Ki'sanak, salah liat kali, maklum dah tua, udah aki-aki. Hehehe...

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, January 13, 2005 11:14 AM
To: [email protected]
Subject: [Milis OPJA-2066] [EMAIL PROTECTED]: [IA-3004] Coca Cola
rasa Shampoo.]


hati-hati :-)

==============
005-01-13 09:00:00
Wawancara Takasu Masaharu: Coca Cola Sombong Sekali

Reporter: Ismoko Widyaya
detikcom - Jakarta, Takasu Masaharu mengaku masih sangat tersinggung
dengan
sikap manajemen Coca Cola yang menganggap remeh konsumen. Dia sangat
berharap
gugatannya terhadap Coca Cola dikabulkan pengadilan.

Hal tersebut diungkapkan Masaharu kepada detikcom saat ditemui di
kantornya, di
Gedung Wirausaha, Jl. HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa
(11/12/2004).
Dalam kesempatan itu Masaharu didampingi kuasa hukumnya, Ike Farida.

Berikut petikan lengkap wawancara antara Masaharu dengan detikcom.

Bagaimana kronologis kejadiannya?

Saya bersama dua orang Indonesia bawahan saya, Sukri Gozali dan Sunarto,
menggunakan mobil pick up setelah pulang kerja pada malam hari menuju
pulang ke
rumah di Bintaro. Semua lapar, saya mau makan di restoran tapi restoran
di
Bintaro jauh, tidak ada apa-apa.

Salah seorang bawahan saya menyarankan untuk makan nasi goreng yang enak
di
sebuah warung tenda. Saya kemudian duduk di tengah. Ketika ditawarkan
minuman,
saya memilih Coca Cola sedangkan kedua orang lainnya minum teh. Tidak
lama
kemudian datang Coca Colanya, langsung saya minum menggunakan sedotan,
kira-kira
setengahnya sudah saya minum. Saya tidak sempat lihat (Coca Colanya),
karena
saya lapar dan haus.

Setelah saya minum, rasanya tidak enak. Seperti rasa sampo atau sabun.
Saya
melihat tanggal kadaluarsa berapa, setelah diterangkan oleh teman
ternyata masih
bagus. Sukri kemudian mencoba Coca Cola yang saya minum. Sukri bilang
jangan
diminum, ini bukan rasa Coca Cola.

Setelah dilihat melalui lampu ada obat nyamuk bakar didasar botol,
sebesar
lingkaran terkecil dari ukuran obat nyamuk utuh. Warna obat nyamuknya
sudah agak
kuning, dan serbuk-serbuknya sudah keluar. Posisi sedotan saya memang
hingga
menyentuh dasar botol. Warna Coca Cola-nya sendiri tidak terlhat jelas
karena
selain gelap, warnanya memang hitam.

Kemudian saya marah. Tiga orang tukang nasi goreng saya marahin.
Kemudian semua
orang yang ada di situ ikut melihat Coca Cola yang saya minum.

Efek selanjutnya?

Sesudah marah, saya meminta teh dari teman saya dan berusaha untuk
memuntahkan
apa yang telah saya minum. Tapi tidak bisa, karena kondisi perut saya
yang saat
itu sedang kosong tidak ada makanan dan minuman. Akhirnya nasi gorengnya
tidak
saya makan, langsung dibungkus. Saya ditawarkan Coca Cola yang baru
untuk
menggantinya, tapi saya tidak mau.

Setelah 10 menit meminum Coca Cola itu dada saya terasa panas. Saya
langsung
meminta ke rumah sakit (klinik Remedika Bintaro). Pada saat itu juga ke
rumah
sakit.

Setelah di periksa oleh dr. Deny, ternyata diketahui terdapat gejala
keracunan.
Langsung diambil tindakan cuci lambung untuk mengeluarkan racunnya.
Dokter
meminta asistennya membeli selang, karena di tempatnya tidak ada selang.
Setelah
itu meminta biaya kepada saya untuk membeli selang tersebut.

Setelah menunggu 30 sampai 40 menit, dada saya terasa semakin panas.
Saya mau
menangis karena menahan sakit dan berusaha untuk muntah tapi tidak
keluar
apa-apa.

Selang sepanjang 1 meter dimasukan melalui hidung sampai ke lambung
untuk
mengeluarkan racun. Dilakukan berulang-ulang sebanyak 4 kali. Saya
sempat
pingsan tapi tidak lama. Setelah dilakukan cuci lambung tersebut saya
masih
merasakan sakit, dan saya marah-marah terus.

Dokter meminta saya untuk rawat inap tetapi saya tidak mau. Saya kembali
menuju
lokasi pembelian nasi goreng. Di situ saya marah-marah sambil menanyakan
Coca
Cola itu diberi dari mana kepada tukang nasi goreng. Lalu dia menunjuk
sebuah
warung rokok. Sambil marah-marah saya juga menanyakan kepada pemilik
warung
tersebut Coca Cola yang tadi saya minum.

Pedagang rokok itu mengatakan sudah dibuang. Saya kemudian menanyakan
apakah
anda memasukan obat nyamuk dalam botol Coca Cola yang saya minum.
Pedagang itu
menjawab tidak, akhirnya saya pergi ke kantor polisi. Sekitar 4 polisi
ikut
bersama saya ke tempat pembelian nasi goreng tadi.

Akhirnya tukang nasi goreng beserta pemilik warung dibawa ke kantor
polisi. Saya
menanyakan kembali kepada pemilik warung, dimana kamu membuang Coca
Colanya. Dia
menunjukkan lokasinya, dan di sana terlihat ada bekas remukan obat
nyamuk
seperti habis diinjak dan berwarna hijau.

Bagaimana dengan Coca Cola sendiri?

Besok paginya sekitar jam 09.00, saya dibantu asisten menghubungi Coca
Cola.
Tapi saya kecewa karena ketika menghubungi pihak Coca Cola mereka baru
bisa
datang sekitar jam 14.00. Yang bikin saya kecewa atas pengaduan saya itu
ternyata tidak ada permintaan maaf dari pihak Coca Cola pada saat itu.

Mereka malah mengatakan bahwa Coca Cola sistemnya bagus. Bagus seperti
apa?
Seperti ada obat nyamuknya?. Mereka juga mengatakan ini (Coca Cola yang
Masaharu
minum) bukan produk Coca Cola. Sambil marah saya katakan, kalau
sistemnya bagus
akan memuaskan konsumen.

Mengapa anda memilih jalur hukum?

Bagaimana bila produk Coca Cola itu diminum oleh anak-anak. Bagaimana
bila anak
tersebut pulang ke rumah dalam keadaan kesakitan dan kemudian mati? Apa
yang
akan anda lakukan bila sistemnya tidak diperbaiki?

Menurut saya, bila tutupnya sudah rusak sebaiknya harus ditukar. Kalau
di Jepang
tutup yang sudah dibuka tidak bisa dipergunakan lagi. Produk Coca Cola
di Jepang
sebagian besar tidak dalam bentuk botol, tetapi dalam bentuk kemasan
seperti air
mineral. Tutup botol seperti ini (botol) memudahkan orang membuka dan
menutup
kemasan botol kemudian memasukan sesuatu ke dalamnya. Coca Cola itu
sudah
internasional.

Awalnya saya menginginkan pihak Coca Cola meminta maaf melalui media
atas
kelalaiannya, tetapi ternyata mereka tidak mau. Mereka sempat 4 sampai 5
kali
datang ke rumah saya dan memberi 2 kardus Coca Cola. Tapi tidak ada
orang yang
mau meminum. Bukan meminta maaf kepada saya tetapi kepada masyarakat
Indonesia.

Salah satu utusan Coca Cola pada saat itu mengatakan, selama 13 tahun
bekerja
tidak pernah ada komplain seperti ini. Menurut saya itu bohong sekali.
Saya
justru kaget ternyata ini hanya terjadi pada diri saya.

Soal biaya pengobatan?

Mereka meminta saya untuk berobat di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI)
saja,
tetapi saya tidak mau. Saya mau berobat ke Jepang, sebab pada saat itu
saya
belum mengerti bahasa Indoesia dengan baik padahal saya sangat
menginginkan
informasi yang sangat jelas dan akurat mengenai keberadaan penyakit saya
akibat meminum Coca Cola itu.

Saya meminta US$ 30.000 untuk pengobatan serta ongkos pulang pergi. Saya
bersikeras mau pulang, tetapi mereka melarang saya untuk berobat ke
Jepang, dan
tetap menyarankan saya untuk berobat ke RSPI. Saya ingat, ketika berobat
ke
Bintaro, saya menghabiskan biaya sebesar Rp. 500.000 dan sampai saat ini
belum
ada penggantian.

Bagaimana jika kasus ini terjadi di Jepang?

Di Jepang bila ada kasus seperti ini, pihak direksi perusahaan tersebut
langsung
meminta maaf kepada seluruh warga melalui TV dan media massa lainnya.
Mereka
juga akan menarik semua produknya dari peredaran. Dalam kasus ini Coca
Cola
Indonesia sombong sekali. Tidak minta maaf, tidak ada penggantian,
sombong
sekali.

Di Jepang, bila saya keracunan Coca Cola dibawa ke Rumah Sakit. Lalu
Rumah Sakit
yang melaporkan ini ke polisi karena saya dalam kondisi sakit. Dalam
waktu
singkat polisi akan datang dan memanggil pihak Coca Cola. Besoknya akan
ada
penarikan produk dari peredaran diikuti dengan permintaan maaf.

Saya bukan kambing bukan sapi, bila meninggal bagaimana? Harga nyawa
manusia itu
mahal tidak ada harganya, tolong dihargai ini nyawa manusia.

Harapan anda dalam kasus ini?

100 persen menang. Kenapa? Ini dilakukan untuk orang Indonesia juga
bukan saya
sendiri. Bila saya tidak menang maka ini jstru tidak bagus bagi warga
Indonesia.
Kalau saya menang berarti masyarakat Indonesia menang.(djo)

http://jkt1.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/01/tgl/1
3/time/9
023/idnews/272299/idkanal/10

-----------------------| Milis Opja |--------------------------
Sebab kehidupan tidak berjalan mundur, pun tidak tenggelam dimasa
lampau --Khalil Gibran.

Foto-foto Ekslusif FGO 2004 ada di: http://www.opja.or.id/gallery
Arsip Milis Opja di: http://www.opja.or.id/


Disclaimer: This email has been scanned by Indosat's IMSS1

Disclaimer: This email has been scanned by Indosat's IMSS1

-----------------------| Milis Opja |--------------------------
Sebab kehidupan tidak berjalan mundur, pun tidak tenggelam dimasa
lampau --Khalil Gibran.

Foto-foto Ekslusif FGO 2004 ada di: http://www.opja.or.id/gallery
Arsip Milis Opja di: http://www.opja.or.id/

Kirim email ke