MEnarik mengamati tulisan di bawah ini .. sepintas lalu ada benarnya dan
ada kurang tepatnya (apalagi dari segi filosofis seperti di judulnya) mari
kita lihat satu persatu

> Banyak pertanyaan yang di ajukan ke mailing list ini akan berkurang jauh
> jika kita memegang filosofi seorang IT (definisi "Hal yang sulit dicoba
> dulu dgn kemampuan maximal dan yakin berhasil setelah itu baru cari

> kelemahannya adalah boros waktu. Namun dgn resource lain mungkin lebih
> cepat.

Sepertinya hal ini "benar" tetapi salah, karena pandangan itu adalah
kesalahkaprahan yang banyak di "masyarakat" kita yaitu "malu bertanya"
hanya karena takut dikatakan mengeluarkan "silly question".  Mengeluarkan
suatu pertanyaan bukan saja "bermanfaat" bagi mereka yang bertanya tetapi
juga bermanfaat bagi yang ditanya.

Saya pribadi sering mendapatkan idea yang tidak difikirkan ketika ada
seseorang mahasiswa/teman mengeluarkan pertanyaan yang simple.  Bahkan
tidak jarang suatu penemuan diawali dengan pertanyaan pihak lain yang
begitu simple.

(sebagai contoh Enzi Penzias, dalam bukunya menerangkan dia memperoleh
patent pertama berdasarkan idea yang didapat dari pertanyaan simple
seorang rekan kerjanya).

Jadi dalam konteks diskusi suatu perntanyaan bukan saja bermanfaat bagi
dia sendiri tetapi dapat menjadi suatu katalis untuk "menggoda" pihak lain
makin berfikir.  Kalau setiap pihak yang tergoda akan menjawab maka dia
dan komunitas secara luas akan menambah manfaat.

Memang ketika kita berdiskusi kita bukan saja bertanya terus "diem" tapi
sedapat mungkin kita memberikan umpan balik kepada komunitas.

> So,  filosofi ini juga akan mampu menguasai tehnologi yang diluar dari
> kurikulum pendidikan kita. Contohnya saja nich saya aja dulu mata kuliah
> Netware 3.0 aja baru kenal teori kaga pernah praktek. Namun dgn filosifi
> diatas saya mampu menguasainya.

Hal ini memang sangat baik, tetpai mungkin ini diakibatkan oleh suatu
fenomena yaitu bahwa penguasaan "Basic knowledge" akan memberikan dasar
yang baik untuk mempelajari teknologi yang lain.

Jadi bagi kalangan HRD seharusnya penentuan kepegawain berdasarkan suatu
standard kompetensi yang ada pada bidang tersebut (standard kompetensi
biasanya ditentukan oleh basic knowledge bukan skill of particular
products).

> tidak ada yang kekal dan ilmu keduniawian)  dgn filosofi diatas kita mampu
> menguasainya ya tinggal ikutin aja rumus ini
> KEMAUAN+WAKTU+KESEMPATAN=MASTER.  Sekian dulu komentar saya mudah-mudahan
> ada manfaatnya.

Ini memang tepat.. tetapi antara UNIX dan Windoz atau Novell dan SAP
adalah suatu teknologi yang berbeda yang memiliki "attribute attitude"
yang berbeda,  Misal mempelajari Linux akan memberikan "attitude" yang
berbeda dengan mempelajari "Windoz".  Hal ini yang menyebabkan beberapa
teknologi menjadi pelajaran "dasar" di Universitas karena memberikan basic
knowledge.

Setiap jenis teknologi memiliki "embedded ideology" istilahnya.  Artinya
setelah kita menggunakan tool tertentu, maka sebetulnya tool tersebut
telah mulai menggunakan kita.  Cara pandang kita terhadap suatu realita
(dalam konteks teknologi) akan berubah.  Sebagai contoh adalah pandangan
"reliabilitas" antara seorang penguna mainframe dg pengguna PC (windoz
based) akan sangat berbeda.

Mungkin bisa dibaca essaya saya

http://nakula.rvs.uni-bielfeld.de/made/artikel/Non_Teknis/

IMW


* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives     : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Berhenti     : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke