aku tulis buku ini karena
aku berutang pada tuhanku
aku berutang pada rakyatku
aku berutang pada alam negeriku
aku berutang pada diriku
…
aku tulis buku ini karena
mungkin untuk itulah aku dilahirkan kini dan disini
di bumi pertiwi yang sedang bersedih hati
jadi, perkenankanlah kiranya
[Sumber: *Menjadi Manusia Pembelajar*, Kompas, 2000; xxxiii-xxxv]

Apa yang akan dipikirkan orang ketika membaca buku-buku berjudul Sukses
Tanpa Gelar, Berguru Pada Matahari, dan Menerobos Badai Krisis? Aku tidak
tahu. Namun, aku tahu bahwa ketiga buku itu adalah awal keterlibatanku
dalam dunia penulisan buku. Dan, jika dipandang dari judul yang aku pilih,
mudah-mudahan jelas bahwa aku menulis untuk menyemangati orang.
Menyemangati orang-orang yang tak bergelar, yang tak sempat mengecap
nikmatnya bangku kuliah, yang harapannya sering teraniaya, yang jumlahnya
sangat banyak di negeriku ini. Menyemangati orang-orang untuk tidak saja
belajar dari lembaga-lembaga persekolahan formal, tetapi juga yang mau
belajar dari sekolah kehidupan, berguru pada air, matahari, rembulan,
angin, pohon, padi, dan alam sekitarnya. Menyemangati orang-orang yang
nyaris kehilangan perspektif karena diterpa badai-badai kehidupan, karier
yang hancur, keluarga yang tercerai berai, korban PHK, dan sejenisnya.

Siapakah orang-orang yang akan bersedia membeli buku-buku dengan
judul-judul berikut: *Berwirausaha Dari Nol, Multilevel Marketing, 10 Kiat
Sukses Distributor MLM, MLM dan Penggandaan Uang, Pesona Bisnis Direct
Selling dan MLM, MLM di Era Internet, dan Meet, Learn, and Multiply*?
Berapa banyak orang-orang yang berminat atas buku-buku semacam itu? Aku
harap yang akan berminat adalah mereka yang mencari alternatif penghasilan
lewat jalur kewirausahaan, dan tentu saja para praktisi industri bisnis
jaringan, *multi-level atau network marketing*. Dan karena momentumnya
kurasa tepat—kondisi tahun-tahun krisis ekonomi 1998-2000—maka sejak awal
aku sudah menduga bahwa buku-buku semacam itu akan ”meledak” di pasaran.
Jadi, aku memang tak terlalu kaget ketika buku-buku yang dibuat seukuran
saku itu mengalami cetak ulang berkali-kali. Rata-rata terjual antara 10
hingga 22 ribu eksemplar. Mestinya bisa dijual dua kali lebih banyak, sebab
industri bisnis jaringan ketika itu sedang tumbuh dari sekitar 3 juta
pelaku menjadi lebih dari 4 juta pelaku. Masalahnya, aku sudah tak ada
waktu untuk ikut menjual buku-buku tersebut.

Ketika tahun 1999 Harian Kompas mulai memberi lebih banyak ruang untuk
memuat artikel tentang perlunya pembaruan pendidikan formal, maka aku
tergerak untuk menuliskan sejumlah catatan keprihatinanku di seputar tema
ini. Aku kumpulkan sejumlah kliping untuk memancing ide, lalu aku cari
pikiran pendukung dari buku-buku dengan tema yang sama. Maka lahirlah
buku-buku berjudul *Menjadi Manusia Pembelajar, Pembelajaran di Era Serba
Otonomi, Sekolah Saja Tidak Pernah Cukup, dan Mengasah Paradigma
Pembelajar.* Dengan judul-judul semacam itu aku berharap bisa ikut
memprovokasi pikiran-pikiran kritis dan kreatif untuk merangsang
proses-proses pembelajaran alternatif di masyarakat. Target pembaca yang
aku incar terutama praktisi di dunia persekolahan yang menginginkan
perubahan, dan praktisi di bidang pengembangan harkat dan martabat manusia
[dh PSDM] yang bekerja di perusahaan. Dengan dukungan media promosi yang
tepat dari penerbit, buku *Menjadi Manusia Pembelajar* ternyata mendapat
respons paling banyak. Buku yang aku tulis selama dua setengah bulan
itu—ini buku paling ”serius” yang pernah aku tulis sejauh ini—telah
mengalami 8 kali cetak ulang di Penerbit Kompas. Mungkin itu buku nonfiksi
yang paling laris dari seluruh buku yang pernah diterbitkan Kompas sampai
hari ini.

Di kala aku menghadirkan buku-buku bertajuk *Agar Menulis/Mengarang Bisa
Gampang, Agar Menjual Bisa Gampang, Presentasi Efektif, dan Menjual Tanpa
Hambatan*, maka pasar yang aku incar adalah mereka yang mencari cara-cara
atau teknik-teknik praktis untuk menulis, menjual, atau memberikan
presentasi. Dan karena menulis, menjual, dan memberikan presentasi adalah
kegiatan sehari-hari yang aku lakukan, maka dengan cepat buku panduan
praktis itu bisa kubuat. Pasar ternyata mampu menyerap antara 15-21 ribu
eksemplar per judul buku, dan sampai hari-hari ini masih mampu terjual
sekitar 100 eksemplar per judul per bulan.

Pada kesempatan lain, bulan Juli 2004, aku terinspirasi oleh hadiah dari
penyimpanan deposito di sebuah bank swasta. Mereka memberiku buku agenda
tahun 2004. Lalu terbitlah ide untuk membuat agenda tanpa tahun, tanpa
tanggal, tapi diperkaya dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif yang disusun
mingguan. Karena tanpa tanggal dan tanpa tahun, maka agenda ini bisa mulai
digunakan kapan saja. Aku hanya mencantumkan nama-nama hari dan membuat
petunjuk cara menggunakan agenda yang unik tersebut. Ku pikir agenda
kreatif macam ini bisa dijadikan kado ulang tahun atau kado akhir tahun.
Ide ini aku kerjakan sekitar 3 hari kerja, dan kemudian kutawarkan ke
Gramedia Pustaka Utama. Maka Oktober 2004 terbitlah buku *Agenda Refleksi
dan Tindakan: Untuk Hidup Yang Lebih Baik*. Dalam dua belas bulan sudah dua
kali cetak.

Tatkala aku membaca buku *Terapi Tawa* dan menemukan sejumlah fakta
mengenai manfaat tertawa bagi kesehatan dan kebahagiaan seseorang, langsung
muncul ide untuk membuat kombinasi antara fakta-fakta dengan cerita-cerita
lucu. Lalu aku buat kerangkanya, dan aku minta seorang staf di kantorku
untuk mengisi rangka tersebut. Hasilnya, terbitlah buku *Be Happy –
Memulung Keceriaan dari Sekolah Kehidupan.* Rencananya, buku ini akan
terbit berseri. Namun, aku masih ingin melihat respons pasar dalam 3 bulan
pertama peredarannya [baru beredar saat tulisan ini kubuat].

Ada kalanya aku diminta menulis oleh kawan-kawan di media tertentu
seperti *Media
Indonesia, Manajemen, Warta Ekonomi, Warta Bisnis, SWA*, atau
majalah-majalah intern organisasi tertentu. Mulanya tentu berupa artikel.
Kalau kemudian berseri dengan tema tertentu, maka akhirnya pasti aku
kumpulkan menjadi buku saku. Seperti buku *Mengasah Indra Pemimpin dan
Meet, Learn, and Multiply* yang merupakan kumpulan tulisan tentang
kepemimpinan di *Warta Ekonomi dan Media Indonesia.*

Begitulah kira-kira proses kreatifku dalam menulis buku. Ide-ide bisa
muncul dari bacaan, bisa dari tontonan, bisa dari obrolan, bisa dari radio,
bisa dari pertanyaan orang, bisa dari surat elektronik, dari milis, dari
internet, dari lamunan, dari pengamatan, dan dari semua arah. Tempatnya pun
tak ada yang sangat khusus. Di rumah, di mobil, di pesawat, di kantor, di
restoran, di mal, dan dimana saja ide-ide bisa muncul tiba-tiba. Kalau
sedang nyetir mobil dan idenya muncul, aku tak segan menepi sebentar untuk
mencatat dulu ide tersebut sebelum melanjutkan perjalanan. Soalnya, kalau
tak segera di catat akan hilang nanti. Aku selalu membawa kertas kecil
disaku baju, supaya bila ide muncul sewaktu-waktu, aku akan sempat
mencatatnya. Atau, bisa langsung aku ketik di *laptop*-ku. Kalau informasi
dasarnya dari surat elektronik atau artikel di internet, tinggal aku
*copy–paste* langsung, lalu kuberi judul sementara dan kusimpan. Di *laptop*-ku
selalu tersimpan sejumlah *draft* artikel untuk dilanjutkan atau
diperbaiki.

Mungkin karena aku mencari nafkah dalam industri pelatihan manajemen
praktis dan kepemimpinan terapan, maka tulisanku banyak terinspirasi oleh
hal-hal yang bertalian dengan itu. Juga karena pergaulanku lebih banyak
dengan orang-orang bisnis, maka aku selalu memperhatikan segmen pasar mana
yang aku harapkan membeli karya tulisku. Targetku, untuk tiap judul buku
harus bisa terjual minimal 10.000 eksemplar. Dan untuk membidik target
tersebut, judul buku memainkan peranan yang cukup penting. Bahkan aku
seringkali menambahkan subjudul untuk lebih mempertegas apa yang boleh
diharapkan oleh calon pembaca buku tersebut. Misalnya, *Sukses Tanpa Gelar:
Menuturkan Lima Belas Kisah Sukses Luar Biasa; atau Berwirausaha dari Nol:
10 Kiat Sukses dengan Modal Seadanya; atau Menjadi Manusia Pembelajar:
Pemberdayaan Diri, Transformasi Organisasi dan Masyarakat Lewat Proses
Pembelajaran; atau Be Happy: Memulung Keceriaan dari Sekolah Kehidupan.*
Ini aku lakukan karena aku ingin karyaku dibeli dan dibaca orang [menurut
Mas Wandi yang tumpus lumus menangani buku nonfiksi di Gramedia, buku yang
”dibeli dan dibaca” orang di Indonesia umumnya ukuran saku dan harganya
relatif murah---dan jenis buku itulah yang ingin aku tulis, memang]. Aku
tidak menulis buku untuk dijadikan pajangan di ruang tamu.

Soal lain adalah isi *cover* belakang. Bagiku ini juga penting untuk
diperhatikan. Hal-hal yang paling mendasar, atau paling penting, atau
paling baik dari isi buku itu harus bisa ditonjolkan secara menarik.
Misalnya, di cover belakang buku *Be Happy* dikutip ”Huahahaha. Sambil
tertawa, buku saya yang ke-25 ini dipersembahkan kepada siapa saja yang
merasa ingin lebih gembira, lebih ceria, dan lebih sehat dalam hidup. Di
tengah republik yang sangat piawai menghadirkan duka nestapa dan kesedihan,
buku ini saya harapkan dapat sedikit menghibur dan menguatkan, agar
terpasok lagi optimisme dan energi untuk bertindak memperbaiki situasi di
lingkungan terdekat. … Dan mari kita rintis kelompok-kelompok militan untuk
mengkampanyekan gerakan DENGAN TAWA MEMBANGUN BANGSA. Huahahaha.”

Apakah aku punya target tertentu dalam soal menulis ini? Tentu saja.
Tujuanku adalah mewariskan 100 judul buku kepada generasi pengganti, walau
mungkin hanya beberapa judul saja yang masih akan tetap terbit ketika aku
wafat nanti. Dan untuk mencapai tujuan tersebut aku menargetkan menulis 1
halaman per hari, 7 halaman per minggu, 365 halaman per tahun. Sejauh ini
aku telah mempublikasikan 25 judul buku, jadi masih ada hutang 75 buku.
Kalau tiap tahun dihasilkan 3 buku saja, maka di usia 66 tahun nanti 100
judul buku telah kutulis.

Mengapa aku bersemangat untuk tetap menulis? Mungkin karena aku telah
merumuskan misi hidup pribadiku seperti ini: *”Aku ingin menyentuh hati
orang, agar mereka menjadi yang terbaik dari dirinya, demi pengabdian pada
masyarakat dan bangsanya.”* Dan menulis adalah salah satu caraku untuk
melaksanakan misi hidup yang demikian itu. Jadi, perkenankanlah kiranya.

Tabik Mahardika, Huahahaha!

**) Andrias Harefa. Mindset Therapist, Penulis 37 Buku Best-Seller,
Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 tahun. Pendiri www.pembelajar.com
<http://www.pembelajar.com>.*

*Ingin belajar menulis Artikel dan Buku Best-Seller? Hubungi 021-2210 3478
atau lihat skedulnya di www.mitrapembelajar.com
<http://www.mitrapembelajar.com>*

-- 
Info program lengkap dan jadwal training Proaktif terdekat silahkan hubungi 
kami di: 

Tel. 0811 100 3383; 0815 896 3889
Email: [email protected]
Website: www.mitrapembelajar.com, www.pembelajar.com

Untuk keluar dari grup ini, kirimkan email ke:
[email protected]
[email protected]
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "Proaktif Network" dari 
Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke