Awan ternyata penuh dengan bakteri hidup, ini dinyatakan oleh ilmuwan
Birgitt Sattler tiga hari yang lalu. Para ahli saat ini sedang mencoba untuk
mengidentifikasi organisme yang baru saja ditemukan itu. Mereka telah
menemukan 1500 bakteri yang berbeda yang hidup di dalam setetes air yang
dikumpulkan dari awan di atas pegunungan Alpen di Austria.

Penelitian tersebut baru baru ini telah memicu debat atas apakah
micro-organisme yang dilahirkan di awan, dapat mempengaruhi kesehatan
manusia. Scientists yang telah menemukan bakteri tadi yakin bahwa mereka
,para bakteri tersebut, bertanggung jawab dalam memacu jatuhnya hujan dan
dapat mengubah iklim bumi. Makhluk- makhluk ini telah diketahui bahwa mereka
dapat diterbangkan angin ke atmosfir, tetapi para ahli belum yakin apakah
mereka dapat survive dan tumbuh berkembang di dalam awan.

Birgitt Sattler, seorang ahli meteorologi wanita dari Universitas
Innsbruck,Austria, menyatakan, ''Kami terkejut ketika menemukan bakteri yang
tumbuh secara aktif (di dalam awan). Atmosfir yang tinggi, yang bersih dan
dingin, bukanlah tempat yang ideal untuk pertumbuhan bakteri''. Birgitt
Sattler beserta teamnya telah mempelajari beberapa sampel awan yang melewati
Gunung Sonnblick dekat Salzburg,Austria. Beberapa tetes air dari awan
tersebut didinginkan di atas piringan khusus dan di cairkan di laboratorium.
Ternyata, setiap mililiter air tersebut berisi 1500 bakteri dengan berbagai
bentuk dan ukuran. Saat ini, Dr. Sattler sedang menganalisis DNA dari
bakteri- bakteri tersebut untuk mengetahui spesiesnya.

Dia menambahkan, ''sampai saat ini, kami baru membuktikan bahwa terdapat
kehidupan di atas sana yang dapat mereproduksi. Sekarang ini kami ingin tahu
apakah itu''.

Tiga malam yang lalu, Para ahli dari Inggris telah menyerukan untuk
diadakannya penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apakah bakteri- bakteri
tadi dapat menimbulkan penyakit pada manusia seperti demam, flu atau asthma.
Panos Kavanos, seorang pengajar di bidang kesehatan di the London School of
Economics, telah mengingatkan,'' Beberapa bakteri memiliki cukup resistansi
terhadap temperatur dan menjadi resistan terhadap semua jenis obat dan
antibiotik.

Seorang ahli meteorologi, Piers Corbyn mengamini,'' Secara statistik,
terdapat bukti bahwa manusia cenderung mengalami penurunan (daya tahan)
terhadap penyakit-penyakit (ringan) umum lebih sering ketika tekanan udara
mengalami perubahan- perubahan. Ilmu tentang terbentuknya awan masih belum
diketahui dengan baik. Ide bahwa awan dapat membawa bakteri merupakan
sesuatu yang menarik''.

Beberapa bakteria penyebab penyakit terbawa angin melalui udara, mulai dari
demam dan flu yang sederhana sampai dengan yang lebih serius seperti TBC.
Seorang jurubicara rumah sakit untuk Penyakkit- penyakit Tropis di London
dikutip telah mengatakan, ''Saya tidak dapat membayangkan beberapa (bakteri)
dapat survive di temperatur yang membeku di dalam awan, tetapi tentu itu
tergantung pula pada seberapa tinggi awan tersebut''.

William Marshall, seorang penjelajah, mengatakan bahwa ia juga telah
menemukan bakteria masih hidup di bawah kondisi yang ekstrim di antartika
setelah mengalami perjalanan 1000 mil dari Amerika Utara. Dia menambahkan,''
Ini adalah pertama kali penyebaran sesuatu lewat udara lintas benua telah
direcord. Mereka seharusnya telah terbang jauh di atas atmosfir sana''.

Diskusi masih berlangsung, penelitian terus berjalan. Bagaimana dengan
Indonesia yang beriklim tropis ? Tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi
saintis di Indonesia.


Dapatkan Koneksi Internet Dengan Satelit Broadband www.88direct.com

-------[ Master Web Indonesia - www.master.web.id ] -------
Moderator         : [EMAIL PROTECTED]
Berlangganan      : [EMAIL PROTECTED]
Stop Berlangganan : [EMAIL PROTECTED]
-----------------------------------------------------------

Kirim email ke