200 ragam roti terdapat di Jerman, 100 macam ada di Swiss, dan separuh diantaranya berjajar di depan kami, pada sepenggal pagi di sekolah tinggi khusus membuat roti, Richemont Fachschule, Lucern, Swiss Tengah, pekan lalu. Kepada penjaganya, seorang gadis muda berkacamata, saya minta ijin mengabadikannya, sebelum memindahkan ke mangkuk besi tipis beralas kertas lembut.
“Sehr schoen (sangat indah), boleh kan saya memotretnya,” pinta saya. “Keine problem,” katanya ramah. Sekitar 50 jenis roti dengan aroma masih mengepul – ngepul itu pun saya abadikan dengan kamera digital agak tergesa. Apa boleh buat, di belakang sudah banyak yang menunggu untuk mencicipinya. Peter, rekan yang paling suka makan, mulai terdengar menggerutu dari balik punggung. Lapar, kata banyak orang, memang bisa menciptakan revolusi. Richemont Fachschule, adalah markas utama roti di Swiss dibuat dengan sempurna. Inilah satu satunya sekolah tinggi khusus mengolah tepung mentah menjadi roti paling serius di negeri ini. Dan pagi itu, atas undangan Pia, saya pun berkesempatan sarapan pagi dengan 50-an jenis roti paling akademis di Swiss Tengah, sambil menikmati ketenangan ombak telaga Lucerne dan puncak gunung Pilatus di kejauhan. „Ini yang buat masternya, atau cuma murid-muridnya ya,“ tanya saya lagi. Gadis itu tersenyum. „Memangnya kenapa, » katanya dalam serangan balik yang cepat. « Sama sama terlihat enak, “ jawabku dengan suara agak gemetar, khawatir si ayu dengan rambut diikat rapi itu akan tersinggung. Tapi dia menjawab dengan santun. « Kami buat bersama sama, » katanya jujur. « Yang mana buatanmu, » tanyaku lagi. Kali ini dia tidak tersenyum, melainkan terkikik, sambil menutup mulutnya. Tapi ia menunjukkan sebuah roti dari tepung vollkorn, yang biasanya menetaskan roti agak keras namun lebih bergizi ketimbang roti putih hasil olahan tepung terigu. Saya ambil satu iris, untuk menyenangkan hatinya. Kemudian menjelaskan, bahwa selalu makan hamburger buatan sendiri di McDonald. Revolusi belum terjadi, tapi ada gerutu makin tak sabar dari belakang, suara yang sama, suara Peter. “Sudah, ambil yang manis manis dengan cepat,” sergah Peter, suaranya kembali menusuk dari belakang. « Mana yang manis ya » Tangan mungil pucat itu kembali menunjukkan deretan roti yang berselimut gula dan coklat. Tapi saya lebih suka schoggi gipfeli, sejenis croissant berisi coklat. Dan tangan mungil dengan pendar senyum tak kenal henti itu kembali menunjukkan deretan gipfeli yang mungil, seukuran kepalan tangan bayi. Apa boleh buat, inilah resiko terjajah Belanda, bukan Perancis. Warisan roti yang ditinggalkan di tanah air, kok kayaknya tak sesempurna di Vietnam, bekas koloni Perancis. Nyaris semua roti di tanah air, selalu tercampur gula. Roti tawar pun, kadang masih terasa sejumput gula di sana. Dan lidah terjajah ini pun memilih yang manis manis untuk sarapan pagi, yang bagi orang Swiss terlihat agak aneh. Tak aneh jika Bread Talk laris manis karena, kalau nggak salah, sebagian besar rotinya cukup banyak yang dipompa dengan gula. “Ah, di Italia kan juga ginian (roti manis) sarapan paginya,” kataku sebelum Peter kembali memprotesnya. Sarapan pagi di Italia, memang kerap menyediakan roti yang berbalut gula. Carmela, kerabat lain yang ada di antrian agak belakang, menjulurkan kepalanya. “Ada apa dengan Italia, hai laki laki Indonesia,” teriaknya agak keras, khas temperamen Italia. Carmela – ia lebih suka dipanggil Carmen – memang berasal dari Calabria, sebuah provinsi di Italia ujung Selatan, sebuah kota pelabuhan yang tinggal beberapa menit bisa menyeberang ke Palermo, Sisilia. “Rotinya manis manis, bella Italia (Italia yang indah) ,” desisku. Richemont tak hanya sekolah tinggi khusus roti. Ia juga memiliki resto dan cafe di tempat yang sama. Meski dipisahkan jalan raya yang memisahkan Lucerne dengan Meggen, kampung terkaya di Lucerne, air danau yang tenang dan bening sudah bisa dinikmati dari jendela. Dan di resto inilah, kami menikmati hasil olahan roti “terbaik” di Swiss. “Bagaimana,” tanya Pia, si pengundang. Saya mengaku bukan ahli roti, tapi mengatakan memang cukup enak gipfelinya. Lelehan coklat didalamnya terasa menyusur lidah, sebelum akhirnya lenyap masuk tenggorokan. “Lebih enak ketimbang di McDonald,“ kataku. Tidak banyak turis datang ke resto ini. Umumnya pengunjung adalah orang Lucerne dan sekitarnya. Pagi itu, yang terdengar memang hanya bahasa lokal Swiss Tengah, Schweizerdeutch a la Loezaern. Jangan terperanjat jika ada yang meneriakkan huerre guet.... Ini bukan pujian kepada pelacur yang good (Huere adalah padanan kata untuk pelacur dalam bahasa Jerman), namun lebih berarti sangat bagus. Sebuah buku tentang membuat roti, ingin sekali saya beli. Tapi harganya yang 100 swiss franken, kira kira 700 ribu rupiah, membuat keinginan itu terkubur. Mungkin karena karangan Richemont, sehingga buku ini tergolong agak mahal, setidaknya dibandingkan dengan jumlah halamannya. Keinginan untuk belajar membuat roti secara akademis di Richemont juga hanya tersimpan rapat di dalam hati. Sistem pendidikan di Swiss membuat jalan menuju ke sekolah itu makin berliku. Cukuplah sementara ini, puas sebagai Hamburger Master di McDonald Lucerne. Suatu saat, entah kapan, mempelajari teknik pembuatan roti ala Richemont, mungkin akan saya lakukan. Meski, untuk menciptakan roti sederhana, macam Butterzopft, sudah bisa saya ciptakan. Butterzopft, sebagaimana namanya, memang roti tawar yang banyak mengandung butter dan susu dalam bentuk kepang rambut anak perawan. Tepung terigu, dicampur susu, butter dan telur serta ragi, kemudian diuleni hingga kalis, ditunggu mengembang beberapa jam, dikelabang, dan dipanggang, sim salabim, jadilah butterzopft home made yang nyam …nyam …nyam. Kepada teman teman, sebelum menyajikan butterzopft itu, selalu saya awali dengan kalimat : “Dibuat dengan cinta dipersembahkan penuh suykur”. Biasanya mereka terkekeh kekeh, memendarkan pagi yang dingin menjadi indah. __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com _______________________________________________ Milis mailing list [email protected] http://subscriber.detik.com/mailman/listinfo/milis
