*Apakah Anda Pembenar ataukah Pendusta?*

* *

*Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany *Hari Juma’at pagi, di Pesantrennya.
Ketahuilah segalanya itu bergerak karena digerakan Allah Azza  wa-Jalla,
diam karena didiamkan olehNya. Bila pandangan ini merasuk kokoh dalam diri
hamba, ia akan terbebas dari beban syirik dengan makhluk, dan terbebas
makhluk dari syirik. Sebab seseorang tidak akan mencela mereka, dan tidak
menuntut mereka dengan sesuatu yang menyertainya. Bahwa menuntut mereka
adalah sesuatu yang dituntut oleh syara’ saja.


Menuntut makhluk secara syar’i dan pengetahuan secara terpadu. Yaitu
memandang Tindakan Allah ‘Azza wa-Jalla dalam diri makhluk secara akidah
tidak merusak akidah. Karena Allah-lah yang memberikan kepastian, dan
Dia-lah yang menuntut.


“Allah tidak dimintai tanggungjawab atas apa yang dilakukanNya, sedangkan
mereka dimintai pertanggungjawaban.” (Al-Ambiya’ 23)


Inilah akidah setiap Muslim yang manunggal dan ridlo kepada Allah azza
wa-Jalla, yang selaras dengan rencana dan takdir Illahi serta ciptaanNya.
Dialah yang Maha Cukup (tidak butuh) pada dirimu dan tidak butuh sabarmu.
Namun Allah SWT hanya memandang bagaimana anda mengamalkan dalam
panggilanNya kepadamu, apakah anda membenarkan atau mendustakan.


Ia menyerahkan pilihan dirinya dan yang lain kepadaNya, tidak memiliki
praduga dan aktivitas kinerjanya, begitu juga tidak tergesa-gesa hasratnya
tidak pula pelit.


Hatinya berias dengan ekspresi dariNya menuju kepadaNya, hingga tak tersisa
arah sedikit pun kecuali padaNya.
Wahai orang yang mengaku mencintai Allah Azza wa-Jalla cintamu tak akan
sempurna hingga engkau membungkam arah dari segi hakmu, hingga tak tersisa
kecuai satu arah saja, Allah Rabbul ‘Izzah.


Kekasihmu telah mengeluarkan makhluk dari hatimu mulai dari Arsy hingga
bintang Tsurayya. Maka jangan mencintai dunia, jangan pula akhirat. Hingga
tak ada lagi rasa gentar pada duanya, karena anda hanya bermesrajiwa
denganNya, sampai dirimu seperti Majnun-Laila ketika didominasi rasa cinta
luar bisa, ia keluar  ia malah bersembunyi dan hidup bersama
binatang-binatang. Keluar dari keramaian, mengasing dalam kesunyian. Keluar
dari pujaan makhluk maupun caciannya. Lalu diam dan bicaranya hanya satu
saja, benci mereka padanya hanya satu pula.


Suatu hari ia ditanya, “Siapa dirimu?”

“Laila..” jawab Majnun.

“Darimana anda berasal?”

“Dari Laila…” katanya.

“Kemana anda  menuju?”

“Laila…” tangkasnya.


Ia telah buta dari segalanya kecuali Laila. Ia tak pernah mendengarkan
ucapan siapa pun kecuali dari Laila, ia pun tak akan peduli dengan kritik
dan celaan. Betapa elok apa yang dikatakan sebagian Sufi:


Bila jiwa-jiwa saling berangkul dengan asmara

Maka pukulan besi pun terasa dingin.


Inilah hati yang kenal Allah Azza wa-Jalla, hati yang mencintaiNya, hati
yang dekat denganNya, begitu gentar dirinya jika dekat dengan makhluk (takut
tergoda), semesta, makan dan minumnya, pakaian dan perkawinannya, cemas
dengan hangar binger dunia, lalu ia mengasingkan dirinya, tanpa ada aturan
batas kecuali batas syariat, dalam hal perintah dan larangan serta tindakan.
Ia hanya berselaras dengan datangnya takdir. “Ya Allah janganlah Engkau
tinggalkan kami dari kekuasaan RahmatMu, hingga kami tenggelam di lautan
dunia dan lautan wujud. Wahai Dzat yang menghamparkan kemurahan dan
pandangan bajik yang lalu, temukanlah kami padaMu.”


Anak-anak sekalian. Siapa yang tidak mengamalkan apa yang kukatakan ini,
pasti tidak akan memahami apa yang kuucapkan. Siapa yang mengamalkan, akan
faham.  Jika engkau tidak berbaik sangka padaku, tidak beriman dengan apa
yang kuucapkan, tidak mengamalkannya, bagaimana anda faham?


Anda lapar, dan yang kau butuhkan ada padaku, sedangkan anda tidak mau makan
dari makananku, bagaimana anda kenyang? Dalam suatu hadits diriwayatkan oleh
Abu Hurairah ra, bahwa ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda:


“Tak seorang pun yang sakit semalam saja, melainkan ia rela kepada Allah
Azza wa-Jalla, sabar atas apa yang menimpanya, dosanya dikeluarkan oleh
Allah sebagaimana ia baru lahir dari kandungan ibunya.” (Takhrij Al-Hindy di
Kanzul Umal).


Sedangkan pada dirimu, tak ada apa-apa, dan engkau tak mendapatkan apa-apa
dari hajat utamamu. Mu’adz ra berkata kepada para sahabat. “Berdirilah,
engkau beriman sesaat.” Maksudnya bangkitlah dan rasakan sesaat, berdirilah
dan masuklah dalam Pintu sesaat, sebagai rasa kasih saying kepada mereka.
Mu’adz ra mengisyaratkan pada masalah yang rumit, yang menunjukkan pada
pandangan mata Yaqin. Bahwa tidak setiap muslim itu mu’min, dan tidak setiap
mu’min itu yaqin. Karena itu para sahabat lapor kepada Nabi SAW,  “Mu’adz
berkata kepada kami, Berdirilah,  engkau beriman sesaat, bukankah kita ini
beriman semua? Maka Nabi SAW, menjawab: “Biarkan saja Muadz dan
perilakunya…” (Takhrij Al-Hindy).


Wahai orang yang menjadi budak nafsunya, watak dan syetannya serta dunianya.
Kalian tidak berdaya di hadapan Allah dan di hadapan orang-orang saleh.
Siapa yang masih menyembah akhirat, ia tidak memandangNya, bagaimana dengan
penyembah dunia?


Celaka anda. Anda menfasihkan ucapan, tetapi tanpa amal tindakan. Anda ini
dusta sedangkan anda merasa benar, anda bisa musyrik. Anda merasa sudah
bertauhid, merasa benar, merasa dirimu adalah mutiara, padahal aktivitasku
ini bersamamu dalam rangka mencegahmu dari kedustaan, dan memerintahkanmu
agar jujur dan benar. Aku punya tiga pegangan yang aku ketahui dari kitab,
Sunnah dan hatiku, dimana hatiku akan melihat dengan bentangan jelas dan
tidak akan sampai derajat tersebut melainkan mewujudkan amaliyah atas Kitab
dan Sunnah Nabi saw.


Mengamalkan ilmu adalah mahkota ilmu  Mengamalkan ilmu adalah cahaya ilmu,
beningnya being, saripatinya sari, lubuknya lubuk. Mengamalkan ilmu bisa
membenarkan hati dan menyucikannya. Jika hati benar, fisik kita benar. Jika
hati suci, suci pula aktivitas lahiriyahnya, jika  ia pakai ilmu, ia akan
pakai menuju syurga. Jika segumpal daging (hati) bagus, bagus seluruh
dirinya. Benarnya qalbu karena benarnya rahasia hati  yang berada diantara
manusia dan Tuhannya Azza wa-Jalla. Rahasia hati (sirr) adalah burung, hati
adalah sangkarnya. Hati adalah burung, dan tubuh adalah sangkarnya. Tubuh
adalah burung dan kuburan adalah sangkarnya. Kubur adalah sangkar hati yang
harus dimasuki siapapun. []



*KH. Muhammad Luqman Hakim*


-- 
"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

Kirim email ke