*Skeptis, Asertif, dan Agresif* *Oleh: Andrias Harefa*
Bersikap adalah pilihan, apakah Anda skeptis, agresif atau asertif, Anda yang memutuskan. Secara sederhana sikap skeptis dinyatakan dengan “mengharamkan” pernyataan yang seratus persen benar, seratus persen absolut, seratus persen mutlak. Kebenaran agama dipertanyakan, kenyataan disangsikan, dan segala sesuatu diragukan. Orang yang skeptis berasumsi bahwa pengetahuan yang sebenarnya tidak mungkin dicapai, tidak ada sesuatu pun yang dapat dibuktikan secara mutlak. Sikap skeptis sangat membantu perkembangan ilmu pengetahuan. Ia membantu para ilmuwan untuk selalu kritis terhadap pendapat, hasil penelitian, teori-teori baku, dan seterusnya. Namun hidup berdasarkan skeptisisme sungguh bukan hal yang gampang. Paling tidak karena jika seseorang selalu mempertanyakan dan meragukan pendapat atau teori-teori orang lain, maka pada saat yang sama ia juga seharusnya meragukan dan mempersoalkan keragu-raguannya sendiri. Jika tidak ada yang mutlak, maka pendapat bahwa “tak ada yang mutlak” itu sendiri tidak mutlak, bukan? Saya memiliki ilustrasi yang dapat lebih mempertegas betapa sulitnya hidup bersama penganut skeptisisme sejati. Konon, seorang camat di Bekasi pulang ke rumahnya menjelang pukul dua dini hari. Istrinya yang setia menunggu menanyakan mengapa suami tercinta pulang terlambat. “Tadi saya memimpin rapat tentang rencana pembangunan real estate di daerah selatan. Peserta rapat terbagi dalam dua kelompok pro dan kontra dengan rencana tersebut. Mereka nyaris baku hantam kalau tidak segera saya tengahi. Kemudian saya memanggil pemimpin kelompok A. Ia menjelaskan alasan-alasan mereka mengapa kelompoknya tidak menyetujui rencana tersebut. Setelah mendengarkannya sampai pukul dua belas tengah malam, saya memutuskan bahwa alasan-alasannya benar. Hal ini langsung diprotes kelompok B. Lalu saya dipaksa mendengarkan alasan-alasan mereka mengenai pentingnya pembangunan real estate tersebut bagi masyarakat banyak. Dua jam saya mendengarkan mereka dengan saksama. Akhirnya, saya yakin pendapat mereka juga benar. Karenanya rapat kemudian ditutup dan akan dilanjutkan besok malam,” papar pak camat panjang lebar. “Bapak ini sontoloyo,” sergah istrinya. “Bagaimana mungkin pendapat kedua pihak yang bertentangan sama-sama benar,” lanjut sang istri tak mau mengerti. Terkejut atas respon istrinya pak camat tampak berpikir keras sebelum akhirnya menjawab, “Iya ya, kamu juga benar.” Orang skeptis yang berhati lembut cenderung menerima dan membenarkan segala pendapat, meskipun jelas-jelas saling bertentangan. Sebaliknya, sikap skeptis orang yang berhati keras akan menolak semua pendapat dan menyalahkan semuanya, tak satu pun yang benar. Sikap skeptis juga “melemahkan” iman terhadap ajaran-ajaran agama. Agama sendiri diragukan, dan agama orang lain dilecehkan. Untuk menjadi ateis pun ia sangsi. Sulit, bukan? Secara parsial sikap skeptis ini juga sering muncul dalam rapat-rapat di kantor-kantor. Jika orang-orang skeptis yang mendominasi pembahasan masalah dalam rapat, maka waktunya akan berlarut-larut dan masalah menjadi lebih rumit berbelit-belit. Mereka bisa berkicau bagai para ahli filsafat yang bertugas mencari laba. Untungnya, misalnya dalam pembahasan masalah yang kontroversial, sikap skeptis bukanlah satu-satunya pilihan. Sedikitnya kita dapat menentukan dua sikap lain: asertif (tegas) atau agresif (menyerang). Asertif menunjukkan keberanian menyatakan pendapat, berdiri di satu pihak atau posisi, seraya menunjukkan penghargaan terhadap pendapat dan keyakinan atau pilihan lain yang berbeda bahkan bertentangan. Seorang yang asertif cenderung lebih obyektif memberikan penilaian tentang masalah yang sedang dikaji. Menurut ahli psikologi, asertivitas dilandasi self-confidence yang kuat. Artinya, hanya orang yang percaya diri yang cukup berani menyatakan pendiriannya yang bisa jadi berbeda dan bertentangan dengan pendirian orang lain. Berbeda dengan asertivitas, agresivitas bercirikan keinginan untuk menguasai dan merugikan orang lain untuk mencapai sasaran. Orang yang agresif cenderung menyerang pendapat, bahkan pribadi orang lain yang tidak sepaham. Kata agresi, agresif dan agresivitas lebih sering berkonotasi negatif. Secara psikologis dikatakan bahwa sikap agresif biasanya ditunjukkan oleh mereka yang terjangkit inferiority-complex atau superiority-complex. Yang pertama karena perasaan rendah diri (inferior), sedangkan yang kedua karena sifat arogan atau sombong (superior). Artinya, orang yang percaya diri (self-confidence) cenderung enggan bersikap agresif. Itu sebabnya sikap agresif lebih sering dihubungkan dengan orang yang tak percaya diri, rendah diri atau sombong. Apa yang hendak ditegaskan melalui uraian singkat di atas adalah bahwa sikap skeptis, agresif dan asertif sesungguhnya merupakan pilihan. Sikap mana yang perlu dikembangkan, Anda pasti lebih tahu. *) Andrias Harefa Author: 40 Best-selling Books; Speaker-Trainer-Coach: 22 Years Plus Alamat www.andriasharefa.com – Twitter @ aharefa *Skedul Pelatihan terdekat:* 1. Tanggal 25-26 Maret 2015 : Speak Up and Be Counted 2. Tanggal 28 Maret 2015 : Great Manner and Etiquette @Work 3. Tanggal 30-31 Maret 2015 : Creative Problem Solving and Decision Making -- Info program lengkap dan jadwal training Proaktif terdekat silahkan hubungi kami di: Tel. 021-3260 3383; 0815 896 3889 Email: [email protected] Website: www.mitrapembelajar.com, www.pembelajar.com Untuk keluar dari grup ini, kirimkan email ke: [email protected] --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "Proaktif Network" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
