saya terketuk melihat tulisan Pak Made tentang hal
ini.
maaf..sekali lagi maaf...
sebelumnya terus terang saya angkat topi untuk anda
dalam hal Linux dan Open Source, namun dalam seminggu
ini saya melihat isi mail dengan subject diatas
membuat saya muak(maaf) dengan tulisan anda yang
berlebihan terutama dalam hal membanggakan diri
sendiri...
saya tau ini adalah milis dimana kita bisa bebas dan
bertanggung jawab dalam menyuarakan pendapat kita...
tapi apa yang anda kemukakan menurut saya berkesan
sombong sekali...memang anda memang cerdas...tapi
jangan dengan kecerdasan itu membuat anda PONGAH..
Untuk mengubah suatu tidak dapat dalam sekejab Pak,
segala sesuatu butuh process...anda harus menyadari
hal itu...memang ini juga merupakan proses...
mungkin bisa diibaratkan anak kecil(walaupun kita
bukan anak kecil), untuk awalnya kita tidak bisa
memaksakan dia untuk memakan makanannya sekaligus 1
piring penuh...tapi dengan menyuapinya
sedikit-demi-sedikit dan lama kelamaan nantinya dia
bisa untuk menghabiskan seluruh makanan yang tersedia
di dalam piring tersebut...kalo dipaksa...ntar makanan
tsb malah nggak mau dimakan lagi sama dia...:) bahkan
nantinya dia bisa untuk menghabiskan 1 piring berisi
makanan tanpa harus disuapi.
Saya rasa dalam mensosialisasikan Linux ke masyarakat
kita jangan menggunakan metode sodok secara paksa,
tapi dengan cara dan metode yang bertahap, itu tadi
orang nggak bisa disuru makan satu piring yang
diameter 10 cm terisi penuh makanan dalam 1 kali
makan...tapi bertahap...
iya...iya saya mengerti Pak Made sering sekali
menyuapi dalam hal Linux ini...tapi tolong....jangan
memuji diri sendiri Pak(tanpa memuji kami tau
koq)...canggung kami mendengarnya...
semoga dengan thread ini tidak membuat mereka-mereka
yang ingin belajar Linux menjadi mundur...tapi malah
semakin ingin maju(seperti saya)...itulah linux dengan
Open People-nya pula...berbagai suku...dan berbagai
sifat dan kebiasaaan...
Memang banyak orang pintar tapi sedikit yang bijaksana
Saya percaya Pak Made bukan termasuk orang yang
seperti itu.
Sayonara,
---
Let's Open Source With an Open Heart.
-----forwarded message------------------------
On Sat, 12 Feb 2000, Ady Permadi wrote:
> Satu dari kita malah pernah meminjamkan komputer
pribadinya sebagai
> server untuk LABTI karena keterbatasan alat Pulang
malem ? dikunciin ?
> lompat jendela ? SERING !!!! Harddisk, Memori, TV
Tuner, MPEG Card,
> CD, Buku2x, banyak tuh yang disumbangin untuk LAB.
Saya rasa hal itu adalah wajar..8-) (periksa cerita
saya tentang kegiatan
di sini)... saya berbicara seperti ini karena memang
"pernah mengalami hal
yang sama". (kalau anda bilang sering pulang malem..
saya pernah 3 bulan
nginep di Kampus Margonda 8-)"
Saya saja di sini membawa 3 komputer saya, berikut
CDROM Writer dan
lain-lain juga 1 hub high-speed.. hanya untuk research
saya.. kenapa tidak
saya lakukan di rumah.. karena saya ingin berdiskusi
dengan rekan lainnya,
sharing, dan menularkan ilmu ke yang lain.
> Banyak yg kita ingin tambah, seperti yg bapak
sebutkan, TAPIIII...
> balik lagi ada tapinya kita(LABTI) hanya praktikum
penunjang kalau
> tidak ada dalam kurikulum ya tidak akan jalan. Toh
sudah ada (pernah)
Tapi...? mengapa tidak ada "bentuknya".. seperti yang
saya sebutkan di
posting terdahulu... kalau memang kita memiliki suatu
"semangat" ingin
belajar, dan inovasi.. kita nggak pedul.. apakah
praktikum ini nantinya
hanya jadi penunjang atau tidak.
(sepengetahuan saya hal ini masih minim... dengan
tingkat informasi saat
ini yang jauh lebih mudah diperoleh, tentunya hasilnya
harus lebih
banyak). FYI.. saya adalah orang yang mendorong lab TI
pakai Linux untuk
praktikumnya saat itu lagi "kebingungan" pakai
compiler apa. Dan perlu
diketahui saya "TIDAK BERTUGAS DI LAB TI" . Pada saat
itu juga saya sudah
memberikan masukan untuk praktikum lainnya.,
(sebetulnya bisa saja saya
bilang . gua kagak peduli.. toh gua bukan di Lab TI.
tapi hanya karena
faktor pernah menjadi asisten yang mendorong saya
bertukar pikiran).
Saya cerita kembali jaman saya menjadi asisten (bukan
nostalgia lhoo....)
sebagai asisten kita merasa "ingin melakukan sesuatu
hanya karena
penasaran". Kita mencoba develop sesuatu, tulis
menjadi modul, (sukur
kalau jadi dipakai praktek, kalau nggak juga nggak
apa-apa).. bikin
penelitian dan presentasikan jadi paper. (maaf sampai
saat ini koq saya
belum mendengar adanya paper dari asisten Lab TI yang
ke seminar tingkat
nasional...8-)".
Nah jadi yang perlu di"dorong" itu adalah semangat
pribadi dahulu.
Berdasarkan pengalaman saya biasanya para asisten
mengajukan usulan yang
"belum matang"... (detail silahkan kontak saya
pribadi). Sehingga baru
terbatas pada "saya ingin....." tentang bagaimana
detail perencanaam,
bagaimana "kontrolling" dsb-nya belum tertulis pada
saat pembuatan usulan.
(Kalau memang tertarik bagaimana menyusun usulan dan
dokumen yang detail
bisa saya berikan contohnya....8-) Memang tidak mudah
membuat perencanaan.
> Para asisten LABTI yg sekarang pun mungkin banyak
ide2x yg ingin
> dikembangkan tetapi mentok oleh kebijaksanaan dari
pihak kampus. Dan
> mungkin banyak juga yg tidak ingin menjawab/menulis
pertanyaan bapak,
> ya karena hal yg sama.
Saya bukan menyalahkan atau menganggap kurang.. tapi
seharusnya bisa
lebih. Dengan tingkat "kemudahan akses informasi"
seperti sekarang ini,
akses peralatan tentunya hasil yang diharapkan harus
lebih baik. Bila
sama artinya itu kurang.
Sekali kita sudah merasa "puas" sulit kita akan
berkembang.
> kalau saya sudah mendengar dan kalau bapak bisa
menjadikan LABTI
> sebagaimana LAB yang seperti bapak
inginkan/impikan.. saya SALUT
> pak... bener.. SALUT.. sumpah SALUT !!!!!!!!
Yang bisa membuat hal seperti itu ya.. assisten dan
mahsiswanya sendiri
bukan saya...
Justru itu saya TANTANG para asisten TI kalau memang
MAU dan MAMPU. Yook
kita develop suatu modul praktikum (misal ttg Sistem
Operasi, based on
Linux,.. sampai ke detailnya kernel, file system,
dll).
Juga untuk praktikum lainnya.
Langkah awal :
1. Kita bikin distribusi Linux khusus untuk praktikum
(misal based on
disk)
2. Kita bikin materi baru apa saja yang dimasukkan.
(misal cryptografi,
paralel komputer dll)
3. Kita develop materi praktikumnya. (misal jadi modul
bukunya, materi
program yang dipakai, uji coba dll)
Kalau memang anda-anda itu ada yang mau dan mampu..
tentunya berani
"melayani" tantangan ini. Kalau toh sekolah tidak
memberikan hasil
positif tentunya ada pihak lain yang dapat
memanfaatkan hasil ini (misal
ada PT yang mau memakai Linux sebagai materi
praktikumnya). Hitung-hitung
anda telah menyumbangkan ilmu anda bagi orang banyak.
Kita letakkan semua
modul yang dikembangkan ini dalam suatu "situs"..
tersedia online... nama
anda diketahui... nah bagaimana
Tapi kalau anda memang hanya bertipe "menanti surat
tugas dan fasilitas"
tentunya... akan memiliki 1001 alasan untuk tak
melakukan hal itu. 8-)
Saya sendiri bisa bicara seperti ini, karena lebih
suka membuktikan dengan
hasil kerja.... daripada menunggu sekolah (dosen,
mahasiswa, insitusi)
yang berubah, ataupun lingkungan yang berubah.
Daripada berkeluh
kesah...ini/itu mending langsung dikerjakan.
Maaf kalau terasa terlalu "sombong"
IMW
* Gunadarma Mailing List
-----------------------------------------------
* Archives : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Langganan : Kirim Email kosong ke
[EMAIL PROTECTED]
* Berhenti : Kirim Email kosong ke
[EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Talk to your friends online with Yahoo! Messenger.
http://im.yahoo.com
* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Langganan : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Berhenti : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]