From: arsil Ibrahim 

Sebiduk Duka di Mata Mereka

Assalamu'alailkum Ya Ikhwatal Iman

Alhamdulillah saya diberangkatkan Allah kembali ke Aceh. Suatu kesyukuran
yang bukan berangkat dari hati yang gembira. Justru timbul dari hati yang
duka dan ingin berbagi derita bersama saudara2 kita di sini. Belum habis
rindu saya kepada keluarga dan kerabat di Cikarang dan banyak juga masalah
sekolah yang belum teratasi. Namun, tangisan anak2 di sini rasanya bagai
menyentak batin. 

Di camp2 pengungsi di sini terkapar lemah anak2 kecil berusia mulai 2 bulan,
2 tahun, 4 tahun, 6 tahun dan juga seusia anak-anak kita. Dahulunya mereka
adalah anak-anak yang manja dan senantiasa dibelai kasih sayang ayah bunda.
Dahulu, jika jatuh dari sepeda atau mati lampu saja mereka akan menangis
keras dan ayah bunda pun datang untuk memeluk dan menghibur hingga hilanglah
rasa takut dan sakit. Namun ombak besar bernama Tsunami itu telah mengubur
semua kenangan manis.

Hari2 pertama banyak sekali anak2 kecil yang berlarian ke sana kemari di
sekitar camp sambil menangis parau memanggil ayah ibu mereka. Tubuh mereka
lebih luka dari sekedar jatuh dari sepeda. Ketakutan mereka setelah ditelan
gelombang  yang hitam dan pekat melebih sekedar rasa takut kegelapan malam.
Kedahagaan mereka akan pelukan ayah bunda mengatasi rasa sakit akibat
terpaan ribuan sampah Tsunami yang menyayat-nyayat tubuh mereka tanpa belas
kasihan.

Saya lelah bekerja di sini, namun lebih lelah lagi menangis melihat sebiduk
duka dan nestapa sarat berlabuh di mata-mata mereka. Dan lebih nelangsa lagi
karena kemampuan untuk menolong amat terbatas. Banyak yg usul agar anak2 itu
dibawa saja keluar daerah seperti ke Jakarta, Medan atau Surabaya. Saya
yakin usul tsb berangkat dari hati yang jernih dan ingin membantu. Tapi buat
saat sekarang rasanya kurang sesuai karena anak2 itu sendiri sdg mengalami
trauma berat. Untuk bicara saja mereka tidak keluar suara. Bagaimana mungkin
mereka akan bahagia tinggal bersama orang2 baru, bahasa baru, makanan baru,
lingkungan kota2 besar yang kejam serta tradisi yang berbeda? Apa lagi jika
keluarga baru tidak mau mengerti kedukaan dalam hati mereka. Dan hanya
mengadopsi untuk memenuhi keperluan materi saja. Justru yang terbaik adalah
mengirim bantuan secukupnya untuk keperluan mereka di sini. Sebab di sini
juga banyak ibu2 yang kehilangan anak sanggup berbagi kasih dengan mereka.

Memang ayahnya telah pergi, memang ibunya telah pergi, memang kakak dan
abangnya telah pergi.. namun janganlah biarkan harapan dan masa depannya
yang terkoyak, serta semangat hidup  yang tinggal setitik api ..turut pergi.

Mari kita memohon doa agar kiranya Allah  meringankan beban dalam hati
mereka, menghibur mereka dan menurunkan kebahagian yang berkesinambungan
sekarang, nanti dan esok, selamanya.

Yang merindu

Arsil Ibrahim

Kabupaten Aceh Besar 13 Januari 2005.

-----------------------| Milis Opja |--------------------------
Sebab kehidupan tidak berjalan mundur, pun tidak tenggelam dimasa 
lampau --Khalil Gibran.

Foto-foto Ekslusif FGO 2004 ada di: http://www.opja.or.id/gallery
Arsip Milis Opja di: http://www.opja.or.id/

Kirim email ke