Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Kebiasaan nongkrong di pinggir jalan atau tempat-tempat tertentu sudah
menjadi kebiasaan banyak orang.
Ada baiknya bila kita dapat mengingatkan diri kita sendiri maupun
teman-teman kita yang biasa nongkrong dengan informasi berikut.
Lebih baik lagi bila kita bisa men-CETAK lalu menempelkannya di
tempat-tempat orang-orang biasa menongkrong.
Apalagi sekarang waktu yang tepat ( bulan Ramadhan ) untuk saling
mengingatkan satu sama lain.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Hudiantoro

Nongkrong
Sumber : Repubika ( www.republika.co.id <http://www.republika.co.id>  )
dari kolom HIKMAH, tanggal 23 Desember 1999

Suatu hari, Nabi Muhammad saw melewati sebuah jalan. Di tengah
perjalanan, beliau bertemu beberapa sahabat yang asyik duduk-duduk
(nongkrong) di tepi jalan. 

Melihat kelakuan mereka, Rasulullah mencegahnya. ''Janganlah kalian
nongkrong di pinggir jalan.'' Mereka malah berkata, ''Ya, Rasulullah,
kami tidak ada jalan lain meninggalkan kelakuan ini, karena di situ kami
bisa bercakap-cakap sesuatu.'' 

Lalu, Nabi memberi jalan keluar. ''Kalau kalian tidak bisa meninggalkan
kebiasaan itu, penuhilah hak jalan itu!'' Mereka balik bertanya,
''Apakah hak jalan itu? Nabi menjawab, ''Tundukkan penglihatan-(mu),
tidak mengganggu, menjawab salam, dan memerintahkan kebaikan serta
melarang kemungkaran.'' 

Hadis Rasulullah itu disampaikan lima belas abad lalu. Dan ternyata,
nongkrong di sisi jalan telah menjadi kebiasaan para sahabat, dan mereka
sulit membuangnya. Karena bertugas meluruskan akhlak buruk, tentu saja
Rasulullah mencurahkan perhatiannya kepada kebiasaan kurang baik itu.
Dalam hadis itu, Nabi saw menawarkan beberapa alternatif kepada mereka
yang 'kecanduan' nongkrong di tepi jalan. 

Pertama, kita dianjurkan menundukkan penglihatan. Artinya, mata kita
tidak boleh jelalatan melihat hal yang dilarang agama. Rasulullah,
misalnya, pernah mengingatkan kita, bahwa barangsiapa melihat seorang
wanita hanya sekali -- dan itu pun kebetulan, maka itu dianggap nikmat
(ni'mah). Tapi, kalau ia mengulang kedua kali memandangnya -- dan
disertai nafsu kurang baik, maka itu dianggap dosa (niqmah, siksa). 

Kedua, kita tidak boleh mengganggu. Gangguan itu bisa bermacam-macam.
Misalnya, kita kadang bergerombol di trotoar, sehingga orang lain tidak
bisa melewati jalan yang dituju. Menggoda seseorang yang melintas. Atau
bahkan, tidak hanya nongkrong, tapi justru tawuran di tengah jalan,
sehingga jalan milik umum jadi macet total. 

Ketiga, kita diperintahkan menjawab salam. Dalam Alquran, Allah
berfirman, ''Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatna, maka
balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik atau balaslah (dengan
yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.''
(An-Nisaa, 86). Yang dimaksud dengan penghormatan dalam Islam adalah
mengucapkan salam. 

Keempat, kita mengajak ke kebaikan dan melarang kemungkaran. Kalau sudah
berombongan, kita kadang berbuat sesuatu (negatif) secara demonstratif
dan ingin diperhatikan banyak orang. Malah, ada yang mengajak
mengkonsumsi sesuatu yang terlarang, misalnya menikmati narkoba, dan
mabuk-mabuk di jalan. Kita kadang tak peduli, kalau perbuatan itu
mengganggu orang lain. Alangkah baiknya kalau kita mencegah atau
menghentikan perbuatan maksiat itu. 

Rasulullah bersabda, ''Barangsiapa mengajak kepada kebenaran, maka ia
mendapat pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya dengan tidak
mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak kepada
kesesatan, maka ia mendapat dosa seperti dosa orang yang mengerjakannya
dengan tidak mengurangi dosa mereka sedikit pun.'' (HR Muslim). 



* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives     : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Langganan    : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Berhenti     : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke