddin Izza



MUKTAMAR ke-24 Nahdlatul Ulama (NU) di Situbondo tahun 1984 menorehkan
catatan penting bagi warga Nahdliyin, yang sekaligus memberi sumbangan
berarti bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai salah satu ormas
Islam tertua dan terbesar, NU menerima Pancasila sebagai asas tunggal dan
menegaskan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah keputusan
final.



Ada apa dengan Pancasila, dan mengapa harus Pancasila? Jawabannya persis
seperti judul tausiah kali ini: Pancasila merupakan bagian dari amanah.


Dalam konteks Islam, amanah adalah perintah Allah SWT yang harus
dilaksanakan segenap umatnya. Setiap orang mempunyai amanah dan
tanggungjawab yang perlu ditandai dalam semua aspek kehidupan. Amanah juga
merupakan sifat yang menentukan kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di
akhirat. Ia juga merupakan salah satu unsur kesempurnaan pribadi yang patut
dimiliki dan dipertahankan oleh setiap individu muslim.


Begitu dalamnya makna amanah bisa dilihat dari definisi yang diberikan
banyak ulama, seperti yang terangkum dalam kitab *Al-Jami Al-Ayat Al-Ahkam*
:04.


1.  Imam Abu Bakar Muhyiddin Ibn ‘Arabi:

*"Yang dimaksud amanah adalah orang yang mampu melaksanakan sikap istiqomah
dalam kehidupan sehari-hari"*

2.  Imam Nawawi:

*"Al-ada al-faraaidl wa Taqwa* (Melaksanakan segala kewajiban)".


3.  Imam Qisa'i:

"*Al-akhlaq al-samiyah* (Budi pekerti yang luhur)"


4.  Imam Zamakhsari:

"*Al-'adaalah* (keadilan)" (Menyampaikan kepada yang berhak)



Konsep amanah yang dipaparkan para ulama di atas akan lebih indah jika kita
mampu menjaga/mengembannya. Apalagi, amanah merupakan pemberian Agung Allah
SWT kepada manusia, khalifah di bumi yang mempunyai kewajiban menjalankan
amanah itu. Allah SWT berfirman tentang Khalifah dalam Al-Quran:


*Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku
hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya
aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."*


Sikap "protes" para malaikat tersebut bisa dimaklumi lebih dikarenakan
ketidaktahuan malaikat akan manusia. Malaikat hanya memandang manusia dari
segi "yang membuat kerusakan" (*biquwwati ghodlbiyah*) dan suka menumpahkan
darah (*biquwwati syahwiyah)*. Apalagi, sebelum manusia mengemban amanah,
Allah SWT telah menawarkan terlebih dahulu kepada langit dan bumi. Akan
tetapi langit dan bumi tidak mampu melaksanakan amanah tersebut.


Seperti Firman Allah SWT dalam Al-Quran:

*Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan
gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka
khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.
Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh. (QS. Al-Ahzab:72)*

Dan terangkum dalam sebuah Hadits Qudsi:

إنَّا عَرَضْنَاالأَمَانَة َ عَلَى السَّمَوَاتِ وَلأَرْضِ فَلَمْ تُطِقْهُمَا
فَهَلْ أ َنْتَ حَامِلَهَا بِمَا فِيْهَا ؟ وَمَالِيْ فِيْهَا إِن*ْ* حَمَلْتَهَا
أُجِرْتَ وَإِنْ ضَيَّعهاَ عُذِّبْتَ قََََََدْ حَمَلْتَهَا بِماَ فِيْهَا

*
"Aku menawarkan amanah pada langit dan bumi, akan tetapi keduanya tidak
mampu untuk melaksanakan amanah tersebut. Kemudian Allah bertanya pada Adam
"apakah engkau sanggup membawa amanahku?" Adam menjawab "seandainya aku
mampu membawa amanah itu, apa yang akan engkau berikan kepadaku?" Allah
berfirman "jika engkau mampu maka aku akan memberikan pahala kepadamu, dan
jika engkau menyia-nyiakannya maka kau akan aku adzab. Kemudian Adam
menyanggupi untuk membawa amanah Allah."*


Kesanggupan Adam ini yang tidak disadari malaikat. Adam sanggup memikul
tanggung jawab itu karena manusia dikaruniai kekuatan akal *(biquwwati
al-aql)*. Bangsa Indonesia adalah bagian dari manusia dan berarti juga
diberikan amanah oleh Allah SWT. Amanah ini yang harus mampu dilaksanakan
seluruh komponen yang ada di dalamnya.


Dalam konteks ini, kita harus berterima kasih atas kerja keras dan
perjuangan para pendiri bangsa dalam menjalankan amanahnya, yakni merumus
dan menggagas Pancasila sebagai bentuk tanggung jawab mereka menyatukan
bangsa melalui sebuah ideologi yang mampu mengikat kuat menuju cita-cita
kesejahteraan bersama.


Itu sebabnya, Pancasila bukan semata-mata sebuah simbol kebanggaan ideologi.
Lima sila yang terkandung di dalamnya memuat sejumlah amanah Allah SWT yang
wajib kita jalankan. Kelima sila tersebut merupakan bagian dari amanah Allah
SWT yang diperuntukkan bagi bangsa Indonesia dan kita sebagai warga bangsa
ini wajib mengemban serta menjalankannya. Apabila kita tidak bisa
mengemban/memikulnya, maka adzab adalah ganjarannya.


Kelima Amanah yang terdapat dalam Pancasila dapat kita jelaskan sebagai
berikut:


*1. Ketuhanan Yang Maha Esa*


Pasal ini tidak bisa kita bantah lagi karena menyangkut ke-Esa-an Nya. Arti
sila ini selaras dengan dalil Al-Qur'an QS. Al-Ikhlas:1-4 :

*1.     **Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.*

2.     *Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.*

3.     *Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,*

4.     *dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (QS.
Al-ikhlas:1-4).*


Dan QS. Al-Baqarah 163 yang berbunyi:

*Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang*


*2. Kemanusian Yang Adil dan Beradab*


Makna sila ini sangat sejalan dengan konsep Islam (Al-Quran) yang selalu
mengedepankan sisi kemanusian. Islam merupakan agama yang sangat ramah
terhadap ranah ini. Sisi kemanusian yang diusung Islam akan sangat dirasakan
umat manusia jika diterapkan dengan sikap yang baik (Akhlaq Al-Karimah).
Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:


*(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang
maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan
(kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS.
Ali Imran:134).*


Hubungan horizontal manusia yang demikian merupakan bagian dari amanah
Allah, sehingga jika kita laksanakan kelak tercipta nuansa Madani dalam
masyarakat. Hubungan antarmanusia ini hendaknya selalu dititikberatkan pada
persoalan-persoalan positif, bukan pada persoalan negatif. Bahkan, termasuk
pada masalah pertolongan. Kita tidak boleh tolong-menolong yang bersifat
negatif dengan dalih "saya tidak berani untuk menolaknya, karena badan
(kedudukan) dia lebih besar dari saya". Allah SWT berfirman:


*Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan
jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah
kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.(QS.Al-Maidah:2)*



Sahabat Ali *Karramallahu Wajhah* pernah mengatakan dua hal tentang konsep
kemanusian, yakni *Tark Al-Adza* (meninggalkan untuk tidak mendzolimi orang
lain) dan *Ikhtimaal Al-Adza* (jika di-dzolimi maka dia tidak membalas/balas
dendam).


Bila kita mampu mengemban amanah (sila Kedua) ini, maka kita akan menjadi
golongan orang-orang pilihan. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:



إنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنُكُم أََخْلاقًا

* *

*Sesungguhnya orang-orang pilihan diantara kalian adalah orang yang paling
bagus akhlaqnya (muttafaqun ‘alaih)*


*3. Persatuan Indonesia*


Persatuan bangsa sangat penting bagi stabilnya sebuah Negara. Bangsa yang
bersatu dan tak mudah dipecah-belah akan disegani dan dihormati. Dengan
bersatu dan persatuan, kondisi damai, tentram dan sentosa lebih mudah
dicapai karena adanya sikap saling menghormati dan menghargai satu sama
lain. Allah SWT berfirman:


*dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah
kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu
dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu,
lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan
kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari
padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu
mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran:103)*


*4. Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan
Perwakilan*


Sila ini cermin bagi sebuah kepemimpinan dan demokrasi. Pemimpin akan selalu
dilihat dan diikuti para pengikutnya (umat). Oleh karena itu, seorang
pemimpin harus memberikan contoh dan teladan yang baik kepada rakyatnya,
karena rakyat akan senantiasa setia (taat) kepada para pemimpin.


Jika antara rakyat dengan rakyat, pemimpin dengan rakyat, atau pemimpin
dengan pemimpin terjadi perbedaan pendapat, semangat musyawarah dan
berdiksusi untuk mencari solusi hendaknya menjadi pilihan utama. Allah SWT
berfirman dalam Al-Quran:


*Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan
ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang
sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul
(sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.
yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS.
An-Nisa:59)*


*Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap
mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka
menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka,
mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam
urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka
bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bertawakkal kepada-Nya. (QS. Ali Imran:159)*

**
*5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia*


Dalam Islam ada dua teori "pergaulan" yang diajarkan, yakni *Khabl Min Allah
* dan *Khabl Min Annaas*. Keduanya juga bentuk amanah dari Allah SWT, karena
dalam Islam bukan hanya hubungan vertikal yang harus dikedepankan, akan
tetapi hubungan antarsesama pun harus kita jalankan. Allah SWT menegaskan
pada QS. An-Nahl:90 yang berbunyi:


*Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku ‘adil dan berbuat kebajikan,
memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji,
kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat
mengambil pelajaran.* (QS. An-Nahl:90*) *


Hubungan antarsesama ini makin bermakna ketika terjadi sebuah perselisihan
di antara kaum, khususnya orang Mu'min. Hendaknya kita harus menjadi
penengah (mediator) guna menghindari tindak dan perbuatan anarkis. Allah SWT
berfirman dalam Al-Quran:


*Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah
kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian
terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi
sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah
antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil;
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al-Hujuraat
: 09)*


Dan Hadist Nabi



إِنَّ الْمُقْسِطِيْنَ عَلَى مَنَابِرَمِنْ نُوْرِ الَّذِيْنَ يَعْدِلُوْنَ فِى
حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيْهِمْ وَمَا وَلُّوْا.


*Sesungguhnya orang-orang yang adil di hari kiamat nanti berada di atas
mimbar cahaya, yakni mereka menerapkan keadilan pada hukum, keluarga, dan
persoalan kepemerintahan (HR.Muslim).*


*Pentasliman* Pancasila sebagai bentuk amanah dari Allah SWT -- yang harus
bangsa Indonesia jalankan -- itu pula yang diakui Nahdlatul Ulama (NU).
Dalam hal ini, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) selaku lembaga
tertinggi masyarakat Nahdliyin, begitu mengakui dan mempertahankan Pancasila
sebagai asas tunggal bangsa Indonesia. Karena di dalam Pancasila sudah
terangkum sejumlah amanah Allah SWT yang wajib kita jalankan, bukan sekadar
ideologi semata.


Mudah-mudahan kita mampu mengemban serta mampu menjalankan amanah dari Allah
SWT, dan kelak termasuk golongan orang-orang yang bertakwa dan selalu
mendapatkan naungan-Nya. Dalam kitab *Riadl Al-Sholihien* diterangkan bahwa
Rasulullah SAW bersabda, akan ada tujuh golongan yang kelak nanti akan
dinaungi oleh Allah SWT, yakni:



1.     Imam yang adil.

2.     Pemuda yang tumbuh dan selalu beribadah kepada Allah.

3.     Orang yang ahli berjamaah (hatinya selalu menyatu dengan Masjid).

4.     Orang yang ketika berdzikir selalu menangis (mengingat akan
dosa-dosanya).

5.     Orang yang berkumpul (bergaul) karena Allah SWT dan berpisah pula
karenaAllah SWT.

6.     Shodaqoh Sirri.

7.     Seseorang yang dirayu dan diajak berbuat kemaksiatan oleh seorang
wanita yang cantik dan berkedudukan kemudian ia menolak seraya berkata "aku
takut kepada Allah".


*Wallahualam Bisshowab*


*KH. Adib Rafi'uddin Izza (Rois Syuriah PBNU, Dewan Penasehat Ma'had
Robithoh Provinsi Jawa Barat, dan Ketua Yayasan Lembaga Pendidikan Islam
Buntet Pesantren)*

Kirim email ke